NovelToon NovelToon
Can I Stay? | By Shea

Can I Stay? | By Shea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Cintapertama / Ketos
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Shea Alicia

Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.

Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.

Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

​"Kak Alvin!"

​Alvin baru saja keluar dari ruang loker, cowok itu menoleh pada Michelle yang berlari kecil dari sisi kiri koridor ke arahnya. Tepat dua meter sebelum Michelle berhadapan dengan Alvin, seorang cewek bersurai hitam sepunggung keluar dari loker itu.

​"Kamu jadi anterin aku, Al?"

​Atensi Alvin berpindah, sementara langkah Michelle terhenti. Kening Michelle berkerut tidak suka melihat Nara yang kini berdiri di samping Alvin.

​"Kak Al—"

​"Iya, aku anterin kamu," jawab Alvin yang membuat Michelle langsung terdiam.

​Seolah baru menyadari kehadiran Michelle, Nara tampak terkejut. Cewek itu menarik kedua ujung bibirnya.

​"Kamu antar Michelle pulang dulu deh, aku tunggu di perpustakaan ya?"

​Michelle terkejut saat melihat Nara tersenyum tulus padanya, cewek itu menatap Alvin seolah sedang mengatakan sesuatu pada cowok itu. Dan anehnya, Alvin mengangguk.

​Perhatian Alvin beralih pada Michelle. "Ayo gue anter," ajak cowok itu, lalu melewati Michelle tanpa menunggu responnya.

​Michelle cengo, dengan setengah fokus ia menatap Nara yang masih berdiri di depan ruang loker. Cewek itu masih menatapnya dengan senyum tipis.

​"Cepat sembuh ya, Chel, hati-hati pulangnya," pesan Nara sebelum cewek itu meninggalkan Michelle.

​Michelle benci mengakuinya, tapi perkataan dan tatapan Nara sangat tulus. Cewek itu pasti sudah tahu alasan kenapa Michelle sering bersama Alvin, bahkan Michelle tinggal di rumah Alvin.

​Tapi, apa bisa seorang pacar terlihat biasa saja, bahkan sebaik itu pada cewek yang jelas-jelas adalah calon tunangan pacarnya?

​"Kalau lama gue tinggal."

​Michelle mengerjap, Alvin yang bersandar di salah satu pilar lantas berbalik. Cowok itu hanya melirik Michelle sekilas, lalu kembali berjalan menuju tempat parkir.

​Michelle menatap kepergian Alvin dengan nanar, berbeda dengan sorot tulus di mata hitam Nara, Michelle melihat sorot lain dalam mata hitam Alvin. Sorot yang membuat Michelle terluka saat melihatnya, Alvin begitu dingin pada Michelle bahkan setelah memberi setitik harapan.

​Lalu apa arti perhatian Alvin kemarin dan pagi ini?

​.

.

.

.

​"Gue nggak nyangka Raffa sekeren itu waktu renang."

​Meyra yang sedang menikmati camilan kentang dengan kemasan warna merah itu lantas menoleh, satu sudut bibirnya tertarik.

​"Udah ada tanda-tanda oleng dari Kak Alvin nih," celetuknya.

​Michelle menoleh sambil melotot, lalu menggeleng cepat. "Seganteng apa pun Raffa, Kak Alvin tetap nomer satu lah!" serunya semangat sampai orang-orang yang duduk di dekat mereka menoleh menjadikan mereka berdua pusat perhatian.

​Meyra mengusap keningnya. "Terserah lo deh Chel, gue ke toilet dulu," izin Meyra lalu beranjak, padahal itu hanya alasan. Ia malu karena menjadi pusat perhatian, sementara Michelle santai saja menggerutu menyangkal kalau ia mulai oleng.

​"Enak aja, gue tuh orangnya setia, mana mungkin oleng gitu aja cuma karena Raffa lebih ganteng," gerutu Michelle. "Kak Alvin tetep terbaik lah!"

​"Bucin lo tingkat akut banget ya sampe nggak tau malu begini."

​Michelle terlonjak, spontan bergeser ke kursi kosong sebelahnya saat ada seseorang yang berbicara di dekatnya, sangat dekat. Cewek itu melotot melihat siapa yang kini duduk di kursi yang tadi diduduki Meyra.

​"Lo! Ngapain lo di sini? Ngikutin gue ya lo? Ngaku!"

