Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.
Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1
happy reading guys
------------------------------
BAB 1: Malam Kehancuran
Hujan badai mengguyur langit Jakarta malam itu dengan sangat brutal.
Suara gemuruh petir bersahut-sahutan, memecah kesunyian di kawasan perumahan elite yang biasanya tenang.
Namun, badai di luar sana sama sekali tidak sebanding dengan kehancuran yang sedang terjadi di dalam ruang tengah kediaman megah keluarga Bramantara.
Bruk!
Tubuh Adeline Wijaya terhempas kasar ke atas lantai marmer yang dingin.
Rasa sakit yang luar biasa hebat langsung menjalar dari perut bagian bawahnya, membuat seluruh badannya bergetar hebat.
Gaun tidur satin berwarna putih bersih yang dikenakannya kini mulai ternoda oleh rembesan cairan merah pekat.
Darah segar mengalir pelariannya di sela-sela paha Adeline, menandakan kondisi janin berusia empat bulan di dalam rahimnya sedang berada dalam bahaya kritis.
"Bram... demi Tuhan, aku tidak pernah melakukan itu..."
Adeline merintih, suaranya serak dan nyaris habis karena terlalu banyak menangis.
Kedua tangannya yang gemetar mencoba mencengkeram ujung celana panjang suaminya, memohon belas kasihan.
"Bayi ini... ini anakmu, Bram. Tolong percaya padaku, bawa aku ke rumah sakit... perutku sakit sekali..."
Pria yang berdiri tegap di hadapannya, Bramantara, sama sekali tidak bergeming.
Wajah tampan yang biasanya selalu menatap Adeline dengan penuh cinta, kini mengeras bagai batu karang.
Matanya memancarkan kebencian yang amat mendalam.
Di tangan kanannya, Bram mencengkeram erat belasan lembar foto sialan yang dilemparkan ke wajah Adeline beberapa menit lalu.
Foto-foto terkutuk yang memperlihatkan Adeline sedang tidak sadarkan diri di atas ranjang sebuah hotel, berselimut berdua dengan seorang pria asing yang sama sekali tidak ia kenal.
"Cukup, Adeline! Jangan pernah sebut nama menjijikkanmu dengan mulut itu lagi!"
Suara Bram menggelegar, bergaung di ruangan luas bertingkat itu, bahkan sanggup mengalahkan gemuruh badai di luar rumah.
"Bukti foto sudah ada di tangan saya, laporan dari orang kepercayaan saya juga sudah jelas! Kamu tidur dengan pria lain di belakang saya, dan sekarang kamu masih berani mengemis dan mengaku kalau anak haram itu adalah darah dagingku?!"
"Bukan... itu semua jebakan, Bram!"
Adeline menggelengkan kepalanya histeris, air mata bercampur peluh membasahi wajahnya yang kini sepucat mayat.
"Malam itu Siska yang mengajakku keluar. Dia yang memberiku minuman itu... Aku bersumpah aku tidak tahu kenapa aku bisa bangun di kamar hotel itu!"
Mendengar namanya disebut, seorang wanita muda yang sejak tadi berdiri bersembunyi di sudut ruangan langsung melangkah maju.
Siska, adik tiri Adeline, memasang ekspresi wajah yang sangat terluka dan penuh air mata buatan.
Tubuhnya sengaja gemetar, merapat dengan posesif ke sisi tubuh Bram seolah mencari perlindungan.
"Kak Adeline... tega sekali Kakak menuduhku seperti itu?"
Siska terisak, menyembunyikan senyum kemenangan yang sempat terlintas di bibirnya.
"Aku malam itu justru mencarimu ke mana-mana karena khawatir. Bagaimana bisa Kakak membalas kebaikan Kak Bram yang sudah memberikan segalanya dengan berselingkuh? Sekarang, saat kedok Kakak terbongkar, Kakak malah melimpahkan kesalahan ini kepadaku? Sungguh kejam..."
"Siska! Jaga mulut busukmu! Kamu yang merencanakan semua ini! Kamu ingin merebut posisi ini sejak dulu, kan?!"
teriak Adeline dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Jiwanya terguncang melihat kemunafikan adik tirinya yang selama ini selalu ia manjakan dan ia bantu keuangannya.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Adeline hingga wajahnya tertolak ke samping.
Bukan Siska yang menamparnya, melainkan Bram.
Pria itu menatap istrinya dengan pandangan muak, seolah sedang melihat tumpukan sampah yang menjijikkan.
"Jangan berani-berani kamu menyentuh atau membentak Siska! Dia jauh lebih suci dibandingkan wanita murahan sepertimu!"
napas Bram memburu, dadanya naik turun menahan amarah yang membakar dada.
"Mulai detik ini, hubungan kita selesai. Kamu bukan lagi istriku, dan aku tidak sudi sejengkal pun melihat wajah penipu seperti dirimu di rumah ini. Pengawal! Seret wanita sialan ini keluar dari sini!"
Dua orang pengawal berbadan besar yang sejak tadi berjaga di dekat pintu masuk segera melangkah maju tanpa ragu.
