Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.
Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minta Uang
Unggahan pertama datang dari Yuki, sahabat dekatnya saat semester awal yang terkenal dengan ambisinya yang membara. Di sana terpampang foto Yuki mengenakan mantel tebal yang modis, berlatar belakang bangunan klasik berarsitektur megah dengan takarir berbahasa Korea. Yuki berhasil melanjutkan kuliah magister hukumnya di Seoul National University, Korea Selatan, sembari mencicipi magang di firma hukum multinasional milik ayahnya. Senyum Yuki di foto itu tampak begitu berkelas dan berkuasa.
Aira menggeser layar ke bawah. Muncul foto Ayu, teman sekelompoknya saat menyusun skripsi. Ayu tampak anggun mengenakan seragam dinas pegawai pemerintahan yang rapi, berfoto di depan meja kerja kayunya yang mengilat dengan papan nama berbahan kuningan. Ayu terlihat mapan, aman dan memiliki masa depan yang terjamin oleh negara.
Lalu ada Donna, gadis berdarah Batak yang dulu sering berbagi mi instan dengannya di kosan itu kini mengunggah foto berlatar belakang lanskap gedung-gedung pencakar langit Manhattan, New York. Donna menuliskan cerita panjang tentang kesibukannya sebagai analis di salah satu perusahaan asuransi global terkemuka. New York tampak begitu gemerlap di belakangnya, sangat kontras dengan anyaman bambu rumah Aira yang kini berada di depan mata.
Tak ketinggalan para lelaki di angkatannya. Bram, cowok yang dulu sering menjahilinya, kini mengunggah foto memakai helm proyek kuning dan rompi reflektif di lokasi pembangunan jalan tol Trans-Sumatra. Bram kini resmi menjadi bagian dari perusahaan konstruksi milik pemerintah dan memegang proyek bernilai miliaran rupiah.
Sementara Eric, si jenius komputer yang selalu eksentrik, baru saja merilis pembaruan aplikasi game buatannya yang kini menduduki peringkat atas di App Store. Setelah menyelesaikan pendidikan lanjutannya di Singapura, Eric kini memimpin studio game-nya sendiri, dikelilingi oleh tim anak muda yang tampak sangat kreatif dan penuh energi.
Dan temannya uang terakhir, Arsen. Unggahan terakhirnya adalah satu tahun lalu, di mana ia mengunggah sebuah foto hitam-putih yang estetik. Arsen tampak sedang berdiri di depan jendela besar sebuah apartemen di London, memegang cangkir kopi dengan latar belakang menara Big Ben yang tertutup kabut tipis.
Takarir foto itu sangat singkat, namun sarat akan pencapaian. Arsen menyelesaikan gelar master bisnisnya di London, sembari memantau operasional perusahaan keluarganya di Jakarta. Tidak hanya itu, di bawahnya, ada tautan artikel berita ekonomi digital yang mengulas bisnis furnitur minimalis modern berstandar ekspor yang baru ia rintis setahun lalu dan kini sukses merambah pasar Eropa.
Aira perlahan menurunkan ponselnya, meletakkannya di atas paha. Dadanya mendadak terasa dihantam oleh batu besar yang tak kasat mata, rasa sesak itu datang bukan karena ia membenci atau iri pada kesuksesan teman-temannya.
Aura tulus menyukai mereka, ia tahu mereka semua bekerja keras. Namun, melihat kilau kehidupan mereka justru membuat bayangan diri Aira sendiri terlihat semakin pekat dan buram.
Mereka semua berlari melintasi benua, menggenggam dunia dan membangun imperium. Sementara Aira, jangankan melintasi benua, untuk keluar dari ruang lingkup aroma minyak goreng dan gunjingan Bu Romlah saja ia tidak berdaya. Ijazah sarjananya yang diraih dengan taruhan air mata kini tak lebih dari sekadar pajangan yang tak mampu membelikan sebotol obat sendi untuk ibunya.
"Aira," panggil Ibu Astri dari dalam rumah, suaranya terdengar agak serak.
"Iya, Bu," sahut Aira.
"Bisa tolong ambilkan air hangat, Nduk? Kaki Ibu agak kaku lagi," pinta Bu Astri.
Suara ibunya seketika memutus lamunan hitam Aira, ua buru-buru menghapus sudut matanya yang mendadak basah, lalu memasukkan kembali ponsel retaknya ke dalam saku.
