NovelToon NovelToon
25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Beda Usia
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden sutra kamar utama, memantulkan berkas cahaya keemasan yang hangat di atas ranjang king size.

Luna melenguh pelan, kelopak matanya bergerak perlahan sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya.

Rasa hangat langsung menyergap kulitnya yang sensitif saat menyadari sepasang lengan kekar sedang melingkar posesif di pinggang rampingnya, memeluk tubuhnya begitu erat tanpa jarak.

Luna mendongak sedikit dan langsung beradu pandang dengan sepasang netra tajam yang kini telah menatapnya dengan binar kelembutan yang dalam.

Mahendra sudah terjaga lebih dulu, memandangi wajah tidur istri kecilnya dengan kepuasan mutlak yang terpancar jelas dari rahang tegasnya yang kini tampak lebih rileks.

Sisa-sisa badai gairah semalam masih terasa pekat di udara.

Setelah melewati beberapa ronde pergulatan panas yang menguras seluruh energi di atas meja kerja hingga akhirnya mereka berpindah ke tempat tidur, tubuh Luna rasanya remuk redam.

Gaun tidur sutra merah marun yang menjadi pemicu runtuhnya pertahanan sang Titan Bisnis kini sudah tergeletak tak berdaya di lantai marmer.

"Selamat pagi, Sayang," sapa Mahendra.

Wajah Luna seketika merona merah padam saat memori tentang bagaimana pria berusia lima puluh tahun itu "membuktikan" keperkasaannya semalam kembali berputar di kepalanya.

"S-selamat pagi, Mas..." cicit Luna lirih, menyembunyikan wajahnya yang membara di dada bidang Mahendra.

Mahendra terkekeh rendah, sebuah tawa kepuasan yang menggetarkan dada bidangnya.

Ia mempererat pelukannya, membawa tubuh ranum Luna semakin tenggelam dalam kehangatan dekapannya, seolah enggan berbagi barang sedetik pun dengan dunia luar.

"Mas, katanya hari ini mau ke Bandung?" tanya Luna dengan suara yang masih agak parau.

Ia mencoba mengalihkan fokus dari debaran jantungnya yang kembali menggila.

"Iya, Sayang. Sebentar lagi aku berangkat," jawab Mahendra sembari mengecup pucuk kepala Luna dengan penuh kasih sayang. Namun, sedetik kemudian, ia melonggarkan sedikit pelukannya dan menatap lekat-lekat manik mata bening Luna.

"Kamu yakin tidak mau ikut dan lebih memilih tidur di rumah?"

Luna terdiam sejenak, mengingat kembali rasa lelah yang menggelayuti tubuhnya akibat "hukuman" semalam.

Ia baru saja hendak mengangguk untuk mengiyakan, sebelum kalimat Mahendra berikutnya memotong jalurnya.

"Kalau suamimu yang tampan dan perkasa ini diculik oleh wanita-wanita sosialita di sana, bagaimana? Hm?" goda Mahendra dengan seulas senyuman miring yang sangat penuh pesona matang.

Kilat jenaka kembali hadir di matanya, sengaja memancing jiwa posesif istri kecilnya.

Mendengar rasa percaya diri suaminya yang setinggi langit, Luna tidak bisa menahan diri lagi.

Ia tertawa kecil, suara tawa merdu yang seketika mencairkan sisa-sisa kecanggungan di antara mereka.

Rasa cemburu kecil yang sempat tebersit kemarin kini berubah menjadi rasa ingin melindungi hak miliknya.

"Baiklah, aku ikut, Mas," sahut Luna akhirnya dengan nada merajuk yang menggemaskan.

"Aku tidak akan membiarkan janda-janda kaya atau sosialita itu mendekatimu satu jengkal pun."

Pernyataan berani dari Luna membuat binar kemenangan di mata Mahendra menyala hebat.

Pria itu langsung menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuh mereka dengan gerakan tangkas.

"Pilihan yang sangat cerdas, Nyonya Mahendra. Kalau begitu, ayo kita mandi bersama. Kita harus bergegas," ucap Mahendra tanpa memberikan kesempatan bagi Luna untuk protes.

Sebelum Luna sempat mengeluarkan sepatah kata pun, Mahendra sudah menyelipkan lengan kekarnya di bawah lutut dan punggung Luna, membopong tubuh istrinya dengan mudah laksana seringan kapas.

Luna terpekik kaget, refleks mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh suaminya saat mereka melangkah menuju bathtub mewah di dalam kamar mandi.

Di dalam dekapannya yang hangat, Luna menyandarkan kepalanya dengan senyuman bahagia yang mengembang di bibirnya.

