Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan maaf dan pembuatan kontrak
Keheningan di dalam ruang rapat utama lantai teratas Mahardika Group terasa begitu pekat, seolah selembar tisu yang jatuh ke atas karpet wol rajutan tangan itu pun akan terdengar seperti hantaman keras.
Belasan sepasang mata dewan komisaris tertuju pada satu titik: Baskoro Mahardika. Pria tua yang selama puluhan tahun dikenal sebagai diktator berdarah dingin di dunia bisnis Indonesia itu kini terpaku di kursi kebesarannya.
Di seberang meja, Gibran berdiri tegak, melipat kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi sedingin es.
Di sampingnya, Nayla berdiri dengan jemari yang saling bertautan, menahan gejolak emosi yang masih tersisa di dadanya.
Baskoro menarik napas panjang. Guratan usia di wajahnya mendadak tampak lebih kentara dari biasanya. Ia menatap Hendra yang masih bersimpuh di lantai dengan tatapan kecewa, lalu beralih menatap Valeria yang kini menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan, terisak pelan karena malu. Namun, pada akhirnya, tatapan sang Jenderal berlabuh pada Nayla.
Perlahan, Baskoro mendorong kursi roda eksekutifnya ke belakang, lalu berdiri. Tindakan itu membuat beberapa komisaris senior ikut menegakkan punggung. Baskoro berjalan mengitari meja panjang, langkah kakinya terdengar berat namun pasti, hingga ia berhenti tepat dua langkah di depan Nayla.
"Papa ..." Nayla berbisik kaku, instingnya sempat membuat ia ingin mundur, namun genggaman tangan Gibran yang tiba-tiba menyusup di jemarinya memberikan kekuatan instan.
Baskoro menundukkan kepalanya yang sudah dipenuhi rambut memutih. Sebuah gestur tunduk yang belum pernah dilakukan oleh seorang Baskoro Mahardika kepada siapa pun sepanjang sejarah berdirinya perusahaan ini.
"Nayla," suara Baskoro terdengar berat, serak, namun bergema jelas di setiap sudut ruangan. "Papa meminta maaf. Secara terbuka, di depan seluruh dewan direksi dan anak saya, Papa mengaku salah. Papa telah dibutakan oleh ego, status sosial, dan prasangka buruk hingga tega menuduhmu sebagai pencuri dan penipu."
Nayla terpaku. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini benar-benar luruh, namun kali ini bukan karena rasa sakit, melainkan karena beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya seolah diangkat paksa.
Seorang konglomerat terpandang baru saja menundukkan kepala di depannya, seorang gadis yang dulu bahkan harus berutang demi membeli beras.
"Papa tahu maaf saja tidak akan menghapus penghinaan yang kamu terima kemarin," lanjut Baskoro, kembali menegakkan tubuhnya dan menatap Nayla dengan pandangan yang kini melembut, ada kilatan rasa hormat yang tulus di sana.
"Tapi mulai hari ini, tidak akan ada satu pun orang di dalam maupun di luar gedung ini yang boleh meragukan posisimu sebagai menantu sah dari keluarga Mahardika. Siapa pun yang mengusikmu, artinya mereka sedang mengumumkan perang dengan saya."
Mendengar kalimat terakhir ayahnya, Gibran akhirnya melepaskan seringai tipis di sudut bibirnya. "Keputusan yang bijak, Papa. Dan untuk Mbak Valeria serta Saudara Hendra ..." Gibran menoleh ke arah Gunawan. "Serahkan mereka ke pihak kepolisian atas pasal pencurian aset digital, spionase industri, dan pencemaran nama baik. Pastikan pengacara terbaik kita mengawal kasus ini sampai mereka mendapatkan vonis maksimal."
"Gibran! Tolong, jangan dipenjara! Kita kan bisa bicarakan ini baik-baik!" jerit Valeria histeris saat petugas keamanan mulai menyeretnya keluar dari ruang rapat bersama Hendra. Namun, tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang menaruh simpati. Pintu rapat tertutup dengan debuman keras, mengakhiri drama sabotase yang sempat mengancam posisi Gibran.
Satu jam setelah badai di ruang rapat mereda, griya tawang mewah milik Gibran kembali menjadi pelabuhan yang tenang.
Sore itu, langit Jakarta di luar dinding kaca besar menampilkan semburat warna jingga dan keunguan yang sangat indah.
Nayla baru saja selesai mengganti pakaian kerjanya dengan kaus rumahan yang nyaman. Ia berjalan menuju balkon luar, di mana Gibran sudah berdiri bersandar pada pagar pembatas besi, menatap hamparan gedung pencakar langit dengan segelas air lemon di tangannya.
