Sebuah rasa, yang mungkin tidak seharusnya ada.
Kenapa? karena aku sadar tidak ada yang bisa memaksa cinta hadir kepada siapa, dan harus seperti apa.
Menikah adalah impian setiap orang. Aku selalu memimpikan menjadi pengantin wanita yang sangat bahagia.
Bagaimana perasaan kalian jika harus menikah, karena keadaan yang memaksa.
Ok, penasaran bagaimana kelanjutannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina Ambarini (Mrs.IA), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Mimpi Buruk
"Baiklah, aku sudah putuskan untuk tetap melanjutkan pernikahan ini."
Gibran melirik sekilas pada Kirei, tak ada yang bisa menebak maksud dari keputusan Gibran.
Mira hanya tersenyum mendengar perkataan anaknya, sedangkan Tanto, Tony, Sari, dan juga Kirei mereka tak bergeming dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Tidak! Aku tidak mau menikah dengannya! Apa-apaan ini? Kenapa masalah ini harus melibatkanku?" tolak Kirei, ia dengan tegas menentang apa yang menjadi keputusan Gibran.
"Maaf Bu Mira, Nak Gibran. Tapi aku tidak bisa menikahkan anak pertamaku saat ini, aku masih memiliki rencana lain untuk masa depan kirei" Tony pun menolak halus keinginan Ibu dari Gibran tersebut.
"Gibran, apa kamu sudah gila? Kau mencintai Kayla, tapi kau malah menyetujui untuk menikah dengan anak pembawa sial ini?" tangan Sari menunjuk tepat pada wajah Kirei, ia sangat geram dengan apa yang sudah Gibran katakan, ia tak rela jika Kirei merenggut kebahagiaan anak kesayangannya.
"Keputusanku sudah bulat, mari lakukan ijab qabul sekarang juga!"
Gibran menarik paksa tangan Kirei, menyeretnya menuju meja penghulu dan mendudukan tubuh kirei dengan paksa.
"Lakukan apa yang aku perintahkan, ini demi Kayla." bisik Gibran pada telinga Kirei, perkataannya seakan penuh ancaman.
Kirei tak bisa berbuat apa-apa, ia memalingkan wajahnya, menyeka air matanya dan menelan salivanya dengan susah payah.
Mira dan Tanto, menuruti perintah Gibran, Tanto segera duduk di samping anaknya.
Sari dan Fony hanya mematung menyaksikan apa yang kini terjadi di hadapan mereka, tanpa tahu harus melakukan apa, Yang jelas tidak terlihat raut wajah bahagia diantara mereka.
Kirei menyerahkan persyaratan untuk menikah seadanya, sisanya akan dia urus setelah acara selesai, karena memang semua terasa mendadak bahkan tak pernah terpikirkan olehnya sama sekali.
^^^^
Prosesi ijab qabul sudah selesai, kini Kirei sudah resmi menjadi istri Gibran.
Terlihat jelas raut wajah yang jauh dari kata bahagia, selama dipelaminan Kirei hanya menundukan wajahnya.
Gibran dengan ekspresi yang tidak terbaca, tetap setia menyalami para tamu yang memberi mereka ucapan selamat, sesekali mata elangnya melirik pada wanita yang saat ini ada di sampingnya.
"Jam berapa acara ini akan selesai, kakiku sudah sangat pegal." Kirei menggerutu kesal dan sesekali melihat pada kakinya yang memang sudah terasa sakit.
"Rein, kenapa kau ada di pelaminan?" suara tak tak asing di telinga Kirei, sontak langsung membuatnya menatap pada sumber suara.
"Nov, Hiks..."
Kirei memeluk erat sahabat nya itu, ia menenggelamkan wajahnya pada bahu Novi.
"Kau kenapa? Jawab pertanyaan ku dulu Rein!" Novi melepaskan pelukan Kirei, ia menangkup wajah sahabat nya itu.
"A-aku di paksa menikah dengan orang ini." mata Kirei kini menatap laki-laki yang sudah berstatus sebagai suaminya kini.
"Apa? Siapa dia, Rein?" Novi masih belum bisa mengerti dengan apa yang terjadi pada sahabat nya.
"Nanti, akan aku ceritakan semuanya."
Kirei mendudukan tubuhnya pada kursi pelaminan, seakan kakinya kini sudah tak kuat untuk berdiri.
"Kau berhutang penjelasan padaku, Rein! Aku kesana dulu, aku haus."
Novi berjalan pergi meninggalkan Kirei yang kini hanya duduk termenung.
Gibran yang menyaksikan adegan yang terjadi dihadapan nya, hanya bersikap acuh. ia tidak berniat menimpali obrolan dua wanita yang ada di depan nya.
Di sudut lain, Mira tampak tersenyum penuh arti melihat wanita yang kini bersanding dengan anaknya dipelaminan.
"Akhirnya, rencanaku berhasil." batin Mira.
"Mi, Papi mengerti apa maksud mami, tapi apa ini tidak akan berdampak buruk untuk kelangsungan rumah tangga mereka nanti?" Tony menyeruput minuman yang ada pada tangannya sambil menatap istrinya.
"Mungkin untuk beberapa waktu kedepan, ini akan terasa sulit untuk mereka, tapi mami yakin Kirei adalah wanita yang tepat untuk Gibran." jawab Mira penuh keyakinan.
