Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Namun suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan bahkan anak dari wanita lain.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham
"Luna!"
Luna yang baru saja berganti pakaian terkejut saat mendengar teriakan Raka. Suaranya sangat keras, seolah bisa meruntuhkan dinding rumah itu.
"Mas Raka? Kenapa dia berteriak seperti itu?" gumam Luna heran.
"LUNA! DI MANA KAMU?"
Teriakan Raka kali ini membuat Luna terkejut bukan main membuatnya bergegas keluar dari kamar dengan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
"LUNA!"
Luna berlari di anak tangga dengan tergesa-gesa, rasa takut, khawatir, cemas bergabung menjadi satu, menciptakan sesuatu yang sulit untuk dijelaskan.
"Ada apa, Mas? Kenapa berteriak seperti itu?" ucap Luna menghampiri Raka dan mencoba untuk tetap tenang.
Bukannya mendapatkan jawaban Luna justru mendapatkan tamparan keras.
PLAK
Tanpa sebuah peringatan membuat Luna sangat terkejut.
Saking terkejutnya Luna tidak bisa berkata apa pun. Tangannya bergerak, menyentuh pipinya yang terasa perih sambil terisak. Untuk pertama kali Raka menamparnya, mirisnya ia tak tahu kesalahannya.
"Mas Raka. Jangan seperti itu."
Luna menoleh ke asal suara. Ada Vanesa, sahabatnya setelah ia menikah dengan Raka.
"Luna, kamu gak apa-apa, kan?" Vanessa merangkul pundak Luna dan mengusap-usap pundaknya untuk menenangkannya.
Luna menggeleng lalu kemudian menatap Raka dengan mata yang basah. "Kenapa kamu menamparku, Mas? Apa salahku?"
Raka menarik lengan Luna dengan kasar, menyeretnya untuk mendekat. Pergelangan tangan Luna dicengkraman sangat keras membuat Luna meringis kesakitan. "Masih bertanya salahmu apa, hah?"
"Mas, sakit?" rintih Luna.
"Mas, jangan seperti ini. Kamu bisa tanya baik-baik sama Luna," ucap Vanessa.
"Kamu jangan terus membelanya, Vanessa." Raka menarik Vanessa ke belakang tubuhnya.
"Mas, sebenarnya ada apa? Apa salahku?" tanya Luna sambil sesekali meringis menahan sakit.
"Kamu selingkuh dan kamu masih tanya apa salahmu?" teriak Raka.
PLAK
Raka kembali menampar wajah Luna, hingga wanita itu jatuh di atas meja. Hiasan dan kain penutup meja sampai berantakan. Tidak puas dengan itu, Raka menarik rambut Luna dengan keras membuat Luna meringis. Kulit kepalanya terasa tertarik. Perih dan panas.
"Mas, sakit."
Raka tidak menggubris teriakan Luna, ia terus menarik rambut Luna, memaksanya untuk berdiri. "Berdiri kamu!"
"Mas ... sakit," rintih Luna.
"Katakan siapa laki-laki itu!" ucap Raka. Nada bicaranya pelan, tapi penuh tekanan.
"Aku gak tahu, Mas. Aku gak selingkuh," jawab Luna di sela isak tangisnya.
"Masih berbohong, hah!" Raka melepaskan cengkeraman tangannya di rambut Luna dengan keras, membuat Luna terhuyung.
Raka mengambil ponselnya dan menunjukkan foto Luna bersama seorang laki-laki.
Luna mengusap air matanya dan memerhatikan foto yang ditunjukkan oleh Raka. Seketika matanya terbelalak.
"Mas, ini —"
Saat ingin menjelaskan, Raka mengambil ponsel yang sedang Luna pegang membuatnya terkejut.
"Masih mau berkilah, hah!"
"Mas, aku gak selingkuh. Laki-laki ini —" Belum selesai Luna bicara, Vanessa lebih dulu menyelanya.
"Luna, sebaiknya kamu mengaku saja dan minta maaf sama mas Raka biar masalahnya ga bertambah panjang," sela Vanessa.
"Mengaku apa? Sudah aku bilang, aku gak selingkuh," ucap Luna.
"Tapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kamu jalan bersama dengan laki-laki itu," ungkap Vanessa.
"Jadi kamu yang memotretku dan mengirimnya pada mas Raka?"
"Aku melakukan ini demi kebaikanmu. Aku gak mau kamu semakin terjerumus."
"Vanessa, kamu ini sahabatku atau bukan sih? Kenapa kamu gak bertanya dulu padaku. Kamu membuat aku dan mas Raka salah paham."
PLAK
"Masih saja mengelak, hah! Sekarang kamu justru menyalahkan Vanessa."
"Mas ... arght!"
