aku akan mengguncang dunia persilatan, aku yang memiliki ingatan masa depan memiliki keunggulan yang akan menghacurkan segala yang merebut waktu dan duniaku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 - Final Sang Bocah Ajaib
Pengumuman mengenai lempengan besi misterius itu masih bergema di seluruh sudut Aula Persilatan Kota Gunung Hijau. Namun, perhatian Sun Chen teralih sepenuhnya ke arah gerbang keluar arena.
Dari kejauhan, sosok Pelindung Merah berdiri tegak di antara kerumunan penonton. Pria tinggi tegap berjubah merah gelap itu mengawasi Sun Chen dan Chou Tian dengan pandangan dingin dari balik topeng peraknya. Meskipun aura membunuhnya terikat kuat, kehadirannya tetap memancarkan tekanan pekat yang menyapu udara sekitar.
Pelindung Merah tidak mengambil tindakan apa pun. Ia menaati aturan tertulis dunia persilatan bahwa keributan terbuka di dalam wilayah Aula Persilatan adalah bentuk penghinaan terhadap faksi lokal. Kendati demikian, sorot matanya secara jelas menegaskan bahwa guru dan murid itu telah masuk ke dalam jaring kematiannya.
Sun Chen menyipitkan mata. Ia tahu betul, kali ini musuh yang memburu mereka bukan lagi sekadar prajurit pemburu biasa, melainkan seorang ahli tingkat tinggi yang dipersenjatai dengan belasan pembunuh elit.
Malam harinya, di dalam kamar penginapan yang temaram.
Chou Tian duduk bersila di atas ranjang kayu, menghembuskan napas pendek yang terdengar sangat berat. Pria tua itu membuka matanya, menatap Sun Chen yang sedang merapikan jubahnya.
"Pelindung Merah sudah berada di dalam kota," kata Chou Tian, suaranya parau dan terputus-putus. "Orang itu jauh lebih kuat dari Lu Gu. Kita tidak boleh membuat langkah yang salah sedikit pun."
"Saya mengerti, Guru," balas Sun Chen pelan. "Namun besok pagi saya tetap harus menyelesaikan babak final turnamen."
Chou Tian mengerutkan dahi, tampak ragu.
"Hadiah keping emas, pil pemulih Qi, dan token pelelangan Rumah Dagang Angin Merah itu sangat penting," lanjut Sun Chen dengan tatapan matanya yang teguh. "Keping emas itu dibutuhkan untuk biaya perjalanan kita ke Provinsi Selatan, dan pil pemulih Qi bisa membantu menstabilkan meridian Guru untuk sementara."
Chou Tian menatap muridnya lama sekali. Mendengar perhatian dan pemikiran terukur dari raga balita tersebut, hati pria tua itu perlahan meleleh. Ia mengangguk pelan. "Baiklah. Selesaikan pertandinganmu, tetapi jangan pernah memaksa aliran Qi-mu melebihi batas."
Keesokan paginya, Aula Persilatan Kota Gunung Hijau jauh lebih padat dibanding hari pertama.
Ratusan penonton memadati tribun, antusias untuk menyaksikan aksi sang bocah ajaib yang mendadak menjadi bahan perbincangan hangat di seluruh pelosok kota. Para tetua kota, pimpinan klan lokal, hingga para murid sekte besar berkumpul di tribun utama.
Di sudut tribun peserta, Su Miao duduk anggun seraya memegang pedang tipisnya. Matanya yang jernih terkunci lurus pada sosok Sun Chen yang baru naik ke atas panggung utama.
"Babak semifinal! Sun Chen melawan Zhang Peng!"
Lawan Sun Chen di semifinal adalah seorang murid sekte lokal berusia sebelas tahun bernama Zhang Peng. Berbeda dengan lawan-lawan sebelumnya, Zhang Peng tidak meremehkan Sun Chen. Ia memegang sebilah tombak pendek dan langsung mengambil posisi bertahan yang sangat kokoh.
"Mulai!"
Zhang Peng melancarkan tusukan tombak secara terukur dan disiplin. Dentuman angin dari mata tombaknya memotong udara secara beruntun.