Mereka langsung mencengkeram kedua lengan Adeline yang sudah lemas tak berdaya.
Tanpa memedulikan rasa sakit yang membuat Adeline menjerit kesakitan, mereka menyeret tubuh wanita itu di atas lantai marmer, meninggalkan jejak seretan darah yang panjang dan mengerikan.
"Bram! Jangan lakukan ini! Anak kita... tolong selamatkan anak kita dahulu!"
Jeritan pilu Adeline menggema di sepanjang koridor, namun Bram membalikkan badannya membelakangi sang istri, benar-benar menutup mata dan hatinya.
Siska yang melihat itu diam-diam tersenyum lebar di balik pundak Bram, menatap Adeline dengan pandangan mengejek yang seolah mengatakan.
Kau kalah, Kak.
Brak!
Kedua pengawal itu mencampakkan tubuh Adeline begitu saja ke atas aspal jalanan di luar gerbang rumah.
Hujan lebat langsung menusuk kulitnya yang dingin, menyatu dengan air mata dan darah yang terus mengalir deras membasahi kakinya.
Pintu gerbang besi yang menjulang tinggi di hadapannya ditutup dengan sangat rapat, mengunci rapat-rapat kehidupan mewahnya yang telah hancur dalam semalam.
Adeline terkapar di pinggir jalan, memeluk perutnya yang terasa diremas dengan sangat kejam.
Rasa sakit fisik itu mulai mati rasa, digantikan oleh rasa hampa yang luar biasa saat ia menyadari bahwa detak kehidupan kecil di dalam perutnya kini telah tiada.
Janinnya telah gugur karena kekejaman suaminya sendiri.
Di bawah guyuran hujan badai, Adeline mengepalkan jari-jarinya ke aspal hingga kukunya patah dan berdarah.
Matanya yang mulai mengabur menatap nanar ke arah jendela kamar utama rumah megah itu yang lampunya masih menyala.
Kebencian yang sedalam lautan tiba-tiba bangkit, membakar seluruh kesadarannya yang hampir padam.
"Bram... Siska... Jika malam ini aku mati di tempat ini, aku bersumpah rohku akan terus mengejar kalian. Dan jika Tuhan membiarkan aku tetap bernapas... aku bersumpah demi nyawa anakku yang telah hilang... aku akan kembali untuk menghancurkan kalian sampai kalian memohon kematian di kakiku!"
Pandangan Adeline perlahan mulai menggelap.
Detak jantungnya melemah, dan tubuhnya mulai membeku di bawah dinginnya air malam.
Tepat di saat ia mengira bahwa ajalnya telah tiba, sebuah sorot lampu mobil yang sangat terang memecah kegelapan malam dari arah ujung jalan.
Sebuah mobil limosin hitam mewah yang sangat panjang melaju membelah banjir kecil, lalu berhenti tepat di samping tubuh Adeline yang tergeletak sekarat.
Pintu penumpang bagian belakang langsung terbuka lebar.
Seorang pria dengan postur tubuh tinggi tegap turun dari dalam mobil.
Ia mengabaikan payung yang buru-buru disodorkan oleh asisten pribadinya.
Setelan jas hitam berlapis tiga yang sangat mahal miliknya seketika basah kuyup terkena air hujan.
Pria itu melangkah cepat, lalu langsung berlutut di atas aspal yang kotor di samping tubuh Adeline.
Saat melihat wajah Adeline yang dipenuhi luka dan darah, sepasang mata elang milik pria itu yang biasanya sedingin es langsung bergetar hebat karena kepanikan yang luar biasa.
"Adeline... Adeline! Buka matamu!" Suara pria itu terdengar berat, serak, dan penuh dengan kecemasan yang mendalam.
Itu adalah Nicholas Syailendra.
Pria terkaya, paling berkuasa, dan paling ditakuti di seluruh negeri, sekaligus pria misterius yang selama bertahun-tahun ini hanya bisa memperhatikan dan melindungi Adeline secara diam-diam dari kejauhan.
Nicholas tidak peduli dengan noda darah yang langsung mengotori pakaian mahalnya.
Dengan kedua tangannya yang kuat, ia mengangkat tubuh ringkih Adeline ke dalam dekapan dadanya yang hangat.
"Bertahanlah demi aku, Adeline! Aku perintahkan kamu untuk tidak menutup matamu!"
Nicholas berbisik tegas di dekat telinga wanita itu, suaranya bergetar hebat seraya mempererat pelukannya dan membawa Adeline masuk ke dalam mobilnya yang hangat.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku, apalagi membiarkanmu mati."
Malam itu, Adeline Wijaya secara resmi dinyatakan hilang terseret arus banjir dan dianggap telah tewas oleh seluruh kota.
Namun, di dalam ambulans pribadi super canggih milik keluarga Syailendra yang bergerak menembus malam, sebuah awal dari rencana pembalasan dendam yang paling berdarah dan paling kejam baru saja lahir ke dunia.
------------------------------
Bersambung.......
Jangan lupa tinggalin jejak dulu yaa