NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Agung

Kembalinya Sang Kaisar Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Action
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Devourer

Ia hanyalah seorang "murid sampah" di Sekte Pedang Giok, pemuda tanpa masa depan yang hidup dalam kehinaan dan penindasan. Hingga suatu hari ia mendapatkan kembali ingatan masa lalunya, ketika ia masih seorang Kaisar Agung di alam atas dan pernah memimpin jutaan pasukan di atas medan perang berdarah.

Namun, karena mendapatkan pengkhianatan yang kejam dari murid kepercayaannya sendiri, Ia kini harus memulai segalanya dari awal.

Sampah? Tidak! Ia menggunakan seluruh memori masa lalunya dan mengubah dirinya menjadi sosok tak tertandingi yang dapat menyapu bersih semua semut pengganggu dari jalannya.

"Aku adalah ... Qin Xiang."

Genre: Aksi, Kultivasi, Reinkarnasi, Balas Dendam, Harem.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#5: Pengkhianatan dan Pertolongan

Setelah meninggalkan gua Kelelawar Pelahap Aura, Qin Xiang tidak lantas memutuskan untuk segera kembali ke hiruk-pikuk Sekte Pedang Giok. Ia tahu betul hukum dunia kultivasi; kembali terlalu cepat dengan kekuatan yang masih belum stabil hanya akan mengundang kecurigaan yang merepotkan. Di dalam benaknya yang membawa memori sang kaisar, ia lebih memilih mencari sebuah tempat yang benar-benar terisolasi—sebuah ceruk di balik tebing yang tertutup tanaman merambat, di mana energi spiritual mengalir tenang dan murni, jauh dari gangguan binatang buas maupun manusia.

Di tempat itulah, Qin Xiang menghabiskan waktu selama beberapa hari dalam meditasinya yang paling dalam. Ia mulai menyerap kelopak demi kelopak Mawar Giok Darah yang ia kumpulkan. Setiap kali esensi mawar yang berwarna merah darah itu meresap ke dalam tubuhnya, Qin Xiang merasakan sensasi terbakar yang luar biasa hebat, seolah-olah ada api cair yang sedang mengalir di nadinya. Namun, ini adalah rasa sakit yang ia nikmati. Itu adalah proses pembersihan; energi mawar tersebut melahap kotoran-kotoran yang telah bertahun-tahun mengerak di jalur meridiannya, melancarkan setiap sumbatan yang selama ini membuat tubuh aslinya dianggap sebagai sampah yang tidak berguna.

Kini, dengan bantuan Air Spiritual yang ia padatkan, kemajuannya melonjak drastis dalam sekejap mata. Meridiannya yang semula hanya setipis helaian rambut, kini perlahan-lahan melebar dan menguat, mampu menampung aliran Qi yang jauh lebih besar tanpa risiko pecah.

Wush—!

Sebuah hentakan energi yang transparan meledak dari tubuhnya, menyapu debu dan dedaunan kering di sekitarnya hingga bersih. Kekuatan dalam yang meluap-luap memenuhi sekujur tubuhnya, memberikan sensasi kekuatan yang sudah lama tidak ia rasakan. Qin Xiang seolah bermandikan cahaya ilahi yang tipis saat ia perlahan membuka kelopak matanya. Sebuah helaan napas panjang lolos dari bibirnya, ia merasa sangat puas dengan perkembangan yang mustahil ini. Hanya dalam sekali jalan, ia telah menerobos hingga ke puncak Pemurnian Qi Tahap 9.

Ketika melihat manik Air Spiritual di telapak tangannya, Qin Xiang mendapati bahwa ukurannya sudah berkurang seperempat dari ukuran aslinya. Ia bergumam pelan, suaranya kini memiliki gema kewibawaan yang lebih dalam.

"Jika kultivator normal yang menggunakan energi sebanyak ini, seperempat saja harusnya sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka menerobos hingga ke ranah Qi Fondasi. Namun, karena danau Dantianku sangat besar, aku membutuhkan jauh lebih banyak energi dibandingkan kultivator pada umumnya."

