Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎
Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.
Dulu dipuji, kini dihina.
Dulu didekati, kini dijauhi.
Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingatan Sang Kaisar Pedang
Di dalam paviliunnya yang sunyi, Xiao Ba masih duduk tegak dalam posisi meditasi.
Namun kali ini, ia tidak sedang mengumpulkan energi Qi atau memperkuat meridiannya.
Ia sedang menjelajahi lautan kesadarannya, memasuki salah satu bintang yang belum ia sentuh sejak pertama kali ribuan cahaya itu berjatuhan ke dalam benaknya. Bintang ini terasa berbeda dari yang lain. Lebih berat. Lebih dalam. Seolah menyimpan sesuatu yang bukan sekadar teknik atau pengetahuan, melainkan sebuah kehidupan utuh yang terekam di dalamnya.
Perlahan, seperti tangan yang mengurai benang kusut, Xiao Ba mulai membuka ingatan yang tersimpan di dalam bintang itu.
Gambar-gambar mengalir masuk ke benaknya satu per satu.
Dunia yang berbeda. Langit yang berbeda. Kekuatan yang berbeda.
"Jadi tempat ini adalah dunia bawah. Masih ada dunia tengah dan dunia langit," gumam Xiao Ba di dalam hatinya.
Xiao Ba menyerap informasi itu dengan diam, membiarkan potongan-potongan gambar itu tersambung dengan sendirinya seperti puzzle yang menemukan tempatnya masing-masing.
Ia melihat seorang pria di dalam ingatan itu, pria yang perjalanannya dimulai dari dunia bawah yang tidak berbeda jauh dari tempatnya berdiri sekarang, lalu naik menembus dunia tengah, dan akhirnya mencapai puncak dunia langit. Bukan sekadar mencapainya, ia menjadi penguasanya.
Namun ada sesuatu yang lebih mengejutkan dari sekadar perjalanan luar biasa itu.
Saat Xiao Ba menatap lebih dalam ke wajah pria dalam ingatan tersebut, ada perasaan aneh yang menghantam dadanya—perasaan seperti melihat cermin. Garis wajahnya, tatapan matanya, bahkan cara ia berdiri dan membawa dirinya.
"Kenapa seperti aku melihat diriku sendiri pada orang ini? Apakah dia leluhur Keluarga Xiao? Tapi kenapa kami hanya berdiam di kota kecil ini jika pernah punya leluhur sehebat ini?"
Ingatan itu terus berputar.
Xiao Ba melihat pria itu duduk di atas singgasana. Bukan singgasana biasa, melainkan singgasana yang memancarkan tekanan aura yang bahkan dari dalam ingatan pun terasa menghantam kesadarannya. Keseimbangan dan kedamaian terpancar dari wajah tampannya yang terlihat muda meski sudah berumur ratusan tahun. Kehangatan dan kebaikan yang tulus memancar dari sorot matanya, bukan kehangatan yang dibuat-buat oleh seseorang yang ingin terlihat baik, melainkan kehangatan yang lahir dari dalam.
Ini adalah Kaisar Langit.
Dan kemudian, gambar itu berubah.
Wajah yang penuh kedamaian itu mendadak diselimuti sesuatu yang lain. Pengkhianatan. Racun yang dialirkan oleh tangan-tangan yang paling ia percaya: panglima besar kerajaannya sendiri, dan seseorang yang ternyata adalah Ratu Agung Kerajaan Langit.
Tingkat kultivasinya yang luar biasa mulai anjlok, digerogoti oleh racun yang dirancang khusus untuk merobohkan bahkan yang terkuat sekalipun.
"Ingatan ini benar-benar terasa nyata," gumam Xiao Ba dalam hatinya.
Ia menyaksikan sang Kaisar Langit diburu oleh ribuan prajurit. Pasukan yang dulu bersumpah setia padanya, kini mengejar nyawanya atas perintah para pengkhianat. Namun bahkan dalam kondisi diracun dan dengan kekuatan yang terus melemah, sang Kaisar masih melumpuhkan ribuan orang di antara mereka sebelum akhirnya memilih kabur.
Bukan karena takut.
Melainkan karena ia tidak sendirian.
Di tangannya, ia menggendong seorang anak perempuan kecil yang usianya mungkin baru sekitar sembilan tahun. Mereka terbang bersama menembus pegunungan, melewati batas dunia langit, dengan ribuan prajurit dan panglima terus mengejar di belakang mereka.
Hingga akhirnya, kekuatan sang Kaisar benar-benar mencapai batasnya.
Ia menemukan sebuah gua di salah satu puncak tebing yang menghadap ke laut tak bertepi. Di sana, ia menaruh anak perempuan itu dengan hati-hati, lalu melepaskan kalung dari lehernya sendiri dan memakaikannya ke leher sang anak.
