NovelToon NovelToon
Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Status: tamat
Genre:Beda Usia / CEO / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Penjagaan Posesif Calix & Perburuan Dimulai

​Suasana di dalam kamar VIP 701 itu kini berubah menjadi hening yang mencekam, hanya menyisakan suara ritme detak jantung dari monitor yang kini terpasang di tubuh Mireya. Calix duduk di tepi ranjang, tangannya tak sedetik pun melepas jemari Mireya yang terasa sedingin es. Matanya yang merah menatap lekat wajah pucat wanita di hadapannya, seolah-olah jika ia berkedip sedetik saja, Mireya akan menghilang.

​Dokter Januar berdiri di sudut ruangan bersama Doni, menunggu instruksi lebih lanjut. Calix menarik napas panjang, mencoba menetralkan badai emosi yang bergolak di dadanya. Kabar tentang kehamilan Mireya seharusnya menjadi kabar paling bahagia dalam hidupnya, puncak dari kontrak yang mereka jalani. Namun, hadir di tengah jasad Aiden yang masih hangat di ruangan sebelah, kabar itu terasa seperti tawa sinis dari takdir.

​"Januar," panggil Calix, suaranya rendah dan serak.

​"Ya, Tuan Besar?"

​"Katakan sekali lagi. Apa kandungannya benar-benar dalam bahaya karena guncangan ini?"

​Dokter Januar mengangguk pelan dengan wajah prihatin. "Secara medis, trimester pertama adalah masa paling kritis, Tuan. Guncangan emosional yang hebat bisa memicu kontraksi pada dinding rahim. Saya sudah memberikan dosis penguat terbaik, tapi yang paling dibutuhkan Nyonya Muda saat ini adalah ketenangan jiwa. Jika beliau terus histeris saat sadar nanti, risiko keguguran akan meningkat drastis."

​Calix mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tidak rahimnya, tidak juga jiwanya. Pergilah, siapkan segala kebutuhan medis yang bisa dipindahkan ke mansion. Aku ingin dia dirawat di rumah setelah urusan di sini selesai."

​Setelah Dokter Januar keluar, Calix kembali menunduk. Ia membawa tangan Mireya ke bibirnya, mengecupnya lama. "Kamu dengar itu, Mireya? Ada kehidupan di dalam sini," bisiknya sembari meletakkan telapak tangannya di atas perut rata Mireya. "Ada anak kita. Tolong, jangan menyerah pada kegelapan ini. Aku mohon."

​Beberapa menit kemudian, jemari Mireya mulai bergerak perlahan. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka sedikit demi sedikit. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit putih rumah sakit yang menyilaukan. Kesadarannya kembali seperti hantaman ombak yang menghancurkan karang.

​"Aiden..." gumam Mireya, suaranya nyaris hilang.

​Calix langsung menegakkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya pada Mireya. "Aku di sini, Sayang. Aku di sini."

​Mireya menoleh pelan, matanya yang sembap kembali digenangi air mata saat ingatan tentang garis lurus di monitor jantung Aiden melintas di benaknya. "Calix... Aiden... di mana adikku? Katakan padaku kalau tadi aku cuma bermimpi... Katakan kalau dia masih tidur!"

​Mireya mencoba bangkit dengan duka yang meledak-ledak, namun Calix dengan sigap menahan bahunya, memeluknya erat agar Mireya tidak melukai dirinya sendiri.

​"Tenang, Mireya! Tenang, aku mohon!" Calix berseru, suaranya bergetar menahan tangis.

​"Lepaskan aku! Aku mau ketemu Aiden! Ibu... Ibu membunuhnya, Calix! Ayah dan Ibu membunuh adikku sendiri!" Mireya mulai histeris, raungannya memenuhi ruangan, tangannya memukul-mukul dada Calix dengan putus asa. "Kenapa mereka sekejam itu?! Kenapa mereka tidak membunuhku saja?!"

​"Mireya, dengarkan aku!" Calix mencengkeram kedua bahu Mireya, memaksanya menatap matanya yang juga mulai basah. "Ada alasan kenapa kamu harus kuat sekarang. Ada alasan kenapa kamu tidak boleh hancur seburuk ini."

