Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Setelah hampir setengah jam perjuangan yang diwarnai jeritan, air mata, dan drama adonan klepon, Mak Urut akhirnya menyudahi ritual urutnya.
Keajaiban tangan legendaris itu langsung terasa; pergelangan kaki Sari yang semula merah meradang kini terasa jauh lebih ringan, meski rasa linu sisa pijatan masih tertinggal.
Sari, dengan napas yang masih terengah-engah dan maskara yang sedikit luntur, buru-buru merogoh tas Hermes-nya yang kotor.
Sebagai seorang CEO yang terbiasa bertransaksi secara profesional, ia mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu untuk diberikan kepada Mak Urut.
Namun, sebelum jemari lentiknya menyodorkan uang itu, Mak Urut sudah melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar.
"Nggak usah, Neng cantik. Mas Arka sudah membayarnya sekalian pas jemput Emak tadi di depan gang."
Sari tertegun, tangannya menggantung di udara. Ia menoleh ke arah Arka, namun pria itu hanya memasang ekspresi datar tanpa minat untuk membahasnya.
"Ayo, Mak, saya antar kembali ke rumah," ajak Arka tenang.
Arka kembali melangkah keluar rumah untuk mengantarkan Mak Urut pulang, meninggalkan ruangan yang kini kembali diselimuti keheningan pagi.
Sepeninggal mereka berdua, rasa lelah yang luar biasa mendadak menyerang pertahanan tubuh Sari.
Ketegangan maraton sejak rapat di Singapura, penerbangan tengah malam, drama di lumpur pasar, hingga puncaknya siksaan pijat tadi, benar-benar menguras habis sisa energi sang CEO.
Dengan kelopak mata yang terasa seberat timah, Sari merebahkan perlahan tubuhnya di atas kasur tipis amben tersebut.
Menjadikan bantal kapuk yang keras sebagai tumpuan, ia langsung tertidur pulas dalam hitungan detik.
Beberapa menit kemudian, suara derit pintu bambu yang dibuka perlahan memecah kesunyian. Arka baru saja sampai kembali di rumahnya.
Langkah kakinya mendadak terhenti begitu matanya menangkap pemandangan di ruang tamu.
Di atas amben kayu miliknya, sang CEO Maheswara Group yang beberapa jam lalu begitu angkuh mengacungkan Black Card, kini sedang tertidur sangat pulas.
Wajah Sari tampak begitu damai tanpa guratan ketegangan kerja yang biasa ia pasang.
Rambutnya yang semula tersanggul rapi kini agak berantakan, membingkai wajah cantiknya yang polos saat terlelap.
Ada gumpalan rasa hangat yang aneh mampir di dada Arka saat menatap wanita itu.
Arka melangkah pelan tanpa suara menuju kamar tidurnya yang berada di sebelah ruang tamu.
Ia mengambil selembar selimut kain tebal berwarna biru pudar dari dalam lemarinya.
Meski sudah sering dicuci dan warnanya tidak lagi cerah, selimut itu sangat bersih dan beraroma harum sabun batangan yang segar.
Dengan gerakan yang teramat pelan dan hati-hati agar tidak mengusik tidur nyenyak sang tamu, Arka membungkuk.
Ia membentangkan selimut itu, lalu menutup tubuh Sari mulai dari ujung kakinya yang dibalut perban halus hingga sebatas dada.
Arka berdiri tegak kembali, menatap Sari sesaat sebelum akhirnya berbalik menuju dapur untuk membersihkan sisa-sisa adonan, membiarkan sang CEO kaya raya beristirahat dengan tenang di bawah atap rumah kontrakannya yang bocor.
Sari terbangun saat matahari sudah meninggi. Sinar matahari menerobos masuk dari celah atap yang berlubang, menyinari wajahnya secara pas dan memaksanya untuk mengerjapkan mata beberapa kali.
Begitu kesadarannya pulih, indra penciumannya langsung dimanjakan oleh bau harum kelapa sangrai dan gula aren yang pekat, menguar hangat memenuhi seluruh ruangan.
Sari bergerak sedikit, lalu menyadari tubuhnya diselimuti kain biru usang yang wangi sabun batangan yang segar.
