NovelToon NovelToon
Takdir Kejam Sang Duda

Takdir Kejam Sang Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Giarty gia

"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."

Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.

Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.

kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.

Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Topeng di Balik Pintu Rumah.

***

Decitan ban mobil Mercedes-Benz hitam yang berhenti di atas paving block pekarangan rumah keluarga Danendra menandai berakhirnya perjalanan yang mencekam itu.

Belum sempat mesin mobil mewah itu mati sepenuhnya, Freya sudah menarik tuas pintu di sampingnya.

Dengan napas yang masih memburu dan wajah yang diselimuti amarah membara, gadis remaja itu melangkah turun.

Ia membanting pintu mobil dengan kekuatan penuh, menciptakan dentuman keras yang menggetarkan kesunyian malam yang basah setelah diguyur sisa hujan.

Freya melangkah cepat, menghentakkan kakinya di atas lantai. Jemarinya mencengkeram erat tali tas ranselnya yang terasa berat. Pikirannya masih dipenuhi oleh kata-kata kotor dan makian kejam yang dilontarkan Galen di jalan tadi.

Rasa perih di pergelangan tangannya akibat cengkeraman sang duda seolah masih berdenyut kaku. Namun, tepat ketika daun pintu di hadapannya terbuka, sebuah transformasi instan kembali terjadi pada dirinya.

Hanya butuh satu kedipan mata bagi Freya untuk meruntuhkan seluruh riak kemarahan, ketakutan, dan sisa air mata di wajah cantiknya. Sesuai dengan bakat bertahannya selama enam tahun, ia langsung memasang topeng terbaiknya.

Sepasang mata bulatnya yang semula memancarkan kilat benci kini melunak, digantikan oleh binar ceria yang tampak teramat polos dan tanpa beban saat kakinya melangkah masuk ke dalam ruang tamu utama.

"Eh, putri Mama baru pulang?". Sebuah seruan lembut dan hangat seketika menyambut kedatangannya.

Kirana Danendra—mamanya Galen—tampak sedang berjalan dari arah meja makan dengan mengenakan daster sutra rumahan yang elegan. Wajahnya yang anggun langsung dihiasi senyuman keibuan yang teramat tulus begitu melihat Freya melangkah masuk.

"Malam, Tante". Sapa Freya dengan nada suara yang sengaja dibuat riang, bahkan sedikit manja. Ia melangkah mendekat, lalu mencium punggung tangan wanita yang sudah menganggapnya seperti anak kandung sendiri itu.

"Malam, Sayang. Gimana tugas kelompoknya? Selesai?". Tanya Karina sembari mengusap lembut puncak kepala Freya, merapikan beberapa helai rambut hitam lurus gadis itu yang sedikit berantakan. "Sore tadi pas kamu chat mama bilang ada tugas sekolah di restoran dan bakal pulang terlambat, mama langsung tenang. Untung ada Galen yang sekalian jemput kamu, kan? Mama tadi yang telepon kakakmu itu supaya tidak lupa menjemput adiknya."

Mendengar kalimat 'untung ada Galen yang menjemput', Freya merasakan ulu hatinya kembali tercubit perih. Namun, senyuman manis di bibirnya tetap terkunci rapat tanpa celah.

"Iya, Tante. Semuanya lancar kok. Artikel ilmiah kelompok Freya bahkan sudah selesai dan tinggal dicetak saja besok pagi. Untung tadi Kak Galen kebetulan lewat lobi depan, jadi Freya tidak perlu repot mencari taksi malam-malam". Bohong Freya dengan intonasi yang begitu tertata rapi dan profesional.

Tidak ada satupun getaran kepanikan di dalam nadanya. Ia menyembunyikan rapat-rapat kenyataan bahwa kepulangannya malam ini dipenuhi dengan intimidasi fisik dan makian kasar.

"Wah, hebat sekali anak Mama. Ya sudah, kamu pasti capek banget, kan? Kelihatan itu wajahmu agak pucat," Tutur Karina penuh rasa iba, menepuk pundak Freya lembut. "Sana langsung ke kamar, mandi dan istirahat ya, Nak”.

"Baik, Tante. Terima kasih banyak ya. Freya ke kamar dulu". Ucap Freya memberikan anggukan takzim yang sangat sopan.

Tepat pada saat itu, langkah kaki yang berat, kaku, dan dipenuhi oleh hawa dingin yang pekat terdengar melangkah masuk melewati ambang pintu utama.

Galen berjalan masuk dengan postur tegapnya yang menjulang tinggi. Jas hitam mahalnya tersampir kasar di lengan kiri, sementara beberapa kancing teratas kemeja navy-nya masih dibiarkan terbuka, menampilkan siluet lehernya yang kokoh.

Wajah tampan sang duda berumur dua puluh sembilan tahun itu tampak teramat kaku, sebeku kutub utara. Mata elangnya sempat melirik sekilas ke arah Freya yang sedang berdiri di dekat ibunya, namun ia memilih untuk mengabaikan keberadaan gadis itu sepenuhnya. Atmosfer di ruang tamu seketika berubah kaku dan mencekam semenit setelah kehadirannya.

