Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.
Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.
Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.
Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Bara di Balik Pintu Tertutup
Makan malam formal itu berlangsung dengan sangat khidmat. Tuan Danuel Valerius, dengan wibawa dan keputusan mutlaknya, secara resmi menyampaikan perubahan rencana aliansi tersebut kepada keluarga besar Vareksa. Pria tua itu menegaskan dengan tegas bahwa Zevanna, bukan Valerie, yang akan maju dalam perjodohan suci ini untuk menjadi pendamping dari sang CEO muda.
Di luar dugaan Paman Bram dan Bibi Melinda, keluarga Vareksa sama sekali tidak menunjukkan keberatan. Tuan Abraham Vareksa hanya melirik Areksa sekilas sebelum mengangguk setuju dengan raut wajah yang tenang.
Areksa sendiri hanya diam membisu di kursinya sepanjang sisa makan malam. Ia tidak menolak, tidak juga menunjukkan riak antusiasme di depan orang tua mereka. Sikap datarnya yang dingin membuat Tuan Danuel menganggap hal itu sebagai bentuk persetujuan profesional yang matang.
Namun, tidak ada satu orang pun di ruangan itu yang tahu bahwa di balik tatapan kosong dan dingin Areksa, ada kerinduan yang amat sangat besar kepada gadis di depannya. Ia ingin sekali melangkah maju, memeluk gadis ini dengan erat, dan mengucapkan kata maaf berulang kali atas masa lalu mereka. Namun, Zevanna menatapnya seolah-olah mereka adalah dua orang asing yang sama sekali tak pernah saling kenal.
Setelah acara makan malam usai dan para tetua berpindah ke area ruang tunggu privat untuk menikmati cerutu dan teh herbal, Zevanna merasakan dadanya mendadak begitu sesak. Ia benar-benar membutuhkan udara segar yang bersih dari segala bentuk kepura-puraan ini. Dengan alasan sederhana ingin membasuh tangan di kamar mandi, ia berpamitan secara sopan pada sang kakek dan melangkah keluar dari ruang VIP yang terasa sangat mencekik itu.
Zevanna berjalan perlahan menyusuri lorong panjang restoran yang dilapisi dinding marmer hitam dengan pencahayaan temaram. Setelah membasuh wajahnya dengan air dingin di toilet wanita demi meredakan gemetar di kedua tangannya, ia melangkah keluar. Kepalanya pening luar biasa akibat kenyataan brutal bahwa mantan kekasih yang sangat ingin ia hapus dari ingatannya kini justru muncul kembali sebagai calon suaminya sendiri.
Namun, baru tiga langkah Zevanna berjalan di lorong yang sunyi itu, sebuah bayangan tubuh yang tinggi dan tegap mendadak memotong jalurnya secara tiba-tiba.
Sebelum Zevanna sempat bereaksi apalagi memekik kaget, sebuah tangan kekar dengan gerakan secepat kilat langsung mencengkeram pergelangan tangannya dengan sangat kuat. Zevanna ditarik paksa, diseret masuk ke dalam sebuah ruang penyimpanan linen yang pintunya sedikit terbuka.
Klik.
Pintu kayu yang tebal itu langsung ditutup rapat dan dikunci dari dalam.
Zevanna refleks membuka mulutnya, bersiap untuk berteriak sekuat tenaga, namun sebuah telapak tangan besar yang hangat dan beraroma maskulin langsung membekap mulutnya dengan rapat. Punggung Zevanna terhimpit keras di antara dinding semen yang dingin dan dada bidang seorang pria yang terasa begitu kokoh.
Aroma parfum mewah campuran wood, leather, dan amber yang sangat ia kenal langsung menyeruak masuk ke indra penciumannya. Aroma itu seketika memicu kilas balik memori masa lalu yang sangat menyakitkan di benaknya.
"Diam. Ini aku. Jangan berteriak kalau kamu tidak ingin paman dan bibimu melihat kita dalam posisi seperti ini," sebuah suara berat dan penuh intimidasi berbisik tepat di samping telinganya.
Hembusan napas hangat pria itu mengenai kulit lehernya, membuat Zevanna refleks menahan napas.
Zevanna mendongak dengan tatapan mata berang. Di dalam kegelapan ruang penyimpanan yang hanya diterangi sedikit celah cahaya dari bawah pintu, mata kelam milik Areksa Vareksa berkilat penuh dengan emosi yang meledak-ledak. Tatapan ini sangat berbeda dari topeng es yang ia tunjukkan di meja makan tadi.
Areksa perlahan menurunkan telapak tangannya dari mulut Zevanna, memastikan gadis itu tidak akan berteriak memanggil orang lain. Namun, ia tidak menjauhkan tubuhnya sama sekali. Jarak mereka begitu rapat hingga Zevanna bisa merasakan detak jantung Areksa yang bertalu cepat, berkejaran dengan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang.
"Lepaskan aku, Areksa! Apa-apaan kelakuan kasarmu ini?!" Zevanna mendesis marah dengan suara tertahan. Tangan rampingnya berusaha mendorong dada bidang Areksa dengan sekuat tenaga, namun pria itu bergeming layaknya patung batu. Cengkeraman Areksa di pergelangan tangannya justru makin mengerat, seolah takut gadis itu akan mendadak hilang lagi dari pandangannya.