Perlahan, ia menegakkan tubuhnya bersandar pada dinding amben.
Saat menoleh ke arah dapur yang tanpa sekat, pandangannya langsung terkunci pada punggung tegap Arka yang sedang sibuk mengaduk adonan di dalam baskom besar untuk persiapan esok hari.
Kaos oblongnya sedikit terangkat, memperlihatkan otot lengannya yang menyembul kuat setiap kali ia mengaduk adonan tepung ketan—sebuah sisi maskulin yang jujur dan apa adanya, sukses membuat jantung Sari berdesir aneh.
Seolah sadar sedang diperhatikan, Arka membalikkan badan tanpa ekspresi.
"Sudah bangun, Mbak?"
Sari yang masih mengantuk dan dilingkupi rasa canggung luar biasa hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan.
Sifat dominannya seolah menguap entah ke mana.
Arka mengelap tangannya yang putih terkena tepung pada selembar kain bersih, melangkah mendekati amben, lalu berdiri tegak seraya menatap Sari tajam.
"Sebenarnya, apa tujuan Mbak ke pasar subuh? Sampai nekat menerjang lumpur, membuat kegaduhan, dan melempar uang ke dada saya?"
Mendengar pertanyaan menuntut itu, jiwa kompetitif dan ketegasan Sari sebagai seorang pemimpin perusahaan besar mendadak bangkit kembali.
Tanpa ragu, dengan sisa-sisa keberaniannya sebagai CEO yang biasa mengambil keputusan krusial, Sari mendongak dan menatap balik mata teduh namun tajam milik Arka.
"Aku mau kamu menikah denganku," jawab Sari lantang dalam satu tarikan napas.
"Nenekku meminta agar aku segera menikah tahun ini atau posisiku di perusahaan akan dicopot. Dan, sepertinya aku jatuh cinta dengan kamu sejak suapan klepon pertama itu."
Arka sempat tertegun mendengarnya. Keheningan sempat merayap di antara mereka selama beberapa detik, sebelum akhirnya Arka tertawa kecil—sebuah tawa pahit yang menyembunyikan luka masa lalunya yang teramat dalam bersama Niken.
Arka menggeleng tegas, tatapannya berubah menjadi sangat dingin.
"Jatuh cinta? Lucu kamu, Mbak. Tolong mulai sekarang Mbak Sari, stop kejar saya. Saya ini cuma duda miskin penjual kue basah, sedangkan Mbak itu terlalu silau untuk dunia saya yang gelap ini. Cari laki-laki lain yang sepadan dengan kasta Anda."
"Duda?" tanya Sari spontan, mengabaikan penolakan ketat pria itu karena fokus pada satu kata yang baru ia dengar langsung.
"Iya, Mbak. Saya duda karena wanita di masa lalu saya memilih berselingkuh dengan lelaki kaya," sahut Arka, suaranya bergetar rendah menahan luapan emosi yang kembali terkorek.
Arka melangkah satu langkah lebih dekat, menegaskan batasan yang sangat tebal di antara mereka.
"Saya tidak mau lagi menjadi pajangan atau diinjak-injak harga dirinya oleh wanita kaya yang mengira cinta, kesetiaan, dan pernikahan bisa dibeli dengan selembar Black Card. Dunia kita berbeda, Mbak Sari. Jadi, silakan pergi dari sini begitu kaki Anda sudah bisa berjalan."
Sari merasakan dadanya sesak. Penolakan dingin Arka yang membawa-bawa luka masa lalu dan sindiran tentang kasta membuat benteng pertahanannya runtuh sepenuhnya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa uang dan kekuasaannya benar-benar tidak berguna.
Dengan perlahan, Sari bangkit dari duduknya di atas amben.
Meski pergelangan kaki kanannya masih terasa linu dan agak kaku, ia memaksakan diri untuk berdiri tegak.
Ia tidak ingin terlihat semakin menyedihkan di depan pria yang telah menolak tulus niatnya.
"Baiklah, tidak apa-apa. Maaf sudah mengganggumu. Aku pamit," ucap Sari lirih.
Suaranya bergetar menahan tangis yang siap pecah kapan saja.
