~
Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13
**"
Malam kian melarut di Hulu Rawa, namun kegelapan tak membawa ketenangan. Di dalam sebuah pondok kayu tersembunyi dekat batas barat desa, suasana terasa sangat dingin dan mencekam. Mbah Karsa duduk melingkar bersama belasan warga pria dan pemuda adat yang berhasil dihasutnya. Tanpa kehadiran Rangga Wira sang Ketua Adat, sidang gelap itu berlangsung penuh kebencian.
"Perempuan kota itu harus dihentikan malam ini juga!" bentak Mbah Karsa seraya menepuk lantai kayu dengan keras. "Dia mulai menghancurkan aturan tua leluhur kita! Dia mengajari wanita-wanita kita untuk membangkang, melarang pernikahan muda, dan menolak air suci!"
"Benar, Mbah!" timpal seorang pemuda adat dengan mata berapi-api. "Kalau kita biarkan dia mendatangkan orang-orang kota untuk menyuntikkan obat-obatan kimia itu, adat kita tinggal nama!"
Mbah Karsa berdiri menopang tongkat kayunya, matanya menyipit dingin. "Kunci pintu Pustu dari luar! Seret Bidan Melani secara diam-diam dan kurung dia di lumbung tua dekat jurang sampai fajar menyingsing. Besok pagi, kita paksa Ki Rangga untuk mengusirnya!"
Beberapa pemuda berdiri dan mengangguk mantap, siap menjalankan perintah. Rencana licik itu sudah di ambang pergerakan.
Namun, tepat saat para pemuda hendak melangkah keluar pintu pondok, bunyi gedok pintu depan yang menghantam dinding kayu berbunyi sangat keras!
Brak! Brak! Brak!
Seorang pria paruh baya berlari menerobos masuk dengan napas terengah-engah. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak ketakutan luar biasa.
"Mbah Karsa! Mbah Karsa, tolong!" jerit pria itu histeris.
Mbah Karsa mengernyitkan dahi, melangkah maju. "Ada apa, Rasid?! Kenapa kamu berteriak-teriak seperti kesetanan?!"
"Tari, Mbah! Cucu perempuan Anda... Tari mau melahirkan!" tangis Rasid pecah, dadanya naik turun tak beraturan. "Perutnya mendadak melilit hebat! Darah... darah segar terus mengalir deras membasahi kainnya! Tubuhnya dingin bagai mayat!"
Mbah Karsa tersentak hebat. Tongkat kayunya hampir terlepas dari genggamannya. Tari adalah cucu kesayangannya—seorang gadis belia yang baru berusia lima belas tahun, yang beberapa bulan lalu dinikahkan atas perintah Mbah Karsa sendiri demi menjaga tradisi.
"Tari?!" pekik Mbah Karsa gemetar. "Di mana Mbah Salma?! Mana dukun beranak yang menyambut kelahirannya?!"
"Mbah Salma sudah di dalam rumah, Mbah! Tapi... tapi Mbah Salma sudah pasrah!" seru Rasid gemetar.
Tanpa membuang waktu, Mbah Karsa dan seluruh rombongan warga berlari menembus kegelapan malam menuju rumah panggung miliknya.
Suasana di dalam kamar tidur Tari bagaikan neraka kecil. Bau hanyir darah pekat menguar memenuhi udara ruangan yang pengap. Di atas dipan kayu, Tari—gadis mungil berwajah pucat—terbaring lemas. Matanya terpejam rapat, bibirnya memutih, dan merintih kehabisan tenaga. Kain sarung yang melilit tubuh bagian bawahnya sudah bersimbah darah merah segar yang terus merembes menembus kasur kapuk.
Di samping dipan, Mbah Salma—dukun tua yang biasa membantu persalinan—berdiri gemetar sambil mengusap tangannya yang berlepotan darah pada kain lap kotor.
"Mbah Salma! Bagaimana kondisi cucuku?!" teriak Mbah Karsa panik, menerobos masuk dan berlutut di samping dipan Tari.
