NovelToon NovelToon
Kembaran Rahasia Si Culun

Kembaran Rahasia Si Culun

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Bad Boy / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: fayepey

Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.

Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.

Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.

Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Sebenarnya Terjadi

Nara menatap papinya dengan ekspresi tidak percaya. Sesekali, matanya melirik Alden yang duduk di sebelahnya, lalu beralih ke Om Arka. Gadis itu benar-benar tidak menyangka akan mendengar pembicaraan seperti ini.

"Papi? Are you kidding me?" tanyanya dengan wajah terkejut.

"No, Baby," jawab Ronald dengan kalem, seolah apa yang baru saja dia katakan bukanlah sesuatu yang mengejutkan.

Ronald menarik napas pelan sebelum kembali menjelaskan, "Oke, Papi tahu kamu masih kaget. Sebenarnya, perjodohan ini awalnya direncanakan untuk Naya. Tapi karena kamu lebih tua lima menit dari Naya, Papi harus menjodohkan kamu lebih dulu. Supaya nantinya Naya tidak melangkahi kamu."

"Aku enggak masalah, kok, Pi, kalau Naya melangkahi aku. Mending Papi jodohin Alden sama Naya aja daripada sama aku," protes Nara. Dia langsung menoleh ke arah Alden, lalu kembali menatap papinya dengan tatapan memohon.

"Naya masih kritis, Nak. Lebih baik kamu yang diutamakan lebih dulu. Papi juga masih mencari laki-laki terbaik untuk Naya nanti," ucap Ronald lembut, berusaha membuat putrinya memahami keadaan.

"Ya, kan, masih bisa nunggu Naya sadar, Pi. Enggak harus sekarang juga, dong," protes Nara lagi. Namun, Ronald justru menggelengkan kepalanya pelan.

"Enggak bisa, Sayang. Opa, Oma, Papi, dan Mami sudah membuat perjanjian kalau cucu mereka harus dijodohkan maksimal saat berusia tujuh belas tahun. Opa dan Oma tetap bersikeras memilih usia segitu supaya kamu enggak terlalu jauh terjun ke pergaulan bebas. Menurut mereka, kalau kamu sudah berumur sembilan belas tahun, kamu akan semakin susah diawasi karena pergaulanmu pasti semakin luas."

Ronald berhenti sebentar, memperhatikan perubahan ekspresi di wajah putrinya. "Jadi, Opa dan Oma menyuruh kami mencarikan kamu jodoh saat usiamu tujuh belas tahun. Kalau sampai usia itu belum juga ditemukan, kamu akan dijodohkan dengan seseorang di London. Itu artinya, setelah menikah, kamu harus menetap di London selamanya."

"Jadi, ini ide Opa dan Oma?" tanya Nara. Nada suaranya tidak lagi setinggi tadi, tetapi wajahnya masih terlihat keberatan.

"Iya. Sekarang kamu paham, kan?" jawab Ronald.

Nara terdiam. Jujur saja, mungkin karena selama ini mereka tinggal terlalu jauh, dia masih bisa mempertimbangkan permintaan orang tuanya. Bahkan, dia merasa masih memiliki kesempatan untuk menolak jika keputusan itu hanya berasal dari papi dan maminya. Namun, kalau Opa dan Oma yang sudah meminta, keraguan mulai muncul di dalam hatinya.

Sejak kecil hingga tumbuh remaja, Nara tinggal di London bersama orang tua papinya itu. Dia sangat menyayangi Opa dan Omanya. Selama ini, Nara juga hampir tidak pernah membantah jika mereka sudah meminta sesuatu darinya. Karena itulah, meskipun masih keberatan, Nara mulai kesulitan mencari alasan untuk menolak.

"Dan satu lagi," lanjut Ronald sambil mengalihkan pandangannya kepada Bu Ana dan Asha. "Sepertinya sudah saatnya saya menyampaikan yang sebenarnya kepada Bu Ana dan Asha."

Suasana di ruangan itu seketika berubah menjadi lebih serius. Asha yang sejak tadi hanya mendengarkan mulai menatap Ronald dengan penuh rasa penasaran.

"Naya adalah anak saya. Dia merupakan siswi di Global International School dan sekarang kondisinya sedang kritis karena ada seseorang yang berusaha membunuhnya," ucap Ronald. Kemudian, dia

mengarahkan pandangannya kepada Nara.

"Sedangkan gadis yang berada di hadapan kita sekarang adalah Nara, Elnara Bellamont Valenzia, kakak kembarnya Naya yang selama ini tinggal di London."

