***
Bagi Raka, Naya adalah candunya ...
Berbeda dengan Naya yang menganggap Raka sebagai masa lalu yang menyakitkan..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apri Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Karena mual, akhirnya Naya dan Raka hanya tidur berdua sambil berpelukan, hanya tidur saja tidak melakukan adegan mesum.
Pagi hari Naya terbangun dan seperti biasa tidak ada Raka disampingnya, Naya cukup mengerti mungkin Raka tak ingin anak anak panti tau jika Raka tidur dikamar dengan Bundanya.
Naya segera bangun dan membersihkan diri sebelum Ia berangkat kerja karena hari ini Ia merasakan tubuhnya sangat segar dan tak merasakan mual seperti biasanya.
"Mbak Naya," Panggil Anna yang sudah memasuki kamarnya.
"Kenapa An?" Naya kini sudah rapi dengan Dress selututnya, semenjak tau jika hamil memang Naya sudah tak pernah mengenakan celana jeansnya.
"Tuh ada Raka didepan, katanya mau nganterin." kata Anna.
"Oh iya, ini juga sudah selesai kok."
Naya segera keluar dibuntuti oleh Anna dibelakangnya, Ia melihat Raka sedang asik melihat anak anak yang akan berangkat sekolah dengan sepedanya.
"Bunda, kita berangkat dulu ya?" teriak Rio sambil melambaikan tangan diikuti oleh Anak anak lainya, sedangkan Raka langsung berbalik melihat ke arah Naya.
"Kamu kok kesini pagi pagi?" tanya Naya yang mendapatkan kecupan dari Raka.
"Disini masih ada orang kalau kalian liat?" kata Anna yang berada dibelakang Naya yang melihat kemesraan Raka dan Naya.
"Kenapa pengen? apa semalem kurang?" sindir Raka yang membuat Anna malu lalu pergi.
Sejak Raka tau hubungan Anna dan Nathan, membuat Anna sedikit melunak dengan Raka.
"Memangnya semalem kenapa?" tanya Naya penasaran.
"Nggak apa apa kok," Raka mengelus rambut Naya penuh cinta "Ya udah ayok berangkat." Ajak Raka.
"Kenapa repot repot menjemputku?" tanya Naya.
"Kenapa? karena kamu calon istriku dan mulai sekarang kamu menjadi tanggung jawabku." kata Raka yang membuat Naya tersenyum.
"Ya sudahlah, kita berangkat saja sekarang tapi sebelum itu aku ingin membeli bubur kacang hijau dulu." kata Naya.
"Siap Tuan putri." kata Raka yang membuat Naya terkekeh.
...
Kini mereka sampai direstoran Naya setelah membeli bubur kacang hijau kesukaan Naya.
"Nanti siang aku kesini lagi buat makan siang, kamu jaga diri baik baik, jangan capek capek kalau ada apa apa langsung hubungi aku." jelas Raka begitu bawelnya membuat Naya hanya tersenyum.
"Udah? gitu aja?" tanya Naya.
"Hmm tuh kan, aku serius sayang." Raka terlihat kesal.
"Iya iya, ya udah aku masuk dulu ya," pamit Naya hendak keluar mobil namum tangannya ditahan oleh Raka.
"Kiss nya mana dong?"
"Ih apa sih, ada Nathan juga." Naya terlihat malu.
"Cuekin aja, anggap aja nggak ada." kekeh Raka.
"Saya baik baik saja kok Non." kata Nathan yang semakin membuat Naya malu.
"Enggak ah, malu." kata Naya langsung kabur keluar membuat Raka terkekeh.
Buru buru Naya masuk kedalam, takut jika Raka mengejarnya dan menciumnya disini hingga tanpa Ia sadari Naya menjadi pusat perhatian para pelayan restoran baru saja datang.
"Ciee... Bu Naya, buru buru amat." kata Dani salah satu pelayan pria disana.
"Ya ampun kalian udah disini ternyata." kata Naya kaget,
"Serasa dunia milik berdua ya bu, sampai nggak liat kita kita, cieee." para pelayan tampak bersorak bersamaan.
"Ya ampun kalian ini, udah sana kerja atau mau kupotong gaji kalian." ancam Naya membuat para pelayan menghambur masuk, Naya terpaksa mengatakan ini hanya karena ingin menutupi rasa malu nya saja, karena selama ini Ia juga belum pernah sekejam itu sebagai seorang bos.
