NovelToon NovelToon
Kembaranku Penggantiku

Kembaranku Penggantiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 — Rumah yang Menyimpan Semua Rahasia

“Dia masuk ke rumah lama?”

Papanya langsung berdiri.

Wajah pria itu mendadak pucat.

“Buat apa dia ke sana…”

Tatapan Arsen berubah tajam.

“Itu yang mau aku cari tahu.”

Nayla langsung menoleh cepat.

“Kita harus ke sana.”

“Nggak,” jawab Arsen tegas.

“Itu bahaya.”

“Dia udah ngancurin hidup kita!” bentak Nayla. “Aku nggak mau terus takut!”

Suasana kembali memanas.

Sedangkan Nadira baru keluar kamar dengan wajah pucat.

Matanya masih sembab karena menangis.

Namun begitu mendengar nama Adrian…

Tatapannya langsung berubah.

“Aku ikut.”

Arsen langsung menggeleng.

“Kamu baru sadar.”

“Aku harus tahu semuanya.”

“Nadira.”

“Aku capek hidup setengah-setengah.”

Suara Nadira masih bergetar.

“Tiap hari ada rahasia baru.”

Air matanya mulai jatuh lagi.

“Kalau memang rumah itu nyimpen semua jawaban…”

Tatapannya perlahan berubah kuat.

“…aku mau lihat sendiri.”

Arsen menatapnya lama.

Sangat lama.

Dan akhirnya pria itu mengembuskan napas pelan.

“Fine.”

Papanya langsung marah.

“Kalian nggak bisa sembarangan ke sana!”

Namun Nadira menoleh dingin.

“Papa udah terlalu lama nyembunyiin semuanya.”

Deg.

Untuk pertama kalinya…

Papanya tidak bisa membantah.

Satu jam kemudian mereka berangkat.

Mobil melaju menuju pinggir kota tempat rumah lama keluarga Maheswara berada.

Rumah itu sudah kosong bertahun-tahun sejak kecelakaan.

Dan entah kenapa…

Semakin dekat mereka ke sana, dada Nadira makin sesak.

Ada rasa familiar yang mengganggu.

Seolah tempat itu memanggil sesuatu dari dalam ingatannya.

“Kamu nggak apa-apa?”

Arsen meliriknya sekilas dari kursi pengemudi.

Nadira mengangguk kecil.

Meski sebenarnya tidak.

Tangannya dingin sejak tadi.

Dan kepalanya terus dipenuhi suara anak kecil dalam ingatannya.

“Kak Nadira…”

Sial.

Dadanya langsung sakit lagi.

Rumah itu akhirnya terlihat.

Bangunan besar bergaya klasik dengan halaman luas yang kini dipenuhi rumput liar.

Gelap.

Sunyi.

Dan terasa menyeramkan.

Nayla langsung merinding.

“Aku benci tempat ini.”

Papanya terlihat sangat tegang.

Sedangkan mamanya bahkan tidak mau turun dari mobil.

“Aku nggak kuat masuk…”

Suara wanita itu gemetar.

Papanya akhirnya tinggal menemani mamanya di mobil.

Sementara Arsen, Nadira, Nayla, dan beberapa anak buah masuk ke dalam rumah.

Pintu tua terbuka perlahan.

Krieettt…

Aroma debu langsung menyambut mereka.

Dan dalam sekejap…

Potongan ingatan Nadira muncul lagi.

Dirinya kecil berlari di ruang tamu ini.

Tertawa bersama Nayla.

Dan seorang anak laki-laki kecil mengejar mereka sambil tertawa.

“Kakak tunggu!”

Air mata Nadira langsung hampir jatuh.

Rumah ini dulu penuh kebahagiaan.

Sekarang terasa seperti kuburan kenangan.

“Pisah cari,” ujar Arsen.

“Tapi jangan jauh-jauh.”

Semua mulai bergerak.

Nadira berjalan perlahan menyusuri lorong rumah.

Tangannya menyentuh dinding tua yang dipenuhi debu.

Aneh.

Meski ingatannya banyak hilang…

Tubuhnya masih mengenali tempat ini.

“Kamar…”

Kakinya berhenti di depan sebuah pintu putih.

Jantungnya berdetak pelan.

Entah kenapa ia tahu.

Ini kamar adiknya.

Perlahan Nadira membuka pintu.

Dan tubuhnya langsung membeku.

Kamar itu masih sama.

Mainan kecil berserakan.

Poster kartun di dinding.

Mobil-mobilan kecil di rak.

Seolah waktu berhenti di sini.

Deg.

Napas Nadira langsung tercekat.

Karena di atas meja kecil…

Masih ada foto mereka bertiga.

Dirinya.

Nayla.

Dan anak laki-laki kecil yang tersenyum lebar di tengah.

Air mata Nadira langsung jatuh.

“Aku bahkan lupa wajahmu…”

Suara itu pecah.

Dan rasa bersalah kembali menghantamnya.

“Nadira?”

Arsen masuk beberapa detik kemudian.

Dan langsung diam melihat gadis itu menangis sambil memegang foto lama.

Pria itu mendekat pelan.

Tatapannya melembut.

“Kamu nggak harus kuat terus.”

Kalimat sederhana itu langsung menghancurkan pertahanan Nadira lagi.

“Aku lupa dia, Arsen…”

Tangisnya pecah pelan.

“Aku lupa adikku sendiri…”

Arsen langsung memeluknya erat.

Dan untuk beberapa saat…

Nadira membiarkan dirinya lemah.

Karena hanya di dekat Arsen ia merasa aman untuk hancur.

Namun suasana itu mendadak berubah saat Nayla berteriak dari lantai bawah.

“ARSEN!”

Mereka langsung berlari keluar.

