Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.
Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.
oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PULANG DARI KEBUN TEH
"Ah Bu-A! Lu masi hidup ga?!"
Ketokan keras. Sampai tujuh kali.
Eng Sok konslet. Rambutnya tertutup shower cap. Tangan kanan dibungkus plastik — masih diperban cokelat, tidak boleh kena air. Badannya masih basah. Air dingin mengalir dari keran yang tidak ia matikan.
Perlahan tapi pasti ia berusaha berdiri. Kakinya terasa seperti karet. Lututnya lemas.
Kraaak!
Pintu kamar mandi darurat didobrak kru pria. Dua orang. Wajah panik.
"Waduh, Sioh Bu!"
"Pucat banget!"
"Orang-orang, bantu!"
Eng Sok tidak bisa melawan. Badannya dingin. Wajahnya pucat — seperti mayat. Kru pria itu mengeringkannya dengan handuk kering, memakaikan baju. Tidak ada yang bicara soal kenapa dia bisa sekujur itu.
Eng Sok diam. Matanya kosong.
---
Dokter datang. Satu per satu alat keluar dari tas biru. Tekanan darah, suhu tubuh, detak jantung.
Ah Chio berdiri di belakang kru — gemetar. Gadis itu takut. Sangat takut.
Jangan sampai... apa yang aku lakukan di balik pohon tadi... melukai syaraf Eng Sok...
Ia mendekat. Suaranya pecah.
"Ko... maaf... maaf... aku...", bisik Ah Chio.
Eng Sok tidak menjawab. Matanya masih kosong.
"Maaf... maaf..." Ah Chio terus mengulang.
"Aman," kata dokter. "Dia kecapekan."
Dokter mengambil ampul kaca. Merah. Vitamin. Plek — leher ampul dipatahkan. Jarum suntik dimasukkan. Cairan merah masuk ke pembuluh darah Eng Sok.
Eng Sok masih diam.
Tapi matanya — perlahan — mulai bergerak.
---
Ah Chio inisiatif. Ia buka aplikasi taksi online — sementara kru masih berkumpul di sekitar Eng Sok.
"Toian," katanya. "Rumah gua searah dengan Sioh Bu. Nanti dia turun dulu. Lalu gua."
Toian Hok mengangguk. "Ya udah. Cepetan."
Kru pria mengantar Eng Sok ke taksi. Ah Chio mengikutinya.
Eng Sok masih dingin. Tatapannya masih kosong. Ia hanya memeriksa isi tasnya — satu per satu. HP. Dompet. Kunci. Kontrak Sam Hok Liong. Lengkap. Tidak ada yang tertinggal.
---
Di dalam taksi, Ah Chio membuka botol air mineral. Menyerahkan ke Eng Sok.
"Ko... minum."
Eng Sok menerima. Meneguk. Pelan.
Air dingin mengalir di kerongkongannya. Ia menghela napas. Tubuhnya mulai terasa lagi.
Ah Chio menunduk. Matanya menatap lantai mobil. Tangan menggenggam ujung baju — gemetar.
"Ko... gua minta maaf... tadi... tadi..."
Supir wanita di depan — senyum-senyum. Matanya melihat ke spion. Tidak ikut campur. Telinganya mendengar.
Eng Sok menghela napas.
"Gak apa-apa. Bener... gak apa."
Ah Chio tidak berani menatap. Tapi leganya terasa dari bahu yang turun.
HP Eng Sok berdering. Notifikasi transfer. Ia membuka kontrak hari ini — membandingkan jumlah yang masuk dengan angka di kertas.
Sama.
Ia lega.
"Nona," Eng Sok memanggil supir wanita. "Biaya perjalanan ini... berapa?" tanya Eng Sok.
Ah Chio menyambar cepat. "Gua bayar semua, Ko!"
Supir wanita itu bilang “Bisa Engkoh liat di layar ini”, katanya sambil menunjuk angka 48.000.
"Tidak," kata Eng Sok tegas. Ia membuka dompet. Menghitung uang kertas. Pas 24.000 lalu memberikan ke Ah Chio.
Supir wanita tersenyum. "Setengah-setengah aja, Nona. Pacar Nona baik, gak pelit. Mau fifty-fifty."
Ah Chio menerima uang dari Eng Sok dengan tangan gemetar. Gadis itu mau langsung memasukkan ke dompet — tapi kebiasaan di toko obat membuatnya menghitung.
Ia mengangguk. "Cengli, Ko."
Eng Sok mengeluarkan kontrak Sam Hok Liong dari tas.
"Ah Chio, ini dokumennya. Selasa gua jadi."
Ah Chio menerima. Tangannya masih gemetar.
Mereka melihat tanda tangan Sioh Bu di halaman terakhir.
Sioh Bu. Pikiran Eng Sok menerawang.
Rapi. Terbaca. Jelas.
“Tapi — berbeda dari tanda tangan Sioh Bu asli. Untung selalu diterima. Untung”, batin Eng Sok.
Sioh Bu berbisik,”Itu sama kok, kalo tulisan aku lagi rapi ya gini. Lagian lu bisa alasan kebanyakan adegan nulis kaligrafi jadi rapi!”
Eng Sok mengangguk.
Seumur hidup aku pakai cap jempol merah. Atau stempel.
Tanda tangan... ini... aku cuma tiru Sioh Bu.
