Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.
Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.
" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"
"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
"Rexsaka... kamu di sini?"
Suara parau nan rapuh milik Paman Amar memecah keheningan di dalam ruangan yang temaram itu. Waktu kian merambat mendekati subuh, membuat atmosfer di sekitar mereka terasa semakin dingin.
"Iya, Ayah. Ini Saka," jawab Rexsaka lembut.
Ia mengembuskan napas panjang yang sarat akan beban batin. Matanya menatap nanar kondisi sang ayah yang terbaring lemah, pemandangan yang jauh lebih menyakitkan daripada apa yang sempat ia bayangkan saat menerima pesan darurat dari salah satu anggotanya siang tadi. Menyaksikan tubuh tegap yang biasanya selalu sigap itu kini dipenuhi lebam dan perban, dada Rexsaka bergemuruh hebat.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Ayah?" tanya Rexsaka seraya menarik sebuah bangku kosong ke sisi brankar.
Ia duduk di sana, bersiap mendengarkan keseluruhan kronologi bencana yang sempat membuat jantungnya serasa berhenti berdetak siang tadi. Di balik wajahnya yang setegar karang sebagai seorang prajurit, tersimpan ketakutan luar biasa yang nyaris meruntuhkan pertahanannya.
Dengan suara yang sesekali bergetar menahan perih, Paman Amar mulai merajut kembali kronologi petaka hari itu. Ia bercerita, semuanya bermula sesaat setelah ia berbalik arah usai mengantarkan Tuan Andy dan Nyonya Marini ke bandara. Begitu roda mobil keluar dari jalur tol, keadaannya mendadak berubah mencekam, sekelompok pemuda berandalan tak dikenal telah bersiap memotong jalan mereka.
Napas Paman Amar sempat tercekat saat mengingat bagaimana gerombolan itu merangsek maju, mencoba merebut dan membawa pergi nona mudanya secara paksa. Paman Amar tentu tidak tinggal diam, ia pasang badan dan melawan sebisanya.
Namun, gurat penyesalan mendalam semakin tercetak jelas di wajah tuanya kala menceritakan bagian di mana orang-orang keji itu mulai melayangkan balok kayu dan memukulnya secara membabi buta hingga ia tak berdaya.
Puncaknya adalah ketika sang pemimpin gerombolan mengacungkan pisau lipat ke arah dadanya, dan di detik yang kritis itu, Nadya justru melompat maju, menjadikan tubuh ringkihnya sebagai perisai bernyawa.
Setitik air mata perlahan bergulir di sela kerutan pipi Paman Amar yang lebam. "Jika tidak ada Non Nadya... mungkin pisau itu sudah menembus jantung Ayah, Ka. Dia menumbalkan dirinya demi menyelamatkan nyawa Ayah. Sementara Ayah..." Suaranya tercekat oleh rasa sesak yang teramat sangat. "Ayah merasa gagal total karena tidak mampu melindungi orang yang seharusnya Ayah lindungi."
Rexsaka langsung menggenggam jemari kasar ayahnya, mencoba menyalurkan kehangatan serta kekuatan yang tersisa. Tatapan matanya yang semula sekeras baja, kini melunak dipenuhi rasa takzim dan pengertian yang mendalam.
"Ayah, tolong jangan menyalahkan diri Ayah seperti ini," ucap Rexsaka dengan suara berat yang menenangkan. "Ini sama sekali bukan kesalahan Ayah. Nona Nadya melakukan itu atas pilihannya sendiri, pilihan tulus untuk menyelamatkan nyawa Ayah."
"Tapi, Ka..." Paman Amar mencoba menyanggah, menyuarakan rasa tidak enaknya yang masih mengganjal di dada.
"Sudahlah, Ayah. Lebih baik Ayah istirahat sekarang. Saka akan tetap di sini menemani Ayah," potong Rexsaka lembut namun tegas. Ia berdiri, lalu mengulurkan tangan untuk merapikan selimut rumah sakit yang membungkus tubuh ringkih sang ayah, memastikan pria paruh baya itu merasa nyaman.
Paman Amar menatap putranya dengan gurat cemas yang baru. "Lalu... bagaimana dengan pekerjaanmu di markas?"
"Saka sudah mengajukan cuti sampai Ayah benar-benar sembuh dan cukup kuat untuk Saka tinggal," jawabnya sembari kembali duduk, menatap lurus wajah tua di hadapannya yang kini dipenuhi bercak biru lebam yang kontras. Hatinya berdenyut ngilu melihat kondisi itu.
"Tidak perlu sampai seperti itu, Ka. Ayah tidak apa-apa, Nak. Jangan korbankan tugasmu," tolak Paman Amar lemah, tidak ingin menjadi beban bagi karier militer putranya.
"Tidak, Ayah. Saka tidak akan pernah bisa tenang bekerja sebelum memastikan Ayah baik-baik saja di sini. Hanya Ayah yang Saka punya sekarang," sahut Rexsaka, mengunci tatapan mata ayahnya agar tidak ada lagi bantahan. "Untuk urusan pekerjaan, Ayah jangan khawatir. Saka sudah mengutus anggota tim yang paling tepercaya untuk menggantikan posisi Saka sementara waktu."
Paman Amar mengembuskan napas panjang. Ia tahu betul watak putranya, sangat sulit meruntuhkan keputusan jika pria muda itu sudah mengeluarkan titah tegasnya. Akhirnya, dengan sisa tenaga yang ada, pria paruh baya itu hanya bisa mengangguk pasrah.
