NovelToon NovelToon
THE BRITISH ROYAL FAMILY

THE BRITISH ROYAL FAMILY

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Moms Celina

Deskripsi

The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan ke Daerah Terpencil

Beberapa bulan telah berlalu sejak kedamaian sepenuhnya kembali ke seluruh negeri. Musim semi telah berganti menjadi musim panas, dan sinar matahari yang hangat menyinari setiap sudut tanah, membuat ladang-ladang menjadi hijau subur dan sungai-sungai mengalir jernih. Di ibu kota, segala sesuatu berjalan dengan tertib dan damai; hukum ditegakkan dengan adil, perdagangan berjalan lancar, dan wajah-wajah rakyat dipenuhi senyum dan harapan. Namun bagi Taylor dan Elizabeth, tugas mereka belum sepenuhnya selesai. Mereka sadar bahwa meski kabar baik dan perubahan besar telah terjadi di pusat kerajaan dan wilayah-wilayah utama, masih ada tempat-tempat yang jauh dan terpencil, daerah-daerah yang terpisah oleh gunung-gunung tinggi, hutan lebat, atau sungai yang luas, di mana berita perubahan belum sampai sepenuhnya, dan di mana rakyatnya masih hidup dalam keterbatasan dan ketidaktahuan.

Suatu pagi yang cerah, saat mereka sedang duduk bersama Raja dan Ratu di ruang kerja istana, Taylor mengemukakan keinginannya yang telah lama dipikirkannya. “Ayah, Ibu,” katanya dengan suara yang tenang namun penuh tekad, “Kita telah berhasil menyatukan sebagian besar negeri ini, kita telah membangun kembali apa yang rusak, dan kita telah menegakkan keadilan di tempat-tempat yang mudah dijangkau. Tapi jika kita melihat peta kerajaan ini dengan saksama, masih ada banyak wilayah di pinggiran, di perbatasan utara yang lebih jauh lagi, di seberang hutan timur, dan di balik pegunungan barat, di mana penduduknya hidup terasing. Selama berpuluh-puluh tahun, mereka jarang sekali didatangi oleh utusan istana, jarang mendapatkan bantuan, dan sering kali merasa seolah mereka bukan bagian dari negeri ini. Jika kita ingin persatuan ini benar-benar utuh dan abadi, kita harus pergi ke sana. Kita harus menunjukkan bahwa mereka juga berharga, bahwa mereka juga adalah bagian dari keluarga besar kita, dan bahwa kebaikan serta keadilan yang kita bangun ini juga milik mereka.”

Raja memandang putranya dengan mata yang bersinar bangga. Dia tahu bahwa permintaan ini bukanlah keinginan untuk berkelana atau mencari petualangan, melainkan tanda dari tanggung jawab yang besar di dalam hati putranya. “Kau benar, anakku,” jawab Raja pelan. “Sebuah bangsa tidak akan pernah kuat jika sebagian dari anggotanya dibiarkan terabaikan. Selama ini, keterpisahan itulah yang sering kali menjadi benih pertikaian dan kesalahpahaman. Pergilah. Kunjungilah mereka, dengarkan keluh kesah mereka, dan bawalah kabar baik serta bantuan ke sana. Istana ini aman, dan kami akan menjaganya selama kalian pergi. Tapi ingatlah, jalan ke tempat-tempat itu sulit dan berbahaya. Alamnya keras, jalannya terjal, dan ada banyak hal yang belum kita ketahui di sana.”

Elizabeth yang duduk di samping suaminya segera menambahkan dengan senyum yakin, “Kami tidak takut, Ayah. Kami telah belajar bahwa bahaya yang paling besar sebenarnya ada di dalam hati manusia, bukan di jalanan yang terjal. Selama kita membawa kebaikan dan ketulusan, jalan akan terbuka dan hati akan menerima kita. Kami akan membawa rombongan yang cukup untuk aman, namun cukup kecil untuk bisa bergerak lincah dan mendekatkan diri pada rakyat.”