Begitu sampai di ruang kerja lama papanya—

Nayla berdiri membeku di depan lemari besi terbuka.

“Aku nemu ini…”

Tangannya gemetar sambil memegang sebuah map hitam tua.

Arsen langsung mengambilnya cepat.

Tatapannya berubah serius saat membaca tulisan di cover.

PROYEK A-13.

Deg.

Papanya yang baru masuk langsung pucat melihat map itu.

“Kenapa itu masih ada…”

Nadira langsung sadar.

Map ini penting.

Sangat penting.

Arsen membukanya perlahan.

Dan suasana langsung berubah dingin.

Karena isi map itu bukan dokumen bisnis biasa.

Melainkan foto-foto.

Banyak foto.

Foto Adrian.

Foto keluarganya.

Dan beberapa dokumen transfer uang dalam jumlah besar.

“Apa ini…” bisik Nayla.

Tatapan Arsen makin gelap tiap membaca halaman berikutnya.

“Ayah kamu kerja sama Adrian.”

Papanya langsung membentak.

“ITU MASA LALU!”

“Masa lalu yang bikin anak kamu hampir mati?”

Deg.

Ruangan langsung sunyi.

Nadira mengambil salah satu dokumen dengan tangan gemetar.

Dan tubuhnya langsung dingin.

Karena di sana tertulis jelas:

PROYEK A-13: PEMINDAHAN ASET ILEGAL.

“Apa maksudnya ini…”

Papanya memalingkan wajah.

Sedangkan mamanya mulai menangis lagi.

“Ayahmu dan Adrian dulu cuci uang,” kata Arsen dingin.

Deg.

Nadira langsung merasa mual.

“Tidak…”

“Mereka pakai perusahaan keluarga buat nyimpen uang ilegal.”

Papanya langsung berteriak marah.

“AKU BERHENTI!”

“Tapi Adrian nggak.”

Ruangan kembali hening.

Dan sekarang semuanya mulai masuk akal.

Kenapa Adrian begitu obsesif.

Kenapa ia terus muncul lagi.

Dan kenapa keluarganya begitu takut.

Karena Adrian bukan cuma mantan sahabat.

Ia tahu semua rahasia kotor keluarga Maheswara.

“Jadi kecelakaan itu…”

Suara Nadira melemah.

“Karena Papa mau keluar?”

Papanya akhirnya mengangguk lemah.

“Aku mau laporin semuanya.”

“Dan Adrian nggak terima.”

Mamannya memegang wajah sambil menangis.

“Malam itu harusnya Papa kalian ikut di mobil…”

Deg.

Nadira langsung teringat lagi.

Malam itu memang bukan untuk mereka.

Mereka hanya salah tempat.

Salah waktu.

Dan adiknya meninggal karena perang orang dewasa.

Air mata Nadira jatuh lagi.

“Aku benci semuanya…”

Suara itu kecil.

Namun penuh luka.

Nayla langsung memeluk saudara kembarnya erat.

Dan untuk pertama kalinya…

Mereka menangis bersama.

Bukan sebagai saingan.

Bukan sebagai dua saudara yang selalu dibandingkan.

Tapi sebagai kakak yang sama-sama kehilangan adik mereka.

Namun belum selesai.

Karena Arsen menemukan satu dokumen terakhir di dalam map.

Dan wajah pria itu langsung berubah total.

“Nggak mungkin…”

Nadira menoleh cepat.

“Apa?”

Arsen perlahan mengangkat dokumen itu.

Tangannya bahkan sedikit menegang.

“Nama ayahku ada di sini.”

Deg.

Semua langsung membeku.

“Apa…?”

Tatapan Arsen berubah sangat dingin sekarang.

Karena di dokumen itu tertulis jelas:

PENERIMA TRANSFER ASET: WIJAYA GROUP.

Ruangan mendadak terlalu sunyi.

Terlalu berat.

Nadira menatap Arsen dengan jantung kacau.

“Arsen…”

Pria itu tidak menjawab.

Tatapannya masih tertuju pada nama ayahnya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya…

Nadira melihat Arsen benar-benar kehilangan kendali emosinya.

“Ayahku nggak mungkin terlibat.”

Suara Arsen rendah.

Namun terdengar berbahaya.

Papanya langsung tertawa kecil pahit.

“Kamu yakin?”

Tatapan Arsen langsung tajam.

“Maksud Anda?”

“Ayahmu tahu semuanya dari awal.”

Deg.

Nadira langsung merinding.

Papanya mengusap wajah lelahnya.

“Perusahaan Wijaya bantu bersihin uang Adrian.”

Napas Arsen langsung berubah berat.

“Bohong.”

“Aku harap juga begitu.”

Suasana mendadak kacau lagi.

Karena sekarang…

Bukan cuma keluarga Maheswara yang penuh rahasia.

Tapi keluarga Arsen juga.

Dan itu jauh lebih mengerikan.

Tiba-tiba—

BRAKK!

Suara kaca pecah terdengar dari lantai dua.

Semua langsung tersentak.

Arsen refleks menarik Nadira ke belakang tubuhnya.

“Siapa di atas?!”

Tak ada jawaban.

Namun suara langkah kaki terdengar samar.

Cepat.

Berlari.

“Kejar!”

Damar dan beberapa anak buah langsung naik.

Sedangkan Arsen tetap melindungi Nadira dan Nayla.

Beberapa detik kemudian—

DUARR!

Suara tembakan menggema.

Mamannya langsung menjerit.

Nadira membeku total.

Dan detik berikutnya…

Seseorang turun perlahan dari tangga.

Memakai hoodie hitam.

Senyum tipis.

Dan tatapan yang mengerikan.

Adrian.

“Akhirnya…”

Suara pria itu tenang sekali.

“…semua mulai terbuka.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!