Bejo Mulyorejo pemuda berusia 18 tahun, dia hidup sendirian di Desa Krajan jauh dari hiruk-pikuk kota. Dia mendapatkan warisan dari leluhurnya menjadi Penggali Makam melanjutkan peninggalan sang kakek buyut.
Kehidupan sehari-hari Bejo terbilang cukup, dia selalu hemat dalam pengeluarannya. Walaupun sesekali dapat bantuan dari orang tak terduga tapi dia berusaha membuka usaha kecil-kecilan, akan tetapi perjalan panjang Bejo sedikit sulit.
Bukan kesulitan tentang kebutuhan tapi kesulitan dalam menghadapi segala penampakan setelah menggali makam, dia yang memiliki mata peka dan terbiasa dengan makhluk gaib namun dia juga memiliki rasa takut tersendiri.
Bagaimana kehidupan Sang Penggali Makam ini, kita lanjutkan dalam perjalanan panjangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penampakan Pocong
"Siapa tuh Mal?, cowok barumu kah itu?," tanya salah teman Mala.
"Iya. Kenalin namanya Bejo," jawab Mala.
Bejo tersenyum terpaksa ketika Mala mencubit pinggangnya.
Teman-teman Mala penuh selidik, mereka memandang wajah Bejo terlihat masih muda.
Kemudian Mala mengajak Bejo duduk dan makan bersama teman-temannya, namun pandangan Bejo terpaku di kejauhan. Bejo melihat putih berdiri di kejauhan, tidak terlalu jelas tapi dia tau apa yang di lihatnya.
"Jo, habis ini kita langsung pulang aja ya. Aku gak mau lama-lama disini," ucap Mala.
"Lah emang kenapa Mbak?," balas Bejo, bertanya.
"Sudahlah, kamu ikut aja pokoknya,"
"Baiklah."
Bejo dan Mala kembali menikmati makanan di kondangan, namun di belakang mereka teman-temannya Mala mulai penasaran dengan Bejo, karena memiliki otot lengan yang terlihat begitu sempurna di kulit sawo matang nya.
Mala sadar akan pandangan teman-temannya, lalu mengajak Bejo ke panggung pengantin.
"Baru lagi nih Mal?," tanya Ratna temannya yang sedang menikah.
"Ssttt.. jangan keras-keras, nih Bejo tetanggaku. Dah aku mau pulang karena Bejo mau main sama teman-temannya," ucap Mala.
"Ya sudah. Makasih sudah datang,"
"Iya, aku balik dulu ya?. Semoga langgeng,"
"Amin."
Kemudian Mala mengajak Bejo pulang, namun pandangan Bejo terus menuju berbagai tempat. Begitu banyak yang Bejo lihat membuatnya merinding di seluruh tubuhnya.
"Kamu kenapa sih Jo?," tanya Mala.
Mala sadar pandangan Bejo fokus pada satu tempat lalu seperti ketakutan.
"Mbak mau ikut juga gak ke cafe?," tanya Bejo.
"Hmmm.. bolehlah tapi bayarin," jawab Mala.
"Aman kalau itumah," ucap Bejo.
"Ya sudah yuk berangkat."
Bejo menyalakan motornya, lalu Mala naik. Mereka berdua pulang dengan pandangan teman-teman Mala di belakang yang melihat kepergian mereka, pandangan mereka penuh selidik melihat Mala dengan cowok lain.
Setengah perjalanan Mala di buat terkejut, dia langsung memeluk Bejo begitu erat. Mala menutup matanya berteriak ketakutan, membuat Bejo kaget mendengarnya.
"Ada apa mbak?,"
"Itu Jo, disana ada itu!!,"
"Itu apaan sih mbak?,"
"Kamu lihat sendiri aja."
Bejo memalingkan wajahnya, dia terdiam lalu kembali fokus mengendarai motornya.
"Nah kan bener, tuh pocong ngikutin gua," gumam pelan Bejo.
Bejo sudah sadar jika ada yang mengikutinya, dia terus berdoa menuju cafe yang sudah dekat. Mala terus memeluk Bejo, dia tidak melepaskannya karena sudah ketakutan walaupun sudah masuk jalan besar.
Setelah sampai sana, Bejo berjalan bersama Mala menuju tempat yang sudah di beritahu Jarot sebelumnya. Saat sampai di sana ternyata ada beberapa teman Bejo yang ikut kumpul.
"Tumben rame nih," seru Bejo.
"Nih musang pandan telfon terus sejak tadi Jo," ucap Jarot.
Bima tersenyum kecut mendengar ucapan Jarot.
"Sialan lo, gua ganteng-ganteng gini di bilang musang pandan," seru kesal Bima.
Bejo tertawa kecil melihat keributan teman-temannya.
"Mbak pesen aja, aku Joshua," ucap Bejo.
"Iya Jo," balas Mala.
