NovelToon NovelToon
Naren, Sang Pelindung

Naren, Sang Pelindung

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:526
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

"Apa lo takut?"

"Bukan. Gue cuma nggak mau dia ikut terluka."

Kalimat itu membuat Agnesa membeku.

Seumur hidupnya, Naren Aksara Gavindra adalah sumber masalah yang selalu ingin ia hindari. Ketua geng sekolah yang dingin, keras kepala, dan selalu berurusan dengan keributan.

Sementara Agnesa Valeria Anabella adalah Ketua OSIS yang hidupnya dipenuhi aturan, jadwal, dan kedisiplinan.

Mereka seharusnya berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Namun sejak hari Agnesa berdiri di antara Naren dan musuhnya, sesuatu mulai berubah.

Di tengah ancaman Black Venom yang semakin dekat, rahasia masa lalu yang belum selesai, dan perang yang bisa pecah kapan saja, Naren justru sibuk memikirkan satu hal yang paling tidak masuk akal:

Tatapan Agnesa.

Dan yang lebih berbahaya, Agnesa mulai memikirkan Naren juga.

Tapi ketika perasaan tumbuh di antara mereka, sebuah pertanyaan muncul—

Apa yang akan terjadi jika gadis yang selalu mematuhi aturan jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya adalah pelanggaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi yang memilih

Hujan deras yang mengguyur Bandung sejak sore baru saja menyisakan gerimis tipis. 

Abyan duduk di atas kap mesin mobil tua milik Arion yang terparkir di depan sebuah warung kopi pinggir jalan. 

Bau aspal basah dan aroma kopi tubruk menguar ke udara. 

Abyan memutar-mutar kaleng minuman bersoda di tangannya, jemarinya yang dingin menempel pada logam yang lembap.

​Sreeet...

​Arion keluar dari warung, membawa dua bungkus gorengan yang masih panas dalam kantong plastik kresek. 

Ia naik ke samping Abyan, duduk di kap mobil yang sama.

​"Ren masih marah?" tanya Arion sambil memakan bakwan.

​Abyan menatap langit malam yang kelabu.

 "Gue nggak tahu. Tadi pas gue tanya soal buku hitam itu, dia cuma diem. Terus dia nyalain rokok banyak banget sampe gue batuk-batuk."

​Arion terdiam sejenak. Ia mengunyah gorengannya perlahan.

 "Gue rasa dia lagi pengen sendirian. Lagian, lo kenapa juga nanyain Agnesa terus? Kayak nggak ada topik lain."

​"Gue cuma kepo, Yon. Lo liat kan tadi di sekolah? Suasananya aneh banget. Kayak ada kaca yang retak tapi belum pecah."

Warung kopi itu sunyi. 

Lampu neon yang tergantung di atas pintu berkedip-kedip, mengeluarkan suara tet... tet... yang ritmis.

 Di seberang jalan, lampu lalu lintas berganti warna dari hijau ke merah, memantul di genangan air yang menutupi lubang-lubang di aspal. 

Angin dingin malam itu berhembus pelan, membuat dedaunan di pohon-pohon pinggir jalan bergoyang, mengeluarkan suara gesekan yang halus.

 Abyan bisa merasakan dingin yang mulai menjalar dari kap mobil menembus celana jinsnya.

​"Kaca yang retak ya?" Arion tertawa kecil. "Puitis banget lo, Yan. Tumben otak lo kepake."

​"Sialan lo." 

Abyan melemparkan kaleng soda kosongnya ke tong sampah. 

Ting... klontang!

​Abyan menoleh ke arah Arion. 

"Lo sendiri, sebagai anak OSIS, nggak ngerasa aneh sama Agnesa? Dia biasanya rapi banget, tapi tadi gue liat jari-jarinya kotor ada noda merah muda. Kayak sisa susu stroberi."

​Arion berhenti mengunyah. Ia memandang Abyan dengan tatapan serius. "Lo ngeliat itu?"

​"Iya. Dan dia nggak dibersihin. Dia malah jalan seolah itu tato permanen."

Arion mengeluarkan ponselnya dari saku.

Ia mengecek pesan masuk, lalu mematikan layarnya lagi.

Ia mengambil sepotong gorengan lagi, namun tidak memakannya.

Ia menatap genangan air di bawah mobil.

Abyan menunggu Arion bicara, tapi Arion malah menyalakan pemantik api, memainkannya berulang kali sampai percikan apinya terlihat kecil di tengah kegelapan.

​"Ren itu dingin, Yan," kata Arion akhirnya, suaranya pelan. 

"Agnesa itu aturan. Mereka itu dua kutub yang kalau dipaksa ketemu, yang ada ya cuma percikan api yang bikin kebakaran."

​"Tapi mereka kayak magnet, Yon."

​"Magnet bisa jadi tolak-menolak, Yan. Jangan lupa itu."

​Abyan mengembuskan napas panjang. 

Huuuh.

 Ia melihat asap napasnya sendiri di udara dingin.

Abyan tiba-tiba teringat kucing liar yang dulu pernah ia beri makan di depan bengkel. 

Kucing itu tidak pernah mau disentuh, selalu lari kalau didekati, tapi setiap malam dia akan menunggu di depan pintu bengkel sampai Abyan keluar. 

Terkadang, Abyan berpikir kalau dia sendiri adalah kucing itu. Dia tidak ingin didekati, dia tidak ingin diatur, tapi dia terus menunggu.