^^
Di salah satu ruangan Sari dan Tony masih saja saling berdebat, Sari yang masih dengan emosi nya geram dengan sikap suaminya yang tak melakukan apapun untuk mencegah pernikahan Kirei dan Gibran.
"Kenapa kau diam saja, hah? Kenapa kau malah membiarkan anak angkatmu itu menikah dengan Gibran yang harusnya menjadi suami anak kandungmu sendiri?"
"Sudah cukup! Kau pikir aku senang dengan semua ini? Kau pikir aku rela melihat kirei menderita, ini sudah seperti mimpi buruk untukku!" Tony sudah cukup muak dengan sikap istrinya itu, dia langsung beranjak pergi meninggalkan istrinya.
Sari menatap punggung suaminya itu, dia seakan tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya.
****
Akhirnya semua acara telah selesai, para tamu undangan juga sudah membubarkan diri.
Mira dan Tanto sudah berada dikamar tamu, mereka berniat untuk segera membersihkan diri dan beristirahat, begitu pula dengan Sari dan Tony.
Sedangkan di kamar lain, Kirei hanya duduk di tepi ranjang.
Ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi pada dirinya, ia meratapi nasibnya.
Gibran yang sedang membersihkan tubuhnya di bawah guyuran air shower, ia mengusap kasar wajahnya.
Ia masih bertanya-tanya mengapa Kayla melakukan hal ini.
Dia sejenak terdiam, dan segera menyudahi kegiatan mandinya.
Ceklek.
Gibran keluar kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit sebagian tubuhnya, ia menggosok rambut nya dengan handuk kecil.
Kirei yang melihat Gibran bertelanjang dada segera menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Ia baru kali ini melihat pria tanpa pakaian dengan jarak yang sangat dekat.
"Hey, kenapa kau?" suara Gibran membuat Kirei semakin gugup.
''Pakai bajumu! cepat !" Kirei segera berlari menuju kamar mandi, dan mengunci pintunya.
Gibran mengerutkan dahinya saat melihat reaksi yang ditunjukkan istrinya itu.
"wanita aneh." gumamnya.
Gibran segera mengeluarkan baju didalam kopernya, ia memakai kaos polos dan celana training.
Setelah itu dia segera mendaratkan tubuhnya diranjang milik Kirei.
Didalam kamar mandi Kirei masih mondar-mandir mengingat dia tidak membawa pakaian ganti karena memang tadi ia terburu-buru.
"Bagaimana ini? Apa aku harus meminta tolong kepada dia untuk mengambilkan pakaianku?" Kirei berdecak kesal kini ia dibuat pusing dengan ulahnya sendiri.
Ceklek.
Perlahan Kirei membuka pintu kamar mandi nya, ia mengeluarkan sebagian kepalanya.
"Dimana dia? Apakah dia sudah tidur?" gumamnya.
Gibran yang menyadari bahwa Kirei sudah lama berada didalam kamar mandi, berniat memeriksa keberadaan istrinya itu.
Saat hendak berjalan mendekati tempat yang dituju, seketika pintu kamar mandi itu tertutup.
Bug.
Kirei menutup pintu itu dengan cepat, Gibran yang tepat berada di depan pintu seketika terbelalak melihat apa yang dilakukan oleh istrinya.
"Hey! Beraninya kau membanting pintu didepanku !" Gibran berteriak dan mengetuk pintu itu dengan keras.
Didalam kamar mandi, Kirei sangat takut mendengar suara Gibran yang berteriak menyuruhnya untuk keluar dari kamar mandi.
"Maaf, maaf Pak, eh kak, eh mas.
aahhh maaf-maaf, aku tidak sengaja.
aku hanya terkejut, aku tadinya hanya ingin minta diambilkan pakaian ganti karena aku lupa membawanya tadi."
Kirei mencoba memberitahu maksudnya.
"Keluar sekarang juga atau aku tendang pintu ini!" Gibran terus mengetuk pintu itu dengan keras.
Ceklek.
Seketika mata Gibran terbelalak melihat pemandangan yang ada di depan matanya saat ini.
Kirei keluar dengan menggunakan handuk, menampakkan tubuhnya yang indah.
Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
wajahnya menunduk, ia tidak berani menatap Gibran yang sedari tadi memperhatikan nya.
"Pakai bajumu!" Gibran membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi keluar kamar.
setelah dirasa gibran benar-benar sudah pergi, Kirei segera membuka lemari pakaiannya dan memakai piyama.
Dibalik pintu, Gibran diam membisu sesekali ia menelan kasar salivanya, ia masih terbayang dengan apa yang dilihat nya barusan.
"Aku sudah selesai." Kirei berteriak memberitahu Gibran yang ia pikir ada didepan kamarnya.
Saat mendengar perkataan istrinya, Gibran segera masuk kembali kedalam.
Ia berjalan cepat menuju tempat tidur dan segera membaringkan tubuhnya tak lupa ia juga menutup seluruh tubuh nya dengan selimut.
"Ada apa dengannya?" Kirei terheran-heran melihat tingkah laku suaminya itu.
sejenak ia berpikir, "mengapa dia tidur ditempatku?"
Dengan terpaksa, Kirei pun segera merebahkan tubuhnya di samping Gibran, ia juga menempatkan guling ditengahnya sebagai pembatas.
Bersambung..
sad ending ❌
aneh ending ✔️