Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Empat Klan Besar
Mereka berdua berjalan berdampingan tanpa berniat
saling mendahului. Sambil menepuk pelan kendi arak di pinggangnya, Li Xuan memulai obrolan "Bagaimana bisa pemurnian tubuh tahap tujuh memiliki nyali sebesar ini? Apa kau punya sembilan nyawa untuk dibuang di sana?"
Tatapan Chen er tetap lurus menyisir jalan tanpa bergeser sedikit pun. "Kesempatan itu hanya sekali. Kehilangan momentum sekarang berarti merelakan peluang yang mungkin tidak akan pernah datang lagi."
Tawa keras lolos dari bibir rekan dekilnya. Tangannya bergerak cekatan membuka sumbat kendi, "Nekat sekali. Padahal aku yang memegang basis Kondensasi Qi tahap empat saja mesti menimbang risiko berulang kali. Tapi sudahlah, bagiku meminum air tawar justru bikin pusing, cuma arak keras ini yang sanggup menjaga kesadaranku demi meladeni kegilaanmu."
Mereka terus menerobos semak liar yang tumbuh semakin rapat. Pandangan Chen er terarah sekilas sebelum kembali terpusat ke depan. "Berbaliklah ke gerbang kota jika nyalimu mulai menciut."
Sambil menggelengkan kepala, sosok berambut kusut itu mempercepat langkah demi mengimbangi rekannya. "Putar balik? Enak saja. Berjalan berdua di tengah rimba
sunyi begini bakal terasa jauh lebih sepi dibanding melangkah sendirian kalau aku pergi sekarang. Lagi pula, aku mau menyaksikan sendiri cara pemurnian tubuh
tahap tujuh sepertimu bertahan hidup."
Percakapan terus mengalir santai dibarengi celotehan aneh yang memusingkan kepala. Hutan perlahan mulai menipis hingga pemandangan padang terbuka luas yang sesak oleh ratusan manusia.
Di tengah padang terbuka itu, berdiri kokoh gerbang batu hitam setinggi tiga puluh meter yang mencengkeram bumi. Pusaran energi kelabu berbentuk portal dimensi besar tampak berputar malas di tengah bingkai gerbang.
Ratusan praktisi bebas berkumpul dalam kelompok kecil Namun, perhatian utama massa adalah empat rombongan besar yang menduduki barisan terdepan dengan kekuatan berkisar antara lima puluh hingga seratus personel bersenjata lengkap.
Tiba-tiba, lengan baju Chen er ditarik pelan hingga memaksa ia menghentikan langkahnya. Rekannya menunjuk ke depan dengan dagu terangkat. "Tahan langkahmu, Chen er. Perhatikan sisi depan. Penguasa wilayah ini sudah mengambil tempat."
Pandangan mata Chen er menyapu sekeliling padang luas tersebut, memperhatikan setiap panji klan yang berkibar ditiup angin.
Di kubu Klan Huo, sang tuan muda tampak luar biasa tidak sabar. Kakinya terus dihentakkan ke tanah dengan gusar sembari menatap tajam ke arah portal kelabu yang belum menunjukkan tanda-tanda bergolak. "Lambat sekali. Kalau bukan karena batasan usia dari dimensi ini, sudah kuhancurkan gerbang batu itu dari tadi," dengus Huo Long tanpa berniat mengecilkan suaranya.
Mendengar kegusaran itu, seorang tetua berambut merah di sebelahnya segera membisikkan peringatan pelan. "Jaga sikap, Tuan Muda Huo Long. Segel kuno yang menopang struktur ini memiliki daya hancur luar biasa. Memicunya secara paksa sama saja dengan bunuh diri."
Tepat di sebelah mereka, rombongan Klan Gao berdiri mengenakan jubah emas mewah bersulam benang berkilau. Di barisan paling depan, seorang tuan muda berparas rupawan tetapi bermata tajam sibuk menguji ketajaman mata pedang panjang miliknya dengan ujung ibu jari.
Suara denting logam terdengar nyaring saat sang penerus Klan Gao menyentakkan pedangnya ke dalam sarung. Matanya melirik tajam ke arah rombongan berjubah biru
samudra di sebelahnya. "Klan Song rupanya gemar mengumpulkan umpan meriam. Apa faksi kalian sudah kehabisan jenius sampai murid berpangkat rendah pun diseret ke sini?"
seorang lelaki berwajah beku melangkah maju dari barisan Klan Song. Jari-jarinya mengetuk pelan kipas lipat yang memancarkan pendaran tipis energi spiritual. "Tutup mulut busukmu, Gao Jian. Klan Song bertumpu pada keagungan teknik dan taktik, bukan pamer mainan berlapis emas seperti faksi penipu milikmu. Kita lihat saja di dalam nanti, siapa yang bakal merangkak memohon ampun."
Adu mulut di antara kedua klan itu langsung memicu riak ketegangan di antara para pengikut masing-masing. Di belakang kubu Song, berdiri Tetua Song Kang yang sengaja melipat tangan dan membiarkan adu mulut berlangsung guna memanaskan mental bertarung sang tuan muda.
Sementara itu, kelompok berjubah abu-abu sederhana di sudut lain tampak berdiri tegak tanpa riak emosi sedikit pun. Kubu tenang ini adalah Klan Jiang, faksi penjaga jarak yang enggan terseret dalam pusaran konflik wilayah.
Sambil menggelengkan kepala pelan, Jiang Wu selaku tuan muda Klan Jiang tersenyum tipis mengamati rivalnya. "Kalian berdua tidak pernah bosan membuang
ludah di setiap kesempatan. Simpan saja tenaga kalian untuk menghadapi binatang buas dan perangkap maut di dalam dimensi nanti."
