Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabtu yang dinanti
Suasana kantin sekolah yang bising dan penuh sesak tidak mengurangi keseruan meja pojok tempat geng Reza berkumpul. Sambil menikmati es teh manis dan semangkuk bakso, obrolan mereka kembali berputar pada kejadian hari Sabtu kemarin.
"Tante lo asyik juga ya, Ja. Bisa berbaur gitu sama kita-kita," buka Reno sambil mengunyah kerupuknya.
"Iya, unik emang tante gue itu," sahut Reza bangga. "Dia bahkan kayak nganggap gue adeknya sendiri. Lo tahu gak? Pas Sabtu pagi kemarin aja, dia datang tiba-tiba menerobos masuk kamar gue, terus langsung loncat ke atas ranjang. Dikira di balik selimut itu gue, padahal yang tidur di situ si Arvin. Pasti malu banget tuh!" cerita Reza menggebu-gebu sambil terkekeh mengingat kejadian itu.
"Yang bener, Ja?" Bima langsung melotot heboh. "Berarti si Tante loncat nindih tubuh lo, Vin?"
Arvin yang sedang mengaduk minumannya hanya mengangguk pelan tanpa ekspresi.
"Anjir! Si Arvin menang banyak!" timpal Bima heboh sambil menepuk meja.
"Menang banyak apaan? Yang ada gue kaget," sahut Arvin datar, mencoba menutupi debaran aneh yang kembali terasa tiap kali kejadian itu dibahas.
"Kaget karena tiba-tiba ada bidadari jatuh dari langit ya?" goda Fino sambil menyenggol bahu Arvin.
"Apaan sih," gerutu Arvin sambil mendengus pelan, memalingkan wajahnya yang sedikit menghangat.
Reza kembali menimpali, "Udah dibilang, tante gue itu asyik tapi agak gila juga. Mungkin efek kelamaan jomblo sih, makanya akhir-akhir ini dia sering banget main ke rumah gue."
Arvin menaikkan sebelah alisnya, tertarik dengan informasi itu. "Masa sih? Gue yang sering tidur di rumah lo baru lihat dia kemarin."
"Iya, karena dia biasanya mampir pas siang, jarang banget malam. Paling kalau nginep pas weekend, itu juga kadang, se-mood-nya dia aja," jelas Reza.
Tak lama kemudian, bel sekolah kembali berbunyi nyaring memutus obrolan mereka. Sisa hari itu dihabiskan dengan ketegangan lembar soal ujian kedua. Begitu bel pulang berbunyi, seluruh murid langsung berhamburan keluar. Seperti biasa, Reza pulang ikut di jok belakang motor Arvin.
Begitu motor Arvin berbelok memasuki halaman rumah Reza, mata Arvin langsung menangkap sesosok kendaraan yang sangat familier terparkir di sana. Sebuah motor matic putih.
"Ini motor tante lo, kan?" tanya Arvin sambil membuka kaca helmnya.
"Eh? Iya, bener. Tante Karin ada di sini kayaknya," jawab Reza sambil turun dari motor.
Arvin yang biasanya menunggu di luar jika ada tamu, kali ini mendadak mematikan mesin motornya. Dia turun, membuka helm, dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan menggunakan jari tangan di kaca spion. Ada dorongan kuat di hatinya untuk ikut melangkah masuk ke dalam rumah.
Begitu pintu ruang tengah terbuka, tampak Karin sedang duduk lesehan di atas karpet bulu, asyik bermain boneka bersama Lulu, adik perempuan Reza yang masih kecil.
"Tante, Mama mana?" tanya Reza sambil melempar tas sekolahnya ke sofa.
"Ke warung dulu bentar," jawab Karin tanpa menoleh. Namun begitu dia mendengar langkah kaki lain, Karin mendongak dan matanya berbinar melihat sosok jangkung di belakang keponakannya. "Eh, ada Arvin juga."
Reza menoleh ke belakang, baru sadar kalau temannya itu ikut mengekor masuk. "Gue ganti baju dulu bentar ya, Vin," pamit Reza yang langsung diangguki oleh Arvin.