"Nggih, Bu. Sekedap (Sebentar), Aira ambilkan," sahut Aira, berusaha menjaga suaranya agar tetap ceria.
Aira bangkit dari kursi kayu, melangkah masuk ke dalam rumahnya yang temaram. Di atas sana, langit Semeru mulai tertutup awan mendung, bersiap menumpahkan hujan, seolah tahu bahwa ada satu lagi hati yang sedang berjuang keras agar tidak hancur oleh kenyataan.
Aira menuangkan air panas dari termos plastik ke dalam baskom kecil, lalu mencampurnya dengan air dingin dari gentong tanah liat hingga suam-suam kuku. Dengan hati-hati, ia membawa baskom itu ke kamar ibunya, lalu mulai mengompres kaki Ibu Astri yang tampak bengkak keunguan.
"Maaf ya, Nduk. Ibu selalu merepotkanmu. Harusnya di usiamu yang sekarang, kamu sedang senang-senangnya main seperti anak-anak lainnya," bisik Ibu Astri menatap rambut Aira yang dikuncir kuda seadanya.
Aira mendongak, tersenyum tulus. "Aira senangnya di sini, nemenin Ibu. Gak usah mikir yang aneh-aneh, Bu...," Belum sempat Aira menyelesaikan perkataannya, teriakan seseorang mengejutkan mereka.
"Ibuuu! Mbak Airaaa!"
Suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa beradu dengan lantai semen retak rumah mereka, disusul suara pintu anyaman bambu yang digeser kasar hingga berderit nyaring.
Aira dan Ibu Astri saling pandang. Jantung Aira mencelos, ia sangat mengenali suara cempreng itu.
"Zakia?" gumam Aira.
Seorang gadis remaja berusia enam belas tahun dengan seragam putih-abu-abu yang tampak kusut masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu. Wajahnya sembab, matanya merah dan napasnya memburu seperti orang yang baru saja berlari dikejar setan. Dia adalah Zakia, adik kandung Aira.
Sejak perceraian orang tua Aira dua tahun lalu, Zakia memilih ikut bersama Bapak Hilman, Ayah mereka yang memilih menikah lagi dengan Bu Ami, janda kaya pemilik penggilingan padi di desa sebelah. Sementara Aira memilih tinggal di rumah bambu ini, menolak mencicipi kemewahan hasil keringat wanita lain dan enggan membiarkan ibunya merana sendirian dalam sepi.
"Kamu kenapa, Zakia?" tanya Aira.
"Minta uang," rengek Zakia.
"Ya Allah, Mbak nggak ada uang. Lagipula, dua hari lalu kan Mbak udah kasih kamu uang," ucap Aira.
"Mbak Aira... Mbak ngasihnya cuma dua puluh ribu, mana cukup Mbak uang segitu. Aku pengen jalan-jalan sama temen-temenku," ucap Zakia.
"Zakia minta Bapak aja, Mbak nggak punya uang," ucap Aira.
"Ish, Bapak sama Mama lagi ke Surabaya," ucap Zakia.
"Kalau Bapak tidak ada, ya kamu di rumah saja, Zakia. Belajar. Jangan malah keluyuran dan minta uang terus," potong Ibu Astri dengan suara bergetar, mencoba menegakkan punggungnya yang ringkih.
Zakia menghentikan tangisnya sesaat, menatap ibunya dengan pandangan tidak suka. "Ibu tidak tahu sih, teman-teman Zakia di sekolah semuanya pegang uang saku banyak! Cuma Zakia yang selalu ketinggalan. Zakia malu!" sahut Zakia.
"Mbak benar-benar tidak ada uang lagi, Dek. Uang kerjaan Mbak minggu ini sudah habis untuk beli beras dan bayar iuran air desa, ini saja Mbak belum bisa membelikan obat sendi untuk Ibu," ucap Aira, mengusahakan suaranya tetap selembut mungkin walau dadanya mulai terasa sesak.
.
.
.
Bersambung.....
baru nikah di atas kertas donk namanya..
jangan di tunda lagi,mank malam pertama harus wow gtu keadaan dan tempatnya..
walaupun nikah dadakan tapi kan sudah saling Nerima...
salut aja udah sebulan 😆😆😆
mati aja sana...
udah nggak ada membantu anak,anak dapat suami kaya malah mau morotin...
biar tambah panas hati para ibuk2 julidin🤣🤣🤣
hati" buanykkkkkk ular kadut menggatal