Maka, disusunlah rencana perjalanan itu. Berbeda dengan perjalanan ke utara yang dulu penuh kecurigaan dan ketegangan, kali ini persiapan dilakukan dengan sukacita dan tujuan yang murni. Mereka akan mengunjungi wilayah-wilayah perbatasan yang paling jauh dan terpencil, yang jarang sekali dikunjungi oleh pemimpin kerajaan. Mereka membawa serta rombongan yang terdiri dari orang-orang yang terpercaya: beberapa puluh pengawal yang tangguh namun berhati lembut, para tabib dan penyembuh, para pengajar dan ahli kerajinan, serta membawa perbekalan, benih tanaman unggul, alat pertanian, dan barang-barang berguna lainnya untuk dibagikan kepada penduduk di sana. Kael dan para pengawal hutan yang telah menjadi sahabat karib mereka pun ikut serta, karena pengetahuan mereka tentang jalan-jalan rahasia dan kehidupan di alam liar sangat berharga dalam perjalanan ini. Hunter pun ikut serta, atas permintaannya sendiri, karena anak itu ingin melihat lebih banyak tentang negerinya dan belajar langsung dari kehidupan rakyat di berbagai tempat.

Beberapa hari kemudian, saat matahari baru saja terbit menyinari menara-menara istana, rombongan kecil itu berangkat. Rakyat ibu kota berkumpul di sepanjang jalan untuk melepas kepergian mereka, melambaikan tangan dan mendoakan keselamatan mereka. Perasaan di hati setiap orang penuh dengan harapan, karena mereka tahu bahwa pemimpin mereka pergi bukan untuk berperang atau menuntut upeti, melainkan untuk memberi dan menyatukan.

Hari-hari pertama perjalanan berjalan melewati jalan-jalan yang sudah mereka kenal, melewati desa-desa dan kota-kota yang kini sudah mulai tumbuh makmur kembali. Di setiap tempat singgah, mereka disambut dengan sukacita yang luar biasa. Penduduk berkumpul untuk melihat, mendengar, dan menyampaikan rasa terima kasih mereka. Taylor dan Elizabeth selalu meluangkan waktu untuk berbicara dengan siapa saja, dari yang tertinggi hingga yang paling rendah, mendengar cerita mereka, mencatat masalah yang masih ada, dan memberikan solusi atau janji bantuan yang pasti.

Namun semakin lama mereka berjalan semakin menjauh dari pusat kerajaan, pemandangan mulai berubah. Jalan-jalan yang rata dan lebar perlahan menghilang, digantikan oleh jalan setapak yang sempit, berbatu, dan kadang hampir tak terlihat, terjalin di antara hutan belantara yang lebat atau membelah lereng gunung yang curam. Udara menjadi lebih sejuk dan segar, namun juga lebih dingin. Keheningan alam terasa menyelimuti mereka, hanya dipecahkan oleh suara burung, aliran sungai, atau derap langkah kuda mereka.

Pada hari kedelapan perjalanan, mereka sampai di kaki pegunungan tinggi yang menjadi batas wilayah barat laut. Di sanalah, tersembunyi di dalam lembah yang dalam dan dikelilingi oleh dinding-dinding batu yang kokoh, terdapat sekelompok permukiman yang dikenal sebagai Penduduk Lembah Kabut. Tempat ini sangat terisolasi. Jalur masuk ke sana hanya ada satu, sebuah celah sempit di antara tebing-tebing tinggi yang seolah sengaja dibuat oleh alam untuk melindungi tempat itu dari dunia luar. Selama bertahun-tahun, orang-orang di sana hidup mandiri, mengikuti cara hidup nenek moyang mereka, dan jarang berhubungan dengan kerajaan. Karena terpisah dan jarang mendapatkan perhatian, mereka sering kali dipandang sebelah mata, atau bahkan dianggap sebagai orang yang aneh dan keras kepala oleh penduduk daerah lain.

Saat rombongan Taylor sampai di celah pintu masuk itu, mereka disambut oleh sekelompok orang yang berdiri berjaga di atas batu-batu tinggi, memandang ke bawah dengan pandangan yang waspada dan curiga. Mereka berpakaian sederhana dari kulit binatang dan kain tenunan kasar, membawa tombak dan busur, dan wajah mereka keras seolah tak percaya pada siapa pun dari luar.

“Siapa kalian? Dan apa maksud kalian datang ke tempat kami?” teriak seorang laki-laki tua yang tampak sebagai pemimpin mereka, suaranya bergema keras di antara dinding-dinding batu. “Dunia luar telah melupakan kami selama berpuluh-puluh tahun. Mengapa tiba-tiba kalian datang sekarang? Apakah kalian ingin menuntut pajak? Apakah kalian ingin mengambil apa yang kami miliki, padahal kami hampir tidak punya cukup untuk diri kami sendiri?”