Mendengar hal itu, mata Asha langsung membesar. Dia menatap Nara cukup lama, seolah sedang mencoba mencari perbedaan dan persamaan di antara kedua saudara kembar tersebut.

"Kami sengaja memisahkan mereka dan menyembunyikan identitas Nara karena banyaknya pesaing bisnis serta musuh keluarga Valenzia di luar sana.

Karena itu, saya dan istri saya memutuskan untuk menutup identitas mereka. Mereka juga sengaja kami pisahkan sampai usianya cukup dewasa," jelas Ronald.

Ronald mengepalkan tangannya di atas paha. Raut wajahnya terlihat jauh lebih tegang ketika mulai membicarakan kondisi Naya. "Namun, sayangnya, anak saya mengalami perundungan sampai akhirnya ada seseorang yang berniat melenyapkannya. Saya sudah menemui pihak sekolah dan memutuskan untuk membawa masalah ini ke jalur hukum. Sayangnya, bukti yang kami dapatkan belum cukup kuat."

"CCTV pada saat kejadian diretas oleh seseorang. Sekarang rekamannya juga sudah hilang. Karena kami tidak bisa menerima semua itu begitu saja, kami terpaksa memasukkan Nara ke sekolah tersebut. Nara akan menyelidiki dan mengusut kasus ini sampai tuntas," lanjut Ronald.

Penjelasan itu membuat Asha semakin terkejut. Dadanya terasa sesak dan matanya mulai berkaca-kaca. Selama ini, dia mengira Naya mungkin hanya sedang sakit atau sengaja tidak masuk sekolah. Dia tidak pernah menyangka kalau kondisi sahabatnya benar-benar separah itu.

"Ja-jadi, Naya benar-benar kritis, Om?" tanya Asha terbata-bata. Suaranya terdengar bergetar.

"Iya, Sayang," jawab Felly yang sejak tadi lebih banyak diam. Dia menatap Asha dengan perasaan tidak enak. "Sebenarnya, Naya sempat kami rawat di Rumah Sakit Cendana. Cuma, selama di sana ada beberapa orang yang terlihat mencurigakan. Jadi, Papi dan Mami memutuskan untuk memindahkan Naya ke London. Di sana pengawasannya jauh lebih ketat. Selain itu, ada Opa dan Oma Naya yang ikut menjaga serta mengawasinya."

"Mommy... Mom..." panggil Asha sambil menoleh ke arah ibunya. Air matanya mulai mengalir membasahi pipi. "Aku mau lihat Naya, Mom. Tante, aku mau lihat Naya," rengeknya kepada Felly.

"Maaf, ya, Sayang. Untuk sekarang, Naya belum bisa kita jenguk. Kondisinya masih harus dijaga dan belum semua orang diperbolehkan datang menemuinya," ucap Felly dengan hati-hati. Dia merasa tidak tega melihat Asha menangis seperti itu.

Asha mengusap air matanya dengan punggung tangan. Setelah sedikit lebih tenang, dia kembali menatap gadis yang duduk di seberangnya.

"Jadi, yang masuk sekolah sekarang ini Nara?" tanyanya, masih terlihat sulit mempercayai kenyataan yang baru saja dia dengar.

"Yeah, it's me," jawab Nara dengan santai. Namun, dari tatapan matanya terlihat jelas bahwa dia sebenarnya sedang memikirkan kondisi adik kembarnya.

"Ya, itu yang perlu kami sampaikan kepada kalian," ucap Ronald. Setelah itu, dia kembali melihat Nara dan Alden secara bergantian. "Dan untuk Nara serta Alden, sepertinya kalian akan bertunangan lebih dulu. Untuk pernikahannya, kalian sendiri yang memutuskan kapan waktunya. Yang terpenting, acara pertunangan akan dilaksanakan tiga hari lagi."

"What?" Nara langsung menoleh tajam kepada papinya. "Pi, aku belum jawab apa-apa, loh!"

"Itu karena kamu cuma diam saat Papi menjelaskannya. Jadi, Papi menyimpulkan kalau diammu berarti iya," jawab Ronald dengan santai.

Nara tercengang. Mulutnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada satu pun kata yang langsung keluar. Dia tidak menyangka kalau sikap diamnya tadi malah dianggap sebagai persetujuan.

