NovelToon NovelToon
PENYIHIR TANPA SIHIR

PENYIHIR TANPA SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Berburu Bijih Besi Meteorit di Gua Terlarang

Sinar matahari pagi hari kelima baru saja memecah kabut tebal yang menyelimuti tebing gersang di pinggiran Kota Toga. Setelah menghabiskan satu hari penuh kemarin untuk memulihkan kondisi fisiknya dari siksaan hawa panas tungku, Askara kini berdiri tegak di ambang pintu bengkel Moses.

Luka-luka kecil di wajahnya mulai mengering, dan stamina fisiknya telah kembali berada dalam kondisi puncaknya berkat ketahanan tubuh murninya yang kian terlatih.

Moses berjalan keluar dari kegelapan bengkel sembari melemparkan sebuah pedang besi tua yang tampak tumpul dan berkarat ke arah Askara. Pemuda itu dengan sigap menangkap gagang pedang tersebut di udara.

"Pedang itu adalah besi rongsokan yang gagal kubuat dua puluh tahun lalu," ucap Moses sembari bersandaran pada tiang kayu bengkelnya. "Gunakan itu untuk syarat keduamu.

Aku melarangmu menggunakan sihir serapan apa pun selama ujian ini. Jika kau mengalirkan sihir petir atau kegelapan murnimu ke bilah rapuh itu, besi tua itu akan langsung meleleh menjadi debu. Aku ingin melihat kemampuan berpedang murnimu, tanpa ketergantungan pada elemen magis."

Askara menimbang bobot pedang berkarat itu di tangannya. Keseimbangannya buruk, dan mata pisaunya dipenuhi korosi, namun ia hanya mengangguk tenang. "Ke mana aku harus pergi, Orang Tua?"

Moses menyipitkan matanya, menunjuk ke arah barisan pegunungan batu yang menjulang tinggi di sebelah utara kota.

"Tebing Ratapan. Di bagian dasar tebing itu, terdapat sebuah gua terlarang bernama Gua Obsidian. Di dalam lubang terdalamnya, terdapat sebuah bongkahan Bijih Besi Meteorit Amfibi—sebuah material legendaris yang jatuh dari langit berabad-abad lalu. Karakteristik besi itu sangat unik; ia secara alami menolak dan menyerap energi sihir luar, menjadikannya bahan baku paling sempurna untuk membangun pedang yang sanggup menahan sirkulasi wadah kosongmu."

Moses melangkah maju, menepuk pundak Askara dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah menjadi sangat serius.

"Namun, tempat itu tidak kosong. Gua tersebut adalah sarang dari Gorgon Shield-Bear, monster reptil purba bercangkang batu obsidian yang sangat agresif. Mereka kebal terhadap sebagian besar sihir, dan cangkang mereka hanya bisa ditembus oleh presisi tebasan fisik yang mutlak. Bawa bijih besi itu kembali kepadaku sebelum matahari terbenam, atau kau tidak usah kembali sama sekali."

"Dimengerti," jawab Askara singkat. Ia menyelipkan pedang berkarat itu ke sabuk pinggangnya, menarik tudung jubah hitamnya yang baru saja ia jahit alakadarnya, lalu berbalik badan melesat menuju arah Tebing Ratapan.

Perjalanan menuju Tebing Ratapan memakan waktu beberapa jam melewati medan berbatu yang gersang dan terjal. Sesuai dengan namanya, angin kencang yang berembus melewati celah-celah tebing kapur di area tersebut menciptakan suara dengungan panjang yang menyerupai suara ratapan manusia yang sedang tersiksa. Di dasar tebing yang paling gelap, Askara berhasil menemukan celah masuk menuju Gua Obsidian.

Suasana di dalam gua terasa sangat dingin, lembap, dan dipenuhi oleh formasi kristal hitam yang memantulkan pendaran cahaya redup. Askara melangkah dengan sangat pelan, meminimalisir suara langkah kakinya di atas permukaan tanah yang basah. Semakin dalam ia menjelajah, sisa-sisa tulang belulang dari para petualang masa lalu mulai terlihat berserakan, menjadi peringatan nyata akan bahaya tempat ini.

