NovelToon NovelToon
SANG PENUAI NYAWA

SANG PENUAI NYAWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

Dibuang dan dicap sebagai ancaman oleh militer korup karena membangkitkan Morthas—Malaikat Maut Kelas Misterius yang arogan dan ditakuti sejarah—Kael Ardyn diselamatkannya oleh guild terlarang di luar dinding peradaban. Bersama tiga jiwa abnormal lainnya, Kael harus melatih ranah jiwanya di Lapisan Kedua yang mematikan. Ini adalah kisah persekutuan empat jiwa yang siap mengguncang hukum dunia yang korup!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MISI DAN PERPISAHAN SEMENTARA

​BAB 10: MISI DAN PERPISAHAN SEMENTARA

​Dua daun pintu kayu purba Aula Misi didorong terbuka dengan derit berat yang memecah keheningan koridor.

​Elena, Ren, dan Suna melangkah masuk dengan ritme kaki yang terjaga.

​Di ujung ruangan yang luas, siluet Grand Master Alden berdiri tegak, menghadap jendela besar yang menampilkan hamparan kabut tebal Lapisan Kedua.

​Pria tua itu bergeming, membiarkan jubah abu-abu lusuhnya diam tak bergerak, menciptakan atmosfer wibawa yang pekat.

​"Master, Anda memanggil kami?" suara Ren memecah kesunyian.

​Grand Master Alden tidak segera berbalik. Pandangannya tetap terkunci pada lanskap kelam di luar dinding sana.

​"Di sebuah wilayah bagian barat, jauh di perbatasan Kerajaan Ash-Volcania... sebuah labirin kuno muncul ke permukaan tanah secara tiba-tiba," ujar Grand Master Alden.

​"Struktur energinya ganjil."

​Alden menjeda kalimatnya sejenak, membiarkan gema suaranya meresap ke dalam benak ketiga remaja di depannya.

​"Raja Vulca dari kerajaan tersebut telah mengirimkan permintaan resmi kepada guild kita untuk melakukan misi pemetaan awal," lanjut Alden.

​"Sekaligus bergabung dengan pasukan militer mereka di barisan depan."

​Perlahan, lelaki tua itu memutar tubuhnya. Sepasang mata tuanya yang tajam berkilat hangat di balik kerutan wajahnya.

​"Misi pemetaan ini masuk ke dalam kategori tingkat B," terang Alden.

​"Skala bahayanya berada di tingkat menengah, namun kalian tetap harus ekstra berhati-hati."

​Alden menjelaskan lebih rinci, "Kerajaan Ash-Volcania hanyalah sebuah wilayah kecil yang terisolasi. Kekuatan militer mereka sangat terbatas; hanya memiliki satu-satunya petarung peringkat Emas di posisi tertinggi, disokong oleh beberapa prajurit peringkat Perak."

​Alden mengedarkan pandangannya, menakar kerapatan energi spiritual yang menguar dari ketiga muridnya.

​"Perpaduan komposisi tim kalian—Elena dengan Ranah Jiwa Perak Awal, Ren di tingkat Perunggu, dan Suna yang telah berada di tingkat Puncak Perak..."

​Alden tersenyum tipis, "Seharusnya sudah lebih dari cukup untuk menjelajahi dan bertahan hidup di zona pemetaan tersebut."

​Elena menatap kakeknya dengan kening yang sedikit berkerut ragu. Sifat analitisnya langsung bekerja menakar risiko.

​"Tapi, Kek..." Elena terhenti sejenak, menyadari tatapan formal Alden sebelum membetulkan perkataannya, "Tapi Master, apa tidak sebaiknya misi labirin kuno seperti ini diserahkan kepada para senior kami yang jauh lebih berpengalaman di lapangan?"

​Suna yang berdiri di samping Elena ikut menimpali, mengangguk setuju dengan ekspresi waspada.

​"Benar, Master," potong Suna.

​"Berdasarkan catatan guild, misi yang melibatkan labirin kuno selalu dipenuhi oleh misteri pergeseran ruang dan jebakan energi terlarang. Risiko kegagalannya terlalu dinamis bagi kami."

​Grand Master Alden membelai janggut putih panjangnya, menatap Elena dan Suna dengan ketenangan mutlak.

​"Para senior berperingkat Emas saat ini tidak bisa ditarik," tegas Alden.

​"Di luar para penjaga yang harus tetap diam mempertahankan dinding formasi pertahanan markas guild, kelompok senior lainnya sedang tersebar menjalankan misi rahasia lain di Lapisan Ketiga."