Mbah Salma menggelengkan kepalanya pasrah, matanya menyiratkan ketakutan. "Tidak bisa, Mbah Karsa... Bayi di dalam perutnya mengunci rapat. Jalan lahirnya terlalu sempit, tulang pinggul anak ini belum terbuka! Saya sudah berusaha menariknya, tapi tidak bisa!"
Mbah Salma melangkah mundur, menunjuk perut Tari dengan jari keriputnya yang gemetar. "Anak ini kena kutukan! Bayi di dalam perutnya ini pembawa sial dan membawa ketawa iblis untuk Desa Hulu Rawa! Bayi ini tidak mau keluar, dia mau membawa ibunya mati!"
"Apa?!" Mbah Karsa membelalakkan mata tak percaya. "Kutukan?! Tidak mungkin!"
"Kutukan atau bukan, anakmu dan bayinya akan mati dalam hitungan jam jika pendarahan ini tidak berhenti, Mbah Karsa!" teriak seorang warga dari pintu.
Tari merintih pelan, suaranya terputus-putus. "Kek... s-sakit... Tari tidak kuat lagi, Kek... gelap..."
Mbah Karsa memegang kepala cucunya, air mata menetes di pipinya yang keriput. "Tari! Bertahan, Nak! Jangan tinggalkan Kakek!"
Di tengah kepanikan dan ratapan kepasrahan, Seno—pemuda desa yang berdiri di pintu—melangkah maju dan berteriak nyaring membelah keributan.
"Bidan Melani! Panggil Bidan Melani sekarang!" seru Seno tegas.
Mbah Karsa mendongak, matanya membelalak kaget. "Tidak! Perempuan kota itu tidak boleh menyentuh cucuku!"
"Mbah Karsa, buka matamu!" bentak Seno tanpa rasa takut, menunjuk kain Tari yang basah oleh darah. "Dukunmu sudah menyerah dan menyumpahi cucumu pembawa sial! Hanya Bidan Melani yang punya peralatan dan ilmu medis untuk menyelamatkan Tari! Apakah gengsimu lebih mahal daripada nyawa cucumu sendiri?!"
Mbah Karsa membeku. Kata-kata Seno menghantam kesadarannya bagaikan petir di siang bolong. Ia menatap wajah Tari yang kian pucat pasi dan napasnya yang makin memburu pelan. Rasa sombong dan keputusasaannya lebur menjadi satu ketakutan yang teramat sangat.
Dengan tubuh gemetar dan air mata yang mengalir deras, Mbah Karsa menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Panggil... panggil Bidan Melani... Saya mohon, panggil dia ke sini!"
Tak sampai sepuluh menit, pintu kamar Tari terbuka kasar.
Melani menerobos masuk. Bidan muda itu mengenakan pakaian kerja sederhana dengan tas medis besar terlampir di bahunya. Di belakangnya, Rangga Wira melangkah masuk dengan raut wajah sangat tegang, siap membackup apa pun yang dibutuhkan Melani.
Melani tak membuang waktu untuk berbasa-basi. Manik matanya yang jernih langsung menyapu kondisi kamar, menangkap bau darah pekat dan kepucatan di wajah pasien belianya.
"Semua orang yang tidak berkepentingan, keluar dari ruangan ini sekarang!" perintah Melani, suaranya begitu tegas dan berwibawa hingga tak ada seorang warga pun yang berani membantah. "Kosongkan ruangan! Buatkan saya air hangat dan sediakan pencahayaan lampu minyak sebanyak mungkin!"
Warga berlarian keluar. Hanya tersisa Mbah Karsa yang terpaku berlutut di sudut ruangan dan Rangga Wira yang berdiri siaga di dekat pintu.
Melani berlutut di antara kedua kaki Tari. Ia membuka kotak medisnya dengan cepat, mengeluarkan sarung tangan steril, cairan antiseptik, gunting episiotomi, klem, dan benang jahit medis.
"Tari... Tari, dengar suara Bu Bidan?" panggil Melani lembut namun menuntut kesadaran, menyapu dahi Tari yang membasah oleh peluh dingin.
Tari membuka matanya sedikit, meringis menahan sakit yang tak terbayangkan. "Bu... Bidan... tolong saya..."
"Iya, Sayang. Bu Bidan di sini. Kamu harus kuat, ya," bisik Melani tulus.