Ia berbalik, bersiap melangkah pincang menuju pintu keluar rumah Arka.
Melihat bahu ringkih wanita itu berguncang dan setitik air mata yang mulai lolos membasahi pipinya, sudut hati Arka yang paling dalam mendadak berdenyut aneh.
Ada rasa tidak tega yang tiba-tiba menyeruak. Untuk membuktikan apakah wanita kaya di depannya ini hanya sedang bermain-main dengan ego atau benar-benar tulus, Arka memberikan tantangan retoris yang menjebak.
"Kalau Mbak memang sekadar butuh status atau benar-benar mencintai saya, apa Mbak siap hidup sederhana sebagai istri penjual kue?" tanya Arka, suaranya baritonnya memotong kesunyian ruangan.
Sari seketika menghentikan langkah pincangnya. Ia menoleh perlahan ke arah Arka, menatap sepasang mata teduh pria itu dengan pandangan bingung sekaligus penuh harap.
Arka melangkah mendekat, melipat kedua tangannya di dada dengan aura karismatik yang mengintimidasi.
"Saya akan berikan Tantangan Dua Minggu. Taruhan yang adil untuk membuktikan omongan Mbak."
Arka kemudian merinci syarat-syarat mutlak yang tidak bisa dinegosiasikan:
Sari harus melepas total status CEO-nya dan melupakan fasilitas mewahnya selama dua minggu penuh.
Selama masa percobaan, Sari wajib tinggal di rumah kontrakan kecil beratap bocor ini.
Tidak ada lagi alarm pukul lima pagi. Sari harus terjaga sejak dini hari saat udara Jakarta masih menusuk tulang.
Membantu Arka mengaduk adonan ketan dan memeras kelapa untuk klepon yang panas sampai tangannya kapalan.
Ikut ke pasar subuh, menerjang beceknya lumpur tanpa high heels, dan melayani emak-emak berdaster yang kemarin memusuhi dirinya.
Dilarang keras memakai pakaian mewah, perhiasan, ataupun riasan wajah yang berlebihan.
"Jika Mbak menyerah dalam waktu dua minggu, Mbak harus pergi dari kehidupan saya dan jangan pernah injakkan kaki lagi di pasar itu selamanya," tegas Arka, matanya menatap tajam langsung ke netra Sari.
"Namun, jika Mbak berhasil lolos. Saya berjanji akan melunakkan hati saya, menerima Mbak apa adanya, dan bersedia menikah dengan Mbak untuk mendampingi Mbak menghadapi Nenek."
Sari sempat gemetar mendengar deretan syarat gila tersebut.
Kepalanya mendadak pusing membayangkan kuku-kuku mahalnya yang dirawat di salon bintang lima akan rusak akibat parutan kelapa, kulit mulusnya tersengat uap kukusan, dan jam tidurnya hancur total.
Namun, saat ingatan tentang ancaman sang nenek dan rasa manis dari klepon buatan Arka kembali berkelebat, jiwa kompetitif seorang Sari Maheswara membumbung tinggi.
Ia ingin membuktikan pada duda keras kepala ini bahwa cintanya bukan mainan keuangan, dan harga dirinya tidak bisa diukur dengan angka di dalam kartu hitam.
Sari menarik napas panjang, memantapkan hatinya.
Ia melangkah maju, lalu mengulurkan tangan lentiknya demi menjabat tangan Arka yang kasar dan kapalan.
Grep.
"Aku terima tantanganmu," ucap Sari tegas dengan mata berkilat penuh tekad.
"Tapi, beri aku waktu beberapa jam. Aku harus pulang dulu untuk mengambil beberapa pakaian sederhana dan mengurus izin cuti di kantor."
Arka menganggukkan kepalanya pelan, menyetujui kelonggaran pertama tersebut.
"Baik. Saya pegang ucapan Mbak."
Gencatan senjata di antara sang CEO kaya raya dan duda pasar subuh resmi dimulai pagi itu. Perang emosi dan ego dalam dua minggu ke depan siap meledak.
Arka segera mengambil jaketnya, lalu berjalan di samping Sari yang melangkah pincang, mengantarkan wanita itu keluar gang menuju jalan raya utama untuk mencarikan taksi yang aman.
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