Areksa menatap Zevanna dari jarak dekat, meneliti setiap senti perubahan pada wajah mantan kekasihnya itu. Sudut bibir Areksa terangkat tipis, membentuk senyuman dingin yang terkesan meremehkan.
"Jadi... ini alasanmu kembali setelah hilang tanpa kabar selama delapan tahun, Zevanna? Berubah jadi cucu kesayangan keluarga Valerius, lalu masuk ke hidupku lewat jalur perjodohan bisnis?" tanya Areksa dengan nada datar namun menusuk. "Pintar sekali caramu bermain. Di mana Zevanna yang dulu sering menangis dan mengemis cinta padaku?"
Plak!
Zevanna berhasil menarik tangan kirinya yang bebas dan melayangkan tamparan keras ke pipi kiri Areksa. Suara tamparan itu menggema pelan di dalam ruangan yang sempit tersebut. Wajah Areksa terlempar ke samping, namun rahangnya justru makin mengeras. Ia perlahan memalingkan kembali wajahnya menatap Zevanna dengan mata yang makin gelap.
Zevanna tertawa sinis, sama sekali tidak merasa takut dengan tatapan mengancam dari pria di hadapannya.
"Jangan terlalu percaya diri sampai tingkat yang menjijikkan, Tuan Areksa yang terhormat!" balas Zevanna dengan suara rendah yang sangat tajam. "Kalau dari awal aku tahu pria dingin dan kejam yang mau dijodohkan denganku itu bajingan seperti kamu, aku bersumpah lebih baik tetap tinggal di rumah itu! Aku terima perjodohan ini cuma karena butuh jalan keluar dari rumah Valerius, bukan karena aku sudi kembali sama pria tidak punya perasaan sepertimu!"
Areksa mencengkeram dagu Zevanna dengan jemarinya yang kokoh, menekan sedikit untuk memotong kalimat gadis itu dan memaksanya menatap langsung ke dalam matanya. "Kamu sudah banyak berubah, Zevanna. Kamu tidak selemah dulu saat aku meninggalkanmu."
"Tentu saja aku berubah," Zevanna menatap Areksa tanpa berkedip sedikit pun, membiarkan rasa benci terpancar jelas dari matanya. "Rasa sakit yang kamu berikan dulu mengajariku banyak hal. Kamu membuangku seperti sampah, dan dari situ aku belajar bagaimana cara membalas rasa sakit dengan cara yang sama. Jadi, singkirkan tanganmu dari wajahku sekarang."
Areksa tertegun sejenak mendengarkan ucapan berani dari gadis itu. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada rasa bersalah yang teramat sangat menusuk dadanya. Namun, gengsi tinggi dan sifat keras kepala keluarga Vareksa menahannya untuk menunjukkan kelemahan itu.
Tuk, tuk, tuk.
Tiba-tiba, suara langkah kaki dari sepatu high heels terdengar mendekat di lorong luar, memecah ketegangan di antara mereka berdua. Langkah kaki itu melambat persis di depan pintu ruang penyimpanan linen.
"Areksa? Kamu di mana sih? Areksa..." suara manja milik Valerie terdengar memanggil-manggil nama pria itu dengan nada cemas sekaligus genit. Valerie rupanya menyadari hilangnya Areksa dari ruang tunggu dan berusaha mencarinya.
Zevanna tersenyum mengejek, melirik sekilas ke arah pintu lalu kembali menatap wajah Areksa di depannya. "Dengar itu? Sepupuku yang sangat memujamu itu sedang cari-cari kamu. Kenapa tidak kamu batalkan saja perjodohan ini dan nikahi dia saja? Kalian berdua sangat cocok, sama-sama palsu. Bukankah dia juga yang dulu jadi alasanmu meninggalkanku?"
Mata Areksa menyipit tajam mendengarkan provokasi Zevanna. Ia melepaskan cengkeramannya pada dagu Zevanna, lalu mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga gadis itu, membisikkan kalimat yang membuat bulu kuduk Zevanna merinding seketika.
"Jangan pernah bermimpi pernikahan ini akan batal, Zevanna. Aku tidak peduli sedikit pun dengan sepupumu itu. Dia cuma teman masa kecilku, tidak lebih. Pernikahan kita akan tetap berjalan sesuai rencana kakekmu. Kamu pikir bisa memakai pernikahan ini sebagai jalan kabur dari rumah Valerius? Sayang sekali, kamu salah memilih jalan. Kamu justru masuk ke dalam hidupku yang jauh lebih dingin. Kamu tidak akan pernah bisa lari lagi dariku, Zevanna. Bersiaplah, karena setelah ini hidupmu akan jadi milikku sepenuhnya."
Sebelum Zevanna sempat membalas dengan kata-kata makian, Areksa sudah lebih dulu berbalik. Pria itu membuka kunci pintu dengan gerakan yang sangat halus tanpa suara, mengintip lorong sedikit untuk memastikan Valerie sudah berjalan jauh, lalu melangkah keluar begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa. Ia meninggalkan Zevanna yang terpaku sendirian di dalam kegelapan ruangan itu dengan napas memburu dan jantung yang berdegup kencang.
"Areksa benar-benar sakit jiwa!" umpat Zevanna dengan suara cukup keras sambil mengepalkan tangannya rapat-rapat.