Apakah ini sebuah pemborosan? Qin Xiang justru tersenyum tipis. Tidak ada kata boros bagi sang kaisar. Ia justru merasa kekuatannya saat ini sudah sangat solid. Meski secara teknis ia masih di ranah Pemurnian Qi, namun kualitas energinya begitu padat. Ia merasa sudah cukup kuat untuk mengurus kultivator ranah Qi Fondasi, bahkan jika ia harus berhadapan dengan ranah Inti Formasi sekalipun, ia yakin bisa sedikit melukai meteka jika memanfaatkan pengalaman tempur masa lalunya yang luar biasa.

Ia pun bangkit berdiri, melakukan beberapa gerakan pemanasan yang membuat tulang-tulangnya berderak ritmis. Namun, belum sempat ia melangkahkan kaki untuk meninggalkan tempat persembunyiannya, insting tajamnya tiba-tiba berteriak waspada. Ia merasakan getaran aneh dari pepohonan yang berada tak jauh dari posisinya, disusul dengan burung-burung yang terbang liar ke berbagai arah seolah sedang melarikan diri dari teror yang nyata.

“Ada yang sedang bertarung,” gumamnya pelan.

Sedikit rasa penasaran menarik Qin Xiang untuk bergerak ke arah sumber kekacauan tersebut. Dengan langkah yang ringan dan hampir tanpa suara, ia melesat di antara dahan pohon. Di sebuah celah hutan yang hancur, ia mendapati beberapa murid dengan seragam yang identik dengan miliknya—murid Sekte Pedang Giok—sedang bertarung mati-matian melawan seekor Rusa Bertanduk Kristal setinggi tiga meter. Aura membunuh dari monster itu begitu pekat, setara dengan kekuatan kultivator di ranah Inti Formasi tahap pertama.

“Para pengacau itu lagi...” gumam Qin Xiang saat matanya menangkap sosok Xiao Jing yang gemetar di tengah pertempuran.

Matanya kembali memindai lingkungan sekitar yang penuh dengan patahan dahan dan darah. Ia menemukan mayat seekor rusa muda dengan jenis yang sama tak jauh dari sana. Qin Xiang langsung bisa menebak skenarionya. “Membunuh anaknya, dan sekarang sang ibu datang menuntut balas...” Ia menghela napas, melihat betapa cerobohnya kelompok ini hingga memicu kemarahan monster sekuat itu.

...

Di tengah medan laga yang kacau, napas Xiao Jing sudah tidak beraturan. Ketakutan menyelimuti wajahnya saat melihat tanduk kristal monster itu mengarah tepat ke kedua temannya yang sedang membeku ketakutan.

“Kalian berdua, awas!” teriaknya parau.

Tanpa memikirkan keselamatannya sendiri, Xiao Jing melompat ke depan, mencoba menangkis serangan maut itu menggunakan pedangnya. Namun, daya hancur monster tersebut jauh di luar perkiraannya.

BRAKK—!

Xiao Jing langsung dikirim mundur layaknya sebuah bola yang ditendang keras. Tubuhnya terpelanting cukup jauh hingga menabrak pohon besar dengan dentuman yang memilukan.

Krak—!

Xiao Jing terkapar lemas di akar pohon. Matanya yang setengah sadar menatap pedang di tangannya yang kini telah hancur sepenuhnya menjadi kepingan logam tak berguna. Wajahnya dipenuhi ekspresi putus asa, layaknya seorang anak kecil yang ingin menangis namun tak lagi memiliki tenaga. Itu adalah pedang pemberian kakaknya yang sangat ia jaga dan lindungi sebagai harta paling berharga—namun sekarang, simbol kebanggaannya itu telah musnah.

“Monster, lawan aku!”

Suara nyaring itu memecah keputusasaan. Gadis muda bernama Li Mei mulai bergerak. Ia mengayunkan pedangnya yang ramping dengan teknik berpedang yang anggun, melesat ke sana kemari layaknya seekor kupu-kupu pelangi yang cantik namun menyimpan ketajaman di setiap kepakannya. Ia mencoba sekuat tenaga mengalihkan fokus sang rusa agar tidak mengincar rekan-rekannya yang sudah tak berdaya.

