NovelToon NovelToon
Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Menyusup ke Kamar 701 & Detak Jantung yang Melemah

​Suasana di lorong lantai tujuh mendadak riuh ketika sebuah brankar pasien darurat dari kamar sebelah didorong tergesa-gesa oleh beberapa perawat. Kegaduhan singkat itu dimanfaatkan dengan baik oleh Ardan dan Fiona yang sudah mengenakan seragam perawat putih curian. Doni dan salah satu pengawal sempat menoleh ke arah keributan, menyisakan celah beberapa detik di depan pintu kamar 701.

​Dengan tangan gemetar, Fiona mendorong pintu kamar rawat Aiden yang tidak terkunci. Beruntung, Mireya sedang pergi ke toilet di dalam kamar, sehingga ruangan itu hanya menyisakan Aiden yang sedang terbaring sendirian sembari memandangi langit-langit kamar.

​"Lho, Suster? Mau ganti cairan infus ya? Kan baru diganti tadi?" tanya Aiden polos, menatap Fiona yang wajahnya tertutup masker medis rapat.

​Fiona tidak menjawab. Tenggorokannya mendadak tercekat. Sepasang matanya menatap lekat wajah bocah sepuluh tahun di depannya. Biar bagaimanapun, darah yang mengalir di tubuh kurus itu adalah darah dagingnya sendiri. Aiden adalah anak kandungnya, adik dari Mireya.

​Melihat binar mata Aiden yang begitu polos, ada sebongkah rasa bersalah yang teramat besar menghantam dada Fiona. Dia anakku... apa aku benar-benar tega mencelakainya? batin Fiona meratap, jemarinya yang memegang botol kaca pemberian Bianca bergetar hebat.

​Namun, bayangan wajah angkuh Calix David yang meruntuhkan seluruh kekayaannya, menyita rumahnya, dan kebangkrutan yang membuat dirinya terhina di mata dunia seketika melintas di kepala. Rasa dendam dan keserakan akhirnya mengalahkan sisa-sisa naluri keibuannya.

​"Maafkan Ibu, Aiden... Ini semua karena kakakmu dan suaminya yang keterlaluan," bisik Fiona teramat lirih di balik maskernya.

​Dengan gerakan cepat sebelum Mireya keluar dari toilet, Fiona menancapkan jarum suntik berisi cairan bening itu ke dalam tabung karet botol infus Aiden. Seluruh cairan kimia itu masuk, bercampur sempurna dengan cairan infus yang perlahan mengalir menuju pembuluh darah sang anak.

​Setelah berhasil, Fiona buru-buru melangkah keluar kamar dengan jantung yang berdegup kencang, kembali menemui Ardan yang sudah menunggunya di tangga darurat.

​Tak lama setelah Fiona pergi, Mireya keluar dari dalam toilet kamar mandi. Ia tersenyum menatap adiknya, namun senyuman itu langsung memudar ketika melihat ekspresi Aiden yang mendadak berubah pucat pasi.

​"Aiden? Kamu kenapa, Sayang? Ada yang sakit?" tanya Mireya panik, bergegas mendekati ranjang.

​Aiden memegangi dadanya erat-erat, napasnya mendadak menjadi sangat pendek dan berat. "Kak... Kak Reya... dada Aiden sakit sekali... seperti... seperti dihimpit batu besar..." cicit bocah itu dengan bibir yang mulai membiru dalam hitungan detik.

​Biiiiiiip... Biiiiiiip... Biiiiiiip...

​Mesin pendeteksi detak jantung di samping ranjang Aiden mendadak berbunyi nyaring dan tidak teratur. Angka grafik yang semula stabil kini terjun bebas, menunjukkan detak jantung yang kian melemah drastis.

​"Aiden! Aiden, lihat Kakak! Jangan tutup matamu, Sayang!" jerit Mireya histeris. Ia menekan tombol darurat di atas ranjang berkali-kali sembari berteriak kencang, "Dokter! Suster! Tolong adik saya! Tolong!"

​Doni dan pengawal yang mendengar teriakan histeris dari dalam langsung mendobrak pintu kamar. "Nyonya Muda! Ada apa?!" tanya Doni terkejut melihat kondisi Aiden yang sudah kejang ringan dengan mata yang mulai mendelik ke atas.

​"Doni! Panggil Dokter Januar sekarang! Cepat!" tangis Mireya pecah, ia memeluk kepala adiknya yang mulai mendingin.

​Dokter Januar dan tim medis darurat berlari masuk ke dalam kamar, langsung mengambil alih tindakan. "Nyonya, tolong mundur! Berikan kami ruang!" ucap Dokter Januar tegas sembari menyiapkan alat kejut jantung.

​Mireya ditarik menjauh oleh Doni. Tubuh gadis itu gemetar hebat, dadanya terasa sesak seolah seluruh dunianya runtuh dalam sekejap. Di tengah kepanikan itu, Doni langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Calix.

​"Tuan Besar! Bisakah ke rumah sakit sekarang! Aiden mendadak kritis dan detak jantungnya hampir hilang!" lapor Doni dengan suara memburu.

​Di seberang telepon, suara Calix terdengar tersentak panik. "Apa?! Bagaimana bisa?! Aku ke sana sekarang!"

​Di dalam mobil pelarian mereka, Fiona duduk bersandar di kursi penumpang dengan wajah pucat dan keringat dingin yang terus mengucur. Rasa bersalah mulai merogoh dadanya hingga ia merasa sesak napas.

​Ponsel Ardan berdering, dan itu adalah panggilan dari Bianca. Ardan langsung mengangkatnya dan menaruhnya di pengeras suara.