​Alden menatap mereka bertiga tajam, "Misi di Ash-Volcania ini... adalah panggung yang paling cocok untuk menempa mental pertarungan kalian."

​Di sebelah kedua gadis itu, Ren yang sedari tadi terdiam tiba-tiba merasakan darahnya bergejolak hebat.

​Di balik wajah kurusnya, gairah bertarung seorang penggila duel langsung meletup-letup.

​Bayangan tentang labirin kuno penuh Beast tak dikenal dan pertempuran liar di wilayah barat membuat bulu kuduknya meremang gembira. Ia sama sekali tidak bisa menahan diri lagi untuk segera melompat ke medan laga.

​Sebelum Elena sempat membuka mulut untuk membalas ucapan sang Master, Ren langsung mengambil satu langkah maju, memotong perbincangan dengan suara lantang.

​"Saya siap, Master! Serahkan misi ini pada kami!" seru Ren bersemangat.

​Ucapan spontan tanpa saringan dari si rambut merah itu sontak membuat atmosfer Aula Misi mendadak hening seketika.

​Di detik berikutnya—

​PLAK! PLAK!

​Dua pukulan keras mendarat secara simultan di bagian belakang kepala Ren.

​Elena dan Suna secara refleks mengayunkan telapak tangan mereka dengan tingkat kekompakan yang mengerikan, membuat kepala pemuda itu terdorong ke depan secara dramatis.

​"Aaaakhhh! Kalian berdua ini kenapa malah memukul kepalaku, sih?!" gerutu Ren sambil mengusap bagian belakang kepalanya yang berdenyut perih.

​Matanya melotot protes ke arah dua gadis di sampingnya.

​Grand Master Alden yang menyaksikan interaksi organik itu tidak marah. Beliau justru terkekeh ringan, senyuman lebarnya merekah di balik janggut putihnya.

​"Bagus, bagus. Semangat seperti itu yang dibutuhkan di luar dinding," puji Alden terkekeh.

​"Kalau begitu, keputusan sudah ditetapkan secara mutlak. Elena, Ren, dan Suna yang akan mengambil dokumen dan bertanggung jawab atas misi pemetaan wilayah barat ini."

​Elena dan Suna hanya bisa memelototi Ren dengan tatapan tajam yang siap menguliti pemuda itu hidup-hidup.

​Sementara Ren yang baru sadar telah menjadi sasaran kemarahan dua kawan wanitanya langsung menciut, menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan wajah kebingungan.

​"Sekarang, kembalilah ke barak dan segera persiapkan logistik serta zirah kalian," perintah Grand Master Alden.

​"Keberangkatan dijadwalkan sebelum matahari mencapai puncak."

​Alden kembali membalikkan tubuhnya menghadap jendela besar, menandakan rapat formal telah berakhir.

​Begitu pintu Aula Misi tertutup di belakang mereka, Elena dan Suna masih terus mengomeli Ren di sepanjang koridor batu.

​Namun langkah mereka melambat ketika tiba di tepi arena terbuka.

​Di ujung lapangan berpasir, terlihat Kael dan Hugo sedang melakukan latihan tanding ringan tanpa memanggil wujud fisik Anima mereka.

​Elena, Ren, dan Suna berjalan mendekat menembus debu lapangan yang beterbangan tipis.

​"Kael, Gendut," panggil Ren yang langsung mengambil kesempatan mengalihkan perhatian agar tidak lagi diomeli.

​"Kami baru saja mendapat perintah resmi dari Master. Kami bertiga akan segera bertolak menuju wilayah barat, masuk ke perbatasan Kerajaan Ash-Volcania untuk misi pemetaan labirin kuno."

​Kael menghentikan pergerakan kakinya, menatap Ren lalu beralih pada Elena yang kini berdiri tegak dengan tangan terlipat di depan dada.

​"Ash-Volcania? Itu wilayah yang cukup jauh di luar jangkauan proteksi Scar Horizon," ucap Kael datar, namun tersirat nada perhatian.

​"Hmph, tidak perlu mencemaskan kami, Anak Baru," ketus Elena sambil membuang muka.

​"Ranah jiwaku dan Suna sudah berada di peringkat Perak. Si rambut merah idiot ini juga punya Kraken untuk jadi umpan," celetuk Elena judes.

​"Kau sendiri, pastikan wadah jiwamu tidak retak lagi saat kami tidak ada di markas."

​Hugo terkekeh, menepuk perut tambunnya dengan santai.

​"Tenang saja, Elena. Di sini masih ada Kapten Gareth yang siap menghajar kami jika kami malas latihan," ujar Hugo.