​Mireya menggelengkan kepalanya dengan liar. "Tidak ada! Tidak ada alasan lagi! Aiden adalah hidupku! Dia satu-satunya alasanku bertahan di rumahmu!"

​"Tapi sekarang ada alasan lain, Mireya!" teriak Calix, air matanya akhirnya luruh melewati pipinya yang tegas. "Kamu hamil! Ada bayi di dalam rahimmu! Kamu sedang mengandung anakku, Mireya!"

​Seketika itu juga, Mireya terdiam. Tubuhnya kaku seolah baru saja disambar petir di siang bolong. Ia menatap Calix dengan pandangan tak percaya, tangannya perlahan bergerak menyentuh perutnya sendiri.

​"Hamil?" bisik Mireya. Detik berikutnya, bukannya tenang, Mireya justru tertawa miris yang perlahan berubah menjadi jeritan histeris yang lebih memilukan. "Hamil?! Di saat adikku mati, kamu bilang aku hamil?! Kenapa takdir sebercanda ini, Calix?! Aku tidak mau anak ini kalau dia harus hadir dengan bayaran nyawa Aiden!"

​"Jangan bicara begitu!" Calix langsung membungkam bibir Mireya dengan ciuman yang dalam dan penuh duka. Ia mencoba menyalurkan seluruh kekuatannya melalui sentuhan itu. Calix melepaskan ciumannya, lalu memeluk kepala Mireya, membenamkannya di lehernya. "Jangan benci anak ini. Dia tidak bersalah. Dia adalah titipan yang dikirimkan untuk menjagamu saat Aiden pergi."

​Calix menangis sesenggukan, sebuah pemandangan yang tak pernah dibayangkan oleh siapa pun. Seorang CEO tangguh yang ditakuti dunia bisnis, kini hancur di depan wanita yang semula hanya dianggapnya sebagai alat kontrak.

​"Maafkan aku... Maafkan aku karena tidak bisa menjaga Aiden dengan benar," isak Calix di telinga Mireya. "Tapi tolong, demi bayi ini... bertahanlah. Aku akan memberikan segalanya untukmu, aku akan membalaskan setiap tetes air mata ini."

​Mireya lemas di dalam pelukan Calix. Rasa lelah yang luar biasa menyergapnya. Kabar kehamilan itu terasa seperti beban yang sangat berat, namun pelukan hangat Calix dan tangisan pria itu perlahan-lahan meredam amarahnya. Mereka menangis bersama dalam keheningan yang menyakitkan, meratapi kehilangan sekaligus menyambut kehadiran yang tak terduga.

​Beberapa jam kemudian, setelah Mireya kembali tertidur karena pengaruh obat penenang, wajah Calix berubah total. Kelembutan yang ia tunjukkan tadi musnah tak berbekas, digantikan oleh ekspresi iblis yang siap mencabut nyawa.

​Ia melangkah keluar dari kamar rawat, di mana Doni sudah menunggu dengan laporan lengkap di tangannya.

​"Bagaimana?" tanya Calix, suaranya dingin seperti hembusan angin dari kutub utara.

​"Tim keamanan sudah melacak plat nomor mobil yang digunakan Ardan dan Fiona. Mereka mencoba melarikan diri ke arah perbatasan kota melalui jalan tikus," lapor Doni dengan nada bicara yang sangat formal dan serius. "Bianca terlihat berpisah dengan mereka di sebuah gudang tua di pelabuhan."

​Calix menyalakan sebatang rokok, menghisapnya dalam-dalam lalu menghembuskannya ke udara. Matanya berkilat penuh dendam. "Tutup semua akses keluar kota. Hubungi kepolisian, tapi katakan pada mereka jangan menyentuh tikus-tikus itu sebelum aku datang."

​"Tuan Besar, apakah Anda akan turun tangan langsung?"

​Calix menoleh ke arah Doni dengan senyum sinis yang mengerikan. "Mereka sudah membunuh calon adik iparku. Mereka membuat istriku pingsan dan hampir mencelakai anakku. Kamu pikir aku akan membiarkan hukum yang hanya memberi mereka penjara?"

