BL/BxB. Don't Copy!!!!
Rayyan Steven Mahendra meninggal tepat. dihari Pertama masuk SMA Setelah Pulang dari MPLS akibat tertabrak truk. Seluruh keluarganya hancur.
Seluruh Sekolah berkabung. Bahkan musuh bebuyutannya, Revan Devano Sanjaya, yang terkenal sebagai Preman Sekolah dan anak konglomerat, tidak Pernah lagi tersenyum Sejak hari itu. Setelah dikremasi, Orang-orang menangis dan Revan langsung tak bisa berdiri dia Merasa Pusing. Namun tujuh hari Kemudian Rayyan melintasi waktu, bagaimana bisa dia sudah di depan Pintu rumahnya, dia masuk rumah dan Semua keluarga Ketakutan dan ada yang tak menyangka Kejadian itu. Kemudian Rayyan beraktivitas Seperti biasa, Nenek dan Ibu Paling Senang dan Revan mendengar Kabar Rayyan Sangat Senang dan tersenyum entah mengapa hal itu terjadi Padanya!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari yang Berhenti Berdetak
Sore yang tenang di persimpangan jalan itu hancur dalam satu detik yang mengerikan.
Suara benturan logam yang teramat keras bergema, memecah kesunyian dan memantul di antara dinding-dinding gedung tinggi di sekitarnya. Bunyi decitan ban yang bergesekan kasar dengan aspal berpadu dengan suara hantaman besi tebal yang meremukkan apa pun di depannya.
Dalam sekejap, kekacauan pecah.
"Ya Tuhan! Ada kecelakaan!"
"Panggil ambulans! Cepat panggil ambulans!"
Teriakan histeris warga sekitar dan pejalan kaki langsung memenuhi udara. Orang-orang berlarian panik mendekati titik tabrakan. Di tengah persimpangan yang kini berantakan, sebuah truk kontainer besar berhenti dengan moncong yang ringsek setelah menghantam tiang pembatas jalan.
Namun, bukan truk itu yang menjadi pusat perhatian.
Beberapa meter dari ban depan truk yang masih berputar malas, sebuah tas sekolah abu-abu terlempar mengenaskan ke tengah jalan. Isinya buku-buku catatan, alat tulis, dan selembar formulir pendaftaran siswa baru SMA Mahardika berserakan di atas aspal yang basah. Di dekat tumpukan buku itu, sebuah ponsel pintar tergeletak dengan layar yang retak seribu.
Di atas layarnya yang pecah, sebuah nama pemanggil terus berkedip, memancarkan cahaya redup di antara genangan air bercampur susu cokelat.
Mama calling...
Ponsel itu bergetar hebat di atas aspal, berdering berulang kali tanpa ada yang menjawab. Suara nada dering yang ceria itu terdengar sangat kontras dan menyakitkan di tengah jerit tangis dan kepanikan orang-orang yang mulai berkerumun, menutupi sosok ramping yang kini terbaring tak bergerak di bawah bayang-bayang senja yang kian meredup.
...****************...
Berita tentang kecelakaan maut itu menyebar seperti api yang ditiup angin kencang. Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, lorong Rumah Sakit Medika Utama dipenuhi oleh atmosfer yang begitu mencekam.
Langkah kaki yang tergesa-gesa bergaung keras di atas lantai keramik putih yang steril. Anindya Mahendra berlari dengan napas memburu, air mata sudah membanjiri wajahnya yang pucat pasi. Di belakangnya, Steven Mahendra mencoba menahan tubuh istrinya yang gemetar hebat, sementara Reyhan berjalan dengan tatapan kosong, seolah jiwanya baru saja direnggut paksa dari raga.
"Di mana anak saya?! Di mana Rayyan?!" teriak Anindya histeris saat melihat pintu ruang unit gawat darurat (UGD) yang tertutup rapat.
Seorang dokter paruh baya dengan jas putih yang sedikit ternoda noda merah keluar dari ruangan tersebut. Wajahnya tampak sangat letih, dan ketika matanya bertemu dengan mata Anindya, ia hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam sebuah gestur universal yang langsung meruntuhkan seluruh harapan keluarga Mahendra.
"Kami sudah mengerahkan seluruh kemampuan terbaik kami, Pak, Bu..." ujar sang dokter dengan suara rendah yang bergetar. "Namun, benturan pada bagian kepalanya terlalu parah. Pasien mengalami pendarahan dalam yang sangat hebat. Detak jantungnya... tidak dapat diselamatkan."