GROWLLL—!

Sebuah geraman berat yang bergetar dari frekuensi rendah mendadak bergema dari kegelapan di depan. Tanah di bawah kaki Askara bergetar saat sesosok makhluk raksasa merangkak keluar dari balik pilar batu.

Monster itu adalah Gorgon Shield-Bear. Tingginya mencapai tiga meter, dengan wujud menyerupai perpaduan antara beruang berotot dan reptil purba. Seluruh bagian punggung, bahu, dan lengan depannya dilapisi oleh lempengan tebal batu obsidian hitam yang mengkilap layaknya perisai baja alami. Sepasang mata merahnya berputar, langsung mengunci sosok Askara sebagai penyusup di teritorinya.

ROAAARRR!

Monster itu menghentakkan sepasang lengan depannya yang masif ke tanah, memicu gelombang kejut fisik yang meruntuhkan beberapa stalaktit dari langit-langit gua. Dengan kecepatan yang tidak terduga untuk ukuran tubuhnya yang raksasa, makhluk itu melesat maju, mengayunkan cakar obsidiannya yang tajam ke arah dada Askara.

Askara tidak panik. Mengikuti instruksi Moses, ia menahan instingnya untuk memicu sihir kegelapan murni di dalam dadanya. Ia menarik pedang tua berkaratnya dari pinggang, mengandalkan kecepatan refleks murni dari tubuh fisik ringannya.

SLIIIT!

Askara melompat mundur, membiarkan cakar monster itu merobek udara kosong hanya beberapa sentimeter di depan wajahnya. Memanfaatkan momentum musuh yang condong ke depan, Askara memutar poros tubuhnya dan meluncurkan sebuah tebasan balasan yang mengincar persendian lutut sang monster.

TRANG!

Suara benturan logam yang sangat nyaring terdengar.

Pedang berkarat Askara memercikkan bunga api besar saat menghantam lempengan obsidian di kaki monster tersebut. Alih-alih melukai, hantaman itu justru membuat telapak tangan Askara terasa bergetar hebat dan mati rasa akibat buruknya kualitas peredam getaran pada pedang tua itu. Cangkang obsidian musuh benar-benar terlalu keras untuk ditebas secara brutal menggunakan besi berkualitas rendah.

Gua ini tidak memberikan ruang untuk kesalahan, batin Askara sembari melompat ke samping, menghindari hantaman ekor berduri sang monster yang menghancurkan pilar batu di tempatnya berdiri tadi. Jika aku terus menghantam bagian perisainya secara acak, pedang tua ini akan patah sebelum aku bisa melukai kulitnya.

Sang Gorgon Shield-Bear kembali meraung marah karena mangsanya yang lincah terus menghindar. Makhluk itu mengangkat tubuhnya dengan dua kaki belakang, lalu menjatuhkan seluruh berat badannya dalam gerakan membanting yang siap meremukkan tubuh Askara.

Di bawah tekanan maut tersebut, pikiran Askara mendadak teringat akan ucapan Moses di bengkel: "Pedang sejati bukan diciptakan untuk membunuh musuhmu, melainkan untuk menegakkan apa yang ada di dalam hatimu... Setiap material memiliki titik lemahnya sendiri."

Askara menarik napas dalam-dalam, menstabilkan detak jantungnya di tengah badai pertempuran. Sepasang mata hitamnya berfokus penuh, menyisir setiap inci tubuh makhluk raksasa itu di bawah pendaran kristal gua. Saat monster itu mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi, Askara berhasil melihat sebuah celah kecil—sebuah area kulit lunak tanpa pelindung obsidian yang terletak tepat di bawah ketiak dan sela-sela lipatan leher sang monster.

Celah itu sangat sempit... Aku hanya memiliki satu kesempatan tebasan murni, pikir Askara dengan dingin.