​"Bagaimana? Apa semuanya berjalan lancar?" tanya Bianca dari seberang telepon, nadanya terdengar sangat santai dan dingin.

​"Sudah, Bianca! Fiona sudah menyuntikkannya sendiri ke infusan anak itu!" jawab Ardan cepat. "Sekarang beri tahu kami, kapan anak itu akan pulih setelah kritis? Kamu balik obat itu hanya membuat kondisinya kritis sebentar agar Mireya stres, kan?"

​Bianca terkekeh renyah—sebuah tawa kejam yang membuat bulu kuduk Fiona berdiri tegak. "Pulih? Siapa yang bilang anak itu akan pulih?"

​Fiona mendadak menegakkan tubuhnya, merampas ponsel Ardan dengan mata membelalak panik. "Bianca! Apa maksudmu?! Kamu bilang obat itu tidak akan membunuhnya! Kamu bilang itu cuma memicu gagal jantung ringan agar kontrak rahim Mireya gagal!"

​"Aduh, Tante Fiona... Anda ternyata bodoh sekali ya?" balas Bianca dengan nada mengejek yang teramat kejam. "Itu adalah racun dosis tinggi yang diformulasikan khusus untuk menghentikan fungsi kerja jantung secara permanen dalam waktu lima belas menit. Anak sepuluh tahun itu tidak akan selamat. Dia pasti mati."

​"Apa?! Kamu membohongiku, Bianca! Dia anakku! Aku membunuh anakku sendiri!" jerit Fiona histeris, air matanya tumpah ruah disertai rasa penyesalan yang teramat dalam memukul kesadarannya.

​"Anggap saja itu pengorbanan kecil untuk membalas dendam pada Calix dan Mireya, Tante. Nikmati saja duka cita mereka," ucap Bianca dingin sebelum memutus panggilan telepon secara sepihak.

​"Ardan! Putar mobilnya! Aku mau kembali ke rumah sakit! Aku membunuh Aiden, Ardan! Aku ibunya!" tangis Fiona meledak, ia memukul-mukul dasbor mobil dengan frustrasi yang luar biasa.

​Namun, Ardan justru mencengkeram lengan istrinya erat. "Sudah terlambat, Fiona! Kalau kita kembali sekarang, Calix akan langsung membunuh kita berdua! Kita harus pergi dari kota ini!"

​Kembali ke kamar 701, atmosfer ruangan itu berubah menjadi sangat senyap. Suara mesin pendeteksi jantung yang semula berbunyi tidak beraturan, kini berubah menjadi satu nada panjang yang teramat memilukan.

​BIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIP...

​Garis di layar monitor itu mendadak mendatar. Berubah menjadi garis lurus tanpa ada gelombang kehidupan lagi.

​Dokter Januar menghentikan gerakan tangannya yang sedang melakukan pompa jantung manual pada dada Aiden. Ia mengembuskan napas panjang, menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan ranjang pasien, lalu menoleh ke arah Mireya yang sudah terduduk lemas di lantai.

​"Nyonya Muda Mireya..." ucap Dokter Januar dengan suara yang teramat berat dan penuh penyesalan. "Maafkan kami... kami sudah melakukan segala upaya medis yang kami bisa. Tapi... jantung Dik Aiden tidak dapat diselamatkan. Dik Aiden... sudah tiada."

​"Nggak... Nggak mungkin!" jerit Mireya, ia bangkit berdiri dengan sisa tenaganya, menerobos tim medis dan langsung memeluk tubuh Aiden yang sudah kaku tak bernyawa. "Aiden! Bangun, Sayang! Jangan bercanda dengan Kakak! Kamu sudah janji mau sembuh, kan?! Aiden!!!"

​Tepat saat tangis histeris Mireya memenuhi ruangan, pintu kamar rawat didobrak kasar dari luar. Calix masuk dengan napas memburu dan pakaian yang berantakan karena berlari. Namun, langkah kakinya seketika terhenti kaku di ambang pintu saat matanya menangkap garis lurus di layar monitor dan tubuh ringkih Mireya yang sedang meraung memeluk jasad adiknya.

​Dada Calix mencubit nyeri yang teramat hebat. Ia tahu, badai besar yang ia takuti kini tidak hanya datang, melainkan telah menghancurkan dunia wanita yang dicintainya sampai berkeping-keping.

1
Aditya Rian
mantap
umie chaby_ba
rasain Lo ... 🤭
Ariska Kamisa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
buruan calix , ilana ngadi-ngadi emang/Panic/
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
kepedean banget ilana ....
Ariska Kamisa: emang... ngeselin yaa🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
udah sih lagi asik juga bianca resek banget
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ariska Kamisa
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
aditya rian
lanjutkan Thor
Ariska Kamisa: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
aditya rian
🤭🤭🤭🤭🤭
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
/Shy//Shy//Shy//Shy/
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
malang sekali mire
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aditya rian
ceritanya menarik/Good/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏
total 1 replies
aditya rian
👍👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih jempolnya 🙏
total 1 replies
aditya rian
👣👣👣👣
Aditya Rian: matap👍
total 2 replies
umie chaby_ba
ceritanya bagus,
semangat terus ya Thor...
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
dih ngeselin banget sumpah si cilox🤣
Ariska Kamisa: calix kak bukan cilox🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
tuh kan🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
calix aslinya demen nih pasti
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
bagus mirey jangan kasih ampun 👍
Ariska Kamisa: siap👍
total 1 replies
umie chaby_ba
bagus mirey daripada stres ke hobi aja wis
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!