"Galen, kamu juga langsung istirahat ya. Terima kasih sudah jemput Freya" Ucap Karina menoleh ke arah putra sulungnya.

Galen tidak membalas dengan kata-kata. Pria itu hanya mengeluarkan suara berdehem singkat dari balik tenggorokannya yang dalam, "Ehm."

Tanpa menoleh lagi, tanpa mempedulikan tatapan siapa pun, Galen melangkah lebar memotong ruangan, menaiki anak tangga marmer menuju ke lantai atas dengan ritme kaki yang lambat namun pasti, bergerak menuju kamarnya pribadi untuk membersihkan diri.

Freya menghembuskan napas pendek begitu punggung Galen menghilang di balik lorong lantai dua. Beban tak kasat mata yang sempat mencekik dadanya sejak sore seolah sedikit terangkat.

Ia berpamitan sekali lagi pada Tante Karina, lalu melangkah cepat menuju kamarnya sendiri yang terletak tepat di sebelah kamar utama Galen.

Begitu pintu kamarnya tertutup rapat, Freya tidak langsung mandi. Tubuhnya yang terbalut seragam putih-abu-abu itu merosot turun, bersandar pada pintu kayu jati kamarnya sembari mendekap tas sekolahnya erat-erat. Ketegangan yang ia tahan setengah mati di depan Tante Karina tadi membuat seluruh sendi tubuhnya mendadak terasa lemas tak bertenaga.

Drttt… Drttttt…

Getaran dari dalam saku rok abu-abunya mengejutkan Freya. Ia merogoh ponsel pintarnya, dan saat layarnya menyala, sepasang mata bulat indahnya menangkap sebuah notifikasi pesan singkat yang masuk dari sebuah nomor yang teramat ia kenal.

Itu dari Rendy. Pesan itu dikirim tepat beberapa menit setelah mobil Galen melesat meninggalkan lobi restoran.

['Frey, Kamu sudah sampai rumah, kan? Kakakmu tidak memarahimu, kan? Maafkan aku ya, Frey... tadi aku tidak bisa berbuat banyak di lobi. Aku benar-benar mencemaskanmu. Tolong balas kalau sudah sampai.']

Membaca rentetan kalimat yang dipenuhi rasa khawatir—perhatian yang tulus, dan ketulusan dari Rendy, air mata yang sejak tadi Freya bendung di depan Tante Karina akhirnya runtuh juga.

Setetes air mata hangat menetes melewati pipinya, jatuh di atas permukaan layar ponselnya. Namun, kali ini bukan karena rasa takut yang mencekik, melainkan karena rasa haru yang luar biasa manis menjalar memenuhi rongga dadaa nya.

Perhatian Rendy terasa seperti oase penyejuk bagi jiwanya yang selama satu tahun ini selalu dihantam badai kebencian oleh Galen. Freya menarik napas panjang, menghapus sisa air matanya dengan ujung seragam, lalu jemari lentiknya mulai lincah mengetik balasan di atas papan ketik.

['Aku sudah sampai rumah dengan aman kok, Ren. Kamu tidak perlu minta maaf, kamu tidak salah apa-apa. Tadi Kak Galen cuma sedang buru-buru karena ada urusan bisnis keluarga yang mendesak, makanya pembawaannya agak kaku. Tolong jangan dipikirkan ya, Ren. Makasih banyak untuk hari ini, dan makasih sudah mengkhawatirkanku. Sampai ketemu besok di sekolah.']

Setelah menekan tombol kirim, Freya menatap layar ponselnya selama beberapa detik hingga layarnya meredup dan mati. Ia menghela napas panjang, mencoba menata kembali hatinya yang porak-poranda.

Dengan langkah gontai, ia meletakkan ponselnya di atas meja nakas, mengambil baju ganti satin rumahan, lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan seluruh sisa kotoran emosi yang melekat di tubuhnya malam ini.

***

Sementara itu, di kamar yang bernuansa maskulin gelap, suasana yang tercipta benar-benar bertolak belakang.

Uap panas yang tebal tampak mengepul memenuhi seisi ruangan kamar mandi mewah berlapis marmer hitam tersebut. Di tengah-tengah ruangan, di dalam sebuah bathtub porselen raksasa yang berisi rendaman air hangat, Galen sedang menyandarkan tubuh tegapnya secara kaku.

Pria tersebut sudah berendam hampir setengah jam di dalam air hangat yang menenangkan. Kedua lengan kekarnya yang dipenuhi urat menegang disandarkan di tepian bak, sementara kepalanya mendongak menatap langit-langit dengan kelopak mata yang terpejam rapat.

Harusnya, rendaman air hangat ini sanggup mengendurkan seluruh otot tubuhnya yang lelah setelah memeras otak memimpin negosiasi bisnis bernilai jutaan dolar bersama klien Singapura sore tadi.

Harusnya, atmosfer yang sunyi ini mampu menenangkan jiwanya.

Namun nyatanya, pikiran dewasanya justru sedang diacak-acak secara brutal oleh satu gangguan yang teramat tidak masuk akal.

