Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 SATU LANGKAH LEBIH MAJU
Sepulang dari kantor Bank Suka, Abdul tidak langsung kembali ke rumah.
Ia memarkir mobilnya di sebuah warung kopi sederhana yang berada tidak jauh dari jalan utama kota.
Segelas teh hangat terhidang di depannya.
Namun pikirannya masih tertinggal di kantor bank tadi.
Pak Rudi memang bersikap ramah.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada tuduhan.
Bahkan mereka justru menawarkan layanan nasabah prioritas.
Tetapi satu kalimat terakhir dari pria itu terus terngiang di kepalanya.
"Pusat sempat meminta kami melakukan pengecekan rutin terhadap beberapa transaksi yang nilainya cukup besar."
Abdul mengaduk teh perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak keajaiban misterius itu hadir dalam hidupnya, ia mulai sadar bahwa jumlah uang yang terus masuk ke rekeningnya suatu saat pasti akan menarik perhatian.
"Bukan masalah sekarang..."
"Tapi mungkin nanti."
gumamnya pelan.
Namun beberapa detik kemudian ia menggeleng.
Memikirkan sesuatu yang belum terjadi tidak akan menyelesaikan apa pun.
Lagipula selama ini ia tidak pernah melakukan kejahatan.
Tidak pernah menipu.
Tidak pernah mencuri.
Semua uang itu datang begitu saja melalui Keajaiban misterius yang bahkan dirinya sendiri tidak mengerti.
Pada akhirnya Abdul memutuskan untuk fokus pada hal-hal yang bisa ia kendalikan.
Dan saat ini...
Hal paling penting adalah keluarganya dan panti asuhan.
Keesokan paginya pembangunan Panti Asuhan Harapan Bunda resmi dimulai.
Sebuah ekskavator kecil memasuki area panti.
Beberapa bagian bangunan tua yang paling rusak mulai dibongkar secara bertahap.
Anak-anak panti yang berdiri di halaman tampak antusias melihat alat berat bekerja.
"Besar banget!"
"Wah, temboknya roboh!"
"Kayak di TV!"
teriak beberapa anak dengan mata berbinar.
Di antara mereka, Doni terlihat paling bersemangat.
Bocah itu bahkan terus mengikuti pergerakan ekskavator dari satu sisi ke sisi lainnya.
"Doni, jangan terlalu dekat!"
teriak Bu Aminah dari kejauhan.
"Iyaaa, Bu!"
jawab Doni sambil tertawa.
Sementara itu Cak Imron berdiri di tengah proyek sambil memegang gambar kerja.
"Bagian aula lama bongkar dulu!"
"Yang sisi kanan hati-hati, masih ada anak-anak lewat!"
Para pekerja segera mengangguk dan melaksanakan instruksi.
Abdul yang berdiri tidak jauh dari sana merasa dadanya hangat.
Beberapa bulan lalu tempat ini hampir tidak mampu membeli beras.
Kini pembangunan besar sedang berjalan.
Kadang hidup memang aneh.
Siang harinya.
Abdul kembali mengantar bapaknya menjalani terapi.
Hari itu menjadi salah satu hari yang cukup penting.
Karena untuk pertama kalinya, fisioterapis Nita mencoba melatih Bapak Abdul berdiri lebih lama menggunakan alat bantu.
Awalnya cukup sulit.
Tubuh pria tua itu masih gemetar.
Kakinya belum kuat menopang beban tubuh secara penuh.
Namun perlahan...
Sedikit demi sedikit...
Kemajuan mulai terlihat.
"Bagus, Pak."
"Satu langkah lagi."
kata Nita memberi semangat.
Bapak Abdul mengerahkan seluruh tenaganya.
Keringat membasahi dahinya.
Lalu...
Kakinya bergerak.
Satu langkah kecil.
Sangat kecil.
Namun nyata.
Ibu Abdul langsung menutup mulutnya.
Air mata mengalir tanpa bisa ditahan.
"Bapak..."
bisiknya lirih.
Abdul yang berdiri di samping juga ikut merasakan tenggorokannya mengencang.
Satu langkah.
Bagi orang sehat mungkin tidak berarti apa-apa.
Namun bagi mereka...