​"Kalian bertiga... pastikan kembali dalam kondisi utuh, ya. Jangan sampai ada yang tertinggal di labirin itu."

​Suna tersenyum tipis, menepuk pelindung lengan zirahnya yang ringan.

​"Tentu. Kami pergi dulu untuk mengemas logistik," pamit Suna.

​Pertemuan singkat itu diakhiri dengan anggukan mantap dari Kael.

​Detik berikutnya, Elena, Ren, dan Suna berbalik arah, berjalan cepat menuju barak logistik demi mengejar waktu keberangkatan yang semakin menipis.

​Atmosfer lapangan terbuka kembali menyisakan keheningan yang lapang, menyisakan Kael dan Hugo yang kini berdiri berhadapan di tengah pasir arena.

​"Nah, Kael... karena tiga orang cerewet itu sudah pergi bersiap, bagaimana kalau kita menaikkan intensitas latihan kita?" usul Hugo.

​Hugo menyeringai polos, melepaskan jubah abunya yang basah dan menyisakan pakaian latihan ketat yang memperlihatkan postur tubuhnya yang kokoh terisi.

​"Mari kita lihat seberapa jauh evolusi fisik murni dari Puncak Perunggu milikmu!" ajak Hugo.

​"Boleh," jawab Kael pendek.

​Tanpa ada aba-aba, pertarungan fisik murni tanpa melibatkan rapalan mantra atau manifestasi kekuatan elemen dimulai secara instan.

​Wush!

​Kael melesat maju dengan kecepatan kinetik yang luar biasa konstan.

​Didikan keras militer dari mendiang ayahnya membuat setiap jengkal pergerakannya sangat efisien dan mematikan. Ia melepaskan sebuah pukulan lurus ke arah rahang Hugo.

​Namun, meski bertubuh tambun, refleks fisik Hugo sebagai senior yang telah lima tahun bertahan hidup di Lapisan Kedua terbukti tidak bisa diremehkan.

​Dengan satu geseran kaki yang mantap ke samping, Hugo menghindari kepalan tangan Kael secara tipis, lalu membalas dengan sebuah sapuan kaki horizontal yang kuat untuk meruntuhkan keseimbangan Kael.

​Kael melompat pendek di udara, berputar dengan anggun menghindar, lalu mendarat kembali di atas pasir tanpa menimbulkan suara deburan yang berarti.

​Aliran energi spiritual di dalam wadah jiwanya yang kini sekeras baja bergolak padat, menyuplai kekuatan fisik murni ke setiap otot kaki dan lengannya.

​Kael kembali merangsek maju, melancarkan kombinasi jotosan cepat yang mengincar titik vital dada dan rusuk.

​Bum! Brak!

​Hugo menahan setiap gempuran fisik Kael menggunakan sepasang lengan kekarnya yang disilangkan di depan dada.

​Benturan fisik murni di antara kedua pengguna Ranah Perunggu itu menciptakan gelombang kejut udara kecil yang menerbangkan pasir di sekitar kaki mereka.

​Hugo terdesak mundur tiga langkah, merasakan kerapatan hantaman fisik Kael yang jauh lebih berat dari sepuluh hari lalu.

​"Gila! Kerapatan jiwamu benar-benar membuat fisikmu sekeras besi, Kael!" seru Hugo, matanya menyipit serius.

​Kesenangan latihan ini perlahan memicu insting bawah sadar pertahanan jiwa mereka yang paling mendalam.

​Di bawah intensitas pertarungan fisik yang semakin memuncak dan memanas, batas kendali spiritual di dalam dada mereka berdua tanpa sengaja tersentuh oleh tekanan adrenalin.

​Hukum kausalitas semesta yang mengikat eksistensi jiwa mereka langsung merespons gejolak mental sang tuan secara otomatis.

​BOOOOOOMMMM—!

​Atmosfer di lapangan latihan utama mendadak runtuh dalam satu kedipan mata.

​Udara di sekitar arena berputar hebat secara ekstrem, merosot drastis memutus sisa hawa hangat matahari fajar.

​Dari balik kegelapan bayangan tubuh kurus Kael, asap Void hitam legam meledak hebat ke udara.

​Tekanan hawa kematian yang instan, dingin, dan berkuasa mutlak tumpah ruah menekan permukaan pasir hingga retak berantakan.

​Di tengah gulungan asap kehampaan itu, siluet raksasa setinggi empat meter bermaterialisasi dengan keangkuhan semesta yang agung.

​Morthas, Sang Penuai Nyawa, bangkit berdiri di belakang punggung Kael.

