Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.
Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.
Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.
Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Ruang Istirahat
Jam 11 malam. Savira baru selesai jaga. Tubuhnya sangat lelah. Otaknya masih mikirin dosis obat.
Ponsel di saku jasnya berdering. Untuk kesekian kalinya nama mama muncul di layar. Sepertinya kali ini Savira harus menjawabnya, jika tidak mamanya akan terus menelepon.
"Savira! Kenapa lama sekali angkatnya? Mama sudah bicara dengan profesor Bima! Beliau bilang kamu ada peluang jadi asisten peneliti nya. Dengan syarat, kamu harus rajin ambil jaga tambahan, biar keliatan rajin." cerocos mama Anita, bahkan Savira belum menjawab halo.
Tangan Savira memencet tombol lift. "Ma, aku udah jaga lima hari berturut-turut." jawabnya lelah.
"Lima hari apa? Dokter hebat itu tidak tidur. Nak, lihat dokter Devan, di umur 35 tahun dia sudah jadi konsulen. Kamu harus sepertinya, bahkan harus lebih baik!"
Savira tertawa kecil. Pahit. "Ma, dokter Devan itu gak pernah pulang. Dia bahkan tidak punya kehidupan selain rumah sakit...."
"Bagus! Itu namanya dedikasi!"
Savira terdiam. Dia melihat bayangannya di pintu lift. Jas snelli-nya kusut, rambut di cepol asal, dan wajahnya. Entah seperti apa, terakhir dia melihat wajahnya jam 13:12 saat mencuci tangan selesai operasi.
"Ma, aku capek." keluhnya lirih.
"Capek itu wajar! Yang penting kamu jangan menyerah! Jangan sampai perjuangan mama sia-sia....."
Klik.
Savira mematikan ponselnya, ia tak sanggup jika harus mendengar ocehan mamanya. Tubuhnya yang memang lelah luruh ke lantai. Rasanya tulang kaki lemas seperti jeli. Hatinya. Mentalnya. Benar-benar berada di titik terendah.
Savira menangis tanpa suara. Tubuhnya bergetar hebat, wajahnya sudah basah air mata. Di saat yang sama, pintu lift terbuka. Savira tidak tahu itu, tapi hidungnya tahu. Aroma itu hanya milik satu orang. Yaitu dokter Devan. Membuat Savira menyembunyikan wajahnya diantara lutut, ia tidak berani bergerak.
Dokter Devan menatap datar residennya. Biasanya dia tidak peduli, sudah berapa berapa banyak ia melihat residen menangis? Tapi ia berlalu begitu saja. Itu bukan urusannya.
Tapi melihat Savira, entah kenapa ia tidak bisa pura-pura tidak melihat. Kakinya maju dua langkah, tepat di pintu lift.
"Dua detik, Ra. Masuk. Atau besok satu rumah sakit tahu kamu nangis di lantai." katanya datar, namun terselip sebuah kepedulian.
Perlahan, Savira mengangkat wajah basahnya. Di lihatnya wajah dokter Devan yang datar. Dengan gerakan cepat, dokter Devan menarik tubuh Savira masuk lift dalam dekapannya.
Savira terkejut, tapi dia membiarkan tubuhnya dalam dekapan hangat dokter Devan. Untuk pertama kalinya, ia menangis dalam pelukan seseorang, dan orang itu adalah manusia dingin dengan standar sempurna di rumah sakit.
Lift berhenti di lantai 12, sebuah lantai khusus yang hanya bisa diakses pakai kartu akses konsulen. Pintu lift terbuka. Sepi. Hanya lampu lorong yang redup.
Dokter Devan tidak melepas pelukannya. Dia jalan terus, nyeret Savira yang pasrah dalam ruang istirahat konsulen, sekaligus kantornya.
Klek. Pintu tertutup. Dunia di luar hilang. Dia melepaskan pelukannya saat Savira sudah duduk di sofa. Wajahnya tertunduk, dengan anak rambut yang basah menempel disekitar pipi.
Dokter Devan beranjak mengambil segelas air putih dari dispenser. Tidak ada suara, hanya gemericik air. "Kita boleh lemah. Tapi jangan di depan orang yang salah." katanya.
Gelas itu dia sodorin. Tangannya stabil. Beda dengan tangan Savira yang gemetar.
Savira menatapnya ragu. Dengan tangan gemetar ia menerima gelas itu. "Tapi dokter sudah liat..." katanya pelan.
