Di hari anniversary mereka yang ketiga tahun, Grizla ingin menaikkan jabatan suaminya dari Manager menjadi CFO dalam diam.
Tapi malam itu, ia terpaksa mengurung niatnya karena ibu dan adiknya ikut campur di hari perayaan anniversary mereka.
Dan lebih menyakitkan lagi, mertuanya itu membawa wanita asing bersama mereka yang membuat ia tidak nyaman dan membuat ia ragu harus menyerah posisi itu.
Lama kelamaan, suaminya mulai bersikap dingin, tidak ada keharmonisan ruma tangga yang ia dambakan. Akhirnya suaminya selingkuh dengan wanita tersebut yang ternyata satu kantor dengannya, alasan selingkuhnya adalah ia menginginkan seorang anak.
Plot twist-nya adalah, perusahaan itu miliknya, yang mengangkat suaminya sebagai manager adalah dirinya melalui orang Kepercayaan yang menjadi CEO sementara di perusahaan G' Jaya.
"Hari ini buka matamu lebar-lebar, siapa yang telah mengangkat derajatmu!" - Grizla
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Sementara itu, Grizla sudah tiba di rumah lebih awal menggunakan taksi online. Ia dengan cepat mengganti pakaian mewahnya dengan daster batik yang warnanya sudah memudar di beberapa bagian.
Ia menguncir asal rambutnya, lalu duduk di meja makan yang hanya menyajikan sebungkus mi instan kuah dan sepotong tempe goreng.
Brak!
Pintu depan digebrakan dengan sangat keras. Langkah kaki Antonio terdengar berat dan menghentak, menandakan badai besar sedang datang.
"Grizla!! Di mana kau?!" teriak Antonio membahana di seluruh sudut rumah.
Grizla menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata sesaat untuk menyunggingkan senyum kemenangan, sebelum akhirnya memasang wajah lesu dan ketakutan yang biasa ia perlihatkan.
Antonio muncul di ambang pintu dapur. Penampilannya berantakan; dasinya sudah longgar, lengannya digulung asal, dan ada noda debu hitam di pipi serta kemejanya.
"I-iya, Mas? Ada apa?" tanya Grizla dengan suara yang dibuat bergetar, badannya sedikit menyusut seolah takut dipukul.
Antonio melangkah mendekat, matanya merah menatap Grizla dengan penuh kebencian. "Ada apa kau tanya?! Kau tahu tidak, gara-gara nasib sial yang dibawa perempuan macam kau di rumah ini, karierku hancur di kantor!"
Grizla mengerutkan keningnya, berpura-pura bingung. "Hancur bagaimana, Mas? Bukankah kemarin Mas bilang mau membuktikan kemampuan pada Nyonya G?"
"Diam kau! Jangan sok tahu!" bentak Antonio, tangannya menggebrak meja makan hingga mangkuk mi instan hampir tumpah. "Nyonya G itu ternyata wanita ular! Dia kejam, dingin, dan tidak punya perasaan! Hari ini dia memotong gajiku lima puluh persen dan menurunkan jabatanku jadi staf magang di gudang bawah tanah! Semuanya gara-gara dia lebih membela si Boni keparat itu!"
Grizla menunduk, menyembunyikan binar kepuasan di matanya. "Ya ampun, Mas... potong gaji lima puluh persen? Lalu bagaimana dengan kebutuhan kita? Cicilan mobil Mas bagaimana?"
"Itu dia yang membuatku gila!" Antonio mondar-mandir di dapur sambil menjambak rambutnya frustrasi. "Dan tahu tidak apa yang paling membuatku muak? Nyonya G itu... setiap kali dia bicara, entah kenapa nadanya mengingatkanku padamu! Sialan, membayangkan wanita berkuasa seperti dia punya kemiripan dengan istri tidak berguna sepertimu membuatku ingin muntah!"
Grizla perlahan mendongak, menatap Antonio dengan tatapan polos yang menusuk. "Mas... kalau memang Nyonya G mirip denganku, mungkin saja itu tanda kalau Mas harusnya lebih menghargaiku di rumah. Siapa tahu, nasib Mas berubah kalau Mas bersikap baik pada istri."
Antonio seketika menghentikan langkahnya. Ia menatap Grizla dengan pandangan tidak percaya, lalu tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa yang penuh dengan penghinaan.
"Kau? Menghargaimu?" Antonio melangkah maju, mencengkeram rahang Grizla dengan kasar, memaksa wanita itu menatap matanya. "Dengar ya, Grizla. Kau itu cuma wanita rumahan yang bodoh, miskin, dan tidak punya masa depan. Menyamakanmu dengan Nyonya G adalah penghinaan terbesar abad ini! Nyonya G itu punya segalanya, sedangkan kau? Kalau bukan karena uangku, kau sudah mati kelaparan di jalanan!"
Antonio melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar hingga kepala Grizla terengat ke samping.
"Mulai besok, hemat semua pengeluaran! Jangan harap kau dapat uang jajan seperti biasa. Makan saja apa yang ada! Semua uangnya hanya cukup kebutuhan rumah saja, tidak ada beli skincare, jajan atau baju lagi, mulialah berhemat mulai sekarang!" kata Antonio lagi, lalu berbalik meninggalkan dapur menuju kamar tidur, membanting pintunya dengan keras.
Setelah Antonio pergi, keheningan kembali di dapur. Grizla perlahan mengangkat tangannya, mengusap rahangnya yang sedikit memerah bekas cengkeraman Antonio.
Wajah ketakutan yang tadi ia tunjukkan lenyap seketika. Tatapan matanya berubah menjadi dingin. Ia berjalan menuju cermin kecil yang menggantung di dekat kulkas, menatap pantulan dirinya sendiri.
"Uangmu yang menghidupiku, Antonio?" bisik Grizla dengan nada rendah yang persis sama dengan suara Nyonya G di ruang rapat tadi pagi.
Grizla tersenyum licik, sebuah senyuman predator yang siap menerkam mangsanya.
"Mari kita lihat besok pagi... saat kau harus berlutut di gudang berdebu itu untuk menyusun berkas-berkas milikku, sementara aku duduk di atas menggunakan uang yang kau sebut 'hasil kerja kerasmu'. Nikmati malam terakhirmu sebagai pria sombong, Suamiku."
kuy.. yg banyak geh ...😭
yg banyak lagi to Les... nanggung bacanya..
tak kasih kopi nih.. biar terang kontestrasinya... 😂😂🤭
yg semangat upnya, tak kirim kopi..💪
jgn kelamaan grizla yg disiksa di rumah hantu itu..