Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Sore ini
Sosok itu berjalan masuk dengan langkah anggun seperti biasa. Gaun krem tipis dengan sabuk kulit di pinggang, sepatu hak rendah berwarna senada, rambut panjang tergerai dengan sedikit gelombang di ujungnya. Di tangannya ada beberapa kantong plastik berwarna coklat—buah tangan.
"Alya!" sapa Gita dengan suara ceria, seolah mereka baru saja bertemu kemarin, bukan berminggu-minggu. "Kakak kangen banget sama kamu!"
Alya tidak bergerak dari sofa. Ia hanya menatap Gita dengan tatapan datar. Dingin.
Gita yang terbiasa disambut dengan senyum dan pelukan dari adiknya itu sedikit terkejut. Ia menatap Alya sejenak, lalu tersenyum lagi, berusaha mengabaikan keanehan itu.
"Mbak, Kak Gita datang," teriak Alya ke arah dapur, memanggil Aminah. Ia tidak bermaksud menyambut kakaknya sendiri.
"Eh, nggak usah panggil-panggil mereka, Alya," Gita berjalan masuk, meletakkan kantong belanjaannya di meja marmer.
"Kakak cuma mampir sebentar. Ini kakak beliin kamu baju baru. Ada dua potong. Sama skincare. Kamu kan masih muda, harus rawat kulit dari sekarang."
Ia mengeluarkan isi kantong satu per satu dengan gerakan yang terampil, memperlihatkan semua barang yang ia beli.
Baju-baju dengan merk terkenal, skincare dengan kemasan cantik. Semua terlihat mahal. Semua terlihat seperti usaha untuk menunjukkan bahwa ia peduli.
Tapi Alya sudah tidak percaya lagi.
"Terima kasih, Kak," ucap Alya datar. Tidak ada senyum. Tidak ada antusiasme.
Gita berhenti sejenak. Ia menatap adiknya lekat-lekat. Alya duduk di sofa dengan punggung tegak, tangan di pangkuan, wajahnya datar tanpa ekspresi. Matanya yang dulu selalu berbinar saat melihat kakaknya kini kosong. Dingin. Seperti sedang menatap orang asing.
"Alya, ada apa? Kamu sakit?" Gita mendekat, tangannya terulang hendak menyentuh dahi adiknya.
Alya menghindar. Gerakannya halus, tapi cukup jelas untuk membuat Gita sadar bahwa ada yang tidak beres.
"Nggak apa-apa, Kak. Aku sehat."
Gita menarik tangannya, sedikit tersinggung. Ia duduk di sofa di seberang Alya, menyilangkan kakinya dengan anggun. Matanya mengamati adiknya dengan seksama.
"Kamu kurusan, Alya. Reza nggak ngasih makan yang bener? Atau kamu lagi diet? Jangan diet-diet, kamu masih muda. Makan yang banyak."
"Reza memberiku uang. Aku bisa beli makan sendiri," jawab Alya singkat.
Keheningan menyelimuti ruangan. Gita mulai merasa tidak nyaman. Biasanya Alya cerewet, bercerita banyak hal, bertanya kabar, bahkan memeluknya erat-erat. Tapi sekarang adiknya duduk diam seperti patung, menatapnya dengan mata yang tidak bisa ia baca.
"Alya, kamu marah sama Kakak?" tanya Gita akhirnya, berusaha menebak.
Alya tidak menjawab segera. Ia menatap Gita dengan tatapan yang panjang, dalam, seolah sedang menimbang-nimbang. Akhirnya ia berkata, "Nggak, Kak. Aku nggak marah."
Itu bohong. Tapi Alya tidak ingin menunjukkan semuanya sekarang. Ia belum siap. Ia masih mengumpulkan kekuatan.
Gita menghela napas lega. "Syukurlah. Kakak kira kamu marah karena Kakak jarang main ke sini. Tapi kan Kakak sibuk, Al. Kerjaan Kakak banyak banget. Lagipula, kamu kan sudah punya suami. Masa masih tergantung sama Kakak?"
Alya tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata. "Iya, Kak. Aku sudah punya suami. Suami yang Kakak pilihkan untukku."
Ada nada sarkastik yang samar di kalimat itu. Gita terlalu pintar untuk tidak menangkapnya. Wajahnya berubah sedikit, tapi segera ia pulihkan.
"Ya, itu kan yang terbaik buat kamu, Alya. Reza itu pria baik, mapan, tampan. Kamu nggak perlu kerja, nggak perlu pusing mikirin uang. Hidupmu enak, kan?"
Alya menatap kakaknya. Ia ingin berteriak. Ia ingin mengatakan, "Enak? Kau pikir ini enak? Kau tahu dia memperkosaku? Kau tahu dia memukuliku? Kau tahu aku tidur di samping pria yang mencintaimu setiap malam?"
Tapi ia tidak mengatakan itu. Ia hanya mengangguk pelan. "Iya, Kak. Enak banget."
Gita tersenyum puas. "Nah, gitu dong. Kakak kan sayang sama kamu. Kakak cuma mau yang terbaik."
Sayang? Alya hampir tertawa mendengar kata itu. Kau menjualku, lalu bilang sayang?
Gita berdiri, merapikan roknya. "Oke, Kakak mau pergi. Ada dinner sama klien. Kamu jaga diri ya, Alya. Jangan lupa pake skincare-nya. Nanti kalau makin cantik, Reza makin sayang."
