NovelToon NovelToon
Matahari Tetap Terbit (Kisah Seorang Ibu Pejuang)

Matahari Tetap Terbit (Kisah Seorang Ibu Pejuang)

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Single Mom
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐

Ditinggal pergi oleh suami tercinta tanpa kabar berita, Rania terpaksa memikul seluruh beban rumah tangga sendirian. Di tengah keterbatasan dan rasa sepi yang menghimpit, ia menemukan kekuatan yang tak pernah ia tahu dimilikinya. Demi masa depan Dika dan Naya, Rania belajar menjadi wanita yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ini adalah kisah tentang pengorbanan, ketabahan, dan kebangkitan seorang ibu yang menolak menyerah pada nasib.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi Bahagia Penuh Semangat bersama Ibu

Pagi itu matahari bersinar cerah menyinari jalanan desa. Seperti biasa, Rania sudah siap dengan motor matic bekas kesayangannya. Motor itu memang sudah agak tua, catnya kusam dan ada bagian yang sudah aus, tapi mesinnya masih kuat dan sangat membantu. Selain untuk belanja keperluan warung dan barang dagangan, motor ini andalan Rania untuk mengantar jemput kedua anaknya: Dika yang sekarang duduk di kelas 2 SD, dan Naya, adik Dika yang baru berumur 3 tahun. Naya tidak mungkin ditinggal sendirian di rumah, jadi ke mana pun Rania pergi, si kecil yang ceria itu pasti ikut serta.

"Ayo, Nak, sudah siap belum?" panggil Rania sambil membenarkan dudukan di belakang motor.

Dika keluar dengan seragam putih merahnya yang rapi, sementara Naya sudah berlari kecil sambil membawa Barbie kesayangannya, langsung merangkul kaki ibunya minta digendong. Rania tersenyum, mengangkat Naya duduk di bagian depan dekat setang, sedangkan Dika duduk manis di belakang sambil memegang pinggang ibunya.

"Ayo berangkat, jangan sampai telat ya," kata Rania lembut, lalu motor pun melaju pelan menyusuri jalan desa.

Di perjalanan, Naya sesekali berteriak kegirangan melihat ayam atau kucing yang lewat, membuat Dika tertawa melihat tingkah adiknya. Bagi Rania, momen seperti ini adalah kebahagiaan terbesarnya. Meski harus berjuang sendiri membesarkan dua anak tanpa suami, ia berjanji akan selalu berusaha memberikan yang terbaik dan menjaga mereka berdua sekuat tenaga.

Sesampainya di sekolah, Rania menurunkan Dika di gerbang. "Belajar yang rajin ya, Nak. Nanti pulang Ibu jemput lagi sama Naya."

"Iya, Bu," jawab Dika sambil melambaikan tangan, lalu masuk ke kelasnya. Rania pun melanjutkan perjalanan membawa Naya untuk mengurus dagangan dan keperluan warung.

Di kelas 2 SD, kegiatan belajar mengajar berjalan seperti biasa. Suasana kelas ramai dan hidup, anak-anak sibuk mendengarkan penjelasan guru, ada juga yang berbisik-bisik membicarakan mainan atau jajanan. Dika duduk tenang di bangkunya, mendengarkan dengan saksama. Bagi Dika, sekolah adalah tempat yang menyenangkan.

Namun, suasana tenang itu berubah tepat di jam terakhir pelajaran.

Bu Guru Sari, wali kelas mereka, masuk ke dalam kelas dengan senyum lebar. Ia meletakkan buku catatannya di meja, lalu memandangi murid-muridnya satu per satu.

"Anak-anak yang Ibu sayang, perhatikan sebentar ya. Ibu mau mengumumkan sesuatu yang penting dan menyenangkan," ucap Bu Sari dengan suara lembut namun ceria.

Seluruh kelas langsung hening dan menatap Bu Siti dengan antusias.