Anehnya... bisa mirip.
---
Mobil melaju. Sepi. Hanya suara mesin dan angin di luar.
Ah Chio pelan-pelan mendekat. Kepalanya bersandar di bahu Eng Sok.
Peluk.
Eng Sok tidak bergerak. Dadanya — panas lagi.
Ia menatap ke luar jendela. Tidak ingin Ah Chio melihat wajahnya yang merah.
Ah Chio melihat ke arah lain. Juga tidak mau Eng Sok melihat wajahnya.
Mereka berdua — saling bersandar, saling memeluk — tapi tidak saling menatap.
Mobil direm mendadak.
Kreek!
"Awas, pengendara mabuk!" supir wanita membanting setir.
Ah Chio terdorong ke arah Eng Sok — tidak keras, tapi cukup untuk membuat dada mereka bertemu. Dan tangan iseng Eng Sok malah sedikit menekan punggung Ah Chio sehingga dada gadis itu makin menempel.
Begitu sadar…
Mereka cepat-cepat jaga jarak.
Untung tidak keras, pikir Eng Sok. Kalau keras... aku balik ke RS lagi. Mungkin keluhannya sakit jantung.
"Ko... maaf," bisik Ah Chio.
Eng Sok mengangguk. Tidak menjawab. Wajahnya merah. Lututnya terasa kosong tidak ada engselnya.
---
Ah Chio minum air dari tumblernya. Menahan napas. Menarik napas panjang — pelan. Mengeluarkan pelan. Tarik panjang lagi — keluarkan pelan.
Tujuh kali.
Tangannya masih gemetar.
Ia mengambil buku dari tas.
"Ko..."
Suaranya — menggigil.
Eng Sok tidak bisa bicara. Sama-sama gemetar.
"Ini..." Ah Chio menyodorkan setumpuk buku. Sampul biru tua. Judul emas. "Chhiâⁿ-chhiⁿ. Seri Menjadi Bintang. Buat belajar Ah Ti."
Eng Sok melongo.
Buku latihan soal yang lagi viral.
Ah Me nyari kemana-mana. Habis. Online habis. Toko offline habis.
Sekarang... ada di tanganku.
"Sepupu Ah Cio — si Ah Lan — sekelas sama Ah Ti. Dia cerita." Ah Chio menunduk. "Kayaknya Ah Ti ujian tengah semester ya?"
Eng Sok menerima buku itu. Tangannya — gemetar.
"Makasih," katanya. Suaranya serak.
---
"Sampai!" supir wanita menepuk setir.
Eng Sok turun. Dengkulnya lemas. Ia menutup pintu mobil.
Ia mengumpulkan sisa-sisa kekuatan — untuk melambai, untuk tersenyum — sampai mobil hilang di belokan.
---
Ia tertatih-tatih menuju pintu kontrakan.
Pintu terbuka — sebelum dia mengetuk.
Ah Me sudah berdiri di ambang. Matanya menyipit begitu melihat wajah Eng Sok — pucat, merah, keringat dingin.
Ambruk.
Eng Sok jatuh ke sofa tamu. Ah Me tidak banyak bertanya. Ia pergi ke dapur. Bubur ayam instan — panasin. Air minum — siap.
Ah Ti sudah siap dengan alat tulis di meja. Buku catatan terbuka. PR selesai.
Eng Sok membuka tas. Mengeluarkan buku latihan dari Ah Chio.
Ia membolak-balik. Membaca beberapa halaman. Memberi tanda dengan flag warna-warni.
"Kerjakan ini... sampai ini."
Ia memberikan booklet kunci ke Ah Me.
---
Eng Sok makan. Minum. Cuci alat makan. Mandi. Keramas.
Setelah rambut kering — ia menguncir ekor kuda.
Ia memeriksa kerjaan Ah Ti.
Sempurna.
"Ho (baik). Dah, tidur. Udah jam delapan."
---
Malam itu, Eng Sok resah.
Badan capek. Tapi pikiran — melayang.
Ah Chio.
Pelukannya.
Dengkul yang lemas.
Buku latihan untuk Ah Ti.
Ia memejamkan mata. Tak lama — terkapar.
---
Dalam mimpi — ia mencium Ah Chio. Memeluknya. Wangi teh dan sabun rumah sakit masih menempel di tubuh gadis itu.
Mereka berciuman — lama.
Lalu —
Tangisan.
Ah Ti menangis.
Eng Sok terbangun. Kepala pusing. Di sampingnya — Ah Ti duduk. Wajah merah. Basah.
"Ko... aku ngompol tapi..."
Ah Ti menatap lantai. Gemetar.
Eng Sok cepat-cepat bangun. Mengecek kasur adiknya.
Basah.
Ia mengendus cairan itu.
Bukan... bukan air seni.
Ia memejamkan mata. Memijat kepalanya sendiri. Menelan ludah.
Ia ambil HP. Menyalakan layar. Mengetik.
“Koh, aku sakit?”, tanya Ah Ti.
Eng Sok cuma memijat kepalanya. Tersenyum simpul.
---
BERSAMBUNG
---
Tiga orang di kontrakan itu — tidak ada yang tidur nyenyak malam itu.
Ah Ti karena malu.
Ah Me karena khawatir melihat Eng Sok ambruk.
Eng Sok karena — memikirkan Ah Chio.
💐🪷