Ia merasa begitu dicintai, dilindungi, dan diratukan.

Namun, di balik dinding kamar yang dipenuhi bunga-bunga asmara itu, Luna sama sekali tidak tahu.

Ia tidak pernah tahu bahwa keputusannya untuk ikut ke Bandung pagi ini telah mengacaukan seluruh skenario busuk, dekorasi mewah, dan undangan VIP arisan sosialita yang telah disiapkan dengan matang oleh Emma dan Mila untuk menjatuhkan harga dirinya di rumah utama.

Rencana beracun yang mereka susun semalaman kini siap menghantam ruang kosong.

Uap air hangat masih tersisa di udara saat pintu kamar mandi mewah itu terbuka.

Setelah menghabiskan waktu cukup lama di dalam bathtub, Luna keluar dengan penampilan yang jauh lebih segar.

Ia memilih salah satu pakaian terbaru yang dibelikan Mahendra semalam—sebuah blouse sutra berwarna emerald green yang dipadukan dengan celana kulot formal berpotongan tinggi.

Pakaian itu tidak hanya sopan dan profesional untuk mendampingi sang suami bertemu klien, tetapi juga dengan sempurna menyembunyikan beberapa bercak kemerahan di sekitar lehernya, sisa dari pembuktian intens Mahendra semalam.

Mahendra sendiri sudah tampak gagah dan berwibawa dengan kemeja polo premium dan celana kasual khusus golf.

Karisma matangnya memancar kuat, sama sekali tidak terlihat seperti pria yang kurang tidur.

"Sudah siap, Sayang?" tanya Mahendra.

Ia menatap kagum pada pilihan busana istrinya yang tampak begitu anggun dan berkelas.

Luna mengangguk sembari tersenyum manis.

"Sudah, Mas."

Mahendra mengulurkan tangan kekarnya, yang langsung disambut hangat oleh jemari lentik Luna.

Dengan langkah tegap dan penuh percaya diri, ia menuntun istri kecilnya keluar dari kamar utama, melangkah turun menapaki undakan tangga marmer menuju lantai bawah.

Sementara itu di ruang tengah, atmosfer sibuk begitu terasa. Emma dan Mila tampak sedang mengarahkan beberapa pelayan rumah untuk menata meja panjang dengan taplak renda premium.

Jajaran cangkir teh porselen mahal dan stan camilan mewah sudah mulai dikeluarkan.

Senyum kemenangan sempat mengembang di wajah kedua wanita itu, membayangkan beberapa jam lagi ruang utama ini akan dipenuhi oleh para sosialita kejam yang siap merundung Luna.

Namun, senyuman di wajah Emma dan Mila seketika membeku di udara saat mendengar suara langkah kaki yang berirama dari arah tangga.

Kedua wanita oportunis itu menoleh serempak. Mata mereka membelalak sempurna melihat Luna berjalan anggun di samping Mahendra, lengkap dengan tas tangan eksklusif yang bertengger di lengannya.

Penampilan Luna yang tampak begitu cantik dan siap untuk bepergian jauh langsung menyalakan alarm bahaya di kepala mereka.

"Kenapa jalang kecil itu ikut bersiap?!" pekik Mila dalam hati, mendadak dirayapi kepanikan hebat.

"Jika Luna pergi, lalu siapa yang akan menjadi bahan pajangan untuk dipermalukan di acara arisan nanti?"

Mila menyenggol lengan Emma dengan keras, memberi isyarat panik.

Emma yang menyadari situasi darurat ini langsung memasang wajah ramah yang dibuat-buat, lalu melangkah cepat memotong jalur jalan Mahendra dan Luna di dekat selasar.

"Eh, Mahendra... Luna... kalian mau pergi bersama?" tanya Emma, suaranya terdengar sedikit bergetar meski ia berusaha keras menyembunyikannya.

Tatapan ketusnya beralih pada Luna. "Luna, kamu mau ikut ke Bandung juga? Bukankah Mahendra ke sana untuk urusan bisnis yang melelahkan? Lagipula, turnamen golf itu isinya bapak-bapak pejabat dan kolega bisnis. Kamu pasti akan bosan di sana."

Mila yang berdiri di belakang Emma ikut menimpali dengan nada suara yang sok perhatian.

"Iya, Luna. Perjalanan ke Bandung itu melelahkan, apalagi kalau harus panas-panasan di lapangan golf. Lebih baik kamu di rumah saja, istirahat. Kebetulan hari ini Tante Emma..."

"Apakah, ada masalah jika istriku ikut?"

Kalimat Mila seketika terputus di udara. Suara bariton Mahendra yang berat, dingin, dan sarat akan otoritas mutlak menggema memotong pembicaraan.

