NovelToon NovelToon
Di Jual 500 Juta, Istri Kontrak CEO Dingin

Di Jual 500 Juta, Istri Kontrak CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: TheDee

Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin

Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.

Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.

Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.

Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.

Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

BAB 10: MENDENGAR

Empat tahun berlalu.

Empat tahun sejak malam di ballroom itu, sejak Liana berdiri di samping Arka dengan senyum palsu dan tangan yang hanya bergandengan untuk kamera.

Di luar, keluarga Wijaya tetap terlihat sempurna. Arka naik jabatan menjadi Direktur Utama Wijaya Group cabang Asia Tenggara. Tuan Wijaya makin sibuk memperluas bisnis ke luar negeri. Nyonya Darmi tetap sibuk dengan dunianya sendiri.

Tapi di dalam, ada satu hal yang diam-diam berubah: Liana.

Selama empat tahun, Liana mengumpulkan bukti tentang ayahnya, Pak Dimas. Ia tidak meminta imbalan apa-apa. Tidak uang, tidak jabatan, tidak nama besar.

Yang ia minta hanya satu: keadilan untuk nama ayahnya yang sudah tercemar.

Setiap malam, setelah semua urusan rumah selesai, ia kembali membuka map coklat tua itu. Dokumen, rekaman, email lama, catatan transaksi yang janggal. Sedikit demi sedikit, potongan teka-teki itu tersusun.

Ia menemukan bahwa proyek yang menjatuhkan nama Pak Dimas ternyata dihentikan secara sengaja dari dalam. Ada tanda tangan direktur Wijaya Group saat itu di surat pembatalan. Dan yang paling mencurigakan, nama itu milik seseorang yang masih duduk di kursi penting perusahaan hingga sekarang.

Liana tidak gegabah. Ia menyimpan semuanya. Menunggu waktu yang tepat.

Di sisi lain, Arka juga berubah.

Perubahannya tidak besar, tidak mencolok. Tapi cukup untuk membuat rumah ini tidak serasa makam.

Arka mulai menyapa Liana saat berpapasan di koridor. Kadang ia bertanya, “Sudah makan?” atau “Kamu tidak ikut rapat keluarga hari Minggu?”

Bukan kalimat romantis, tapi setidaknya bukan dingin seperti es seperti dulu.

Mereka mulai berbicara soal pekerjaan, soal jadwal, soal tamu yang akan datang. Bukan tentang perasaan. Tapi cukup untuk disebut teman sekamar yang saling menghormati.

Kamar mereka tetap berbeda.

Tidak ada yang berani menyentuh batas itu. Seperti ada kesepakatan diam-diam: pernikahan ini berjalan, tapi tidak perlu dipaksakan menjadi sesuatu yang bukan.

Suatu malam, saat Liana sedang merapikan dokumen di kamar tamunya, pintu diketuk pelan.

“Li, kamu belum tidur?” suara Arka terdengar dari luar.

Liana mengernyit. Sudah lama Arka tidak memanggilnya “Li”.

“Masuk saja,” jawabnya.

Arka masuk dengan kemeja santai dan dua gelas susu hangat di tangan. Ia meletakkan satu gelas di meja Liana.

“Kamu begadang lagi. Jangan sampai sakit.”

Liana menatapnya bingung.

“Kenapa tiba-tiba baik?”

Arka duduk di kursi seberang, menghela napas.

“Empat tahun, Li. Kalau kita mau hidup satu rumah sampai kapan pun, rasanya bodoh kalau kita masih saling diam seperti orang asing.”

Liana terdiam.

Empat tahun. Cukup lama untuk mengumpulkan bukti. Cukup lama juga untuk menyadari bahwa mungkin, di balik dinginnya Arka, ada orang yang lelah berpura-pura juga.

Ia menatap Arka lama.

“Kalau aku bilang, aku sedang mencari kebenaran tentang ayahku… dan kebenaran itu ada di dalam perusahaanmu, kamu akan tetap duduk di sini?”

Arka menatapnya balik. Matanya tidak lagi datar seperti dulu.

“Coba ceritakan.”

Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, mereka duduk di satu meja, bukan sebagai suami istri kontrak,

tapi sebagai dua orang yang akhirnya mau saling mendengar.

Arka terdiam lama setelah mendengar kalimat Liana.

Di kepalanya, dua sisi bertarung.

Di satu sisi, ada keluarga Wijaya. Nama besar yang ia bawa sejak lahir, ayahnya, orang-orang yang selama ini menopang posisinya di perusahaan.

Di sisi lain, ada Liana. Istri yang selama empat tahun hidup di rumahnya, menahan dinginnya pernikahan kontrak ini, dan sekarang duduk di depannya dengan mata yang tidak menuntut apa-apa selain kebenaran.

Secara agama, mereka sah.

Secara hukum, mereka suami istri.

Tapi secara perasaan… mereka baru malam ini benar-benar duduk sebagai dua orang yang saling jujur.

“Kamu tahu kan, Li,” ucap Arka pelan, “di keluarga Wijaya, tidak ada yang benar-benar akur. Semua orang baik-baik di depan kamera, tapi di belakang… mereka berebut.”

Ia menghela napas.

“Jabatan CEO Wijaya Group itu rebutan. Ayah aku memang pegang kendali sekarang, tapi paman, om, bahkan sepupu aku sendiri—semua nunggu waktu buat menjatuhkannya. Dan kalau ada celah kecil, mereka nggak segan pakai cara kotor.”

Liana menatapnya tanpa berkedip.

“Jadi kamu takut kalau aku bongkar ini, nama Wijaya runtuh?”

Arka menggeleng.

“Aku nggak takut nama Wijaya runtuh, Li. Aku takut kalau kebenaran yang kamu bawa itu dipakai orang yang salah untuk naik ke kursi CEO. Mereka nggak peduli keadilan. Mereka cuma peduli posisi.”

Ia menatap lurus ke mata Liana.

“Tapi aku juga nggak bisa pura-pura nggak dengar. Kalau ayahmu memang dijebak, dia berhak dapat nama baiknya kembali. Dan kalau orang di dalam perusahaan ini yang main, dia harus tanggung jawab.”

Liana mengangguk pelan.

“Aku nggak mau perang, Arka. Aku cuma mau ayahku nggak mati bawa fitnah.”

Suasana jadi hening. Hanya suara AC yang pelan mendengung di ruangan.

Arka berdiri, berjalan ke jendela. Di luar, lampu kota masih menyala terang.

“Kontrak ini memang awalnya cuma buat bisnis,” katanya tanpa menoleh.

“Tapi empat tahun hidup bareng, aku nggak bisa lagi bilang kamu cuma ‘pendamping’ di depan relasi.”

Ia berbalik.

“Kalau kamu mau buka ini, aku di pihak kamu. Tapi kita mainnya hati-hati. Kalau salah langkah, bukan cuma kamu yang kena. Aku juga.”

Liana menghela napas panjang.

Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sendirian di rumah besar ini.

Dan mungkin, pernikahan kontrak itu… mulai punya arti lain.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!