​Devis meringis karena Michelle bertanya dengan nada tidak santai, cewek itu sepertinya sangat suka menjadi pusat perhatian, atau memang urat malunya sudah mengendur jadi tidak masalah berbicara keras di tempat umum seperti ini.

​"Itu volume suara bisa agak dikecilin nggak sih? Ribut banget, dilihatin orang tuh."

​Michelle melihat sekeliling, dan benar bahwa sekarang ia menjadi pusat perhatian, beberapa orang bahkan membicarakannya. Dan yang lebih parah, cowok yang sejak tadi ia perhatikan sedang berenang, kini duduk di tepi kolam sambil melihat ke arahnya.

​Raffa menarik ujung bibirnya saat tatapan keduanya bertemu, sementara Michelle langsung membulatkan mata dan membuang muka.

​"Mati gue, Vis!" desis Michelle, lalu beranjak.

​"Mau ke mana lo?" tanya Devis, mencekal lengan Michelle.

​"Malu banget sampe mau mati, gue pergi dulu!" Michelle menghempas tangan Devis hingga cekalan cowok itu terlepas, lalu berlari meninggalkan kursi penonton stadion renang ini.

​Devis mendelik, memperhatikan Michelle yang lari terbirit-birit seperti sedang dikejar hantu. Atensinya teralih pada arah yang tadi dilihat Michelle, keningnya berkerut.

​"Oh, jadi lo udah mulai," gumam Devis, satu sudut bibirnya tertarik. "Sekarang giliran gue."

​.

.

.

.

.

​"Bego banget! Bego! Bego! Bego!"

​Michelle memukuli kepalanya berkali-kali, merutuki kelakuannya yang sungguh sukses mempermalukan diri sendiri. Rasanya Michelle tidak berani masuk ke tempat itu lagi, pasti CCTV di tempat itu sudah memberi tanda silang merah padanya.

​Astaga! Apa jangan-jangan Raffa mendengar semuanya? Bahkan obrolannya dengan Meyra? Kalau sampai benar, Michelle pasti tidak akan berani menampilkan wajah di depan cowok itu. Malu banget!

​Tin! Tin!

​"Awas!"

​"Bego!"

​Michelle membeku, tidak bisa bergerak selain mengerjap dua kali, bahkan napasnya tertahan. Sekitar tiga detik yang lalu, ia hampir saja terserempet motor yang akan masuk ke halaman parkir stadion renang ini.

​"Ikut gue."

​Cowok berjaket hitam itu menarik lengan Michelle menyingkir dari jalan, membawanya ke sebuah motor hitam yang terparkir bersama motor pengunjung lain.

​Michelle mengerjap begitu berhasil tertarik dari lamunan. "Vis?"

​"Nih pakek." Devis melempar helm hitam pada Michelle yang untungnya bisa ditangkap. "Naik."

​Michelle memperhatikan Devis yang sekarang memundurkan motor hitamnya, motor hitam yang pernah dipakai membonceng Michelle, saat kejadian di depan percetakan itu.

​"Eh, mau ke mana?" tanya Michelle bingung.

​Devis membenarkan posisi helmnya, lalu membuka kaca fullface helm itu sebelum menjawab.

​"Jalan, ayo buruan."

1
ᥫ᭡Baby
astaghfirullah, pikiranku
ᥫ᭡Baby
meyra cegil
ᥫ᭡Baby
njirr, bawa-bawa manusia ini /Sweat/
ᥫ᭡Baby
padahal Michelle duluan
ᥫ᭡Baby
kasihan di cuekin
Alzen
typo lagi yang
Alzen: ini aja po dulu 2 tahun 😓
total 3 replies
Alzen
cepat updateee
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: iyaaaaa
total 1 replies
Alzen
ceroboh banget/Shame/
Alzen
padahal yang kemarin juga bagus novelnya
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: eh iyaa 😓
total 3 replies
🥑⃟Hati Yang Kau Sakiti●⑅⃝ᷟ◌ͩ
selamat berkarya 🙏
ᥫ᭡Baby
Devis aja /Grin//Grin/
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: 2in /Bye-Bye/
total 1 replies
ᥫ᭡Baby
jadi Michelle kasian, jadi Alvin kasian, jadi Nara kasian, jadi pembaca sekarat /Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!