Bruk.
Lutut Anindya langsung lemas. Tubuhnya ambruk ke lantai rumah sakit yang dingin. Ia menjerit, sebuah jeritan pilu yang begitu menyayat hati hingga membuat beberapa perawat yang lewat terpaksa membuang muka untuk menyembunyikan air mata mereka.
"Gak mungkin! Dokter bohong kan?! Rayyan tadi pamit mau beli susu cokelat! Dia bilang mau langsung pulang!" tangis Anindya pecah, memukul-mukul dada suaminya yang kini juga sudah menangis tanpa suara, mendekap erat tubuh rapuh istrinya di atas lantai.
Reyhan menyandarkan punggungnya ke dinding rumah sakit. Ia perlahan merosot turun, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Kamar adik kecilnya yang biasanya selalu berantakan oleh buku-buku sekolah, kini tidak akan pernah lagi memiliki pemilik.
...****************...
Keesokan harinya, tidak ada tawa yang terdengar di koridor SMA Mahardika High School.
Bendera merah putih di tengah lapangan dikibarkan setengah tiang, bergerak lambat ditiup angin pagi yang terasa sangat dingin. Hari yang harusnya menjadi hari pertama mereka resmi belajar sebagai siswa SMA justru berubah menjadi hari berkabung nasional bagi seluruh warga sekolah.
Di dalam kelas X-1, suasananya persis seperti kuburan.
Zidan duduk di bangkunya, menatap kosong ke arah kursi kosong di sebelahnya kursi tempat Rayyan biasanya duduk sambil menggerutu tentang cuaca panas Jakarta. Air mata Zidan mengalir tanpa henti, membasahi permukaan meja kayu. Di sebelahnya, Nathael menundukkan kepala di atas lipatan tangannya, bahunya berguncang hebat karena tangis yang coba ia redam.
"Gua... gua harusnya maksa dia ikut nongkrong kemarin," bisik Zidan dengan suara serak, dipenuhi oleh rasa penyesalan yang teramat sangat. "Kalau gua maksa dia... dia gak bakal jalan kaki sendirian di persimpangan itu, Nael..."
Nathael tidak menjawab, hanya bisa meremas lengan seragam Zidan untuk saling menguatkan.
Bahkan Bianca, sang wakil ketua OSIS yang biasanya terkenal galak dan disiplin, hari itu berdiri di depan kelas dengan mata yang sembab dan merah. Guru-guru di ruang guru juga tampak terpukul. Kehilangan seorang murid yang begitu cerdas, sopan, dan baru saja memulai lembaran barunya sebagai siswa SMA adalah sebuah tragedi yang terlalu berat untuk diterima.
...****************...
Rumah duka keluarga Mahendra dipenuhi oleh ratusan pelayat yang datang silih berganti. Karangan bunga duka cita berwarna hitam dan putih berjejer rapi di sepanjang jalan masuk komplek Maheswara Residence. Di dalam ruangan tengah yang luas, peti jenazah kayu berwarna putih bersih berdiri kokoh, dikelilingi oleh lilin-lilin besar yang menyala temaram.
Di antara kerumunan pelayat yang mengenakan pakaian hitam-hitam, ada satu sosok yang berdiri sangat jauh dari keramaian.
Revan Devano Sanjaya.
Cowok itu tidak mengenakan seragam sekolah, melainkan sebuah kaus hitam polos longgar dan celana jins hitam yang robek di bagian lutut. Rambutnya yang biasanya ditata rapi kini tampak berantakan, dan wajahnya sangat pucat dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya.
Ia berdiri bersandar pada pilar beton di sudut halaman luar rumah duka, terlindung oleh rimbunnya pohon kamboja. Matanya yang gelap dan kosong menatap lurus ke dalam rumah duka, tepat ke arah foto potret Rayyan yang diletakkan di samping peti jenazah.
Di dalam foto itu, Rayyan tersenyum sangat manis senyuman tulus yang belum pernah ia perlihatkan lagi pada Revan sejak hubungan mereka hancur di masa kecil.
Revan mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Dadanya terasa sangat hampa, seolah-olah ada sebuah lubang hitam besar yang baru saja mengisap habis seluruh emosi yang ia miliki.
Biasanya, setiap kali melihat Rayyan, otak Revan akan langsung memproduksi ribuan kata ejekan dan makian untuk memprovokasi cowok itu. Namun hari ini, untuk pertama kalinya sejak mereka bermusuhan, Revan tidak mampu mengucapkan satu patah kata pun. Lidahnya terasa kelu, membeku oleh kenyataan pahit bahwa sosok yang selama ini menjadi pusat dari seluruh amarah dan perhatiannya kini sudah terbujur kaku di dalam kotak kayu itu.