Semakin malam begitu banyak yang datang, teman-teman Bejo sangat banyak yang datang malam ini yang pas malam mingguan. Tidak ada janji cuman Jarot yang membuat story jadi ikut kesini semuanya.
"Tumben lu bawa cewek Jo," ucap Dirga.
"Emang lu aja yang bisa bawa," balas Bejo.
"Dihh.. sialan lu," sedikit kesal Dirga mendengar balasan Bejo.
"Mana cewek kemarin?," tanya Bejo.
"Dia selingkuh Jo," jawab Dirga.
Dirga duduk di meja Bejo.
Mala sendiri sedang asik bermain ponselnya namun dia terkejut mendengar jawaban Bejo pada temannya.
Kemudian Mala duduk lebih dengan Bejo, dia memeluk lengannya sambil menikmati kentang goreng. Bejo yang sedang mengobrol dengan Dirga di buat kaget tapi Dirga di buat kesal dengan cewek Bejo yang dianggapnya.
"Cihh.. gua jadi obat nyamuk disini," seru Dirga.
Teman-teman Bejo yang lainnya tertawa pelan, Jarot dan Pendi ikut tertawa walau mereka tau wanita di samping Bejo adalah Mbak Mala tetangga Bejo yang cantik dan berkuliah di kota.
Tepat pukul dua belas malam Bejo dan Mala kembali pulang, di belakang mereka ada Jarot dan Pendi. Mala tetap memeluk Bejo, dia masih ketakutan soal sebelumnya.
Saat Jarot dan Pendi mendahului Bejo mereka berhenti di tengah jalan, membuat Bejo sangat terkejut dan ikut berhenti juga.
"Oi kang sapu, kenapa lu diem di tengah jalan sih?," ucap Bejo.
"I-it-itu apaan Jo!!," Jarot menunjukkan pada pohon besar di samping kanan jalan.
Bejo dan Mala melihatnya, Mala terlebih dahulu menundukkan mata ketakutan sedangkan Bejo terdiam memandangi lebih tajam.
"Gila nih pocong, dari tadi masih ngikutin gua ada apasih!!," ujar Bejo, bingung.
Pendi sendiri memeluk Jarot, dia ketakutan melihatnya membuat Jarot kesal di peluknya.
"Ehh.. wajan gosong main peluk-peluk aja lu, lepasin gak?," ucap Jarot.
"Gua takut Rot,"
"Sama gue juga takut tapi lu jangan peluk-peluk gua dong,"
"Ahhh.. kalian ini ribut aja kalau berdua. Rot lu di samping kiri gua di kanan, gas kuat jangan pedulikan kalau takut."
Bejo memposisikan dirinya di tengah, sedangkan Jarot di kiri lebih jauh dari sosok pojok di samping pohon sebelah kanan mereka.
Namun Bejo tidak memberikan aba-aba dia langsung menancapkan gasnya membuat Jarot terkejut. Bejo lebih dulu di susul oleh Jarot, mereka semua dengan rasa takut melewati sosok pocong itu.
Bejo melirik sekilas di tengah kecepatan motornya, sedangkan Mala memeluk erat memejamkan mata ketakutan.
Hingga lima belas menit mereka sampai di persimpangan jalan menuju rumah masing-masing, Bejo dan Mala terlebih dahulu pulang meninggalkan Jarot dan Pendi yang masih duduk di pos bersama bapak-bapak yang ronda.
"Darimana aja kamu Mala?," tanya Pak Budi.
"Dari kondangan yah,"
"Sama siapa?,"
"Sama Bejo,"
"Ke cafe juga kamu?,"
"Iya tadi diajak Bejo,"
"Pamit dulu napa kalau mau pergi,"
"Tadi mau pamit tapi ayah dan ibuk gak ada,"
"Ohh iya lupa, yawes sana tidur sudah malam,"
"Iya yah."
Bejo merebahkan tubuhnya, terasa merinding seluruh tubuh mengingat wajah sosok pocong itu yang sangat mirip Ki Kusumo.
Kemudian Bejo terus mengingat apa sebab kematian Ki Kusumo, tepat saat ingat Bejo terdiam di tengah kesadarannya. Dalam kesunyian yang nyata tiba-tiba ponsel Bejo berbunyi, ternyata itu Mbak Mala yang telfon video.
"Jo.. belum tidur kamu?,"
"Belum mbak,"
"Mbak sendiri ngapain telfon video jam segini?,"
"Mau tidur takut Jo, temenin sambil video gini ya Jo,"
"Hmmm.. iya mbak,"
"Makasih ya Jo,"
Bejo meletakkan ponselnya di samping, dia dan Mala saling pandang lalu memejamkan matanya. Mereka telah tidur lelap meninggalkan pengelihatan saat kembali pulang sebelumnya.
Malam yang begitu panjang, menyisakan derau semilir angin malam. Dinginnya malam tidak sedingin sikap dan pandangannya, tidak ada kata hanya diam saja membuat orang ketakutan dengan sekedar bau busuk dan anyir darah.