Sementara Li Mei berjuang mati-matian, Han—si pemuda bertubuh kekar yang membawa kapak—justru menunjukkan wajah yang dipenuhi ketakutan pengecut. Luka-luka di sekujur tubuhnya membuatnya kehilangan keberanian sepenuhnya. Sebuah niat kotor mulai merayap di dalam pikirannya.

‘Si Xiao Jing itu sudah tamat. Bahkan jika Li Mei kuat, dia tidak akan bisa bertahan lama sendirian. Tidak mungkin kami bisa mengalahkan monster gila ini!’ batin Han dengan penuh kepicikan.

Han menggertakkan giginya, mengambil keputusan yang paling menjijikkan. Ia memutuskan untuk melarikan diri dan membiarkan rekan-rekannya mati. Dengan suara yang dibuat seolah-olah penuh pengabdian, ia berteriak sambil mulai berlari menjauh, “Aku akan pergi mencari bantuan! Tahan dia sejenak!”

Mencari bantuan? Di tengah hutan ini? Itu adalah pengkhianatan yang paling telanjang.

Li Mei, yang selama ini dikenal selalu tenang, seketika merasakan hatinya membeku. Wajahnya berubah menjadi sangat dingin saat menyadari ia baru saja ditinggalkan untuk mati. Ia pun sebenarnya bisa melarikan diri jika mau, namun memikirkan nasib rekannya yang lebih lemah membuatnya membuang jauh-jauh pikiran busuk tersebut. Ia tetap berdiri tegak, meski tangannya mulai gemetar karena kelelahan.

Qin Xiang yang sedari tadi hanya mengamati dari balik bayang-bayang pohon besar, merasakan perasaan emosional yang tiba-tiba meluap di dalam dadanya. Menyaksikan pengkhianatan di depan matanya sendiri membangkitkan memori pahit saat pedang murid kepercayaannya menembus punggungnya di masa lalu.

“Kau ingin kabur ke mana?”

Suara dingin Qin Xiang tiba-tiba memenuhi atmosfer di sekitar Han yang sedang mencoba melesat pergi. Han tersentak hebat, namun sebelum tubuhnya sempat bereaksi untuk menoleh, sebuah tinju yang mengandung kekuatan murni sudah memenuhi pandangannya. Bagi Han, tinju itu terasa seolah-olah ada sebuah gunung yang tiba-tiba jatuh menimpa wajahnya.

PAHHH—!

Han terkapar pingsan seketika, wajahnya mencium tanah tanpa sempat mengeluarkan suara keluhan. Qin Xiang bahkan tidak meliriknya lagi. Ia langsung bergegas menuju pusat pertarungan untuk membantu gadis yang masih berjuang tersebut.

“Aku akan membantumu,” ucap Qin Xiang dengan nada datar namun penuh otoritas saat ia sudah berada di samping Li Mei.

Li Mei terkejut setengah mati. Ia tidak mengenali siapa pemuda yang tiba-tiba muncul di sampingnya tanpa ia sadari. Ia hanya bisa mengangguk secara insting, meskipun batinnya dipenuhi keraguan saat merasakan aura pemuda ini hanya berada di ranah Pemurnian Qi. Namun, keraguan itu segera dihancurkan oleh kenyataan di depan matanya.

Qin Xiang bergerak dengan efisiensi yang menakutkan. Tanpa menggunakan senjata, ia melancarkan serangan presisi yang berhasil melukai salah satu kaki belakang rusa tersebut, memaksanya kehilangan keseimbangan untuk beberapa saat yang sangat krusial.

Tidak ingin membuang kesempatan berharga ini, Li Mei segera memutar pergelangan tangannya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia memicu teknik pamungkasnya. Seketika, udara di sekelilingnya seolah pecah menjadi ribuan fragmen cahaya warna-warni yang menyilaukan. Fragmen-fragmen itu berkumpul dan membentuk siluet sayap kupu-kupu raksasa yang mengepak indah di balik punggungnya.

"Tarian Sayap Kupu-Kupu Pelangi!"