Melani dengan cepat memeriksa pembukaan jalan lahir. Dugaannya tepat dan sangat mengerikan. Usia Tari yang baru lima belas tahun membuat tulang panggulnya sangat sempit dan jaringan rahimnya belum elastis. Kepala bayi sudah berada di dasar panggul, namun terjepit hebat oleh jalan lahir yang robek tidak teratur dan belum membuka sempurna. Pendarahan hebat terjadi dari pembuluh darah yang pecah akibat paksaan pendorongan sebelumnya.
"Jalan lahirnya macet total... Panggulnya terlalu kecil untuk ukuran bayi ini," gumam Melani, peluh dingin mulai merembes di kening cantiknya.
"Bagaimana, Melani? Bisakah diselamatkan?" tanya Rangga Wira dengan suara bariton beratnya yang sarat khawatir dari balik punggung Melani.
"Saya harus melakukan episiotomi darurat—memotong sebagian jaringan jalan lahir untuk memperlebar jalan keluar bayi," jawab Melani cepat tanpa menoleh. "Jika tidak, bayinya akan mati kehabisan oksigen di dalam, dan ibunya akan meninggal karena pendarahan hebat!"
Mbah Karsa dari sudut ruangan menangis tersedu-sedu. "Lakukan apa saja, Bidan... lakukan apa saja asal cucuku selamat! Ampunkan dosa-dosaku..."
Melani menyuntikkan anestesi lokal secepat kilat ke area jaringan jalan lahir. Dengan jemari yang sangat cekatan, terlatih, dan tanpa ragu, Melani meraih gunting medisnya.
Cles!
Darah segar menyembur keras dari jalan lahir yang dipotong rapi secara medis. Semburan darah hangat itu mengenai lengan kemeja putih Melani, bahkan memercik hingga menyapu pipi mulus dan lehernya. Namun Melani sama sekali tidak bergeming. Wajah cantiknya berbalut keteguhan luar biasa seorang pejuang medis.
"Tari! Mengejan sekarang! Dorong seruat tenaga, Tari! Ayo!" teriak Melani memberi komando.
"Aaarghhh! Sakiiit!" jerit Tari melengking membelah keheningan malam desa. Gadis belia itu mengejan dengan sisa tenaga terakhirnya, memegangi pinggiran dipan kayu hingga kukunya memutih.
Melani memasukkan jemarinya dengan presisi tinggi, memutar posisi kepala bayi yang tersangkut di tulang panggul, lalu membimbing bahu kecil sang bayi keluar menembus tekanan pendarahan.
"Sedikit lagi, Tari! Dorong! Kepala bayinya sudah keluar!" seru Melani, napasnya berburu.
Darah mengalir makin deras membasahi apron dan rok tenun Melani. Jemarinya yang berlepotan darah bekerja penuh konsentrasi tinggi di tengah rintihan dan erangan panjang Tari yang menggema memenuhi rumah panggung.
Hingga akhirnya, pada puncak dorongan terakhir...
Srettt!
Tubuh kecil mungil yang basah oleh air ketuban dan darah meluncur sempurna ke dalam dekapan kedua tangan Melani!
Oaaak! Oaaak! Oaaaakkk!
Suara tangisan melengking yang sangat nyaring dan sehat memecah heningnya malam Hulu Rawa! Bayi perempuan mungil dengan jemari lengkap dan kulit kemerahan menendang-nendang di dalam dekapan kain bersih Melani.
Suara tangis bayi itu menghentikan ratapan ketakutan di luar rumah.
"Bayinya... bayinya lahir! Bayinya hidup!" teriak warga di luar dengan gemuruh haru.
Mbah Karsa menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah tak tertahankan mendengar suara cucunya yang bernapas.
Namun, perjuangan Melani belum selesai.
"Pak Rangga! Pegang kaki Tari tetap menekuk!" perintah Melani tegas.
Rangga Wira dengan sigap melangkah maju, memegangi kedua paha Tari dengan lembut namun kokoh. Manik mata hitam Rangga menatap lurus pada sosok Melani—pakaian kemeja putihnya kini ternoda noda darah merah pekat, wajah cantiknya tercoreng jelaga dan percikan darah, namun matanya memancarkan pendar keindahan serta keberanian yang tak tertandingi oleh wanita mana pun di dunia.
