Aina memutuskan untuk meminta cerai dari sang suami karena tidak sanggup untuk hidup berumah tangga dengan Darno lagi, Darno memang tidak berselingkuh namun segala sikap yang dia miliki begitu buruk serta sangat kasar sekali.
ekonomi mereka juga sangat turun sehingga membuat Aina begitu bingung untuk menghadapi ini semua, belum lagi mertua yang selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka, membuat Aina gelap mata dan memutuskan untuk bercerai.
namun belum sempat itu terjadi malah kejadian mengerikan terjadi pada wanita cantik itu, Aina mendadak saja sakit pada kemaluan dan mengeluarkan ulat berwarna putih yang berjumlah begitu banyak.
Apa terjadi pada Aina?
mengapa mendadak saja Aina menderita penyakit seperti itu?
ikuti terus kisah mereka di cerita Novita Jungkook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Darah hitam
Aina merebahkan diri di atas ranjang yang sudah lama tidak dia tinggali karena dia telah pindah ke rumah Darno, kamar sebagus ini namun dia rela pindah ke rumah yang sangat sederhana dan bahkan tidur hanya beralaskan kasur kapuk biasa, sebenarnya kalau dibilang bersyukur maka harusnya Darno sangat bersyukur memiliki istri seperti Aina.
Tapi pria itu sama sekali tidak pernah peduli dan tidak bisa menghargai, Aina yang paling mempermasalahkan adalah ketika perjuangan dia sama sekali tidak dihargai oleh Darno ini. berjuang keras untuk mendapatkan hasil yang bagus namun ternyata sang suami tidak ada mendukung sama sekali, istri menangis setiap malam namun dia tidak juga pernah peduli dengan hal itu.
Kini Aina sudah berusaha melepaskan diri dan dia sangat yakin untuk melupakan semua kekejaman Darno, mungkin dengan hidup sendiri maka dia bisa menjalani hidup tanpa ada gangguan lagi, menurut Aina menjadi janda juga bukan masalah besar karena dia mampu mencari makan untuk perut ini.
Anak juga belum ada yang perlu dia pertimbangkan ketika memutuskan untuk bercerai, hanya membawa badan saja dan dia bisa menjalani hidup dengan tenang kembali sama seperti saat masih gadis dulu, bila Aina sudah berdandan dan kembali pada mode awal maka pasti banyak yang tertarik untuk menikahi dia meski status Aina adalah janda.
Namun jujur saja Aina sama sekali tidak ada kepikiran untuk menikah lagi, bila memang ditakdirkan menjadi janda maka Aina akan menerima itu tanpa ada pernikahan untuk kedua kali nya. mungkin sendirian adalah pilihan yang terbaik untuk dia, tidak perlu melakukan segala macam yang membuat hidup ini semakin rumit.
"Semoga setelah ini aku bisa mendapat kebahagiaan." harap Aina.
"Kalau kita berusaha pasti bisa mendapatkan kebahagiaan itu." Wiwin ikut menyusul ke dalam kamar dan dia merebahkan diri juga.
"Darno pasti akan mempersulit perceraian ini, tapi aku sangat yakin sudah untuk berpisah dari dia." lirih Aina dan mereka memang saling adu punggung.
"Iya lah, dia ingin bertahan tapi pria seperti itu tidak tahu salah dia ada di mana!" Wiwin menyahut dengan sangat geram.
"Kasar dan dia tidak pernah merasa salah walau sudah melakukan kekejaman itu kepada aku, semua masalah yang ada di rumah selalu aku yang dijadikan sasaran." kenang Aina.
Wiwin terdiam membayangkan kesedihan sepupu dia saat masih di rumah Darno, mertua yang juga tidak pernah tahu terima kasih maka pasti hidup Aina sangat tertekan dengan ini semua, tidak ada batas memang dalam hidup ini bila terus menuruti apa saja yang terjadi, setidaknya harus ada keberanian untuk membongkar itu semua dan lari dari tempat tersebut.
"Ughhh kok sakit sekali perut ku." keluh Aina merintih pelan.
"Emang kau kalau lagi halangan sering sakit perut ya?" tanya Wiwin sambil bermain ponsel.