Mendengar pertanyaan itu, Taylor turun dari kudanya, lalu melangkah maju sendirian ke tempat yang lebih terbuka, mengangkat kedua tangannya tanda tidak berniat jahat. Elizabeth dan yang lainnya tetap diam di belakang, mengerti bahwa saat ini yang dibutuhkan bukanlah kekuatan, melainkan kepercayaan.

“Bapak yang kami hormati, dan seluruh penduduk lembah ini,” jawab Taylor dengan suara yang tenang, jernih, dan penuh rasa hormat. “Kami bukanlah utusan yang datang untuk menuntut atau mengambil apa pun dari kalian. Kami datang bukan sebagai tuan, melainkan sebagai saudara. Kami datang karena kami sadar bahwa selama ini kalian telah terabaikan, bahwa kalian hidup dalam kesulitan sendirian, dan bahwa kami telah lalai karena tidak datang lebih awal. Kami adalah Taylor dan Elizabeth, dan kami datang atas nama seluruh rakyat dan Raja, untuk menyapa kalian, untuk mendengar apa yang kalian butuhkan, dan untuk memberikan apa saja yang mampu kami berikan agar hidup kalian menjadi lebih ringan dan bahagia.”

Laki-laki tua itu dan orang-orang di sekelilingnya terdiam, saling berpandangan satu sama lain dengan ragu. Kata-kata seperti itu jarang sekali mereka dengar. Selama ini, orang dari luar yang datang biasanya hanya pedagang yang ingin menukar barang dengan harga yang sangat tidak adil, atau petugas yang menagih pajak meskipun hasil panen sedikit. Tak pernah ada yang datang hanya untuk memberi dan menyapa.

“Jika kalian datang dengan niat baik, turunlah dan masuklah,” kata laki-laki tua itu akhirnya, meski masih ada sedikit keraguan dalam suaranya. “Tapi ingatlah, di sini hukum dan kebiasaan kami yang berlaku. Kami orang yang sederhana, kami bekerja keras untuk apa yang kami miliki, dan kami tidak suka kepura-puraan.”

Mereka pun diizinkan masuk. Saat melewati celah batu itu dan masuk ke dalam lembah, pemandangan indah terhampar di depan mata mereka. Di sana, di dasar lembah yang luas dan subur, terdapat tanah pertanian yang hijau, sungai yang berkelok-kelok jernih, dan sekumpulan rumah-rumah kayu yang dibangun rapi dan kokoh, berjejer mengikuti aliran sungai. Tempat ini indah dan damai, namun terlihat jelas tanda-tanda kesulitan dan keterbatasan. Alat-alat pertanian mereka sudah tua dan tumpul, rumah-rumah mereka sederhana sekali, dan wajah-wajah penduduk terlihat kuat namun juga terlihat lelah dan kurus karena harus berjuang keras melawan alam yang keras.

Penduduk lembah berkumpul di lapangan utama, menatap rombongan itu dengan rasa ingin tahu dan kehati-hatian. Taylor dan Elizabeth tidak langsung berbicara panjang lebar atau memberikan perintah. Sebaliknya, mereka memilih untuk hidup bersama mereka selama beberapa hari. Mereka ikut turun ke ladang, melihat cara mereka bercocok tanam, melihat alat apa yang mereka gunakan, dan ikut membantu bekerja bersama para petani. Mereka berkunjung ke rumah-rumah penduduk, masuk ke dapur-dapur mereka, duduk di lantai sederhana mereka, makan makanan sederhana mereka, dan berbicara dari hati ke hati. Elizabeth berkeliling menemui para wanita dan anak-anak, mendengar kesulitan mereka dalam mengolah makanan, mengobati penyakit, dan mendidik anak.

Perlakuan tulus ini perlahan namun pasti mencairkan kebekuan hati penduduk lembah. Mereka melihat bahwa pemimpin yang datang ini bukanlah orang yang sombong atau manja. Mereka melihat bahwa pemimpin ini mau berjalan di tanah berlumpur, mau memegang cangkul, mau mendengarkan keluhan orang yang paling miskin sekalipun, dan mau duduk makan dengan sederhana tanpa rasa jijik.