...
Pukul 10 pagi saat restoran sudah mulai ramai pembeli, ada seorang wanita yang membentak bentak seorang pelayan karena sesuatu.
"Katakan dimana wanita murahan itu?" tanya wanita yang terlihat masih mudah, suaranya yang keras membuat semua mata tertuju padanya.
"Maafkan saya, tapi saya benar benar tidak mengerti maksud anda Nona." kata pelayan yang sudah mulai pucat wajahnya karena dibentak bentak oleh wanita itu.
"Kalian tidak tau kan, bosmu itu wanita murahan bahkan dia telah merebut suamiku, cepat panggilkan dia sekarang!" teriak wanita itu membuat semua orang yang ada disana terkejut dan berbisik bisik.
"Apa maksud Nona, Bu Naya?"
"Iya, dia wanita murahan, cepat panggilkan sekarang!"
"Tapi Non-."
"Ada apa ini?" tanya Naya yang datang dari ruangannya karena mendengar suara keributan di luar.
"Akhirnya kau keluar juga." kata wanita itu tersenyum sinis kearah Naya,
Naya terkejut dan hampir terjatuh melihat siapa wanita yang datang itu, dia Clara, ya Clara mantan istri Raka yang dulu menemuinya diapartemen.
"Apa kau terkejut aku datang? dasar wanita murahan! perebut suami orang." kata Clara dengan suara lantang membuat semua orang yang disana menatap Naya tak percaya.
Naya hanya diam saja, tangannya gemetar, hatinya sakit namun Ia tak bisa melakukan apapun termasuk membantah ucapan Clara yang benar adanya. Dia memang perebut suami orang, ya Naya sadar itu.
"Kenapa? kenapa hanya diam saja? apa karena kau tidak punya alasan membantahku? apa karena memang semuanya benar?" tanya Clara menatap Naya tajam.
"Kamu perusak rumah tanggaku Naya, perusak!!! apa kau tau sekarang putriku sedang sekarat dirumah sakit dan papahnya tidak ada disampingnya karena kamu, karena Ia ingin bersamamu," Clara mengatakan itu dengan suara keras hingga membuat pengunjung mengelleng menatap Clara kasian.
Tidak mungkin, tidak mungkin Raka melakukan ini pada putrinya, bahkan kemarin Raka berlari saat mendengar putrinya kerumah sakit batin Naya tak percaya.
"Apa salahku padamu Naya? apa kau tak punya hati, kenapa kau bisa setega ini padahal kita sama sama wanita, bagaimana kau bisa melakukan ini semua?" Kata Clara masih menangis.
"Wanita jahat."
"Nggak nyangka aja wajahnya kalem kelakuan kayak gitu."
"Ya ampun kasian anaknya sakit, bapaknya nggak peduli."
"Bener bener wanita nggak punya hati."
"Iya nggak ada akhlak."
"Pergi aja lah nggak usah makan disini lagi."
Para pengunjung restoran mulai berbisik bisik namun masih bisa didengar oleh Naya, bahkan ada beberapa pelanggan yang keluar dari restoran karena kesal ternyata pemilik restoran seorang pelakor.
"Aku mohon sama kamu pergi dari hidup suami aku Naya, aku mohon demi anak aku yang lagi sekarat dirumah sakit." kata Clara bahkan sampai bersujud dikaki Naya.
Naya yang sedari tadi hanya diam, kini terlihat pucat dan memeganggi perutnya.
"Aku mohon sama kamu Naya." Clara masih menangis.
Hingga Ada seorang wanita paruh baya yang mendekati Clara, "Sudahlah mbak, percuma ngemis sama perempuan jahat ini, dia mana peduli, yang dia pikirin hanya egonya saja buat milikin suaminya mbak, sudah jangan seperti ini hanya akan merendahkan mbak saja." kata Ibu itu menganggkat tubuh Clara untuk bangun.
"Dan buat kamu, inget suatu saat kamu pasti akan menyesal telah merenggut kebahagiaan wanita lain!" ucapnya sambil menatap Naya tajam.
Wanita itu lalu menuntun Clara keluar, dalam hati Clara bisa tersenyum puas.
"Bu Naya, Bu Naya.."
Terdengar teriakan para pelayan yang melihat Naya ambruk ditempat.