Di sebelahnya, Tetua Jiang Shan mengelus janggut putih panjangnya secara perlahan. Matanya tetap terfokus pada pergerakan segel gerbang tanpa sudi membuang perhatian pada pertengkaran bocah-bocah ingusan dari klan tetangga.
Melihat perselisihan di antara para tuan muda tersebut, Chen er menyunggingkan senyum tipis di wajahnya. "Bahkan sebelum melintasi ambang batas portal, taring-taring klan besar ini sudah saling bergesekan," gumam Chen er dalam hati sembari merekam postur dan pola napas musuh potensialnya.
Saat keheningan melanda area tersebut, seorang praktisi bebas bertubuh kurus mendadak menghentikan langkah kakinya tepat beberapa meter menatap serius ke arah Chen er.
Dengan langkah penuh keraguan, pria kurus itu berjalan mendekat lalu membungkuk hormat dengan kedua tangan ditangkupkan erat di depan dada. "Maaf kelancangan saya, tetapi... apakah saya sedang berhadapan dengan Tuan Chen yang berhasil menaklukkan racun es maut milik putra mahkota Klan Lin baru-baru ini?"
Mendengar pertanyaan itu, Luo Chen hanya memberikan anggukan kecil tanpa perubahan ekspresi wajah. "Kau tidak salah orang."
Seketika itu juga, raut wajah pria kurus itu tampak berbinar lega sebelum ia membungkukkan kepalanya kembali ke hadapan Chen er. "Keberuntungan luar biasa bisa bertatap muka langsung dengan Anda di sini, Tuan Chen.
Kejeniusan medis Anda sudah menggegerkan seluruh praktisi di Kota Qingfeng. Semoga jalur keberuntungan selalu menuntun langkah Anda." Setelah menyampaikan rasa hormatnya, sang praktisi segera undur diri kembali ke tengah kerumunan di sudut lapangan.
Sambil melihat situasi, sosok berambut kusut itu kembali meneguk araknya dalam-dalam. "Lihat ke depan, bocah-bocah manja itu tampaknya siap saling menggorok leher."
Di dekat gerbang batu, Huo Long menghentakkan kakinya keras ke tanah hingga kepulan uap merah bermuatan panas ekstrem langsung mengeringkan rerumputan di
sekitar pijakannya. "Gao Jian, kalau kau tidak bisa menahan jemarimu dari pedang mainan berlapis emas itu, aku sendiri yang akan melelehkannya bersama tanganmu!"
Seketika itu juga, pedang emas berkilau ditarik keluar setengah bagian oleh Gao Jian. Visual energi Qi kuning kecokelatan beriak tajam menyelimuti betis hingga
ujung sepatu sang tuan muda Gao. "Maju dan buktikan sumpah serapahmu! Kita lihat apakah lidah apimu sanggup meretakkan pertahanan 'Jurus Tekanan Bumi' milikku!"
Melihat bahaya yang mengintai, para praktisi bebas di sekitarnya langsung mundur teratur demi menghindari benturan energi kedua kubu. Namun, sebelum bentrokan fisik pecah, gema dehaman berfrekuensi rendah menyapu seluruh area lapang.
Tiba-tiba, Tetua Song Kang melangkah maju ke tengah pertikaian untuk melerai kedua tuan muda tersebut. Riak energi biru air dari pusaran telapak tangannya, menenggelamkan gejolak api merah dan riak tanah
hingga padam total dalam hitungan detik. "Hentikan pertunjukan konyol kalian ini. Jangan mempermalukan kehormatan klan di hadapan para kultivator liar.
Portal dimensi akan terbuka sebentar lagi, simpan tenaga kalian untuk bertahan hidup di dalam."
Sambil mengerang tertahan, Huo Long segera memadamkan uap panas di tubuhnya lalu berbalik menuju barisannya dengan raut muram. Gao Jian pun memilih menyarungkan kembali senjatanya dengan entakan kasar yang menimbulkan bunyi logam beradu.
Melihat ketegangan mereda, sosok berambut kusut di samping Chen er berbisik pelan memperingatkan. "Kau saksikan sendiri betapa ngerinya riak energi mereka, Chen er. Itu bahkan belum separuh dari kekuatan asli faksi penguasa.
Camkan peringatanku, begitu kaki kita menapak di dalam dimensi kuno, pastikan jarak kita sejauh mungkin dari radar mereka."
Sambil membenarkan simpul pakaiannya, Chen er memberikan tanggapan pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari gerbang. "Fokus utamaku adalah menembus batasan diri dan mencari peluang, bukan menimbun musuh."
Li Xuan bernapas lega mendengar tanggapan rasional dari rekannya. "Keputusan tepat. Di area maut seperti ini, keangkuhan cuma memperpendek umur. Biarkan kawanan anjing klan besar itu saling gigit memperebutkan tulang, sementara kita menyelinap mencari daging terbaik yang luput dari pantauan mereka."
Tiba-tiba, suara gemuruh berat mengguncang tanah saat gerbang batu hitam raksasa itu bergetar hebat. Pusaran kelabu di tengah bingkai portal mendadak berotasi gila-gilaan,
"Gerbang dimensi terbuka! Chen er. Begitu pendaran ini stabil, kita harus melesat di detik pertama sebelum massa liar ini saling injak di pintu masuk."
Chen er mengepalkan tangannya kuat-kuat sembari menatap lurus ke arah gerbang dimensi yang menanti di depan.