Otak sang CEO muda berjalan di luar kendali logikanya. Pikiran Galen terus melayang—melesat liar melintasi dinding pembatas kamar, tertuju sepenuhnya pada sosok gadis remaja tujuh belas tahun yang kamarnya berada tepat di sebelah kamarnya—Freya Anindita.

Setiap kali ia memejamkan mata, visual tentang bagaimana Freya tersenyum begitu lepas, tertawa begitu renyah, dan membiarkan tubuhnya bersentuhan dekat dengan bocah laki-laki berjaket denim di sudut restoran tadi kembali berputar seperti kaset rusak di kepalanya.

Setiap jengkal ingatan itu bertindak seperti bensin yang menyiram api di dalam dadanya, membuat darah di dalam tubuh Galen yang dingin seketika mendidih sempurna.

"Sialan... Kenapa anak itu terus mengacaukan fokusku!". Umpat Galen berbisik, suaranya terdengar bariton rendah, serak, dan bergaung kaku di antara kepulan uap panas kamar mandi.

Pria itu membuka sepasang mata elangnya. Tatapannya menajam, memancarkan kilat kegelapan yang pekat. Rahang tegasnya mengetat begitu rapat hingga giginya bergemertak keras di dalam mulut.

Di dalam rongga dadanya, dua buah emosi gila yang saling bertolak belakang sedang bergejolak hebat, saling menghantam tanpa ada yang mau mengalah.

Di satu sisi, ada rasa dendam yang teramat pekat—sebuah luka lama yang sengaja ia pelihara selama satu tahun terakhir ini sejak kematian Elena.

Dalam logika Galen yang sudah terlanjur pahit, Freya adalah kutukan—pembawa sial yang merenggut kebahagiaan rumah tangganya karena membiarkan istrinya pergi menjemputnya hari itu.

Ia merasa tidak terima jika anak pungut yang seharusnya membusuk di bawah rasa bersalah, kini justru bisa hidup bebas dan memamerkan senyuman manisnya kepada pria lain di luar sana.

Namun, di sisi lain yang teramat tersembunyi di balik ego keras kepalanya, ada sebuah gejolak lain yang jauh lebih berbahaya.

Sebuah gejolak protektif yang teramat liar dan posesif. Galen tidak bisa membohongi insting predator dewasanya bahwa melihat Freya disentuh, dilihat, atau didekati oleh pria lain di sekolah membuat dadanya terasa sesak akibat rasa tidak rela yang luar biasa panas.

Ada dominasi psikologis gila yang mengklaim bahwa setiap embusan napas, setiap kerutan cemberut, dan setiap jengkal tubuh remajanya yang mulai tumbuh sintal memikat itu adalah milik mutlak keluarga Danendra—miliknya yang tidak boleh dibagi dengan siapa pun di dunia ini.

Galen bergerak kaku, mendudukkan tubuh tegapnya di tengah rendaman air hangat, membuat air di dalam bak berguncang hebat hingga tumpah membasahi lantai marmer. Ia mencengkeram rambut hitamnya yang basah, menyugarnya ke belakang dengan perasaan frustrasi yang amat pekat.

"Kau hanyalah parasit pembawa sial, Freya... Kau harusnya menderita di bawah kuasaku”. Desis Galen tajam pada keheningan ruangan yang beruap, seolah sedang menegaskan kembali logikanya yang mulai goyah oleh hasrat tersembunyi.

Mata elangnya menatap lurus ke arah dinding kamar mandi yang berbatasan langsung dengan kamar tidur Freya di sebelah.

Kilat amarah kejam dan kegelapan di dalam hatinya terus bergejolak, merumuskan sebuah janji hukuman baru untuk mengunci dan meremukkan seluruh pertahanan diri gadis remaja itu agar tidak akan pernah bisa lepas dari dalam sangkar emas yang ia ciptakan di masa depan.

***

1
Alissia
gengsi amat bang kalau bilang suka🤭🤭
Giarty gia: duda satu ini pokoknya gengsi nya yang di gedein. 😄
total 1 replies
Giarty gia
hai... jangan lupa tinggalkan jejak ulasan dan bintang 🌟 nya ya guyss di kolom ulasan. supaya saya juga semangat update bab setiap hari. karena bab selanjutnya akan banyak kejutan. happy reading 🥰
Alissia
awas lo galen,jangan gengsi di gedein ayo nyatain pereasan dong 🤭🤭
Alissia
udah jatuh cinta sama freya tapi gengsi setinggi langit dan keras kepala 🤭🤭🤭
Giarty gia: Ahahaha ketahuan banget ya gengsinya setinggi langit! Freya deket sama Rendy udah ketar-ketir tuh si duda, cuma gengsi aja gak mau ngaku. Siap-siap liat si duda makin tersiksa sama perasaannya sendiri ya! 🤣 Dudanya lagi mode denial maksimal
total 1 replies
Giarty gia
Terima kasih banyak ya, teman-teman, sudah membaca kisah ini! Kalau cerita ini berhasil menghibur atau menyentuh hati kalian, yuk dukung author dengan memberikan ulasan terbaik dan rating bintang 5. Setiap dukungan dari teman-teman adalah energi luar biasa bagi saya untuk terus berkarya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!