"Teruslah hidup, meskipun kamu harus terbuang ke dunia bawah. Ingatlah, suatu saat keturunan kita akan kembali ke langit dan merebut kembali apa yang diambil para pengkhianat itu."
Kata-kata itu diucapkan dengan suara yang tenang, tidak mengandung kepanikan atau keputusasaan. Hanya keyakinan yang dalam dan hangat dari seorang yang bahkan di ambang kehancurannya masih memikirkan orang lain.
Setelah itu, sang Kaisar kembali terbang keluar dari gua, sengaja memancing perhatian para pengejarnya menjauh dari anak perempuan itu.
Ingatan berhenti di sana.
Xiao Ba membuka matanya perlahan.
Ia masih dalam posisi duduk lotus di atas lantai paviliunnya, namun sesuatu dalam dirinya terasa berbeda. Seperti seseorang yang baru saja membaca satu halaman penting dari buku yang selama ini hanya ia pegang tanpa pernah dibuka.
Tangannya bergerak refleks ke lehernya.
Kosong. Manik itu sudah tidak ada di sana, sudah masuk ke dalam dantian-nya, menjadi pagoda emas sembilan tingkat yang kini berdiri kokoh di pusat energinya.
"Kalung ini adalah warisan Kaisar Langit," gumamnya pelan, suaranya nyaris tidak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri. "Tapi bagaimana bisa sampai ke dunia bawah dan ada di tangan Ibu?"
Pertanyaan itu berputar-putar di benaknya.
Anak perempuan kecil yang digendong sang Kaisar Langit. Kalung yang sama yang dipakaikan ke lehernya sebelum sang Kaisar pergi mengalihkan perhatian para pengejarnya. Kalung yang kemudian entah bagaimana, setelah ribuan tahun yang menjadi jurang waktu antara kejadian itu dan kenyataan saat ini, berakhir di tangan ibunya.
Ibunya yang namanya bahkan tidak ia ketahui.
"Di mana Ibuku mendapatkan kalung ini? Apa hubungannya dengan kejadian dalam ingatan tadi?"
Xiao Ba menggeleng pelan. Pertanyaan-pertanyaan itu belum bisa dijawab sekarang, mungkin tidak akan bisa dijawab sampai ia menemukan ibunya dengan tangannya sendiri.
"Sudahlah. Nanti akan terjawab setelah aku menemukan Ayah dan Ibu. Saat ini, aku harus meningkatkan kekuatanku terlebih dahulu."
Ia menarik napas dalam-dalam, meluruskan kembali pikirannya yang sempat ikut hanyut dalam gulungan ingatan tadi.
Dengan pemahaman baru yang ia dapatkan dari bintang ingatan itu—pemahaman tentang dunia tengah, dunia langit, dan jalan yang pernah ditempuh sang Kaisar dari titik paling bawah hingga puncak tertinggi—Xiao Ba kembali menjalankan Teknik Kultivasi Kaisar Langit.
Kali ini ia tidak sekadar menstabilkan alam kultivasinya.
Ia ingin menembus batas berikutnya.
Energi Qi dari luar mengalir masuk dengan deras melalui meridiannya yang terus melebar, seperti sungai yang menemukan saluran baru yang lebih lebar setiap kali ia berhasil memperluasnya. Pagoda emas di dantian-nya bersinar lebih terang, menyerap setiap aliran energi yang masuk dan memurnikannya menjadi sesuatu yang jauh lebih bersih dan padat dari Qi biasa.
Sementara itu, di markas Klan Cakar Hitam yang kini sebagian temboknya telah hancur akibat pertarungan sebelumnya, Xiao Sun berdiri dengan aura yang kacau.
Tubuhnya yang berpakaian putih kini kotor oleh debu dan percikan darah. Napasnya masih stabil, namun siapa pun yang bisa membaca aura seorang kultivator akan menyadari bahwa Patriark Keluarga Xiao sedang berada dalam kondisi yang tidak baik.
Di belakang Nanggong Ming yang berdiri dengan tenang seolah pertarungan tadi tidak menguras setetes pun energinya, Li Feng sudah berdiri kembali sambil tertawa keras.
"Hahaha! Ajalmu sudah dekat, orang tua! Maju lagi kalau berani!"
Xiao Sun menatap Nanggong Ming dengan mata yang tidak berkedip.
"Pukulan Angin Phoenix, Langkah Kedua!"
Patriark Keluarga Xiao melepaskan pukulannya sekali lagi. Seribu bayangan tinju kembali dilepaskan mengarah ke tubuh Li Feng yang berdiri di belakang Nanggong Ming.