Pada malam ketiga, di bawah cahaya bulan yang terang dan ribuan bintang yang terlihat sangat dekat karena ketinggian tempat itu, diadakanlah pertemuan besar di bawah pohon tua raksasa di tengah lembah. Di situlah, di hadapan seluruh penduduk, Taylor berbicara dengan mereka.

“Kalian adalah orang-orang yang hebat,” katanya dengan suara yang bergema lembut namun sampai ke setiap hati. “Kalian telah hidup di tempat yang sulit ini, terpisah dari yang lain, dan kalian telah mampu bertahan, menjaga kebersamaan, dan menjaga kehormatan diri kalian sendiri. Kami datang ke sini bukan untuk mengajari kalian cara hidup, karena cara hidup kalian penuh dengan kejujuran dan kerja keras yang patut diteladani. Kami datang karena kami ingin kalian tahu bahwa kalian tidak sendirian lagi. Mulai hari ini, kalian tidak lagi terasingkan. Kalian adalah bagian dari kerajaan, bagian dari keluarga besar kami. Apa yang kami miliki adalah milik kalian juga, dan apa yang kalian miliki adalah bagian dari kekayaan kami.”

Kemudian, mereka membagikan apa yang mereka bawa. Mereka memberikan alat-alat pertanian yang baru dan lebih baik, benih tanaman yang lebih unggul dan tahan cuaca, serta kain-kain yang baik. Para tabib mereka tinggal beberapa lama di sana untuk mengobati mereka yang sakit dan mengajarkan cara menjaga kesehatan serta membuat obat-obatan dari tanaman di sekitar mereka. Para pengajar mengajarkan cara-cara baru yang lebih mudah dalam mengolah makanan dan membuat kerajinan tangan yang nilainya lebih tinggi untuk diperdagangkan. Mereka juga mengatur agar di masa depan akan ada jalur perdagangan yang aman dan adil, sehingga hasil bumi dan kerajinan tangan lembah ini bisa dijual ke tempat lain dengan harga yang pantas, tanpa ditipu oleh pedagang yang tidak jujur.

Air mata mengalir di banyak pipi malam itu. Banyak dari penduduk lembah yang sudah tua, yang seumur hidupnya merasa dilupakan oleh dunia luar, kini merasa diterima dan dihargai. Pemimpin tua mereka datang menghampiri Taylor dan Elizabeth, memegang tangan mereka dengan kedua tangannya yang kasar dan berkerut karena kerja keras.

“Selama ini kami berpikir bahwa dunia luar hanya berisi orang-orang yang serakah dan keras hati,” katanya dengan suara bergetar. “Kalian telah mengubah pandangan kami. Kalian telah membuktikan bahwa ada kebaikan yang tulus, dan bahwa persaudaraan itu nyata. Mulai hari ini, darah kami adalah darah kalian, dan tanah ini adalah tanah kalian. Apa pun yang kalian butuhkan, apa pun yang terjadi, penduduk Lembah Kabut akan selalu berdiri di belakang kalian dan di samping kalian.”

Setelah tinggal beberapa hari lagi untuk memastikan segala sesuatu berjalan lancar dan penduduk sudah mulai mengerti cara menggunakan bantuan yang diberikan, rombongan itu pun bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Saat mereka berangkat, seluruh penduduk lembah mengantar mereka sampai ke celah pintu masuk, membawa bekal makanan dan buah-buahan untuk perjalanan, serta berjanji untuk menjaga hubungan yang baru saja terjalin ini.

Perjalanan ini baru awal. Masih ada banyak tempat lain yang harus mereka kunjungi: hutan belantara di timur, dataran tinggi di selatan, dan pulau-pulau kecil di pinggir pantai. Namun setelah meninggalkan Lembah Kabut, hati mereka semakin yakin. Mereka menyadari bahwa di setiap sudut negeri ini, betapapun terpencilnya, betapapun kerasnya alamnya, betapapun terpisahnya mereka dari yang lain, ada hati manusia yang mendambakan kebaikan, keadilan, dan persaudaraan. Dan selama ada hati seperti itu, tugas mereka adalah untuk menemukannya, menyentuhnya, dan menyatukannya.

Perjalanan ke daerah terpencil ini bukan hanya perjalanan untuk memberikan bantuan, tapi juga perjalanan untuk menyatukan kembali seluruh kepingan hati yang ada di negeri ini menjadi satu kesatuan yang utuh, kuat, dan tak tergoyahkan.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!