NovelToon NovelToon
Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu
Popularitas:26.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Cahaya rembulan yang masuk melalui celah gorden memberikan penerangan remang di dalam kamar yang sunyi itu.

Humairah membuka matanya yang masih terasa sembap dan berat.

Hal pertama yang ia lihat adalah siluet pria yang kini menjadi suaminya, Fathan, sedang tertidur pulas di atas sofa yang sempit.

Pria itu tidur membelakanginya, seolah-olah punggung tegap itu adalah tembok terakhir yang memisahkan dunia mereka.

Tidak ada selimut yang menutupi tubuh Fathan, namun Humairah tidak berani mendekat untuk menyelimutinya.

Luka di hatinya masih terlalu basah untuk melakukan perhatian sekecil itu.

Humairah bangkit dari tempat tidur dengan perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara lantai kayu yang berderit.

Ia merasa butuh udara segar atau setidaknya sesuatu untuk mengalihkan pikirannya dari rasa rindu yang menyiksa kepada orang tuanya.

Ia melangkah keluar dari kamar dan menuruni tangga menuju ruang tengah. Namun, pemandangan di bawah membuatnya menghela napas panjang.

Ruang tamu dan ruang makan masih dipenuhi jejak-jejak pertemuan tadi malam.

Piring-piring kotor dengan sisa-sisa saus pastel berserakan di atas meja marmer.

Gelas-gelas bekas teh yang sudah mendingin meninggalkan noda melingkar di mana-mana.

Keadaan dapur pun tak jauh berbeda; wastafel penuh dengan tumpukan peralatan masak yang ia gunakan sore tadi.

Nyai Latifah sepertinya sengaja tidak menyuruh santri khidmah (santri yang membantu di rumah Kyai) untuk membersihkannya.

Beliau seolah ingin memastikan bahwa tugas "pembantu baru" itu benar-benar harus dituntaskan oleh Humairah sebelum fajar menyapa.

Humairah menatap tumpukan piring itu dengan mata berkaca-kaca.

Sejenak, ia merasa harga dirinya kembali diinjak. Namun, ia teringat pesan Abi Sasongko "Nak, di mana pun kamu berada, jadilah air yang menyucikan, bukan api yang menghanguskan."

Dengan sabar dan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan kebisingan, Humairah mulai mengumpulkan piring-piring itu satu per satu.

Ia membawa tumpukan piring dan gelas kotor itu ke dapur.

Suara gemericik air yang keluar dari keran menjadi satu-satunya kawan dalam kesunyian malam itu.

Humairah menggosok setiap piring dengan telaten, meski punggungnya mulai terasa pegal karena kurang istirahat.

Ia membersihkan meja, menyapu remah-remah makanan di lantai, dan mengatur kembali kursi-kursi yang berantakan.

Ia mengerjakan semuanya sendirian di tengah malam yang dingin.

Tidak ada yang tahu, tidak ada yang memuji. Di balik cadar yang masih ia kenakan—karena takut sewaktu-waktu ada santri atau suaminya yang keluar kamar—ia terus berzikir lirih, mencoba menanamkan keikhlasan di setiap bilasan air.

Baginya, ini bukan lagi sekadar membersihkan kotoran makanan, melainkan upaya untuk membersihkan hatinya sendiri dari rasa benci kepada mertua dan suaminya.

Saat piring terakhir selesai dibilas dan ditata rapi di rak, azan subuh pertama mulai berkumandang dari masjid pesantren.

Humairah menyeka tangannya yang sudah keriput karena terlalu lama terendam air, lalu menyandarkan tubuhnya sejenak di tepi wastafel.

Tugasnya selesai, namun ia tahu, hari baru akan membawa ujian yang mungkin lebih berat dari sekadar tumpukan piring kotor.

Suara langkah kaki yang tertata di atas lantai marmer memecah keheningan dapur.

Nyai Latifah muncul dengan daster sutranya, menatap sekeliling ruangan yang kini sudah bersih berkilau.

Matanya tertuju pada Humairah yang sedang duduk di kursi kayu kecil, menatap panci berisi air yang mulai mengeluarkan uap untuk membuat susu kedelai kesukaan Kyai, Nyai dan Fathan.

Senyum licik tersungging di bibir Nyai Latifah. Ia merasa puas melihat menantunya itu benar-benar menuruti perannya sebagai "pelayan" tanpa perlawanan.

"Bagus. Sepertinya kamu sudah sadar diri di mana tempatmu di rumah ini," ucap Nyai Latifah sambil berjalan mendekat. Suaranya rendah namun penuh penekanan.

"Jangan hanya melamun di situ. Segera buatkan sarapan untuk kami. Ingat, menu pagi ini harus lengkap karena ada tamu ustadz dari luar yang menginap," perintahnya.

Beliau kemudian melirik ke arah kantong plastik di pojok meja yang berisi sisa-sisa potongan ayam semalam.

"Dan untuk kamu, jangan lupa, kepala ayam dan tulang-tulang itu masih ada. Habiskan itu saja. Kamu tidak pantas makan makanan yang sama dengan para ustadz. Lekas kerjakan!" ucap Nyai Latifah dengan tatapan sinis.