Sun Chen tidak membalas dengan kekuatan kasar. Menggunakan langkah kaki dasar yang diajarkan Chou Tian, ia berputar lincah di sekitar jangkauan tombak lawan. Sun Chen sengaja tidak memancarkan benih Qi dalam jumlah besar, melainkan hanya memanfaatkan ketajaman indranya untuk membaca ritme pernapasan dan arah gerakan bahu Zhang Peng.
Saat Zhang Peng menarik tombaknya sedikit terlalu dalam untuk melancarkan tusukan balasan, Sun Chen menyusup masuk ke dalam jarak dekat lawan. Satu ketukan telapak tangan dasar mengenai pergelangan tangan Zhang Peng, membuat gagang tombak itu terlepas dari genggamannya.
Brak!
Dengan dorongan ringkas pada pinggul lawan, Zhang Peng terdorong mundur hingga keluar dari garis batas panggung.
"Pemenang: Sun Chen!"
Gemuruh sorak-sorai penonton membahana di seluruh arena. Kemenangan yang bersih itu membuktikan kepada semua orang bahwa kemampuan Sun Chen sama sekali bukan keberuntungan, melainkan hasil dari mastery teknik dasar yang luar biasa.
Di tribun atas, Tetua Utama Aula Persilatan mengelus janggut putihnya seraya mengangguk-angguk kagum. Beberapa pemimpin perguruan mulai saling berbisik, bertanya-tanya siapa gerangan sosok ahli yang telah menempa bocah sekecil itu.
Sementara itu, dari sudut tribun yang remang, Pelindung Merah hanya mengamati dalam keheningan. Di dalam batinnya, penilaian mengenai Sun Chen berubah drastis. Bocah berusia empat tahun dengan ketenangan dan kecerdikan semacam itu adalah benih bahaya yang harus dimusnahkan secepatnya.
Seusai pertandingan semifinal usai, Sun Chen berjalan menuju tepi panggung untuk menemui gurunya.
Namun, saat mendekati posisi berdiri Chou Tian, Sun Chen menyadari bahu sang guru sedikit bergetar. Chou Tian memegangi tiang kayu panggung, matanya terpejam rapat saat mencoba menahan guncangan racun di dalam dadanya. Pria tua itu hampir kehilangan keseimbangan, kendati dengan cepat memaksakan kakinya menancap kokoh kembali ke tanah agar tidak disadari orang lain.
Mata Sun Chen menyipit cemas. Tangan gurunya gemetar hebat dan napasnya terdengar semakin dangkal. Sun Chen mengepalkan tangannya rapat-rapat. Waktu yang dimiliki gurunya benar-benar sudah berada di ambang batas.
"Pertandingan Final! Sun Chen melawan Zhao Man!"
Sorak-sorai penonton mencapai puncaknya saat babak final dimulai. Lawan terakhir Sun Chen adalah Zhao Man, juara bertahan Aula Persilatan berusia dua belas tahun yang berada di puncak tingkat Pendekar Biasa.
Zhao Man melangkah ke tengah panggung dengan membawa sebilah pedang kayu berukir. Tatapan matanya tajam dan gayanya sangat matang.
"Aku tidak akan meremehkanmu, Bocah," ujar Zhao Man seraya merenggangkan kakinya. "Keluarkan seluruh kemampuanmu."
"Mulai!"
Zhao Man menerjang dengan tebasan pedang kayu yang sangat cepat dan bertenaga. Gelombang angin pedang yang dialiri energi tenaga dalam menyambar ke arah Sun Chen bertubi-tubi.
Sun Chen terpaksa fokus penuh. Ia melompat mundur, memutar tubuhnya di udara, dan terus mengelak dari hujan tebasan pedang kayu. Zhao Man terus mendesak dan mendominasi jalannya pertempuran, membuat sebagian penonton berspekulasi bahwa langkah sang bocah ajaib akan terhenti di final.
Namun, di dalam pikiran Sun Chen, seluruh ingatan bertarungnya sebagai mantan Jenderal Demonic bekerja dengan presisi tinggi. Ia memperhatikan kebiasaan kecil Zhao Man: setiap kali menyelesaikan kombinasi tiga tebasan utama, bahu kanan Zhao Man akan turun sedikit setengah inci untuk mengambil napas balasan.
