Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rantai Posesif
Ketukan palu terakhir dari kurator seni tidak hanya menandai berakhirnya sesi lelang amal yang menegangkan, melainkan juga menjadi pembuka bagi agenda utama yang paling dinantikan oleh para elite global malam itu: sesi ramah tamah. Lampu gantung kristal raksasa yang menggelantung di langit-langit Grand Ballroom Hotel Splendide kembali berpendar dengan cahaya keemasan yang lebih terang namun lembut, menciptakan atmosfer yang hangat, intim, dan penuh kepura-puraan yang elegan.
Alunan musik klasik beritme lambat dari kelompok orkestra di sudut ruangan mulai mengalun, mengiringi pergerakan ratusan tamu undangan yang mulai berdiri dari meja masing-masing. Para pengusaha kakap, investor internasional, diplomat asing, dan eksekutif muda mulai membaur, berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain sembari memegang gelas sampanye tipis, saling bertukar kartu nama, mematangkan kesepakatan bisnis, atau sekadar melempar pujian basa-basi demi menjaga relasi kekuasaan.
Namun, di tengah keriuhan interaksi sosial kelas atas tersebut, pusat gravitasi ballroom tetap tidak bergeser dari meja utama lingkaran tertinggi keluarga Sterling.
Asher Sterling berdiri dari kursi beludrunya dengan keanggunan yang teramat maskulin dan mengintimidasi. Dan yang membuat setiap pasang mata di ruangan itu menahan napas adalah bagaimana jemari panjang dan kokoh milik sang bos mafia sedikit pun tidak melepaskan rangkulannya pada pinggang ramping Chloe. Sejak fotografer mengambil gambar mereka beberapa menit lalu, lengan kekar Asher seolah telah menjelma menjadi rantai emas yang mengunci tubuh mungil Chloe untuk terus menempel tanpa jarak di sisi tubuh masifnya.
Setiap kali Asher mengambil satu langkah maju untuk menghampiri atau menyambut jabat tangan dari seorang kolega bisnis, tubuh Chloe ikut tertarik secara halus mengikuti pergerakannya. Sentuhan tangan Asher di pinggangnya tidak kasar, namun memiliki penekanan yang mutlak, konstan, dan posesif—sebuah gestur yang secara tidak langsung mengirimkan sinyal bahaya yang sangat jelas kepada siapa pun di ballroom ini: Wanita ini adalah milikku, dan siapa pun yang menatapnya terlalu lama harus bersiap menanggung konsekuensinya.
Bagi para tamu undangan yang baru pertama kali melihat sosok Chloe, kehadiran gadis bergaun merah marun gelap (deep burgundy) itu mendatangkan kekaguman yang luar biasa besar. Mereka menatap Chloe bukan dengan pandangan merendahkan layaknya melihat seorang gadis tebusan, melainkan dengan binar penuh rasa hormat dan takjub atas status barunya sebagai anggota termuda di dalam dinasti keluarga Sterling yang legendaris.
Seorang investor properti senior asal London bersama istrinya melangkah mendekati meja mereka dengan senyuman ramah yang dipaksakan agar terlihat natural di hadapan Asher.
"Selamat malam, Tuan Sterling. Sebuah kehormatan besar bisa melihat Anda bersedia meluangkan waktu di acara malam ini," ujar investor tua itu sembari mengangguk hormat, sebelum pandangannya beralih menatap Chloe dengan binar kekaguman yang jujur. "Dan saya harus menyatakan kekaguman saya yang paling dalam atas kehadiran anggota baru di keluarga Sterling. Istri Anda adalah wanita yang luar biasa cantik dan teramat anggun. Dia memancarkan pesona murni yang sangat langka, bagaikan setangkai mawar yang paling berharga di malam hari ini."
Mendengar pujian yang begitu tinggi dari orang asing, sepasang pipi pucat Chloe seketika merona merah muda karena rasa canggung dan malu. Dia menundukkan kepalanya sedikit, lalu memaksakan diri untuk mengulas seulas senyuman tipis yang sangat manis di bibir mungilnya. "Terima kasih banyak atas pujiannya, Tuan," jawab Chloe dengan nada suara yang sangat lembut, santun, dan berkelas, membuat impresi dirinya di mata para elite malam itu semakin sempurna tanpa cela.
Asher tidak membalas pujian itu dengan kata-kata manis. Pria itu hanya mengangguk datar sekali dengan ekspresi wajah yang tetap sedingin es, namun rangkulan tangannya di pinggang Chloe mendadak mengetat selama satu detik, seolah ingin mempertegas klaim kepemilikannya atas subjek yang baru saja dipuji oleh orang lain tersebut.
Setelah pasangan investor itu pamit undur diri, Eleanor Sterling melangkah mendekati adik dan adik iparnya. Wanita berambut sanggul rapi itu memegang segelas minuman hangat sembari menatap interaksi posesif Asher dengan seringai jenaka yang sangat provokatif di bibir merahnya.