Bayangan tinju menyeruak menuju Li Feng. Batu dan debu beterbangan di mana-mana. Energi yang dilepaskan Patriark Xiao tidak main-main. Ia ingin menghabisi Li Feng yang menjadi perantara kehancuran cucunya.
Melihat bayangan tinju yang melesat ke dirinya, Li Feng berteriak meminta pertolongan, "Pelindung Agung, apakah kamu menunggu aku tewas baru bergerak?!"
Syut!
Sebelum pukulan Patriark Xiao sampai ke Li Feng, sesosok bayangan tiba-tiba melesat dari bangunan belakang. Nanggong Ming berdiri di depan Li Feng, memancarkan aura Prajurit Surgawi Tingkat Puncak secara penuh.
"Tinju Elemen Api!"
Tinju raksasa dari kobaran api muncul berbenturan dengan bayangan tinju milik Patriark Xiao.
DUAAR!
Pertemuan dua energi dari alam Prajurit Surgawi Tingkat 8 dan alam Prajurit Surgawi Tingkat Puncak menghasilkan benturan yang dahsyat. Dari balik debu yang beterbangan dan asap yang mengepul, sesosok berpakaian putih terlempar ratusan meter ke belakang. Darah terpercik keluar dari mulutnya.
Patriark Xiao kalah. Alam Prajurit Surgawi Tingkat 8 miliknya belum dapat mengimbangi kekuatan Pelindung Agung Klan Cakar Hitam.
Perbedaan satu tingkatan memang terdengar sedikit. Tapi perbedaan kekuatannya sebenarnya cukup berjarak.
Setelah terlempar ratusan meter, Patriark Xiao akhirnya bisa berdiri kembali menyeimbangkan badannya. Aura dari tubuh Patriark Xiao terasa kacau.
Li Feng yang sudah bisa berdiri kembali di belakang Nanggong Ming tertawa keras melihat Patriark Xiao dikalahkan.
"Hahaha, ajalmu sudah dekat, orang tua! Kamu tadi sangat sombong, ayo maju pukul aku lagi!"
Dari kejauhan, dua bayangan melesat di antara batu-batu karang besar.
Penatua Ketiga Xiao Shu dan Penatua Keempat Xiao Lao akhirnya tiba.
Xiao Shu langsung berdiri di depan Xiao Sun, menatap ke arah Nanggong Ming dengan ekspresi yang mencampur antara ketakutan dan tekad.
"Tuan Nanggong," kata Xiao Shu dengan nada yang berusaha terdengar tenang, "mohon untuk melupakan kejadian hari ini. Kami akan memberikan lima juta batu spiritual tingkat rendah sebagai kompensasi."
Ia dan Xiao Lao sadar bahwa mereka bukan tandingan Nanggong Ming. Sementara Patriark Xiao sudah dipastikan akan kalah dan tewas jika terus melawan.
"Huuu, semurah itu harga nyawa Patriark kalian? Kalau begitu, mati saja," katanya sambil bergerak ke arah Patriark Xiao.
Melihat itu, Penatua Ketiga Xiao Shu dan Penatua Keempat Xiao Lao mulai panik. "Tujuh juta batu spiritual tingkat rendah! Itu sudah menguras pendapatan keluarga kami!" teriak Xiao Shu.
Mendengar tawaran Penatua Ketiga Xiao Shu, Nanggong Ming menghentikan gerakannya.
"Beri kami waktu beberapa saat untuk kembali mengambilnya," sambung Xiao Lao.
Nanggong Ming hanya mengangguk sambil tertawa terbahak-bahak, kemudian melesat kembali ke dalam markas Klan Cakar Hitam. Tawanya masih terdengar bahkan setelah sosoknya lenyap di balik pintu.
Ratusan anggota Klan Cakar Hitam yang melihat pertarungan itu makin semangat melihat kemampuan pelindung agung mereka.
"Apanya yang dari keluarga besar. Di depan pelindung agung, dia seperti ikan yang terlempar ke darat," cibir anggota Klan Cakar Hitam.
Xiao Sun berdiri dalam diam menanggung semua itu.
Di dalam paviliunnya, Xiao Ba membuka matanya sejenak.
Melalui indra spiritualnya, ia sudah menangkap seluruh jalannya kejadian di markas Klan Cakar Hitam: suara pertarungan, benturan energi, dan akhirnya negosiasi yang memaksa Keluarga Xiao melepaskan tujuh juta batu spiritual.
Ia tidak bergerak.
Namun di dalam lautan kesadarannya, satu nama baru ia ukir dengan sangat jelas.
Nanggong Ming. Pelindung Agung Klan Cakar Hitam. Prajurit Surgawi Tingkat Puncak.
"Utang ini akan kubayar," gumamnya dalam hati, suaranya tenang seperti permukaan Teluk Beira di pagi hari, "dengan bunga yang berlipat ganda."
pertahankan👌