Itu adalah kemenangan besar.
Malam harinya suasana rumah terasa jauh lebih hangat dari biasanya.
Bapak Abdul tampak lebih banyak tersenyum.
Ia bahkan beberapa kali mencoba bercanda meski kata-katanya masih terbata-bata.
Melihat perubahan itu membuat hati Abdul terasa sangat lega.
Saat makan malam selesai, Ibu Abdul tiba-tiba berbicara.
"Dul."
"Iya, Bu?"
"Ibu mau bilang sesuatu."
Abdul langsung menoleh.
"Apa?"
Wanita itu tersenyum lembut.
"Terima kasih."
Abdul terdiam.
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya."
"Untuk rumah ini."
"Untuk bapak."
"Untuk usaha yang sekarang jalan."
"Mungkin ibu gak ngerti gimana caranya kamu bisa sampai sejauh ini."
"Tapi ibu bangga sama kamu."
Mata Abdul langsung terasa hangat.
Ia tersenyum kecil.
"Lho, kok jadi serius begini."
Ibu Abdul tertawa pelan.
Namun air mata tetap terlihat di sudut matanya.
Malam semakin larut.
Setelah memastikan semua orang beristirahat, Abdul kembali masuk ke kamarnya.
Ia duduk di tepi kasur sambil memandang jendela.
Hari-hari terakhir terasa begitu penuh.
Pembangunan rumah.
Workshop.
Panti.
Terapi bapaknya.
Dan kini perhatian dari pihak bank mulai muncul.
Namun anehnya...
Ia tidak merasa takut.
Justru ia merasa hidupnya kini memiliki tujuan yang jauh lebih jelas dibanding sebelumnya.
Tak lama kemudian rasa kantuk mulai datang.
Kelopak matanya terasa semakin berat.
Dan perlahan...
Ia kembali tertidur.
Dalam mimpinya kali ini, Abdul mendapati dirinya berada di sebuah perpustakaan yang sangat besar.
Rak-rak buku menjulang tinggi hingga sulit melihat ujungnya.
Ribuan buku tersusun rapi.
Di tengah ruangan terdapat sebuah meja kayu panjang.
Di atas meja itu terletak sebuah buku tua berlapis kulit cokelat.
Entah kenapa Abdul merasa harus membukanya.
Saat halaman pertama dibuka...
Bukan tulisan yang muncul.
Melainkan deretan angka.
Halaman kedua.
Angka lagi.
Halaman ketiga.
Masih angka.
Semua halaman dipenuhi angka-angka keuangan.
Lalu ketika sampai di bagian tengah buku...
Sebuah nominal besar tercetak menggunakan tinta emas.
Rp300.000.000,00
Angka itu bersinar terang.
Semakin terang.
Semakin terang.
Hingga akhirnya seluruh perpustakaan berubah menjadi lautan cahaya keemasan.
Di dunia nyata...
Pukul 04.50 pagi.
Ponsel Abdul kembali menyala dengan sendirinya.
Cahaya emas lembut memenuhi layar.
Tulisan sistem muncul satu demi satu.
[Sistem Keberuntungan Kaum Rebahan Berhasil Memindai Gelombang Otak Subjek.]
[Mimpi Alami Berunsur Finansial Terdeteksi: Arsip Pengetahuan Finansial.]
[Nominal Akumulasi Visual Dalam Mimpi: Rp300.000.000,00.]
[Melakukan Konversi Energi Astral Mimpi Menjadi Saldo Rekening Nyata...]
[Proses Konversi Berhasil...]
[Pengiriman Dana Sedang Berlangsung...]
Beberapa detik kemudian...
Bzzzt...
Bzzzt...
Notifikasi SMS kembali masuk.
Dan tanpa disadari Abdul yang masih terlelap...
Saldo rekeningnya kembali bertambah ratusan juta rupiah.
Sementara itu, jauh di kantor pusat Bank Suka...
Sebuah laporan audit baru saja mendarat di meja seorang manajer senior.
Laporan yang memuat satu nama yang kini mulai berulang kali muncul dalam sistem.
ABDUL.
Dan untuk pertama kalinya...
Kasus rekening misterius itu mulai naik ke tingkat pemeriksaan yang lebih tinggi.