NovelToon NovelToon
Pria Pembuly Yang Menjadi Takdirku

Pria Pembuly Yang Menjadi Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: nana_riana

Dulu, Alya hanya gadis pendiam yang selalu menjadi sasaran ejekan di sekolah. Hari-harinya dipenuhi rasa takut, terutama karena Reno,ketua geng paling disegani sekaligus pria yang paling sering membuat hidupnya terasa menyakitkan. Bagi Alya, Reno adalah luka yang ingin ia lupakan selamanya.
Namun takdir mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun berlalu.
Kini, Alya telah berubah menjadi wanita mandiri dan sukses, sementara Reno bukan lagi remaja arogan seperti dulu. Di balik sikap dinginnya, Reno menyimpan penyesalan yang tak pernah sempat ia ungkapkan. Pertemuan mereka kembali membuka kenangan lama, menghadirkan benci yang perlahan berubah menjadi perasaan yang tak terduga.
Bisakah seseorang yang pernah menyakitimu menjadi rumah terbaik untuk hatimu? Atau masa lalu akan tetap menjadi penghalang di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10 — Memilih Bertahan

Reno berdiri diam di balik pintu kamar rawatnya.

Tatapannya tertuju pada Alya dan ibunya yang masih berbicara di lorong rumah sakit. Meski tubuhnya masih lemah, jantungnya berdegup keras mendengar jawaban Alya tadi.

“Sekarang saya malah takut kehilangan dia.”

Kalimat itu terus terulang di kepalanya.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam tekanan keluarga, Reno merasa ada seseorang yang benar-benar memilihnya karena dirinya sendiri.

Bukan karena nama Mahardika.

Bukan karena harta.

Tapi karena Reno.

Tak lama kemudian, Alya kembali masuk ke kamar.

Begitu melihat Reno sudah duduk di tepi ranjang, Alya langsung panik.

“Kamu kenapa turun dari kasur?!”

Reno tersenyum kecil. “Aku bosan tiduran terus.”

“Kepalamu masih luka.”

“Tapi hatiku udah agak sembuh.”

Alya mengernyit bingung. “Apa hubungannya?”

Reno menatapnya lekat-lekat.

“Karena aku dengar semuanya.”

Wajah Alya langsung membeku.

“K-kamu dengar?”

“Semua.”

Pipi Alya seketika memerah.

“Astaga…” Ia langsung menutup wajahnya malu. “Harusnya aku nggak ngomong begitu.”

“Kenapa?” Reno tertawa kecil. “Aku senang dengarnya.”

Alya semakin salah tingkah.

Sementara Reno perlahan mendekat meski langkahnya masih sedikit lemah.

“Alya.”

“Hmm?”

“Kalau kamu takut kehilangan aku…” suara Reno melembut, “berarti aku masih punya kesempatan, kan?”

Jantung Alya kembali kacau.

Tatapan pria itu terlalu serius untuk dianggap bercanda.

“Aku nggak tahu,” jawab Alya jujur.

Reno mengangguk pelan. “Nggak apa-apa.”

Pria itu lalu mengangkat tangan perlahan dan menggenggam jemari Alya dengan hati-hati.

“Aku bisa nunggu.”

Hangat.

Sentuhan Reno kini terasa begitu berbeda bagi Alya.

Tidak lagi menakutkan.

Justru membuatnya merasa tenang.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka cukup keras.

Ayah Reno masuk dengan wajah dingin.

Tatapannya langsung jatuh pada tangan mereka yang saling menggenggam.

“Ayah.”

Reno langsung berdiri tegak di depan Alya secara refleks.

Pria paruh baya itu mendekat perlahan dengan aura mengintimidasi yang kuat.

“Kamu masih belum menyerah juga?” tanyanya dingin pada Alya.

Alya menahan napas pelan.

Namun sebelum ia sempat menjawab, Reno lebih dulu berbicara.

“Jangan bicara seperti itu ke Alya.”

“Kamu membantah Ayah lagi demi perempuan ini?”

“Iya.”

Jawaban Reno begitu cepat dan tegas hingga suasana langsung membeku.

Tatapan ayahnya berubah semakin tajam.

“Kamu rela kehilangan semuanya?”

Reno menggenggam tangan Alya lebih erat.

“Aku rela.”

Deg.

Alya langsung menoleh menatap Reno kaget.

“Reno…”

Namun pria itu tidak mengalihkan pandangannya dari ayahnya sedikit pun.

“Seumur hidup Ayah selalu ngatur semua keputusan aku.” Nada suara Reno rendah namun penuh emosi. “Sekarang aku cuma mau memilih satu hal sendiri.”

Ayahnya tertawa kecil penuh amarah.

“Dan pilihanmu perempuan ini?”

“Bukan.” Reno menoleh sebentar ke arah Alya dengan tatapan lembut. “Pilihan aku adalah hidup yang bikin aku bahagia.”

Kalimat itu membuat mata Alya perlahan berkaca-kaca.

Karena ia bisa melihat dengan jelas—

Reno benar-benar mempertaruhkan segalanya demi dirinya.

“Ayah kasih kamu waktu,” ujar pria itu dingin. “Kalau kamu tetap memilih perempuan ini… keluar dari keluarga Mahardika.”

Suasana langsung sunyi.

Namun Reno tidak terlihat goyah sedikit pun.

“Baik.”

Jawaban singkat itu membuat ayahnya membeku sesaat sebelum akhirnya pergi dengan wajah penuh kemarahan.

Pintu tertutup keras.