​Jubah malamnya yang compang-camping mengibas perlahan, sepasang sayap hitam Void-nya melengkung megah, dan di tangan tulangnya, sebilah sabit raksasa berwarna merah menyala sewarna darah segar bergetar haus akan sukma, memancarkan aura intimidasi maut yang mematikan.

​Merasakan ancaman eksistensi mutlak dari konsep Kematian yang mendadak bangkit di hadapannya, insting alami wadah jiwa Hugo yang berdiri di tepi arena langsung bereaksi bertahan secara otomatis karena merasa terancam.

​BOOOOOOMMMM—!

​Bumi di bawah kaki Hugo berguncang hebat, menciptakan retakan-retakan padat di atas pasir lapangan.

​Lapisan elemen tanah yang luar biasa tebal meledak ke udara, dan di belakang punggung pemuda tambun itu, wujud ilusi Morgrath—Mammoth Purba raksasa dengan gading melengkung tajam yang berkilau mengancam—memanifestasikan diri dengan megah demi melindungi tuannya.

​Hawa kuno yang berat dan kokoh dari kasta puncak tertinggi Anima Mitologi meledak penuh, mencoba menahan gempuran tekanan Void di depannya.

​Dua kekuatan dari kasta tertinggi Anomali kini saling berhadapan di tengah lapangan terbuka markas guild.

​Siluet Morthas yang membawa konsep Kematian murni dan Morgrath yang membawa konsep kekuatan Bumi Kuno saling melepaskan tekanan jiwa kolektif yang luar biasa masif di udara.

​Gelombang kejut tak kasat mata berbenturan hebat di langit-lapisan tengah, menciptakan vibrasi spiritual yang sanggup membuat dinding-dinding batu markas di sekeliling arena berderit samar.

​Kael dan Hugo berdiri kaku di tempat mereka berpijak, tertegun menatap manifestasi bawah sadar dari kedua entitas pelindung mereka yang sedang saling menekan jiwa dengan keangkuhan mutlak semesta.

​Hal ini menjadi pertanda bahwa langkah awal perjalanan mereka menuju dunia luar yang kejam telah resmi dimulai dengan sebuah perpisahan sementara yang sarat akan harapan bertahan hidup.

1
Aegis
punya kekuatan op, punya guru op😎
Aegis
buat selamat, masih harus bergantung pada orang lain🥴
Crimson
Gas pol
Crimson
ku vote ya /Good/
Kausafiksi.id: terimakasih abang kuh
total 1 replies
Crimson
Udah kyk adu pokemon aja /Grin/
Kausafiksi.id: 🤣🙏 siap abang kuh, tiba tiba dapat 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
total 3 replies
Anonim
cerita yang sangat menarik tidak pasaran
Anonim
cerita sangat menarik dan gak pasaran👍
Kausafiksi.id: terimasih nantikan kelanjutan nya
total 1 replies
WER
semangat kak membuat novel ya 😆👍👍👍
Kausafiksi.id: terimakasih 😁🙏
total 1 replies
Kausafiksi.id
updete sehari 2 kali ya teman teman.
Day Chuk
lanjut thor
Kausafiksi.id: terimakasih 🙏
total 1 replies
Dian Meilani
ceritanya menarik baru bab pertama, nanti kalo senggang aku mampir lagi ya kk.
Dian Meilani: yaa 👍
total 2 replies
Day Chuk
sangat menegangkan
Kausafiksi.id: iyakan 😁
total 1 replies
Day Chuk
chura apa thor
Kausafiksi.id: typo bang
total 1 replies
Day Chuk
di tunggu kelanjutan cerita nya ya
Kausafiksi.id: di usahain bang 🙏 terimaksih
total 1 replies
Day Chuk
kaya nya elena ada persaan salam kael nih 🫢
helena
lanjut thoomr✈️✈️
Kausafiksi.id: 🙏👍 siap kaka
total 1 replies
WER
semangat kak dan novel nya sukses Aamiin
Kausafiksi.id: sama sama suksek kak, aamiin
total 1 replies
WER
Thor apakah ada benih cinta di antara El dan kael pasti seru /CoolGuy/
Kausafiksi.id: Bisa kelihatan sih, sudah ada debar debar kaya nya si el
total 3 replies
WER
sabar El sabar orang sabar di sayang Tuhan 👍😆
Day Chuk: 🤣 galak amat ya cewe nya
total 2 replies
Muhammad Nur Septyawan
keren bang gua suka alur nya lumayan pas dan tidak basa basi👍
Kausafiksi.id: terimakasih bang, di bab 12 kesana baru baku hantam nya 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!