"Besok pagi, sekolah kita akan mengadakan acara istimewa dalam rangka memperingati Hari Ayah," lanjut Bu Guru Sari. "Akan ada berbagai macam lomba seru yang diadakan khusus untuk anak-anak bersama ayah mereka masing-masing. Ada lomba balap karung, lomba memasukkan paku ke dalam botol, hingga lomba tarik tambang. Ibu harap kalian semua membawa Ayah kalian ya, karena ini pasti bakal seru banget!"

Seketika kelas menjadi riuh rendah. Terdengar suara sorakan kegembiraan dari hampir semua murid. Mereka saling berbicara antusias, membayangkan betapa asyiknya berlomba bersama ayah mereka.

"Wah, asyik! Aku bakal ajak Ayahku yang jago lari!" seru seorang anak.

"Ayahku pasti paling kuat pas tarik tambang!" sahut yang lain.

Di tengah keriuhan itu, Dika hanya diam mematung di bangkunya. Senyumnya yang tadi sempat terukur perlahan hilang. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu berat yang menindihnya. Di kepalanya yang masih kecil itu, terngiang kata-kata itu: bersama ayah mereka masing-masing.

Dika menundukkan wajah, memainkan ujung kemeja seragamnya. Ia tidak punya ayah. Sosok itu sudah pergi dan tak pernah kembali meninggalkan dia serta, adiknya Naya yang masih kecil, dan ibunya Rania yang kini berjuang sendirian membesarkan mereka berdua. Ia tumbuh hanya bersama kasih sayang ibunya.

Belum sempat Dika menenangkan hatinya, tiba-tiba suara mengejek terdengar jelas dari arah sebelah.

"Hahaha, lho terus gimana nasib Dika? Dia kan nggak punya ayah! Emangnya mau bawa siapa? Hahaha!" seru Bimo, anak yang sering usil dan berisik.

"Ya ampun, iya ya! Kasihan banget, besok dia cuma bisa nonton doang deh," sambung temannya sambil tertawa mengejek.

"Pasti dia bakal kelihatan sendirian dan sedih banget di pinggir lapangan!"

Tawa-tawa itu semakin terdengar, membuat sebagian anak lain ikut tertawa atau sekadar melihat ke arah Dika dengan tatapan yang menyakitkan hati. Wajah Dika memerah menahan tangis. Ia malu, sedih, dan marah sekaligus. Ia ingin sekali berteriak, tapi tenggorokannya terasa kering dan tersumbat.

Bu Sari yang melihat kejadian itu langsung berubah wajah. Ia mengetuk meja dengan keras. "Hei! Cukup! Diam semuanya!"

Suara Bu Sari menggelegar, seketika membuat seluruh kelas hening kembali. Ia menatap tajam ke arah anak-anak yang mengejek, lalu berjalan menghampiri meja Dika.

"Kalian semua harus malu ya! Menertawakan teman sendiri itu perbuatan yang sangat buruk dan tidak boleh dilakukan anak baik," tegur Bu Sari dengan nada kecewa.

Bu Sari lalu berjongkok agar sejajar dengan posisi duduk Dika yang masih kecil itu. Ia melihat mata anak itu yang mulai berkaca-kaca, siap menumpahkan air mata. Hati Bu Sari terasa perih melihatnya. Ia tahu betul latar belakang Dika, anak yang rajin, sopan, dan cerdas, namun hidupnya kurang beruntung.

"Maafkan teman-temanmu ya, Dika. Mereka belum paham rasanya menyayangi teman," ucap Bu Sari lembut sambil mengusap kepala Dika dengan kasih sayang.

Dika mengangguk pelan, berusaha menahan isak tangisnya. "Iya, Bu..."

Bu Sari lalu berdiri kembali dan berbicara kepada seluruh kelas, namun matanya tetap tertuju pada Dika.

"Dengarkan baik-baik ya. Tujuan acara besok adalah untuk merayakan sosok orang tua yang berharga dalam hidup kita. Tapi ingat, tidak semua anak beruntung bisa bersama ayah kandungnya. Ada yang dibesarkan oleh paman, kakek, atau bahkan ada yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh seorang Ibu yang berjuang sendirian menjadi ayah sekaligus ibu."

Ia menatap Dika lagi dan tersenyum hangat.