Nayla berjalan pelan, lalu ikut menyandarkan tubuhnya di sebelah Gibran. Angin sore meniup rambut kuncir ekor kudanya yang kini sudah dilepas, membiarkannya terurai bebas.
"Mas," panggil Nayla lembut.
Gibran menoleh, menaruh gelasnya di atas meja kecil, lalu memutar posisi tubuhnya menghadap Nayla. "Kenapa, Nyonya Detektif? Masih mau membahas sepatu pantofel mewah lagi?" godanya, senyum jenaka yang biasa kini kembali menghiasi wajah tampannya.
Nayla menggeleng, sebuah senyuman tulus terbit di bibir manisnya. "Terima kasih ya."
"Untuk?"
"Untuk semuanya. Untuk taruhan jabatan yang gila itu, untuk caramu melindungiku di depan Papa, dan ... untuk tidak pernah meragukanku, bahkan saat semua bukti digital menyudutkanku," tutur Nayla, matanya berkaca-kaca menatap lurus ke dalam manik mata elang Gibran.
Gibran terdiam sesaat. Tatapannya mendadak berubah menjadi begitu dalam dan hangat, sejenis tatapan yang sanggup membuat jantung Nayla berdegup dua kali lebih cepat dari ritme normalnya. Pria itu mengulurkan tangan, menyelipkan beberapa helai rambut Nayla ke belakang telinganya dengan gerakan yang sangat lembut.
"Nayla, sejak malam pertama kita menandatangani kontrak konyol itu di atas kertas bermeterai, gue sudah berjanji pada diri gue sendiri," ucap Gibran, suaranya rendah dan penuh ketulusan. "Pernikahan ini mungkin dimulai karena sebuah kesepakatan bisnis untuk menenangkan Mama. Tapi hati gue ... hati gue bukan barang investasi yang bisa diatur oleh klausul kontrak."
Gibran menarik tubuh Nayla mendekat, melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang ramping istrinya. "Saat gue melihat lu menangis ketakutan karena rentenir itu, dan saat gue melihat lu terhina di koridor kantor kemarin, gue sadar satu hal. Perasaan gue ke lu sudah melanggar semua aturan tertulis yang gue buat sendiri."
Jantung Nayla serasa berhenti berdetak mendengar pengakuan jujur dari mulut pria yang biasanya gengsi setengah mati ini. "Maksud... maksud Mas Gibran?"
Gibran terkekeh rendah, mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka terkikis habis. "Maksud gue ... Pihak Kesatu sepertinya sudah jatuh cinta setengah mati pada Pihak Kedua. Dan sayangnya, di dalam hukum perasaan, tidak ada opsi untuk pembatalan kontrak."
Nayla terpaku, pipinya seketika merona merah sehangat warna langit senja di belakang mereka. Rasa bahagia yang begitu membuncah membuat ia tidak bisa menahan dirinya lagi. Dengan keberanian yang entah datang dari mana, Nayla mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh Gibran, menyembunyikan wajah merahnya di dada bidang suaminya.
"Pihak Kedua ... juga merasakan hal yang sama, Mas," bisik Nayla pelan, suaranya teredam oleh kain kemeja Gibran.
Gibran tersenyum dengan kepuasan yang luar biasa. Ia mengeratkan pelukannya, mencium puncak kepala Nayla dengan penuh perasaan. "Oh ya? Kalau begitu, ada satu klausul kontrak yang harus kita ubah mulai detik ini."
Nayla mendongak, menatap Gibran dengan kening berkerut bingung. "Ubah apa?"
Gibran menatap jam tangannya secara teatrikal, lalu kembali menatap Nayla dengan binar nakal di matanya. "Klausul nomor empat belas tentang pembatasan durasi pelukan harian yang maksimal hanya sepuluh detik. Mulai hari ini, jam ini, menit ini ... kontrak itu resmi gue robek.
Kuota pelukan dan ciuman untuk istri gue ... sekarang berlaku seumur hidup dan tidak terbatas."
Nayla terperanjat, lalu tawa renyahnya pecah memenuhi area balkon sore itu. Ia mencubit dada Gibran dengan gemas. "Dasar CEO licik! Main ubah aturan sepihak!"
"Biarkan saja licik, yang penting istri gue bahagia," balas Gibran santai sebelum mengecup kening Nayla dengan lama dan penuh kelembutan, menyatukan sisa hari itu dalam kehangatan cinta yang kini tidak lagi terikat oleh selembar kertas kontrak, melainkan oleh takdir yang telah mereka pilih bersama.
sory ya thor 🙏