"Biasa nya enggak, biasa saja sih karena aku juga kan menggunakan KB." jawab Aina.
"Apa kita periksa saja biar jelas kau itu sedang sakit apa, karena habis melakukan itu kan pada dirimu?!" Wiwin langsung bangkit karena dia takut ada sesuatu.
"Enggak lah, ini pasti karena kaget saja sehingga rasa sakitnya agak dalam." Aina menolak untuk pergi ke rumah sakit.
"Atau minum air hangat saja terlebih dahulu kalau mau agak enakan, biar aku ambilkan." Wiwin segera turun dari ranjang.
Aina hanya diam saja karena dia dan Wiwin memang sangat dekat seperti itu sehingga bisa saling membantu satu sama lain, selama ini yang selalu diajak cerita tentu saja hanya Wiwin dan dia tidak pernah mengatakan permasalahan rumah tangga itu kepada orang lain di desa.
Sebab Aina sembarangan bercerita maka akan tersebar kemana-mana dan dia bukan mendapat pertolongan tapi justru hujatan yang akan dia terima, mulut para warga desa tidak ada yang bisa di pedulikan sehingga mereka tetap saja bersikap seperti itu, sehingga Aina pun memilih untuk diam saja dan tidak bercerita.
"Ya Allah kok memang sakit sekali begini ya." Aina meringis ngilu.
"Walah malah sudah seperti ini ternyata, tumben aku halangan banyak sekali." Aina segera bangkit untuk berganti pakaian.
"Semoga tidak ada yang terluka pada bagian dalam, aku mau cari softex dulu lah tanya sama Ibu." gumam Aina sambil keluar dari kamar.
"Loh nggak jadi istirahatnya?" Bu Putri menatap sang anak.
"Ibu ada pembalut tidak? sepertinya aku sedang halangan." pinta Aina.
Bu Putri segera masuk ke dalam kamar untuk mengambil pembalut karena memang terlihat Aina sudah bocor kemana-mana, ini saja tidak mungkin cukup hanya dengan satu pembalut karena terlihat Aina mengeluarkan cukup banyak darah dari sana.
"Ini kemarin baru saja beli memang." Bu Putri memberikan satu bungkus pembalut.
"Oh terima kasih ya, Bu!" Aina segera mengambil dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Memang bajingan tidak tahu diri Darno itu." Pak Seno baru pulang ke rumah dan dia membanting parang yang dia bawa tadi.
"Bapak dari mana?" Aina memang tidak tahu bahwa Pak Seno mendatangi suami dia.
"Ganti dulu sana!" Bu Putri menyuruh sang anak pergi dari hadapan Pak Seno.
Aina baru sadar bahwa dia masih berdarah dan segera pergi masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan memakai softex yang baru, ini hati sudah berdebar keras karena dia takut terjadi sesuatu dan kemungkinan besar Pak Seno memang sudah marah-marah kepada suami dia yang kurang ajar itu.
"Ih darah kok warna hitam pekat seperti ini ya." Aina ngeri sendiri setelah melihat celana dalam dia.
"Ini pasti darah kotor yang sudah lama terpendam sehingga baru keluar sekarang." ujar Aina kembali.
Tidak ada perasaan apapun dalam diri wanita ini dan dia hanya mengganti pembalut lalu mencuci pakaian yang sudah ternoda oleh darah halangan itu, walau perut dia terasa sangat sakit dan berdenyut namun tetap saja Aina bertahan dan dia tidak ingin bila nanti celana ini malah di cuci oleh sang ibu.
"Seperti mau jebol saja rahim kalau untuk jongkok seperti ini." keluh Aina dan meraba bagian bawah.
"Mendadak datang halangan dan malah darah berwarna hitam seperti ini, apa memang aku pendarahan ya atau hanya halangan biasa sih?" Aina bingung sendiri dengan kejadian ini.
Namun bila mengingat di luar sana Pak Seno masih emosi maka dia segera menyelesaikan pekerjaan mencuci celana itu, soal rasa sakit ini tidak masalah dia tanggung karena selama ini Aina mampu bertahan dari rasa sakit dan tidak peduli dengan perasaan itu, dia hanya fokus dan kemudian keluar dari kamar mandi tersebut.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
g