Pria paruh baya itu menghentikan langkahnya, menatap tajam ke arah adik kandungnya dan Mila dengan sorot mata sedingin es yang mengintimidasi.

Rangkulan tangan Mahendra di pinggang Luna semakin mengencang, seolah menegaskan secara fisik bahwa ke mana pun ia melangkah, sang istri akan selalu berada di bawah perlindungannya.

Emma seketika menelan salivanya dengan susah payah.

Nyalinya menciut drastis di bawah tatapan tajam sang kakak yang terkenal kejam di dunia bisnis. Keringat dingin mulai membasahi tengkuknya.

Ia sangat takut jika Mahendra mulai menaruh curiga dan menyelidiki tentang acara arisan sosialita terselubung yang sengaja ia adakan di rumah utama tanpa izin.

Jika Mahendra tahu ada konspirasi untuk mempermalukan istrinya, habislah mereka berdua. Fasilitas mereka bisa dibekukan total selamanya.

Egonya yang tinggi mendadak runtuh demi keselamatan posisinya.

Emma terpaksa memaksakan sebuah senyuman kaku, lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"T-tentu saja tidak ada masalah, Mahendra. Aku hanya mengkhawatirkan Luna yang mungkin kecapekan. Tapi kalau dia mau ikut, ya tidak apa-apa," ucap Emma terbata-bata, mencoba meredam kecurigaan kakaknya.

Mila di sampingnya hanya bisa mengepalkan tangan kuat-kuat hingga kukunya memutih.

Rasa dongkol dan frustrasi membakar dadanya karena rencana matang yang mereka susun semalaman kini hancur lebur begitu saja sebelum sempat dimulai.

Mahendra tidak berniat memperpanjang obrolan tidak bermutu tersebut.

Baginya, kenyamanan dan keinginan istrinya adalah prioritas tunggal hari ini.

Ia mengalihkan pandangan matanya yang semula sedingin es kembali melembut saat menatap wajah polos Luna.

"Ayo, Sayang. Kita berangkat sekarang," ucap Mahendra dengan nada suara yang hangat, berbanding terbalik dengan sikapnya pada Emma tadi.

"Iya, Mas," jawab Luna lembut.

Sebelum berbalik, Luna sempat melirik sekilas ke arah meja panjang yang penuh dengan dekorasi mewah dan piring porselen di ruang tengah.

Detik itu, Luna menyadari ada gurat kepanikan yang janggal di wajah Emma dan Mila, namun ia memilih tidak ambil pusing.

Dengan jemari yang bertautan erat di dalam genggaman suaminya yang perkasa, Luna melangkah lebar meninggalkan rumah utama menuju Rolls-Royce yang sudah siap di pelataran, membiarkan Emma dan Mila gigit jari meratapi panggung jebakan mereka yang kini tak berpenghuni.

1
tiara
semoga tuan Mahendra dapat diselamatkan,
Mundri Astuti
tendang sekalian duo ular itu Mahendra
Mundri Astuti
tuh kannn mang dah ada rasa si Mahendra..tapi gpp lun, daripada dpt cere, mending yg ini y lun kakap sekalian 😄
my name is pho: 🤭🤭heheh iya kak
total 1 replies
Mundri Astuti
modus aki" 😄

terimakasih thor dah double up 🙏❤️
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Mundri Astuti
lah si Mahendra...itu yg dikirim ke tim IT kau video asli istrimu loh, kamu ga risih...napa bukan byr perempuan lain aja si yg mirip gitu lantas di edit
Mundri Astuti
coba kaya apa y pembalasan mahendra🤔
Mundri Astuti
Alhamdulillah....
tiara
Semoga Mahendra selamat,dan cepat mencari yang menyebabkan dirinya pingsan
Mundri Astuti
mudah"an selamat Mahendra...
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
Fitra Sari
lanjut KK
Mundri Astuti
wayolohhh lunaa
Ita Putri
dih....amnesia anda ya
kan sudah buang Azura anda faizan
Mundri Astuti
ayo Luna tunjukkan klo kamu tuh bisa Badas...
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi
Mundri Astuti
ya ampun Mahendra ...tua" keladi ni mah 😄, bucin abis romannya😛
tiara
terlambat pa Dika,kalah cepat sama ayahnya Fauzan
tiara
Luna sudah mulai merasa nyaman tuh dengan pa suami
Mundri Astuti
Luna dah mulai da rasa ni
Ros 🍂
lanjut Thor 💪🏼
Ros 🍂
pengen getok Mila Thor 🤭
Ros 🍂
Hadirrr Thor, Semangat 💪🏻💪🏻
Ros 🍂: sama-sama kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!