NovelToon NovelToon
Warisan Mutiara Surgawi

Warisan Mutiara Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Ruang Ajaib
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Setelah hidup selama 500 tahun penuh pengkhianatan, kesengsaraan, dan perjuangan, Tian Hao akhirnya kembali ke masa lalu.

Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, ia memperoleh Warisan Mutiara Surgawi yang mempercepat jalur kultivasinya.

"Kali ini... aku akan mencapai keabadian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Tian Mei

​BUGH!

​Sebuah pukulan keras mendarat tepat di rahang Tian Hao. Tubuhnya yang mungil terlempar ke tanah yang keras.

Tian Hao sebenarnya memiliki refleks untuk menghindar, bahkan untuk mematahkan tangan penyerangnya dalam sekejap. Namun, ia memilih untuk diam. Ia memilih untuk menerima setiap hantaman itu.

​Ia mengusap bibirnya yang pecah, menatap tangannya yang berlumuran darah sendiri. "Apa kau sudah merasa lebih kuat sekarang?" bisiknya pelan, memancing kegilaan mereka.

​"Hajar dia! Ambil cincin itu! Sampah tidak pantas memilikinya!"

​Hujan pukulan dan tendangan mulai jatuh ke tubuh Tian Hao. Ia meringkuk di tanah, melindungi bagian vitalnya sambil membiarkan luka-luka baru menghiasi tubuhnya.

Bagi jiwa berusia lima ratus tahun, rasa sakit fisik ini hanyalah instrumen. Ia sedang melukis sebuah adegan; ia butuh saksi, ia butuh bukti bahwa ia adalah korban yang tertindas.

​Setiap hantaman adalah investasi untuk langkah selanjutnya. Ia tahu bahwa dalam permainan politik keluarga, posisi "korban yang dizalimi" sering kali lebih kuat daripada "pemenang yang sombong."

​"Berhenti!"

​Sebuah teriakan melengking yang jernih dan penuh wibawa memecah keributan. Para murid mendadak kaku, tangan mereka yang melayang di udara berhenti seketika.

​"Nona Muda Mei!"

​Dari arah gerbang paviliun, seorang gadis berusia empat belas tahun berlari dengan wajah penuh kecemasan. Ia adalah Tian Mei, adik perempuan Tian Hao yang dianggap sebagai jenius mutlak keluarga, permata yang baru saja kembali dari perjalanan belajarnya di sekte besar. Wajahnya yang cantik tampak pucat melihat pemandangan brutal di depannya.

​Tian Hao berbaring di tanah, wajahnya lebam, debu menempel di luka-lukanya yang basah. Di tengah rasa sakit itu, sudut bibirnya membentuk senyuman tipis yang tak terlihat oleh siapa pun.

"​Tepat waktu," batinnya tenang. "Akhirnya, pion utamaku telah tiba."

​Tian Mei segera menghambur ke arah kakaknya, mendorong para murid yang mengerumuninya dengan pancaran energi Qi yang kuat.

Ia menatap mereka semua dengan mata yang menyala karena amarah. "Apa yang kalian lakukan pada kakakku?! Apakah kalian sudah lupa hukum keluarga?!"

​Sementara itu, Tian Hao tetap menatap langit dengan tatapan kosong, seolah jiwanya sedang mengembara di tempat yang jauh. Ia membiarkan Tian Mei memeluknya dan menangisi kondisinya.

Di dunia ini, orang-orang akan selalu membela mereka yang tampak lemah dan hancur dan Tian Hao tahu benar cara memainkan peran itu hingga ke titik yang paling sempurna.

​Ia tidak butuh kekuatan untuk menang hari ini; ia hanya butuh simpati dari orang yang paling dicintai oleh orang tuanya. Satu persatu, rencana besarnya mulai berputar kembali.

Taman keluarga Tian adalah oasis kemewahan yang tersembunyi di balik tembok tinggi kediaman.

Bunga-bunga Lianhua mekar di permukaan kolam yang jernih, aromanya bercampur dengan wangi kayu cendana yang menenangkan.

Namun bagi Tian Hao, keindahan ini terasa memuakkan. Keindahan hanyalah selubung yang menutupi kebusukan di akarnya.

​Tian Mei memapah kakaknya dengan penuh hati-hati. Gadis itu, yang biasanya dipuja sebagai dewi jenius, kini tampak seperti adik kecil yang rapuh karena rasa bersalah dan amarah.

Ia mendudukkan Tian Hao di atas bangku batu marmer yang dingin di bawah naungan pohon ginkgo yang mulai menguning.

​"Kenapa Kakak tidak mengatakan apa pun?" suara Tian Mei bergetar, matanya mulai berkaca-kaca saat melihat luka memar di lengan Tian Hao. "Apakah Ayah dan Ibu benar-benar membiarkan semua ini terjadi? Mereka seharusnya menjadi pelindung, bukan penonton dari penderitaan anak mereka sendiri."

​Tian Hao tetap diam. Ia tidak mengangguk, tidak menggeleng. Ia hanya menatap air kolam yang tenang, di mana bayangan wajahnya yang lebam terpantul dengan jelas.

Ketidakhadiran pembelaan dari mulutnya adalah jawaban yang paling pahit bagi Mei; sebuah konfirmasi bahwa di rumah ini, kasih sayang orang tua memiliki label harga yang bernama "bakat."

1
aldo
lanjut thor seru sekali 🙏🙏
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
tes ..🤔
aldo
lanjut thor seru sekali 🙏🙏🙏🙏
Arken: /Bye-Bye/
total 1 replies
saniscara patriawuha.
sat set sat set...
Arken: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
saniscara patriawuha.
sikattttt...
Arken: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassddddd....
saniscara patriawuha.
kasihhh fahammm duluu lahhhh.....
saniscara patriawuha.
biasanya langsung masuk ke dentiannya untuk membantu kultivasinya...
Arken: Hehe, memang di dunia Tianxu sistem kultivasi nya begitu bang/Shy/
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassssdd....
Arken: 🥲🙂🙂🙂🙂
total 1 replies
saniscara patriawuha.
lanjuttttkeunnnnn
saniscara patriawuha.
gasssss...
saniscara patriawuha.
tapi bisakah nanti mang MC kembali lagi ke masa depan untuk membalaskan dendamnya....
y@y@
👍🏿⭐👍🏻⭐👍🏿
aldo
lanjut thor
Arken: siaapp. jangan lupa kasih bintang 5 ya🙏🙏🙏
total 1 replies
y@y@
👍🏿🌟👍🏼🌟👍🏿
y@y@
🌟👍🏿👍🏼👍🏿🌟
Arken
ngopi lur/Coffee/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!