Gadis itu kemudian menoleh ke arah Alden, berharap laki-laki tersebut ikut mengatakan sesuatu. Namun, Alden justru masih duduk dengan tenang, seolah keputusan pertunangan tiga hari lagi bukanlah masalah besar baginya.

Sebelum pulang, Nara berjalan mendekati kedua anak om Arka yang sedang berdiri tidak jauh dari pintu utama. Tatapannya bergantian mengarah kepada Asha dan Alden, seolah ada hal penting yang tidak bisa dia sampaikan di depan orang-orang tua mereka.

"Gue mau ngomong dulu sama kalian," ucap Nara tiba-tiba.

"Di mana?" tanya Asha, menatap Nara dengan bingung.

"Bukan di sini. Ikut gue," jawab Nara singkat. Tanpa menunggu balasan, dia berbalik dan berjalan menuju bagian belakang rumah. Asha langsung mengikutinya, sedangkan Alden berjalan santai di belakang mereka dengan kedua tangan masuk ke saku celana.

Setelah sampai di belakang rumah dan memastikan tidak ada orang lain di sekitar mereka, Nara berhenti. Dia membalikkan tubuhnya, lalu menatap Asha dan Alden dengan wajah serius.

"Oke, gue cuma mau bilang sama kalian. Karena kalian sudah tahu identitas gue yang sebenarnya, gue minta kalian jangan membongkarnya di sekolah. Jangan pernah panggil gue Nara di sana, oke? Tetap panggil gue Naya seperti biasanya," ucap Nara.

Asha mengerutkan dahinya. "Jadi, kamu belum mau membongkar identitas kamu yang sebenarnya?"

"Yes. Gue akan tetap memakai identitas Naya sampai kasus ini berhasil gue tuntaskan," jawab Nara dengan tegas. Dia tidak ingin rencananya berantakan hanya karena ada seseorang yang tidak sengaja memanggil nama aslinya di sekolah.

"Mau aku bantuin, enggak?" tawar Asha. Ada kekhawatiran yang jelas terlihat di wajahnya. Bagaimanapun juga, masalah yang sedang dihadapi Nara bukanlah masalah kecil.

"Enggak usah, gue bisa sendiri," tolak Nara langsung.

Asha menganggukkan kepalanya pelan meskipun masih terlihat tidak yakin. Dia ingin membantu, tetapi dari cara bicara Nara, dia tahu gadis itu tidak ingin melibatkan terlalu banyak orang dalam rencananya.

"Naya... eh, maksudnya Nara," panggil Asha lagi dengan sedikit salah tingkah.

"Ada apa?" tanya Nara.

"Aku masih bisa, kan, jadi sahabat baik kamu?" tanya Asha dengan perasaan waswas. Dia takut Nara akan menjauh setelah mengetahui kalau selama ini dirinya bukanlah Naya yang asli.

Nara menatap Asha beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk santai. "Of course. Lo tetap akan jadi teman baik gue."

Mendengar jawaban itu, Asha langsung tersenyum lega. Setidaknya, meskipun orang yang berdiri di hadapannya bukan Naya, dia masih memiliki kesempatan untuk berteman baik dengan saudara kembarnya.

"Dan lo," ucap Nara sambil mengalihkan pandangannya kepada cowok yang sejak tadi berdiri diam di sebelah Asha.

Alden mengangkat sebelah alisnya, menunggu ucapan Nara selanjutnya. Wajahnya tetap datar, seolah pembicaraan tentang identitas rahasia dan pertunangan mereka sama sekali tidak menarik perhatiannya.

"Jangan harap gue bakal nurut sama lo cuma karena pertunangan konyol itu. Terus, jangan sampai lo cepu ke siapa pun soal identitas gue dan semua pembicaraan hari ini," peringat Nara dengan tatapan tajam.

"Gue enggak peduli," jawab Alden dengan cuek.

Setelah mengatakan itu, Alden langsung memalingkan wajahnya. Sikapnya yang terlalu santai membuat Nara semakin kesal. Namun, setidaknya dari jawaban tersebut, dia bisa menyimpulkan kalau Alden tidak memiliki niat untuk membocorkan identitasnya kepada siapa pun.

1
Lxjn
Mangat kak💪
fayepey: Terimakasih
total 1 replies
ana Ackerman
kak lanjut ya jangan lupa up kak semangat
fayepey: Terimakasih kak
Nanti sore aku up lagii
total 1 replies
ana Ackerman
lanjut kak
Bu Dewi
seru kk😍😍😍😍
fayepey: Terimakasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!