"Plasentanya tertahan di dalam... saya harus melakukan plasenta manual," bisik Melani pada dirinya sendiri.
Dengan ketenangan luar biasa, Melani memasukkan tangannya menelusuri tali pusat, melonggarkan ari-ari yang melekat keras di dinding rahim Tari, lalu mengeluarkannya secara utuh tanpa tersisa. Pendarahan perlahan mulai mereda.
Melani meraih jarum jahit dan benang medis. Dengan telaten, rapi, dan cepat, ia menjahit kembali robekan jaringan jalan lahir Tari lembar demi lembar, memastikan tidak ada jaringan terpisah yang memicu infeksi di kemudian hari.
Hampir dua jam bertarung melawan waktu dan kematian di dalam kamar sempit itu, Melani akhirnya menyelesaikan jahitan terakhirnya. Ia membersihkan tubuh Tari, mengganti kain sarungnya dengan kain bersih, lalu membungkus sang bayi mungil dan meletakkannya di atas dada Tari untuk proses inisiasi menyusu dini.
Tari yang lemas tersenyum lemah, menatap bayinya dengan air mata bahagia sebelum akhirnya tertidur lelap yang tenang.
Melani bangkit berdiri perlahan. Kakinya terasa pegal luar biasa, kepalanya sedikit pusing akibat kelelahan fisik dan emosional yang terkuras habis. Kemeja putihnya yang indah kini bernoda warna merah darah di bagian dada dan lengan.
Ia berjalan menuju wadah air di sudut ruangan untuk membasuh tangan dan wajahnya dari noda darah.
Tiba-tiba, sebuah langkah kaki mendekatinya dari belakang.
Mbah Karsa—tetua adat yang selama ini paling keras menentang dan membenci keberadaan Melani—jatuh berlutut tepat di atas lantai kayu di depan kaki Melani. Tetua berambut perak itu menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, dadanya berguncang hebat oleh tangisan penyesalan yang amat dalam.
"Bidan Melani..." panggil Mbah Karsa dengan suara serak yang bergetar hebat, air matanya menetes membasahi lantai. "Ampunkan saya... ampunkan kebodohan dan kesombongan tua ini..."
Melani tersentak kaget, segera berlutut hendak menegakkan tubuh tetua tersebut. "Mbah Karsa... jangan begini, Mbah. Bangkitlah..."
"Tidak, Bidan... saya ini manusia hina!" tangis Mbah Karsa pecah, tak lagi mempedulikan harga dirinya. "Saya yang merencanakan hal jahat padamu malam ini... saya yang menyebut ilmu medismu racun... Tapi kamu... kamu justru bertaruh nyawa, bersimbah darah melahirkan cucuku dan menyelamatkan nyawanya!"
Mbah Karsa menatap wajah manis Melani yang ternoda sisa darah dengan pandangan penuh rasa hormat dan penyesalan yang tak terhingga.
"Dukun kami bilang bayi itu pembawa sial... tapi kamu membuktikan dengan ketulusanmu bahwa bayi itu adalah berkah keselamatan," bisik Mbah Karsa tersedu-sedu. "Mulai malam ini... saya bersumpah demi leluhur tanah ini, tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh atau menyakiti Bidan Melani! Kamu adalah malaikat penyelamat Hulu Rawa!"
Rangga Wira yang berdiri di dekat pintu menatap pemandangan itu dengan dada bergemuruh bangga. Pria tegap itu melangkah mendekat, berdiri tegap di samping Melani, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Melani bangkit berdiri.
Sentuhan jemari kekar Rangga pada lengan Melani terasa begitu hangat dan menguatkan. Saat mata mereka saling bertautan di bawah pendar redup lampu minyak, Rangga membisikkan satu kata yang menggetarkan seluruh jiwa Melani.
"Terima kasih... Melani-ku."
Bersambung..
kasih pelajaran lah buat Pak pramono tuuu... gemesssss
pasti lancar ya Thor 🤭