Ia berjalan mendekati Alya, mencondongkan tubuh untuk mencium kening adiknya. Biasanya Alya akan membalas pelukan itu. Tapi kali ini ia hanya duduk diam, membiarkan bibir kakaknya menyentuh keningnya sebentar.
Gita merasakan ketidaknyamanan itu. Tapi ia memilih mengabaikannya. Ia melangkah menuju pintu, lalu berbalik sekali lagi.
"Alya, kamu tahu kan... semua yang Kakak lakukan untuk kebahagiaan kamu?"
Alya menatap kakaknya. Matanya tidak berkedip. "Apa kau yakin itu untuk kebahagiaanku, Kak? Atau untuk kebahagiaanmu sendiri?"
Gita terhenyak. Wajahnya berubah, ada sesuatu yang bergerak di matanya—terkejut, mungkin sedikit bersalah, tapi segera ia tutupi dengan senyumnya yang khas.
"Apa maksudmu?"
Alya tersenyum. Senyum yang sama. Dingin. Tajam. "Tidak ada. Hanya bertanya."
Keheningan yang canggung menyelimuti mereka. Gita menatap adiknya dengan tatapan baru—seolah baru sekarang ia melihat bahwa Alya tidak lagi sama. Gadis polos yang dulu mudah diatur, yang selalu menurut, yang tidak pernah melawan, kini telah berubah menjadi sesuatu yang tidak ia kenali.
"Kamu aneh, Alya," kata Gita akhirnya, suaranya sedikit canggung. "Kakak pergi dulu."
"Ya, hati-hati di jalan, Kak."
Pintu tertutup. Suara mobil meninggalkan halaman. Alya tetap duduk di sofa, tidak bergerak.
Aminah keluar dari dapur, mendekati Alya dengan wajah penuh tanya. "Mbak, tadi itu Kak Gita?"
"Ya."
"Kenapa Mbak Alya tidak bilang-bilang?" Aminah duduk di samping Alya, suaranya lembut.
Alya menatap kantong belanjaan yang ditinggalkan Gita di meja. Baju mahal. Skincare mahal. Semua terlihat indah. Semua adalah topeng untuk menutupi kebusukan di baliknya.
"Bu Aminah," ucap Alya pelan, "menurut ibu, apa artinya sayang?"
Aminah terdiam. Ia menatap Alya dengan mata yang penuh pengertian. "Sayang itu, Mbak... melindungi. Bukan mengorbankan."
Alya menoleh, menatap Aminah. Matanya yang tadi dingin perlahan melembut, air mata mulai menggenang di pelupuknya.
"Bu Aminah, aku dulu sangat mencintai kakakku. Aku percaya padanya. Aku pikir semua yang dia lakukan adalah demi kebaikanku. Tapi sekarang... aku tidak tahu lagi."
Aminah meraih tangan Alya, menggenggamnya erat. "Mbak, kadang keluarga justru yang paling menyakiti kita. Tapi itu bukan berarti Mbak salah."
Alya menunduk. Air matanya jatuh, menetes di atas tangan Aminah yang keriput.
"Aminah, aku ingin kuliah. Aku ingin mandiri. Aku ingin... suatu hari nanti, aku tidak perlu bergantung pada siapa pun. Bukan pada Reza. Bukan pada kakakku. Bukan pada siapa pun."
"Kami akan bantu Mbak. Sebisanya."
Alya mengangkat wajahnya, menyeka air matanya dengan punggung tangan. Ia menatap kantong belanjaan Gita di meja.
"Tolong ambilkan sampah itu, Bu. Buang semua barang-barang itu."
Aminah terkejut. "Tapi Mbak, ini mahal—"
"Aku tidak butuh belas kasihan palsu, Bu. Aku tidak butuh hadiah dari orang yang menjualku."
Aminah menatap Alya lama. Di mata gadis ini, ia melihat sesuatu yang baru. Bukan kepolosan yang dulu. Bukan ketakutan yang kemarin. Tapi tekad. Tekad seorang gadis yang sudah tidak mau lagi menjadi korban.
"Iya, Mbak. Aminah buang sekarang."
Alya berdiri, berjalan menuju jendela. Di luar, langit sore berwarna jingga keemasan. Burung-burung terbang berpasangan di atas taman. Dunia terlihat begitu indah di luar sana.
Ia ingat dulu, sebelum pernikahan ini, ia dan Gita sering melihat matahari terbenam bersama di beranda rumah mereka. Mereka tertawa, bercerita, berbagi mimpi. Alya sangat mengagumi kakaknya saat itu. Gita adalah segalanya baginya.
Tapi sekarang, melihat matahari terbenam sendirian di jendela rumah megah ini, Alya sadar bahwa orang yang paling ia percaya telah mengkhianatinya dengan cara yang paling kejam.
Dan untuk pertama kalinya, Alya tidak menangis memikirkannya.
Ia hanya berdiri di sana, menatap langit yang luas, dan berjanji pada dirinya sendiri: Aku akan bebas. Suatu hari nanti. Bebas dari semua ini.
Di luar, langit semakin gelap. Malam akan segera datang.
Tapi di dalam dada Alya, sebuah api kecil mulai menyala. Api yang tidak akan pernah padam.
jangan lupa mampir yaa🤭