Eleanor sengaja menyenggol lengan kiri Asher yang bebas, lalu berbisik dengan nada meledek yang cukup nyaring untuk didengar oleh Chloe. "Wah, wah... lihat siapa yang akhirnya bersedia menampakkan batang hidungnya di acara yayasanku. Seingatku, selama lima tahun berturut-turut aku memohon padamu untuk hadir, kau selalu membalas pesananku dengan penolakan ketat atau bahkan mengabaikannya sama sekali, Asher. Tapi malam ini... baru kali ini dalam sejarah kau tiba-tiba datang menyerbu ruangan bersama pasukan lengkapmu."
Eleanor melirik ke arah foto yang tadi siang dia kirimkan ke ponsel Asher, lalu kembali menatap wajah adiknya yang kaku. "Apakah ini karena foto mawar kecilku yang kukirimkan padamu siang tadi? Kau takut mawar indahmu ini akan diperebutkan oleh para pewaris takhta konglomerat di barisan belakang sana, hmm?"
Mendengar ledekan telak dari kakak perempuannya, rahang tegas Asher tampak mengeras kaku. Sepasang mata kelabunya memicing tajam, menatap Eleanor dengan pandangan yang sarat akan rasa jengkel yang tertahan.
Asher langsung mengelak dengan nada suara baritonnya yang sangat rendah, flat, dan sedingin es, mencoba mempertahankan topeng harga dirinya yang angkuh di depan publik. "Jangan konyol, Eleanor. Aku hadir malam ini karena aku memang ingin hadir dan memeriksa ke mana perginya dana miliaran dolar yang kukirimkan ke yayasanmu setiap tahun. Kehadiranku di sini adalah murni karena urusan efisiensi bisnis, bukan karena siapa atau apa pun, apalagi karena foto tidak penting yang kau kirimkan itu."
Mendengar jawaban gengsi dari adiknya yang keras kepala itu, Eleanor tidak bisa menahan diri untuk tidak memutar kedua bola matanya dengan malas. Dia tahu betul isi kepala Asher; jika pria itu benar-benar menganggap foto Chloe tidak penting, dia tidak akan mungkin membatalkan seluruh jadwal penting organisasinya di pelabuhan barat dan terbang menggunakan helikopter pribadi hanya untuk tiba di ballroom ini dalam waktu kurang dari tiga jam.
Namun, Eleanor memilih untuk menghindari perdebatan lebih lanjut di tengah keramaian acara resmi ini. Dia tidak ingin merusak momen kemenangan kecilnya yang berhasil menyeret si beruang kutub keluar dari sarangnya.
"Baiklah, baiklah... jika itu yang membuatmu merasa lebih tenang, Tuan Sterling yang terhormat," sahut Eleanor sembari terkekeh pelan, mengangkat gelasnya ke udara sebagai tanda menyerah yang jenaka. "Aku akan mengiyakan saja semua alasan bisnismu itu."
Meskipun mulutnya berkata demikian, sepasang mata kelabu Eleanor terus memperhatikan dengan sangat jeli bagaimana jari-jari tangan kanan Asher yang melingkar di pinggang Chloe tidak pernah bergeser satu milimeter pun. Setiap kali ada pria muda dari kalangan eksekutif yang melintas di dekat meja mereka dan melirik ke arah Chloe, tubuh Asher akan secara otomatis bergeser beberapa senti, memposisikan dada bidangnya yang tegap untuk menghalangi pandangan pria tersebut dari istrinya. Posesivitas yang ditunjukkan oleh Asher malam ini sudah berada di tingkat yang sangat ekstrem, sebuah perlindungan yang sangat protektif yang bahkan belum pernah Eleanor lihat dilakukan oleh adiknya kepada barang berharga apa pun di dunia ini selama hidupnya.
Di dalam kurungan lengan kekar suaminya, Chloe hanya bisa diam seribu bahasa. Dia merasa seolah-olah dia sedang berdiri di tengah-tengah medan magnet yang sangat kuat. Di satu sisi, rangkulan Asher yang kokoh dan hangat di pinggangnya memberikan sebuah rasa aman tak kasat mata yang melindunginya dari tatapan-tatapan menilai dan kamera-kamera pers yang haus berita di luar sana. Namun di sisi lain, ingatan tentang ancaman kejam Asher kemarin pagi dan gema suara siksaan kejam yang dia dengar dari ruang kerja pria itu semalam terus berputar di kepalanya, menciptakan sebuah alarm bahaya yang berteriak nyaring di dalam hatinya.
Sikap Asher malam ini benar-benar membingungkan bagi akal sehat Chloe. Pria ini memperlakukannya seperti sebuah permata paling berharga di depan ratusan pasang mata, membelikannya satu set perhiasan langka seharga dua puluh juta dolar tanpa berkedip, dan mendekapnya dengan begitu erat seolah-olah dia adalah dunianya. Namun di balik semua sandiwara kemesraan publik ini, Chloe bisa merasakan amarah yang dingin dan pekat yang masih tertahan di dalam aliran darah Asher, sebuah bom waktu yang siap meledak begitu mereka kembali menginjakkan kaki di balik dinding-dinding sunyi mansion Sterling nanti.
Chloe hanya bisa menarik napas pendek dan pasrah, membiarkan tubuh mungilnya terus dituntun dan dikendalikan oleh sang pangeran kegelapan di tengah kilau lampu kristal ballroom yang perlahan mulai terasa menyesakkan jiwanya.