Setelah Reza menghilang ke kamarnya, Arvin berjalan mendekat. Dia mendudukkan dirinya dengan santai di atas karpet, mengambil posisi tepat berhadapan dengan Karin yang masih memegang boneka barbie milik Lulu.
"Gimana ujiannya tadi?" tanya Karin membuka obrolan, menatap Arvin dengan senyum ramah.
"Aman dong, Tan. Gue bisa jawab semuanya," jawab Arvin santai, terselip nada percaya diri yang tinggi.
Karin menaikkan sebelah alisnya, menggoda cowok remaja itu. "Yakin gak sama jawabannya? Nanti tahu-tahu nilainya kurang lagi."
Arvin terkekeh pelan. "Ya enggak lah, Tan. Nanti kalau hasil ujiannya udah keluar, bakal gue pamerin ke Tante."
Karin tertawa renyah mendengarnya, lalu kembali menunduk untuk mengajak Lulu mengobrol dengan suara yang dibuat-buat lucu, mengikuti alur permainan boneka si kecil. Arvin terdiam, memandangi sisi wajah Karin yang tampak begitu lembut dan hangat saat berinteraksi dengan anak kecil.
"Tante... suka anak kecil, ya?" tanya Arvin tiba-tiba.
"Iya," jawab Karin spontan tanpa menoleh dari boneka Lulu.
"Kalau... Tante suka aku gak?"
Deg.
Pertanyaan yang meluncur begitu tenang namun sarat akan keseriusan dari mulut Arvin seketika membuat gerakan tangan Karin membeku. Dunia di sekitar Karin rasanya mendadak sunyi. Dia perlahan mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata hitam Arvin yang sedang menatapnya lekat, mengunci pandangannya tanpa ada keraguan sedikit pun.
Tepat saat Karin baru saja menyunggingkan senyum dan bersiap untuk membuka suara membalas ucapan nekat itu, langkah kaki cepat Reza memecah ketegangan yang baru saja terbangun.
"Udah, yuk, Vin! Cabut!" seru Reza yang sudah rapi dengan baju kaus santainya. Dia langsung menghampiri Karin sambil menengadahkan tangan. "Tante, bagi uang dong. Mau main nih."
Karin langsung mengalihkan wajahnya dari Arvin. Dia mendelik kesal pada Reza. "Kamu tuh ya, kerjanya minta uaaaang terus!" gerutu Karin. Meski mengomel, tangan Karin tetap merogoh tasnya dan mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu rupiah, lalu menyerahkannya pada Reza.
Karin kemudian melirik ke arah Arvin yang masih duduk diam menatapnya. "Kamu mau juga, Vin?" tanya Karin menawarkan.
Arvin langsung menggeleng cepat, salah tingkah. "Eh, enggak usah, Tan. Gak perlu."
Karin tidak memedulikan penolakan itu. Dia kembali mengeluarkan selembar lima puluh ribu lagi dari dompetnya. "Nih, udah ambil aja buat jajan."
Belum sempat Arvin meraihnya, Reza sudah lebih dulu merebut uang itu dari tangan Karin dan langsung menjejalinya ke telapak tangan Arvin. "Udah, terima aja, Vin! Sebelum dia berubah pikiran," kata Reza cepat sambil menarik lengan Arvin agar segera berdiri dari karpet.
Arvin yang ditarik paksa oleh Reza langsung buru-buru menoleh ke belakang ke arah Karin. "Makasih banyak ya, Tante," ucap Arvin setengah berteriak.
Karin hanya membalasnya dengan lambaian tangan dan senyum yang tertinggal di bibirnya.
Begitu mereka berdua sampai di dekat motor yang terparkir di halaman, Reza langsung memakai helmnya. Namun, gerak-gerik Arvin yang sempat diam beberapa detik setelah keluar dari rumah membuat Reza memicingkan mata curiga.