 Menunggu apa? Abyan tidak tahu. 

Mungkin menunggu seseorang untuk memberinya alasan kenapa dia harus tetap di sini. 

Mengapa dia harus terjebak di tengah-tengah perseteruan yang bahkan tidak dia mengerti? Apakah Naren merasa sama? Apakah Agnesa merasa sama? Atau mungkin, hanya Abyan yang merasa kalau hidup ini cuma tentang menunggu hujan berhenti agar bisa pulang dengan selamat.

​"Lo pernah mikir nggak, Yon," Abyan memecah keheningan lagi. "Gimana kalau semua ini cuma cara mereka buat ngerasa hidup?"

​Arion mematikan pemantik apinya. 

Klik. 

"Gue nggak dibayar buat mikirin filosofi hidup Naren atau Agnesa. Gue cuma pengen motor gue bener besok."

​"Motor lo kan emang bakal bener."

​"Gue pengen motor gue bener, supaya gue bisa pergi jauh-jauh dari sekolah itu."

​Abyan tersenyum tipis. "Gue juga."

​Drrrtt... Drrrtt...

​Ponsel Abyan bergetar. Ia membukanya, lalu mengernyitkan dahi. 

"Si Venzo ngirim pesan."

​"Apa katanya?"

​"Dia bilang, ada rapat darurat OSIS besok pagi. Jam enam."

​Arion mendengus. "Jam enam? Gila. Lo mau dateng?"

​"Gue sih nggak. Tapi lo kan anak OSIS."

​Arion tertawa lebar, suaranya memecah kesunyian malam. "Gue juga nggak bakal dateng. Biarin aja mereka rapat sampe mampus."

Arion membuang plastik gorengannya ke tong sampah dengan lemparan melengkung.

Abyan bangkit berdiri dari kap mobil, meregangkan tubuhnya yang terasa kaku.

Ia melompat turun ke tanah, sepatunya menginjak genangan air. 

Plak!

Air terciprat ke celananya, tapi Abyan tidak peduli.

Ia justru menatap genangan air itu, membiarkan bayangan lampu neon di dalamnya pecah berantakan akibat cipratan sepatunya.

​"Yan," panggil Arion.

​"Apa?"

​"Kalau besok semuanya berantakan, lo bakal tetep di pihak Naren?"

​Abyan tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah ujung jalan, ke arah sekolah yang gelap. 

"Gue nggak tahu. Gue di pihak gue sendiri. Tapi, ya, mungkin gue tetep bakal ada di sana kalau Naren butuh."

​"Lo emang setia kawan yang bodoh," sahut Arion sambil tersenyum.

​"Dan lo temen yang nggak punya pendirian."

​Mereka berdua tertawa lagi. Suara tawa mereka terdengar asing di tengah jalanan yang mulai sepi.

​Abyan merogoh sakunya, mengeluarkan satu bungkus permen karet yang hampir habis. Ia mengambil satu, memberikannya pada Arion. 

Klek.

 Arion menerimanya. Mereka berdua duduk kembali di kap mobil, menikmati sisa gerimis yang mulai membasahi jaket mereka.

Di kejauhan, sebuah mobil sedan hitam melintas dengan kecepatan tinggi.

Vrooom!

Cahaya lampunya menyapu mereka berdua, memaksa Abyan menutup matanya sejenak.

Setelah mobil itu lewat, jalanan kembali gelap.

Abyan tidak bergerak, ia tetap duduk di sana, memandang ke arah yang sama.

Arion juga tidak bergerak.

Mereka berdua terjebak dalam diam yang nyaman, sebuah jeda di tengah hari yang penuh dengan benturan dan retakan.

​"Besok hari Sabtu, kan?" tanya Abyan tiba-tiba.

​"Iya. Kenapa?"

​"Berarti nggak ada sekolah."

​"Ya, untungnya."

​Abyan memejamkan matanya, merasakan tetesan gerimis yang dingin di kelopak matanya. 

Hari ini sudah berakhir, tapi ia tahu, besok—meskipun hari Sabtu—akan membawa hal baru yang mungkin akan membuat mereka semua terjaga sepanjang malam lagi.

​"Yon," Abyan bergumam lagi, matanya masih tertutup. "Menurut lo, susu stroberi rasanya kayak apa sih?"

​Arion mendengus. "Rasanya kayak gula dicampur air. Nggak enak. Kenapa lo nanya itu?"

​"Nggak tahu. Cuma penasaran."

​Abyan tidak benar-benar penasaran dengan rasa susu stroberi.

 Ia hanya penasaran mengapa Agnesa, gadis paling rapi di SMA Garuda, bisa-bisanya membiarkan noda susu itu mengering di jarinya. 

Dan mungkin, hanya mungkin, Abyan ingin tahu apakah Naren merasakan rasa yang sama setiap kali dia melihat Agnesa.

​Mereka tetap duduk di sana, dua anak muda di atas mobil tua, sementara kota Bandung di sekitar mereka mulai tertidur, meninggalkan sisa-sisa hujan dan rahasia-rahasia kecil yang terkubur di bawah aspal yang dingin.

BERSAMBUNG…

​Bab Selanjutnya ➜

​"Nes? Sudah bangun? Mama sudah buatkan sarapan,"

​"Sudah, Ma. Lima menit lagi turun,"

​Siapa Peneror Misterius Agnesa? Simak Kelanjutan Rahasia Kamar Terkunci di Bab 24: Surat di Celah Pagar

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!