NovelToon NovelToon
Sekar

Sekar

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.

Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terima saja

"Kami ingin melamar Wulan... untuk Lindu."

Kalimat itu membuat suasana rumah langsung hening.

Mata Wulan membesar kaget. Gadis itu bahkan sampai berdiri dari duduknya.

"Nda!" Ucapnya spontan.

Semua orang langsung menoleh ke arahnya.

"Maaf Pak, Bu. Tapi Wulan nda bisa." Lanjutnya cepat dengan wajah tegang.

"Bagaimana mungkin Wulan menerima lamaran dari tunangan sahabat Wulan sendiri?"

Bu Diya tampak sedikit kecewa mendengar penolakan itu, sementara Juragan Ramli terdiam.

Namun sebelum suasana menjadi semakin canggung, Bu Lastri buru-buru berdiri lalu menarik tangan Wulan.

"Permisi dulu, Pak, Bu." Ucap Bu Lastri dengan senyum canggung sebelum membawa Wulan masuk ke kamar.

Begitu berada di dalam kamar kecil itu, Bu Lastri langsung menutup pintu.

"Ibu!" Seru Wulan pelan tidak suka tangannya ditarik seperti itu.

"Kau diam dulu!" Bisik Bu Lastri tegas.

"Biar ibu yang bicara."

"Tapi Wulan nda mau menerima lamaran itu!" Bantah Wulan pelan namun penuh penekanan.

"Wulan nda bisa bersama pria yang dicintai Sekar!"

Bu Lastri langsung menatap anaknya kesal.

"Masih saja kau pikirkan Sekar!"

"Karena Sekar sahabat Wulan, Bu!"

"Sekar itu sudah bukan tunangan Lindu lagi!" potong Bu Lastri cepat.

Wulan terdiam.

"Dan kau lupa? Sekar sendiri yang pergi meninggalkan Lindu!" lanjut Bu Lastri. "Dia juga bilang dia nda pernah mencintai Lindu."

"Itu nda mungkin." Lirih Wulan pelan.

"Nyatanya dia pergi sama laki-laki lain!" Ujar Bu Lastri lagi.

"Kalau dia memang cinta sama Lindu, nda mungkin dia melakukan itu."

Wulan mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Dadanya terasa sesak.

Entah kenapa, sampai sekarang ia masih sulit percaya bahwa Sekar benar-benar meninggalkan Lindu karena mencintai pria lain.

Bu Lastri menatap Wulan tajam penuh penekanan.

"Dengar baik-baik, Wulan." Katanya dengan suara rendah namun tegas.

"Jangan buat malu ibu di depan Juragan Ramli dan Bu Diya."

Wulan langsung menggeleng cepat.

"Tapi Bu, Wulan nda bisa...."

"Bisa!" Potong Bu Lastri keras.

Wanita itu memegang lengan anaknya kuat-kuat.

"Kau tahu siapa mereka? Mereka keluarga terpandang di kampung ini!" ucapnya geram.

"Dan sekarang mereka datang baik-baik melamar kau."

"Wulan tetap nda mau." Lirih Wulan dengan mata mulai berkaca-kaca.

Bu Lastri semakin kesal melihat keras kepala anaknya.

"Kau masih membela Sekar setelah semua yang dia lakukan?" Tanyanya sinis.

"Dia sudah pergi sama laki-laki lain!"

"Itu bukan berarti Wulan bisa menggantikan dia begitu saja!"

Bu Lastri langsung menunjuk wajah Wulan.

"Kalau kau keluar sana lalu mengacaukan semuanya dan mempermalukan ibu di depan Juragan Ramli dan Bu Diya..." Suaranya mulai bergetar menahan emosi.

"Jangan anggap aku ibumu lagi."

Ucapan itu membuat Wulan langsung terdiam.

Matanya membesar tidak percaya menatap ibunya sendiri.

Sementara Bu Lastri menarik napas kasar lalu membalikkan badan.

"Pokoknya kau ikut apa kata ibu." Ujarnya dingin sebelum membuka kembali pintu kamar.

Setelah memberi peringatan pada Wulan, Bu Lastri langsung keluar dari kamar dengan wajah yang sudah kembali dipenuhi senyum ramah.

Sementara Wulan masih berdiri diam di dalam kamar dengan hati kacau dan mata berkaca-kaca.

Begitu kembali ke ruang tengah, Bu Lastri segera duduk di hadapan Juragan Ramli dan Bu Diya.

"Kalau dari saya pribadi..." Ucap Bu Lastri sambil tersenyum kecil.

"Saya menerima lamaran ini, Pak."

Wajah Bu Diya langsung tampak sedikit lega mendengarnya.

"Alhamdulillah..." Lirihnya pelan.

Namun Pak Wahdi yang sejak tadi diam langsung menoleh ke arah istrinya.

"Tunggu dulu, Bu." Katanya pelan namun tegas.

Bu Lastri langsung menatap suaminya.

Pak Wahdi lalu menghadap Juragan Ramli dengan wajah tidak enak.

"Maaf Pak Ramli, tapi saya harus bertanya dulu pada Wulan." Ujarnya hati-hati.

"Saya nda bisa memastikan sendiri."

Bu Lastri tampak tidak suka mendengar ucapan suaminya.

"Lho, Pak..."

"Tetap harus tanya anaknya dulu." potong Pak Wahdi pelan.

"Ini soal hidup Wulan."

Juragan Ramli mengangguk kecil memahami.

"Iya, tentu saja," katanya.

Sementara Bu Diya tampak menunggu penuh harap.

Di dalam kamar, Wulan mendengar semua pembicaraan itu dengan dada terasa sesak.