Dokter Devan duduk disampingnya. Pria itu menghela napas dalam-dalam. "Setidaknya saya tidak suka membicarakan orang lain." katanya.
Seperti sebuah janji, jika dia tidak akan membicarakan apa yang dilihatnya pada orang lain.
Savira tersenyum miris. Getir. "Saya tidak pernah membayangkan akan terlihat semenyedihkan ini di hadapan orang sempurna seperti dokter." katanya merasa sangat kecil dan rapuh.
Hening. Dokter ngambil gelas dari tangan Savira. Dia arahin ke bibir gadis itu.
"Minum." katanya sarat akan perintah yang tidak bisa di tolak.
Savira menurut. Air dingin mengalir ke tenggorokannya yang kering. Saat gelas itu dijauhkan, dokter Devan menatapnya. Kali ini tidak datar, ada riak kecil di sana.
"Tidak semua yang kamu lihat sempurna itu benar-benar sempurna. Tergantung prespektif nya."
"Sempurna?" batin dokter Devan tertawa pelan. Pahit. Tanpa suara.
Di mata orang, hidupnya tidak cacat. Konsulen termuda. Punya rumah sakit keluarga. Wajah dinginnya selalu menjadi pujaan para perawat, bahkan setiap wanita yang melihatnya. Nama besar. Uang banyak.
Tapi dia sendiri tidak tahu...bagian mana hidupnya yang sempurna? Jadwalnya diatur, pasangannya dipilih, bahkan cara bernapas pun harus seizin orang tuanya. Dia hidup. Tapi bukan dia yang hidup.
Savira diam. Memandang wajah dokter Devan dari samping. Demi apapun, wajah itu nyaris sempurna dengan garis wajah tegas, alis tebal yang bikin auranya makin dingin, hidung mancung, dan bibirnya....bibirnya terlalu penuh untuk laki-laki yang hatinya sekering ini.
Dokter Devan menoleh pelan. Mata mereka bertemu. Mata dokter Devan yang datar bertemu dengan mata Savira yang sembab, merah, dan basah.
Di pipinya, masih ada sisa air mata yang belum kering. Tangan dokter Devan menyentuh pipi itu, menghapus sisa air mata dengan ibu jarinya.
Savira membeku. Napas nya berhenti merasakan tangan hangat itu menyentuh pipi dinginnya. Reflek Savira memejamkan matanya, sentuhan dokter Devan membuatnya nyaman hingga air matanya kembali jatuh.
Dokter Devan kembali menariknya, membuat kepala Savira bersandar di dadanya. "Menangis lah." ucap dokter Devan membuat tangis Savira pecah.
Tanpa malu Savira menangis sesenggukan dalam pelukan dokter Devan. Untuk pertama kalinya ia tidak perlu menahan air matanya, tidak perlu berpura-pura kuat, untuk pertama kalinya ia bisa menumpahkan air matanya di dada seseorang.
Dokter Devan menarik Savira dalam pelukannya. Erat. Tanpa tanya. Tanpa. "Kamu kenapa?" Tidak ada suara. Tidak ada penghakiman.
Hanya ada hangat dari jas dokternya. Yang masih nempel bau kopi pahit jam 11 malam dan aroma parfum sandalwood yang khas.
Tangan besar dokter Devan mengusap punggung Savira. Terasa sedikit kasar karena terlalu sering mencuci tangan dengan antiseptik. Tapi usapan itu terasa pelan dan penuh kehati-hatian. Seolah takut Savira pecah kalau disentuh keras.
"Kenapa aku gini?" batinnya. "Aku benci drama residen cengeng." monolog nya.
Tapi dadanya sesak. Setiap getaran di baju Savira yang dia rasakan. Seperti ada jarum yang pelan-pelan menusuk di rusuknya. Savira nangis tanpa suara. Tapi dokter Devan dengar. Dia mendengar ada retakan dalam hati gadis itu. Retakan yang sama seperti yang dia tutup rapat-rapat tiap malam dengan pekerjaan.
Di balik kecekatannya pas operasi. Di balik dinginnya saat memberi instruksi....Savira rapuh. Sangat rapuh dan hanya dokter Devan yang tahu.
Dokter Devan tutup mata. Dagunya menyentuh puncak kepala Savira yang sudah berantakan.
"Sialan! Sejak kapan aku jago psikologi?" umpatnya dalam hati untuk dirinya sendiri.
Pikirannya ngelantur. Tapi pelukannya tidak. Konsisten tanpa ragu. "Menangis lah. Aku ada di sini."
*
*
*
*
*
To be continued
Hai...