"Vin, tadi pas gue ganti baju, lo ngobrol apaan aja sama tante gue?" tanya Reza penasaran sambil menaiki jok belakang. "Serius amat kayaknya."
Arvin dengan tenang memakai helmnya, lalu naik ke atas kemudi. Ekspresi wajahnya langsung kembali datar, menyembunyikan kepanikan kecil di dalam dadanya.
"Cuma basa-basi biasa, nanyain ujian gimana," jawab Arvin santai, suaranya terdengar meyakinkan dari balik helm.
"Oh..." sahut Reza manggut-manggut tanpa menaruh curiga sedikit pun. "Kirain apaan. Tante gue emang gitu, bawel kalau soal nilai sekolah."
Arvin menyunggingkan senyum tipis yang tersembunyi di balik kaca helm hitamnya. Dia lalu menstarter motornya, membiarkan deru mesin memotong obrolan mereka. Mereka pun membelah jalanan siang itu menuju tempat tongkrongan biasa di sebuah coffee shop dekat area sekolah untuk bergabung dengan teman-teman yang lain.
Hari-hari ujian sekolah berikutnya berlalu dengan cepat bagi Arvin. Namun, fokus cowok itu tidak sepenuhnya berada di atas lembar soal ujian. Setiap kali dia merasa jenuh belajar di kamarnya yang sepi, Arvin akan menyalakan ponselnya, menatap wallpaper ruang obrolannya dengan Karin, atau membaca ulang pesan-pesan singkat dari wanita itu.
Janji Karin di hari itu terus terngiang di kepalanya, “Pintu rumah Tante selalu terbuka buat kamu kalau weekend.”
Hingga akhirnya, hari Sabtu yang dinanti-nanti tiba.
Sejak pukul dua siang, Arvin sudah rapi. Dia memakai kaos hitam polos yang pas di tubuh tegapnya, dipadukan dengan jaket denim dan celana jins hitam. Setelah menyemprotkan parfum beraroma wood yang maskulin namun tidak menyengat, dia menyambar kunci motornya.
Tanpa memberi tahu Reza atau teman-temannya yang lain, Arvin melajukan motornya membelah jalanan kota langsung menuju ke rumah Karin yang sudah dia hafal alamatnya di luar kepala sejak malam hujan itu.
Tin-tin.
Arvin menghentikan motornya di depan pagar rumah minimalis yang tampak sepi tersebut. Dia melepas helmnya, merapikan rambutnya lewat kaca spion, lalu mengetuk pagar besi hitam itu perlahan.
"Tante... Tante Karin," panggil Arvin dengan suara beratnya.
Tak lama kemudian, terdengar suara kunci pintu diputar dari dalam. Pintu kayu rumah terbuka, menampilkan sosok Karin yang tampak sangat santai dengan balutan kaos kedodoran dan celana pendek rumahan. Rambut panjangnya dicepol asal ke atas, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah polosnya tanpa riasan.
Karin sempat berkedip kaget melihat siapa yang berdiri di depan pagarnya. Dia melirik jam di pergelangan tangannya, lalu menatap Arvin tak percaya.
"Loh, Arvin? Kamu beneran datang?" tanya Karin sambil melangkah membuka selot pagar.
Arvin menatap Karin lekat-lekat, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Kan udah janji pas hari Minggu kemarin, Tan. Kalau weekend, gue boleh main ke sini."
Karin menggeleng-gelengkan kepala, namun sudut bibirnya tidak bisa menyembunyikan senyuman geli sekaligus senang. "Astaga, Tante kirain kamu cuma bercanda tahu. Ternyata nekat beneran datang sendiri ke sini. Mana gak bilang-bilang dulu lagi lewat chat."
"Kalau bilang dulu, nanti Tante malah gak mau nemuin gue," sahut Arvin santai, melangkah menuntun motornya masuk ke halaman rumah Karin setelah dipersilakan.
"Ya udah, ayo masuk. Untung Tante lagi gak sibuk," kata Karin sambil membalikkan badan mendahului Arvin masuk ke dalam rumah.