"Karena itu, Dika tidak perlu sedih atau malu ya. Kalau Ayah tidak ada, Dika boleh kok mengajak Ibu. Ibu yakin, Ibu Dika pasti sosok yang hebat, yang sudah berjuang membesarkan dan merawat Dika serta adikmu sampai sekarang. Dika ajak saja Ibumu, ya. Dia pasti akan sangat senang ikut serta mendampingi Dika besok. Semangat ya, Nak! Ibu tunggu kehadiranmu dan Ibumu besok."

Mendengar itu, dada Dika terasa lega seketika. Air mata yang tadi hampir jatuh kini berubah menjadi rasa haru dan kekuatan baru. Ia mengingat Rania, ibunya. Wanita yang rela bekerja keras, yang selalu ada, yang berjuang siang malam demi dirinya dan Naya.

Dika mengusap matanya, lalu tersenyum tulus ke arah Bu Sari. "Terima kasih, Bu. Dika paham. Dika pasti datang sama Ibu."

Bel berbunyi tanda pelajaran usai. Saat berjalan pulang keluar gerbang sekolah, Dika melihat sosok Rania yang sedang menunggunya sambil duduk santai di atas motor. Di depan sana, Naya yang masih kecil duduk manis sambil melambaikan tangan riang melihat kakaknya datang.

Di saat itu, Dika sadar satu hal: meski ia tidak punya ayah, ia punya Ibu Rania yang hebat, dan ada Naya adiknya yang lucu. Baginya, kehadiran mereka berdua sudah lebih dari cukup, lebih hebat dari apa pun.

Besok, ia akan mengajak Ibu ikut lomba. Dan ia yakin, bersama Rania, ia pasti bisa merayakan hari itu dengan bangga dan bahagia.

1
Risa Virgo Always Beau
Dika pak Sandi baik memberikan semangat buatmu
Risa Virgo Always Beau
Rania alhamdulilah warung kamu semakin banyak pelanggan setia ya
Risa dan Yayang
Wah Dika mendengarkan kata penyemangat dari pak Sandi
Risa dan Yayang
Warung Rania selalu lari semakin hari pasti pendapatan Rania juga bertambah ya
Yayang Suami Risa
Wah Dika Jadi semangat lagi ya di semangati pak Sandi
Yayang Suami Risa
Semangat Rania hidupmu berubah jadi lebih baik
Bahagia Bersama Dirimu😍😍😍🥰
Dika kagum sama pak Sandi ya
Bahagia Bersama Dirimu😍😍😍🥰
Pasti uang hasil jualan Rania di tabung ya
@Me and You Married
Dika ayo semangat kerjakan soal ujian ya supaya naik kelas
@Me and You Married
Rania alhamdulilah warung kamu semakin laris ya beda jauh saat dulu sehari baru buka warung
@Yayang Risa Couple Happy
Dika kamu di beri semangat oleh pak Sandi
@Yayang Risa Couple Happy
Rania pasti punya banyak uang
Ya Ris Tak Terpisahkan
Dika jadi semangat lagi setelah di semangati pak Sandi
Ya Ris Tak Terpisahkan
Enak semua menu buatan Rania pantas laris manis ya
❤️⃟𝐖ᵃ𝐟☘𝓡𝓳♉ᵘᵐᵃsʸ𝐀⃝🥀🤎⒋ⷨ͢⚤
Kamu hidup enak tanpa memikirkan keluarga yg kamu tinggalkan Bara setidaknya kirim lah uang sedikit untuk keperluan mereka sehari-hari bukan keluarga baru mu saja yg kau perhatikan
@ Yayang Risa Selamanya
Pak Sandi anda di kagumi oleh Dika
@ Yayang Risa Selamanya
Rania menu makanan kamu lezat dan enak semua
@Yayang Risa Saling 💖❣️💗💕💞
Pak Sandi menyemangati Dika supaya semangat
@Yayang Risa Saling 💖❣️💗💕💞
Rania memang ramah dalam melayani pembeli makanya banyak pelanggan
Risa Yayang Cinta Sejati
Dika semangat kerjakan soal karena ingat perjuangan ibunya buat Dika dan Naya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!