Tangannya mengepal kuat menahan tangis.

Karena dia tahu, jika dia menolak, ibunya akan sangat marah padanya.

Juragan Ramli mengangguk pelan mendengar ucapan Pak Wahdi.

"Iya, kami mengerti," katanya dengan suara tenang.

Bu Diya juga tersenyum tipis meski wajahnya masih menyimpan harapan besar.

"Memang sebaiknya ditanyakan dulu pada Wulan." Ujar Bu Diya lembut.

Suasana rumah kembali hening beberapa saat sebelum Juragan Ramli perlahan berdiri diikuti istrinya.

"Kalau begitu, kami pamit dulu." Katanya.

Pak Wahdi dan Bu Lastri segera ikut berdiri.

Namun sebelum melangkah turun dari rumah panggung itu, Juragan Ramli kembali menatap Pak Wahdi.

"Kami berharap, kabar baik yang akan kami dengar nanti." Ucapnya pelan namun penuh makna.

Bu Lastri langsung mengangguk cepat dengan senyum lebar.

"InsyaAllah, Pak." Jawabnya penuh semangat.

Sementara Pak Wahdi hanya tersenyum kecil tanpa memberi kepastian.

Bu Diya lalu berpamitan dengan ramah sebelum mereka akhirnya turun dari rumah itu dan pergi meninggalkan kediaman keluarga Wahdi.

Begitu tamu mereka pergi, suasana rumah langsung berubah sunyi dan tegang.

"Bapak, kenapa nda langsung terima saja lamaran itu?" Tanya Bu Lastri kecewa pada suaminya. Nada suaranya terdengar kesal karena merasa kesempatan besar baru saja ditunda.

Pak Wahdi menghela napas pelan.

"Ya nda bisa, Bu." Jawabnya tenang.

"Kita harus bertanya pada Wulan lebih dulu. Yang akan berumah tangga itu Wulan."

"Tapi keluarga Juragan Ramli itu keluarga baik-baik!" Balas Bu Lastri cepat.

"Belum tentu nanti ada kesempatan seperti ini lagi."

Pak Wahdi menatap istrinya serius.

"Meski begitu, tetap harus dengar pendapat anak."

Bu Lastri mendecakkan lidah pelan namun tidak membantah lagi.

Pak Wahdi lalu menoleh ke arah kamar.

"Wulan..." Panggilnya lembut.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka perlahan. Wulan keluar dengan wajah murung dan mata sedikit sembab. Gadis itu duduk pelan di ruang tengah tanpa berani menatap kedua orang tuanya.

Pak Wahdi memandang anak gadisnya beberapa detik sebelum akhirnya berbicara.

"Kau sudah dengar maksud kedatangan Juragan Ramli tadikan?" Tanyanya pelan.

Wulan mengangguk kecil.

"Nah..." Pak Wahdi menarik napas perlahan.

"Bapak mau dengar jawabanmu sendiri."

Wulan terdiam cukup lama. Tangannya saling menggenggam kuat di atas pangkuannya.

Perlahan, gadis itu menoleh ke arah ibunya.

Dan saat itulah Bu Lastri membulatkan matanya tajam, seolah mengingatkan ancamannya tadi di dalam kamar.

Wulan menunduk pelan.

"Kalau memang itu yang terbaik." Suara Wulan lirih hampir tak terdengar.

"Wulan ikut saja kemauan ibu."

Ucapan itu langsung membuat wajah Bu Lastri berubah senang.

"Nah begitu." Katanya cepat dengan senyum lega.

Namun Pak Wahdi justru terlihat tidak tenang. Dia memandang wajah anaknya lekat-lekat.

"Kalau kamu nda suka, nda usah dipaksa, Nduk." Jjar Pak Wahdi lembut.

"Bapak sama ibu nda memaksa kamu menerima lamaran itu."

Wulan langsung menahan napas.

Sementara Bu Lastri buru-buru menyela sebelum Wulan sempat berkata lain.

"Sudahlah, Pak. Wong anaknya sudah terima, nda usah ditanya-tanya lagi." Ucap Bu Lastri cepat.

"Tapi aku cuma mau memastikan..."

"Apalagi yang dipastikan?" Potong Bu Lastri.

"Wulan sudah jawab."

Pak Wahdi akhirnya terdiam, meski di dalam hatinya dia merasa jawaban anaknya tadi bukan jawaban yang keluar dari keinginan tulus.

Sementara Wulan hanya menunduk diam.

Dadanya terasa berat.

Karena sebenarnya, dia sama sekali tidak ingin menerima lamaran itu.

1
M.S Inisial
Suka banget sama karya author satu ini
Yulia Lia
ceritanya bagus
Riska Salahudin
seru kak
Yulia Lia
lanjut KK ,,nah yg kmaren ngatain sekar lari SM laki2 lain taunya dia ada di dlm sumur
Yulia Lia
lanjut ya kk
Yulia Lia
mudah2 itu Sekar biar gosip yg berenar gk bener
Nurr Tika
warga heboh knp sekar mati
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
harusnya tdi di angkat sekalian yah, gara" takut akhirnya lupa
Siti Yatmi
jgn2 Sekar itu..ya Tuhan ...
Wiwit
lanjut thor
Nurr Tika
bnr kah itu mayat sekar
Riska Salahudin
pasti sekar
Nurr Tika
mayat sekar di buang ke sumur
Nurr Tika
bagus
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
oh ternyata baskoro dan wulan ada hubungan
Elgi 07
aduhhh thor keren sekali ceritanya. serasa gantung banget babnya.
sepatal city
thor bagus banger, selalu di buat penasaran sama karya horor author
Nanda
mantappu............
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!