Askara tidak lagi mundur. Ia justru berlari menyongsong arah jatuhnya tubuh sang monster. Tepat saat hantaman lengan raksasa makhluk itu hampir menyentuh tanah, Askara menjatuhkan tubuh fisiknya ke bawah, melakukan gerakan berseluncur di atas tanah gua yang licin, melewati bagian

bawah perut sang monster.

Di bawah posisi perut makhluk itu, Askara membalikkan tubuhnya, menggenggam gagang pedang berkaratnya dengan kedua tangan, lalu mengerahkan seluruh kekuatan otot punggung dan lengannya dalam satu tusukan vertikal yang presisi ke atas, mengincar titik lunak di bawah ketiak kiri sang monster.

FLESH!

Bilah besi tua yang tumpul itu berhasil menembus kulit lunak sang monster dengan sempurna, merobek arteri besar di dalam tubuhnya. Gorgon Shield-Bear menjerit kesakitan yang teramat sangat, darah berwujud cairan hitam pekat menyembur keluar dari luka tersebut, membasahi jubah hitam Askara.

Namun, makhluk itu belum mati. Dalam amarah terakhirnya, ia mengayunkan lengan kanannya secara membabi buta, menghantam tubuh Askara hingga pemuda itu terpental beberapa meter dan menabrak dinding gua dengan keras. .

BRRAAAK!

"Ugh!" Askara terbatuk, merasakan dadanya sesak akibat benturan fisik tersebut. Namun, ia segera bangkit berdiri kembali sebelum monster itu sempat mengejarnya. Beruntung bagi Askara, luka tusukan presisi tadi telah memutus sirkulasi motorik sang monster. Makhluk raksasa bercangkang obsidian itu terhuyung-huyung beberapa langkah, sebelum akhirnya tumbang ke tanah dengan dentuman keras, tidak lagi bergerak.

Setelah memastikan monster itu benar-benar tewas, Askara melangkah melewati bangkainya menuju ke bagian ceruk terdalam gua. Di sana, tertanam di antara dinding batu obsidian, terdapat sebuah batu bongkahan besar yang memancarkan pendaran warna perak keabu-abuan yang redup namun memancarkan aura gravitasi yang aneh.

Benda itu adalah Bijih Besi Meteorit Amfibi.

Askara menggunakan sisa ketajaman pedang tuanya untuk mencungkil bijih besi berukuran kepalan tangan orang dewasa tersebut dari dinding gua. Begitu tangannya menyentuh material meteorit itu, Askara merasakan sensasi dingin yang luar biasa yang seolah-olah mencoba menyedot hawa panas dari tubuhnya—karakteristik penyerapan energi murni yang persis seperti yang dikatakan Moses.

Matahari sudah mulai bergerak turun menuju ufuk barat saat Askara berjalan keluar dari Gua Obsidian, membawa bongkahan meteorit langka tersebut di tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang pedang tua yang kini sudah somplak dan semakin berkarat di beberapa bagian.

Tepat sebelum garis matahari terakhir menghilang di balik dinding tebing Kota Toga, pintu bengkel Moses kembali didorong terbuka. Askara melangkah masuk dengan tubuh yang dipenuhi debu gua dan noda darah hitam monster, lalu meletakkan bongkahan Bijih Besi Meteorit Amfibi di atas meja kerja sang maestro pandai besi.

Moses yang sedang meminum minumannya langsung bangkit berdiri, matanya menatap bergantian antara bongkahan meteorit yang berkilau perak redup dan kondisi pedang tua di pinggang Askara yang terbukti tidak patah.

"Kau... kau benar-benar melakukannya tanpa menggunakan setetes pun sihir serapan?" tanya Moses dengan nada suara yang dipenuhi kekaguman yang mendalam, memeriksa keaslian meteorit tersebut dengan tangannya yang bergetar.

Askara menurunkan tudung jubahnya, menyeka sisa darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu mengulas senyuman tipis yang penuh kemenangan. "Dua syarat selesai, Orang Tua. Sekarang, tunjukkan padaku syarat terakhirmu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!