Kemarahan yang sudah tidak terkendali membuat Raka tega menendang perut Luna hingga wanita itu jatuh terduduk di lantai. Luna terkejut bukan main. Saat ini bukan hanya tubuhnya yang sakit, tetapi hatinya juga.
"HIKS ... HIKS ..." Luna berdiri sambil memegangi perutnya yang terasa sakit. Ia tidak menyerah untuk menjelaskan, meskipun Raka tidak ingin mendengarnya. "Mas, kenapa kamu gak mau mendengarkanku dan justru percaya pada orang lain?"
"Dasar wanita murahan!" Raka mengambil vas bunga di dekatnya, menggunakannya untuk memukul Luna.
"Mas, jangan!" teriak Luna sambil memejamkan mata.
BUG
PRANK
"Argt!"
Luna membuka mata, terkejut saat mendengar suara erangan seseorang. Ia terkejut melihat tangan kekar melingkar di tubuhnya. Luna menoleh, ia melihat ayah mertuanya menjadi tameng untuknya. "Pa ..."
Dengan cemas, Luna melepaskan diri, lalu memeriksa keadaan Bara. "Pa ... Papa tidak apa-apa?"
"Papa?" Raka terkejut saat Luna memanggil laki-laki dengan sebutan papa. Saat Bara berbalik, keterkejutan Raka berubah berkali-kali lipat. Bahkan muncul ketakutan.
Sama halnya dengan Vanessa. Tatapan Bara sangat dingin, seakan mampu membekukan seisi ruangan.
"Pa, kenapa Papa bisa di sini?" tanya Raka. Suaranya tergagap karena rasa takut.
Bara tidak ada minat untuk menjawab pertanyaan itu. Ia terlalu marah melihat tindakan Raka terhadap Luna.
"Begini caramu memperlakukan istrimu?" Bara berucap pelan, tapi penuh tekanan.
Tatapan dingin, wajah penuh amarah membuat Raka dan Vanessa mundur satu langkah.
"Pa - bukan begitu," elak Raka. "Aku hanya memberinya pelajaran karena dia berani berselingkuh."
Bara menoleh ke arah Luna, seolah meminta penjelasan.
"Ini hanya salah paham, Pa. Mereka tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan," ucap Luna.
"Bukti sudah ada. Aku gak butuh penjelasan darimu." Raka mengambil ponselnya, lalu menunjukkan foto Luna bersama seorang laki-laki.
Bara mengambil ponsel dari tangan Raka, memerhatikan foto itu dengan seksama. Terlihat seorang laki-laki merangkul pinggang Luna, tetapi wajah laki-laki tidak terlihat. Sepertinya foto itu diambil dari arah belakang. Kebetulan Luna menoleh membuat wajahnya terlihat.
Senyum sinis Bara muncul membuat Raka berpikir ayahnya percaya padanya.
"Bodoh!" maki Bara. "Apa kamu tidak mengenali laki-laki ini?"
"Maksud, Papa?"
"Mas, laki-laki dalam foto ini itu Papa. Papa tadi siang menemuiku belanja," ungkap Luna.
"Apa?"
BUG
Tanpa sebuah peringatan, Bara memukul rahang Raka dan menendang perutnya hingga sang putra terjungkal ke lantai.
"UHUK ... UHUK!" Raka terbatuk-batuk sambil memegangi perutnya.
"Mas, kamu gak apa-apa?" Vanessa membantu Raka berdiri.
"Pa ... maaf, aku tidak mengenalimu," ucap Raka.
"Iya, Om. Aku juga minta maaf," sambung Vanessa. "Ini salahku, harusnya aku bicara dulu dengan Luna baru memberitahu mas Raka."
"Kamu orang luar jangan ikut campur! Pergi sekarang juga," perintah Bara dengan suaranya yang berat dan tidak menerima bantahan.
"Baik, Om. Aku-aku pergi sekarang. Permisi." Vanessa buru-buru pergi dari rumah itu.
Sementara Luna memilih untuk pergi ke kamarnya dalam keadaan terisak.
"Luna, tunggu!" Raka berniat mengejar Luna, tetapi Bara menghalanginya.
Bara menghadang langkah Raka, mencengkam kemejanya dengan tatapan mengintimidasi. "Sepertinya kamu lupa ucapanku waktu itu."
"Maaf, Pa. Aku kelepasan," ucap Raka sambil menundukkan wajahnya.
"Sebaiknya kamu jangan main-main, Raka. Aku bisa menyingkirkanmu kapan saja," ucap Bara penuh ancaman.
Setelah mengatakan kalimat itu Bara pergi meninggalkan Raka dalam kemarahan dan ketidakberdayaan.
emmmm kaya ga deh vanes ga jadi malu secara Raka mana mau lihat orang tersayang tersakiti
OMG kalau terjadi she so dammm sad man