Celah sepersekian detik itu sudah lebih dari cukup.
Saat Zhao Man melancarkan tebasan ketiganya, Sun Chen tidak mundur. Ia justru merendahkan raga kecilnya, menyusup tepat di bawah ayunan pedang kayu lawan. Sebelum Zhao Man sempat menurunkan bahunya untuk mengambil napas, Sun Chen mendorong telapak tangan kecilnya ke tumpuan lutut kanan lawan.
Brak!
Keseimbangan Zhao Man runtuh seketika. Pada saat yang bersamaan, Sun Chen memutar tubuhnya dan menyapu pedang kayu dari genggaman Zhao Man, lalu melayangkan dorongan telapak tangan kedua tepat ke tengah dada lawan.
Zhao Man terlempar tiga langkah dan jatuh terjerembap di luar garis batas arena.
Keheningan melingkupi seluruh Aula Persilatan selama beberapa detik, sebelum akhirnya ledakan sorak-sorai gempita membendung seluruh arena.
"Pemenang dan Juara Turnamen: Sun Chen!"
Sun Chen berdiri tenang di atas panggung utama saat Tetua Utama Aula Persilatan menyerahkan nampan kayu berisi hadiah.
Sun Chen menerima lima keping emas murni, sebuah botol porselen berisi pil pemulih Qi, serta token logam hitam sebagai akses tamu kehormatan pelelangan Rumah Dagang Angin Merah.
Tetua Utama menatap Sun Chen dengan binar kagum di matanya. "Anak muda, bakatmu sangat langka di dunia ini. Jika kau dan gurumu berkenan, aku bisa memberikan surat rekomendasi untuk memasukkanmu ke dalam sekte besar di Provinsi Selatan."
Chou Tian yang melangkah mendekat menyatukan kedua tangannya, membungkuk memberi hormat dengan sopan. "Terima kasih atas kebaikan Tetua. Namun muridku masih butuh menempa raga dasarnya di jalan pengembaraan bersama saya."
Tetua Utama mengangguk paham dan tidak memaksakan kehendak, kendati di dalam hatinya ia mulai menyuruh pengawal pribadi untuk menyelidiki latar belakang guru dan murid misterius tersebut.
Sementara itu, di sebuah kedai kopi di luar kompleks Aula Persilatan.
Pelindung Merah duduk tenang mengawasi gerbang keluar arena. Lu Gu dan beberapa pemburu elit berlutut di belakang kursinya.
"Pelindung, apakah kita akan bertindak saat mereka keluar dari Aula Persilatan?" bisik Lu Gu pelan.
Pelindung Merah menyesap cangkirnya, lalu menggeleng perlahan. "Tidak perlu mengotori tangan kita di dalam kota. Mereka membawa token pelelangan dan pasti akan langsung menuju Rumah Dagang Angin Merah."
Mata Pelindung Merah berkilat dingin di balik topeng peraknya. "Kita tunggu sampai pelelangan usai dan mereka melangkah keluar dari kota. Di luar sana, tidak akan ada faksi atau aturan yang bisa melindungi mereka."
Matahari sore perlahan menyingsing ke ufuk barat, memancarkan warna keemasan yang melapisi atap-atap Kota Gunung Hijau.
Sun Chen menggenggam kantong berisi lima keping emas dan token logam hitam di tangannya saat melangkah berdampingan bersama Chou Tian menyusuri jalanan kota. Di depan mereka, bangunan megah berlantai tiga milik Rumah Dagang Angin Merah telah berdiri gagah.
Sun Chen menatap pintu masuk bangunan megah itu dengan matanya yang dingin dan tajam.
Lempengan besi berkarat itu. Kunci ruang warisan kuno yang kelak mengguncang Benua Tengah berada di dalam sana.
Kali ini, lempengan besi itu tidak akan jatuh ke tangan orang lain, batin Sun Chen mantap.
Di sepanjang atap bangunan dan celah gang di sekeliling jalan utama, belasan sosok bergaun hitam bergerak membayangi setiap langkah mereka. Dari kejauhan, Pelindung Merah tersenyum dingin, menyaksikan mangsanya melangkah masuk ke dalam arena pertaruhan yang sesungguhnya.