“Jangan sampai lu mati kedinginan di sini sebelum gua sempet bales semua perbuatan lu dulu.”
Ucapan kasarnya dua hari lalu kembali terngiang-ngiang di kepalanya. Revan memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan penyesalan yang teramat sangat membakar tenggorokannya hingga terasa perih.
Kenapa lu harus pergi secepat ini, Ray? batin Revan, dadanya sesak hingga ia kesulitan bernapas. Urusan kita belum selesai... lu belum bayar semua rasa sakit yang gua rasain...
...****************...
Siang harinya, proses pemakaman dimulai. Ratusan pelayat mengiringi peti jenazah Rayyan menuju tempat peristirahatan terakhirnya di pemakaman keluarga Mahendra yang asri. Isak tangis kembali pecah saat peti kayu itu perlahan diturunkan ke dalam liang lahat yang gelap.
Revan tetap berada di sana, berdiri di barisan paling belakang di bawah naungan pohon beringin besar.
Saat suara gesekan tali tambang yang menurunkan peti jenazah terdengar, kepalanya mendadak terasa sangat sakit. Sebuah rasa pening yang luar biasa, seperti ada ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk otaknya secara bersamaan, menyerang Revan tanpa ampun.
Pandangannya mendadak berkunang-kunang. Dunia di sekitarnya seolah-olah mulai berputar lambat dan kehilangan warnanya, menyisakan warna abu-abu yang mati.
Kenangan-kenangan masa kecil yang sangat ia benci sekaligus ia rindukan mendadak melintas cepat di kepalanya suara tawa Rayyan saat mereka bermain layang-layang, janji-janji masa kecil yang pernah mereka ucapkan, hingga tatapan mata indah Rayyan sore kemarin di bawah guyuran hujan.
“Revan...”
Suara lembut Rayyan seperti berbisik di telinganya, terbawa oleh angin pemakaman yang dingin.
Suhu tubuh Revan drop drastis. Napasnya memburu cepat, dan tangannya yang gemetar hebat mencoba mencengkeram batang pohon di sebelahnya untuk menjaga keseimbangan. Dadanya terasa sangat sakit, seolah-olah jantungnya ikut berhenti berdetak bersamaan dengan tanah pertama yang mulai dilemparkan ke atas peti jenazah Rayyan.
"Rayyan..."
Itu menjadi nama pertama yang keluar dari mulut Revan siang itu. Suaranya terdengar sangat lirih, sangat rapuh, dan sepenuhnya kehilangan nada kasar atau kemarahan yang biasanya selalu ia gunakan. Nama itu terdengar seperti sebuah bisikan keputusasaan yang teramat dalam dari seorang anak laki-laki yang baru saja kehilangan seluruh dunianya.
Beberapa detik kemudian, pertahanan fisik Revan runtuh sepenuhnya.
Kedua matanya terpejam, dan tubuhnya yang tinggi besar langsung limbung ke depan, jatuh tak sadarkan diri di atas rumput hijau pemakaman yang basah.
"Revan!"
Kevin, Darren, Axel, dan Leon yang sejak tadi mengawasi sahabat mereka dari jarak dekat langsung berteriak panik. Mereka, bersama dengan beberapa pengawal pribadi keluarga Sanjaya yang diutus untuk menjaga Revan, langsung berlari cepat menembus kerumunan pelayat untuk menangkap tubuh Revan yang sudah tidak sadarkan diri.
"Rev! Bangun, Rev! Jangan bikin panik lu!" teriak Axel, menepuk-nepuk pipi Revan yang sudah sedingin es.
Kerumunan pelayat yang sedang berduka mendadak menoleh, menatap kejadian itu dengan ekspresi bingung dan terkejut. Mereka semua tahu seberapa besar permusuhan antara Revan dan Rayyan selama ini di sekolah. Mereka tahu Revan adalah preman yang paling membenci keberadaan Rayyan.
Namun kini, di depan liang lahat yang masih basah itu, sebuah pertanyaan besar menggantung di udara pemakaman yang sunyi, menyisakan tanda tanya yang teramat besar bagi siapa saja yang menyaksikannya:
Mengapa orang yang mengklaim paling membenci Rayyan, justru menjadi orang yang paling hancur dan runtuh setelah kepergiannya?