"Kalau begitu, Ayah akan istirahat. Tapi... bisakah kamu ke kamar Nona Nadya sekarang, Ka?" pinta Paman Amar lirih, tatapannya menyiratkan rasa iba yang mendalam. "Kasihan dia di sana sendirian, tidak ada yang menemani. orang tuanya mungkin sampai besok sore atau siang kesini"
Paman Amar menjeda kalimatnya sejenak, mengingat informasi yang didengarnya dari Bibi Siti, asisten rumah tangga kediaman Sismoko, yang sempat datang menjenguknya sekilas usai mengantarkan beberapa keperluan darurat untuk Nadya tadi.
Rexsaka sempat beralih tatap, bimbang. "Tapi, Ayah... bagaimana dengan Ayah di sini jika Saka tinggal?"
"Ayah bisa sendiri di sini, Nak. Lagi pula Ayah mau tidur sekarang. Kamu ke sanalah, temani Nona Nadya, dia di kamar VIP mawar no 2" usir Paman Amar lembut namun penuh penekanan, mengisyaratkan bahwa ketenangannya justru baru akan penuh jika tahu gadis yang menumbalkan diri demi nyawanya itu tidak dibiarkan kesepian di ruang sebelah.
"Baiklah, Ayah," jawab Rexsaka mengalah.
Ia kembali mengulurkan tangan untuk merapikan lipatan selimut sang ayah, memastikan kehangatan membungkus tubuh ringkih itu dengan sempurna. Rexsaka bergeming di tempatnya selama beberapa saat, menatap lekat kelopak mata dihiasi keriput dalam yang perlahan terpejam pasrah. Setelah memastikan napas ayahnya mulai teratur dan terlelap dalam tidurnya, barulah ia melangkah mundur tanpa suara.
Rexsaka keluar dari ruangan itu dengan gerakan seringan mungkin. Suara klik halus terdengar saat ia menutup pintu di belakang punggungnya, kembali menyerahkan kamar tersebut pada kesunyian fajar. Dengan helaan napas yang berat, ia memutar tubuh, memantapkan langkah kakinya menyusuri lorong dingin menuju nomor kamar yang sempat disebutkan oleh ayahnya tadi.
Begitu tiba di depan ruang rawat Nadya, langkah Rexsaka tertahan oleh kehadiran dua pria bertubuh kekar yang berjaga di sisi pintu. Ia langsung mengenali mereka sebagai bodyguard elite bentukan Andy Sismoko.
Suasana sempat menegang sesaat sebelum si rambut gondrong dan si kepala plontos itu menyadari siapa yang datang. Sebagai sesama orang yang bergerak di dunia pengamanan, mereka tentu mengenali reputasi Rexsaka.
Anggukan rasa hormat dan sapaan formal bernada rendah sempat saling bertukar di antara mereka di tengah keheningan lorong. Tidak ada ruang untuk basa-basi panjang, gurat penyesalan yang mendalam di wajah kedua pengawal itu sudah menjelaskan segalanya tanpa perlu kata-kata. Setelah melempar pandangan sekilas yang sarat akan pengertian, Rexsaka meminta izin, lalu mendorong pelan pintu di hadapannya untuk melangkah masuk ke dalam kamar.
Pintu tertutup rapat tanpa suara, memotong sisa kebisingan dari lorong rumah sakit. Ruangan itu hening, hanya diisi oleh bunyi ritmis dari monitor jantung yang mendampingi tubuh diam di atas brankar.
Rexsaka berjalan mendekati sisi ranjang tanpa menimbulkan suara hentakan sepatu. Pandangannya lurus tertuju pada sosok Nadya yang masih belum sadarkan diri di bawah temaram lampu bangsal.
Gadis itu terbaring kaku dengan helai seprai putih membungkus tubuhnya yang tampak ringkih. Wajahnya pucat pasi, kontras dengan jejak lebam kemerahan yang tercetak jelas di salah satu sisi pipinya. Sebuah masker oksigen bening menutupi hidung dan mulutnya, mengembun secara teratur mengikuti tarikan napasnya yang pendek dan dangkal. Di balik selimut tebal yang menutupi perutnya, terbalut perban berlapis yang menahan luka tusukan di dalam sana.
Rexsaka berdiri tegak di samping brankar, mematung selama beberapa saat seraya memperhatikan garis wajah gadis itu yang terpejam rapat. Kamar itu tetap sunyi, sementara jarum jam dinding terus berputar melewati keheningan malam yang kian larut.
Rexsaka menarik sebuah kursi tunggal yang cukup empuk di sudut ruangan, lalu mendudukinya tanpa suara. Untuk waktu yang lama, ia kembali mengamati lurus wajah yang terpejam rapat itu dalam keheningan, sebuah paras yang selama ini selalu gigih melangkah mengejarnya, sementara ia memilih tetap bergeming, enggan untuk sekadar berbalik badan.
Ia mengembuskan napas panjang, perlahan menyandarkan punggungnya yang letih. Sembari memejamkan mata, ia membiarkan sofa tunggal itu menopang sisa energinya yang terkuras habis setelah seharian dipacu ketegangan hebat akibat kabar buruk tentang sang ayah. Namun malam ini bergulir dengan sebuah ironi, sosok yang kini tengah ia jaga di ambang fajar justru bukanlah ayahnya, melainkan gadis yang selama ini selalu ia hindari demi menjauh dari perasaan gadis itu miliki untuk dirinya