Dan setelah keheningan beberapa detik, Alya langsung menatap Reno panik.

“Kamu gila?!”

Reno malah tersenyum kecil.

“Mungkin.”

“Kamu bisa kehilangan semuanya!”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa tetap pilih aku?!”

Tatapan Reno perlahan melembut begitu dalam.

“Karena tanpa kamu…” bisiknya lirih, “semua itu nggak ada artinya lagi buat aku.”

Dan di detik itu, pertahanan terakhir di hati Alya akhirnya runtuh sepenuhnya.Air mata Alya jatuh begitu saja.

Ia bahkan tidak sempat menahannya.

“Reno…” suaranya bergetar pelan. “Kamu jangan ngomong kayak gitu.”

“Kenapa?”

“Karena aku takut.”

Reno mengernyit lembut. “Takut apa?”

Alya menatap pria di depannya dengan mata berkaca-kaca.

“Takut suatu hari nanti kamu nyesel udah pilih aku.”

Suasana kamar rumah sakit mendadak terasa sangat sunyi.

Reno perlahan mendekat, lalu menghapus air mata Alya dengan ujung jarinya secara hati-hati.

“Aku lebih takut nyesel karena kehilangan kamu lagi.”

Deg.

Kalimat itu menghantam hati Alya begitu dalam.

Dan sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, Reno tiba-tiba menarik tubuh Alya pelan ke dalam pelukannya.

Hangat.

Nyaman.

Alya langsung membeku beberapa detik.

Namun perlahan, tangannya mulai membalas pelukan itu dengan ragu-ragu.

Reno tersenyum kecil sambil menyandarkan dagunya di atas kepala Alya.

“Akhirnya kamu peluk balik.”

Pipi Alya langsung memanas.

“Kamu cerewet.”

“Tapi kamu suka.”

Alya mendengus pelan meski sudut bibirnya mulai terangkat kecil.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa begitu tenang berada di dekat seseorang.

Seolah semua rasa takutnya perlahan mereda saat Reno memeluknya.

Keesokan paginya, kondisi Reno sudah jauh lebih baik.

Dokter bahkan memperbolehkannya pulang setelah pemeriksaan terakhir selesai.

Namun sejak pagi, ponsel Reno terus berdering tanpa henti.

Pesan dari keluarga.

Telepon dari relasi bisnis.

Bahkan berita tentang dirinya dan Alya semakin menyebar luas di internet.

Alya yang membaca beberapa komentar langsung mengernyit sedih.

“Orang-orang jahat banget.”

Reno melirik layar ponsel Alya sekilas lalu mengambilnya pelan.

“Jangan dibaca.”

“Tapi mereka ngomong buruk tentang kamu juga.”

“Aku biasa.”

“Tetap aja nyebelin.”

Reno tersenyum kecil melihat wajah kesal Alya.

Lucu.

Wanita itu sekarang mulai marah saat orang lain menyakitinya.

Dan itu membuat hati Reno terasa hangat.

“Alya.”

“Hm?”

“Aku mau tanya sesuatu.”

Tatapan Reno mendadak serius.

Jantung Alya langsung berdegup lebih cepat.

“Apa?”

Reno menggenggam tangan Alya perlahan.

“Kita jalanin ini sama-sama?”

Deg.

Napas Alya terasa tercekat.

Meski Reno tidak mengucapkan kata pacaran secara langsung, Alya tahu maksud pria itu.

Dan anehnya…

Ia tidak merasa takut seperti dulu.

Yang ada justru rasa hangat yang memenuhi dadanya perlahan.

Namun sebelum Alya sempat menjawab, suara seseorang tiba-tiba terdengar dari depan pintu kamar.

“Wah, jadi benar kalian dekat.”

Mereka langsung menoleh bersamaan.

Vanessa berdiri di sana sambil membawa buket bunga besar.

Wanita itu tersenyum jahil saat melihat tangan Alya dan Reno yang masih saling menggenggam.

“Aku ganggu nggak nih?”

Alya langsung salah tingkah dan buru-buru melepaskan tangannya.

Sementara Reno justru terlihat kesal.

“Kamu lagi.”

Vanessa tertawa kecil lalu masuk ke dalam kamar.

“Aku cuma mau jenguk pasien.” Ia melirik Reno dari atas sampai bawah. “Ternyata masih hidup.”

“Kecewa?”

“Sedikit.”

Alya tanpa sadar tertawa kecil mendengar percakapan mereka.

Dan Reno langsung menatap Alya cukup lama.

Karena itu pertama kalinya ia melihat Alya tertawa selepas itu di depannya.

Cantik.

Sangat cantik.

Vanessa yang menyadari tatapan Reno langsung menghela napas dramatis.

“Ya ampun, tatapan jatuh cintanya norak banget.”

“Diam.”

“Aku jadi iri.” Vanessa mendekat ke Alya sambil berbisik pelan, “Selamat ya. Kamu berhasil bikin manusia batu ini punya perasaan.”

Pipi Alya langsung memerah lagi.

Namun di tengah suasana hangat itu, tidak ada yang sadar seseorang sedang memperhatikan mereka dari luar pintu kamar.

Seorang pria muda dengan tatapan tajam berdiri diam sambil menatap Alya tanpa berkedip.

Dan entah kenapa…

Tatapan itu terlihat penuh kebencian.

1
tinuet'z
sangat menarik
partini
hoki Banggt si Reno di cinta ugal-ugalan wehhh mau sakiti Ampe darah" tetep cinta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!