Saat kepakan sayap pelangi itu mencapai puncaknya, Li Mei bergumam lirih. Seluruh cahaya yang berpendar itu mengumpul menjadi satu titik fokus yang sangat tajam di ujung pedangnya. Dengan sebuah dorongan yang sangat anggun namun penuh kekuatan penghancur, ia menerjang maju. Seperti seekor kupu-kupu yang dengan lembut hinggap di atas kelopak bunga, ujung pedangnya mendarat tepat di titik vital leher monster tersebut.

WOOSHHH—!

Energi pelangi itu meledak di dalam leher sang rusa. Monster raksasa itu hanya sempat mengeluarkan erangan pendek sebelum akhirnya jatuh berdebam ke tanah, tak lagi bernyawa.

“Huft... Huft...”

Tubuh Li Mei dibasahi oleh keringat yang memanjiri sekujur tubuhnya. Napasnya tersengal-sengal, namun ia merasa lega luar biasa. Kini, ia akhirnya memiliki waktu untuk mengamati pemuda di sampingnya. Ia menatap wajah Qin Xiang yang tampak tenang, seolah pertarungan hidup dan mati tadi hanyalah urusan kecil yang membosankan baginya.

“Terima kasih, Rekan Sekte,” ujarnya dengan suara lembut yang penuh dengan ketulusan.

Qin Xiang hanya mengangguk pelan. Ia menatap Li Mei dengan pandangan datar, tanpa ada kekaguman berlebih meski di depannya adalah salah satu murid tercantik di sekte. “Sudah sewajarnya sesama murid sekte untuk saling membantu, Senior.”

“Aku akan pergi sekarang,” lanjut Qin Xiang sembari menangkupkan tinjunya sebagai tanda hormat formal. Namun, sebelum ia melesat pergi, ia sempat mengingatkan mereka tentang sesuatu yang penting. “Oh, iya. Pengkhianat itu sudah kubuat pingsan, terserah mau kalian apakan dia.”

Li Mei hendak menanyakan siapa namanya, namun Qin Xiang sudah menghilang dari pandangannya dalam sekejap mata. Gerakannya begitu cepat dan halus, seolah-olah sejak awal ia memang tidak pernah ada di sana.

“I-Itu kan si sam—maksudku, si Qin Xiang!”

Salah satu teman Xiao Jing yang sedari tadi tergeletak tiba-tiba berseru kaget. Ternyata, ia sedari tadi hanya berpura-pura pingsan karena ketakutan setengah mati akan dipukuli oleh Qin Xiang atau dimakan oleh monster.

“Itu benar-benar dia?” tanya temannya yang lain yang kini juga terbangun dari "pingsannya".

Mendengar suara temannya, pemuda pertama menoleh dengan wajah jijik, “Kukira kau benar-benar pingsan setelah ditabrak tadi, rupanya kau hanya akting?”

“Hei, bukannya kau juga sama?!” balas temannya tidak mau kalah.

Keduanya berakhir saling bertengkar dan saling tuduh dengan suara keras, sama sekali tidak memedulikan Xiao Jing yang masih terbaring tidak berdaya merintih kesakitan di dekat pohon.

Sementara itu, Li Mei mengabaikan mereka. Ia tetap berdiri diam, menatap ke arah tempat Qin Xiang menghilang. Sebuah senyum lembut yang memiliki arti di wajah cantiknya muncul secara perlahan. Ia menyentuh pita kupu-kupunya, seolah sedang menandai sesuatu di dalam ingatannya.

“Qin Xiang ...” gumamnya pelan, membiarkan nama itu bergema di dalam hatinya.

Bersambung!

1
budiman_tulungagung
sepuluh mawar 🌹
budiman_tulungagung: oke.. masama brother
total 2 replies
budiman_tulungagung
lima mawar 🌹
Nanik S
Awal yang bagus
Devourer Is Back: Thanks udah mampir🙏🏻
total 1 replies
T28J
saya kasih like dan hadiah 👍
Devourer Is Back: Thanks ya🙏
total 1 replies
Devourer Is Back
Janji deh, sampai tamat 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!