​Calix mematikan rokoknya di asbak dengan tekanan yang sangat kuat. "Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya sekarat tapi tidak bisa mati. Cari Bianca. Aku ingin dia yang pertama menyaksikan bagaimana kedua sekutunya itu aku hancurkan."

​"Satu hal lagi, Tuan," Doni ragu sejenak. "Ilana... dia terlihat mencoba menghubungi Ardan beberapa jam sebelum kejadian."

​Rahang Calix mengeras. "Ilana juga? Bagus. Ternyata banyak sekali sampah yang harus aku bersihkan sekaligus. Kerahkan seluruh divisi keamanan. Malam ini juga, aku ingin perburuan ini berakhir dengan darah yang setimpal."

​Calix menatap pintu kamar Mireya sekali lagi, lalu berbalik dengan langkah mantap. Sosok "pahlawan" yang dibayangkan Aiden kini telah berubah menjadi malaikat pencabut nyawa bagi siapa pun yang berani mengusik kedamaian Mireya.

1
umie chaby_ba
kasian calix 🤭
elief
calix sudah menerima hukumannya mireya, sudah cukup. coba kamu sekarang berdamai dengan hati kamu, mencoba memaafkan kembali. semoga hati mu luluh ya mireya dan kembali ke calix. 👍
Ariska Kamisa: Terima kasih kak atas komentarnya ❤️. Memaafkan memang penting, tetapi menyembuhkan luka juga butuh waktu. Kita lihat nanti apakah cinta Calix cukup kuat untuk meluluhkan hati Mireya kembali 🥹✨💕
total 1 replies
umie chaby_ba
kasian juga sih sebenarnya calix...
🤭
Ariska Kamisa: iya ya kak ... tapi mireya juga sakit sih kak
total 1 replies
elief
karya mu bagus thor, tetapi semangat dalam berkarya💪
Ariska Kamisa: MasyaAllah, terima kasih banyak kak. Komentar seperti ini yang bikin saya semangat berkarya dan melanjutkan cerita. Sehat dan bahagia selalu ya ❤️🌷
total 1 replies
elief
lanjut thor, semoga hati mireya luluh kembali.
Ariska Kamisa: siap kak, 👍
total 1 replies
elief
lanjut thor
Ariska Kamisa: siap kak👍
total 1 replies
umie chaby_ba
Ditinggal baru merasa kehilangan lo?! /Right Bah!/
Ariska Kamisa: ya begitulah manusia kak🤭
total 1 replies
Ariska Kamisa
🤭🤭🤭🤭
umie chaby_ba
lanjutkan thor💪
Ariska Kamisa: terimakasih kak🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
tuh kan feeling ku juga Ilana karena belum tertangkap
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭 ketebakbya
total 1 replies
umie chaby_ba
bener mending pergi aja mireya!!!
Ariska Kamisa: iya yuk
total 1 replies
umie chaby_ba
ya Tuhan... rencana zeana KW effort banget sampai di rekannya live lagi!! jahat banget /Panic/
Ariska Kamisa: iyah iih jahatnya kebangeten yaa
total 1 replies
umie chaby_ba
gob**k... /Angry/
itu berarti jebakan si zeana KW
Ariska Kamisa: sabar kak... sabar 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
dih masih ingat aja!
Ariska Kamisa: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
calix... lo awas aja nyakitin! tapi kayanya si calix masih ngarep zeana masih hidup kali 🤭
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
calix lo labil banget dih!! /Angry/
Ariska Kamisa: iyah emang calix nih... nakal🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
sumpah nyesek/Cry/
Ariska Kamisa: sabar ya kak 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
ada lagi aja! baru geh dimanjain bentar!
Ariska Kamisa: namanya hidup kak... selalu ngada-ngada..
stay read kak🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
zeana kw ini!!!
Ariska Kamisa: iyah ka terobsesi banget jadi kesayangannya calix
total 1 replies
umie chaby_ba
kepedean lo Bianca!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!