Tanpa menunggu jawaban, Nyai Latifah memutar tubuh dan meninggalkan dapur dengan perasaan menang.

Humairah hanya bisa memejamkan mata, meremas jemarinya yang masih terasa dingin akibat air sabun semalam.

Hinaan itu kembali datang sebelum matahari benar-benar terbit.

Baru saja Humairah hendak berdiri untuk mengambil bahan masakan, suara langkah kaki lain yang lebih berat terdengar.

Kyai Umar masuk ke dapur dengan pakaian shalat yang lengkap, sorban putih tersampir rapi di bahunya.

Beliau tertegun melihat menantunya sudah berada di dapur dengan wajah yang tampak sangat lelah meski tertutup cadar.

Kyai Umar melihat panci air yang mendidih, lalu beralih menatap Humairah dengan pandangan penuh kasih sayang seorang ayah.

"Humairah, Nak..." panggil Kyai Umar dengan sangat lembut.

Humairah tersentak dan segera berdiri. "Iya, Abah? Susu kedelainya sebentar lagi siap."

Kyai Umar menggeleng perlahan. Beliau melirik ke arah ruang tengah, lalu kembali menatap Humairah.

Beliau bisa merasakan ada yang tidak beres dengan suasana di rumahnya sendiri sejak semalam.

"Tinggalkan dulu pekerjaan dapur ini, Nak. Urusan sarapan bisa dibantu oleh santri khidmah nanti," ucap Kyai Umar tegas namun menyejukkan.

"Sekarang, cepatlah bersiap. Abah ingin kamu ikut shalat Subuh berjamaah di pondok. Setelah itu, Abah mau kamu langsung memimpin halaqah pagi untuk para santriwati di serambi masjid."

Kyai Umar tersenyum tipis, seolah ingin memberikan perlindungan yang tidak didapatkan Humairah dari orang lain.

"Suaramu saat mengaji adalah anugerah Allah. Jangan biarkan bakat itu terkubur hanya di dapur ini. Ayo, segera ambil wudu." ucap Kyai Umar yang sangat bangga dengan Humairah.

Humairah terdiam sesaat, ada rasa haru yang membuncah di dadanya.

Di tengah badai hinaan mertuanya dan sikap dingin suaminya, Kyai Umar tetap menjadi satu-satunya orang yang memanusiakannya.

"Baik, Abah. Humairah bersiap sekarang," jawabnya dengan suara bergetar.

Ia segera meninggalkan dapur, melewati ruang tengah di mana ia sempat berpapasan dengan

Fathan yang baru saja keluar kamar. Fathan menatap istrinya yang terburu-buru mengikuti langkah sang Kyai, namun Humairah tidak lagi menoleh ke arah suaminya yang hanya menatapnya.

Ia hanya ingin segera bersujud, menjauh sejenak dari dapur yang penuh hinaan itu menuju rumah Allah yang penuh ketenangan.

Perjalanan ke masjid membuat hatinya tenang meski udara sekitar masih sangat dingin sekali.

Dari belakang terlihat Fathan yang melihat istrinya berjalan tanpa menoleh sama sekali.

1
mama
buruk sekali kelakuan ny humaira🤭
Atjeh ponsel
😭
keynara
nah ustadz Fathan harus tegas jangan sia siakan Humairah lagi cukup dulu aja
si Ratih dasar pelakor nggak tau malu🤭
keynara
semoga ustadz Fathan jangan berpoligami kasian Humairah 🙏
kayanya bau bau mau dijodohin sama ustadzah ratih jangan sampai ya author 🙏
Atjeh ponsel
cerita nya sangat menarik
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Masyitah Bkt
aduhhhh...kenapa bacaannya mengandung banyak sekali bawangnya😭😭 mulai bab 1 bawangggg teroosss...perih mata jdnya thorr...
Rubi Yati
istri kiyai og kyk gitu sh gk pantes bngt
Yusria Mumba
sabar
Yusria Mumba
kasiang humairah
Hatnah Batulicin
syukurin tuh nyai 😏😏
Dede Dedeh
pinter oge eta nini nini...........
falea sezi
🤣🤣 ngididik istri aja lu g becus gmna nge didik santri🤣🤣🤣 lawak bgt ne kiyai sok agamis
falea sezi
bertele tele sejauh. ini😒
falea sezi
🤣🤣🤣 bisanya nangis ikan terbang bgt thor
falea sezi
plg ke rmh ortumu lah bego males. MC. oon gini😓
falea sezi
ustadz tp galau ma cwek🤣🤣🤣 ustadz apaan 😓 kayaknya belajar agama nya setengah ta
falea sezi
bu nyai apaan kelakuan kayak. lampir kayak nya kiyai nemu istri di club ya mulutnya kayak lacur😒
keynara
nenek sihir kejam banget balas dendamnya semoga Humairah nggak kenapa kenapa dan cepat ketahuan
Hatnah Batulicin
senang nya Mak lampir di talak 😏😏
Mundri Astuti
ntu binimu kasih hukuman talak 1 sekalian kyai, omongan doang ga mempan rupanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!