Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 01 Kesucian Yang Terenggut.
Hujan lebat mengguyur kota tanpa ampun di malam itu.
Sama halnya dengan keseruan orang-orang di dalam gedung mewah itu. Mereka menari-nari di bawah sinar lampu berwarna-warni tanpa peduli dengan kejadian di luar sana.
Alunan musik DJ mengalun keras beradu dengan suara tawa para pria mabuk dan aroma alkohol yang menusuk di hidung.
Di tengah hiruk pikuk tersebut, seorang gadis berjalan tergesa sambil membawa nampan berisi minuman mahal.
Napasnya sedikit memburu. “Maaf… permisi…”
Suara lembut itu nyaris tenggelam di antara dentuman musik.
Namanya Alena. Gadis panti asuhan yang baru tiga bulan bekerja di sana. Bukan sebagai wanita penghibur. Ia hanya pengantar minuman. Itu pun karena ia sudah tidak punya pilihan lain untuk membayar kontrakan kecil dan biaya hidupnya sendiri setelah keluar dari panti.
Ia selalu menjaga diri. Tidak pernah macam-macam. Tidak pernah melayani pria. Akan tetapi di malam itu nasib buruk menimpanya.
Bruk!
Tubuh seseorang tiba-tiba menabraknya dari belakang. Nampan di tangan Alena oleng dan ...
Byur!
Cairan berwarna emas langsung tumpah membasahi kemeja hitam pria yang duduk di sofa VIP paling ujung.
Seketika suasana berubah sunyi. Musik masih berdentum, tetapi udara terasa membeku, sebagian orang berhenti berjoged hanya untuk menyaksikan kejadian ini.
Wajah Alena langsung pucat. “A-aku minta maaf, Tuan… saya tidak sengaja…”
Tangannya gemetar hebat saat mengambil tisu di meja. Namun sebelum sempat menyentuh pria itu, sebuah tangan besar mencengkeram pergelangan tangannya dengan kasar.
Alena tersentak, tatapan gadis itu perlahan naik. Ia melihat lelaki yang selama ini hanya menjadi bisik-bisik menakutkan di club itu.
Kael Ardion.
Pria yang dikenal kejam. Dingin. Dan tidak pernah memberi ampun. Tatapan matanya hitam pekat seperti malam tanpa cahaya.
“Tidak sengaja?” suaranya rendah dan menusuk.
Alena menelan ludah. “I-iya, Tuan… saya benar-benar—”
“Berani sekali kau mengotori bajuku.”
Cengkeraman Kael makin kuat hingga Alena meringis kesakitan. “Sa-sakit…”
Pemilik club langsung datang saat karyawan lain memberi tahu kejadian ini. Dengan langkah tergesa dan wajah panik, pria itu akhirnya berhenti tepat di hadapan Kael.
“Tuan Kael! Maafkan dia! Dia anak baru, dia tidak tahu apa-apa!”
Kael melepaskan tangan Alena perlahan tatapannya belum bergeser sedikit pun dari wajah gadis itu. Wajah polos. Tanpa riasan tebal. Mata yang jernih dan ketakutan. Berbeda dari wanita-wanita yang biasa mengelilinginya.
“Kalau begitu,” ucap Kael dingin. “Biarkan dia yang bertanggung jawab.”
Deg.
Jantung Alena seperti berhenti, tepat setelah kata itu terucap. Bertanggung jawab, apa yang sebenarnya dimaksud oleh pria itu? Alena langsung menggeleng dengan pelan.
“Maksud Tuan…?”
Pemilik club langsung menunduk ketakutan. “Tuan Kael… dia bukan wanita—”
“Aku tidak peduli.”
Suara Kael memotong tajam. “Malam ini dia ikut denganku.”
Tubuh Alena langsung melemas, ia sangat paham arah pembicaraan pria itu. “Tidak… saya mohon…”
Namun tidak ada satu orang pun yang berani membantunya. Semua orang di tempat itu tahu… melawan Kael Ardion sama saja menggali kubur sendiri.
Air mata mulai memenuhi mata Alena, gadis itu segera menunduk dengan penuh harap.
“Saya mohon… jangan…”
Kael berdiri perlahan. Tubuh tingginya membuat Alena makin gemetar ketakutan. Tatapan pria itu turun pada wajah pucat di depannya.
Untuk sesaat… entah kenapa ada sesuatu yang aneh bergetar dalam dadanya saat melihat air mata itu.
Tapi hanya sesaat, egonya lebih tinggi mengalahkan akal sehatnya. Kael kembali dengan sikap dinginnya.
“Bawa dia!" perintahnya tanpa bisa dibantah lagi.
Dua pria berbadan besar langsung menarik Alena keluar dari club.
“Lepaskan! Tolong… tolong saya!”
Tangisan Alena pecah di tengah hujan malam, tidak ada yang mendengarnya meskipun ia berteriak kencang. Tangannya terus diseret hingga masuk ke dalam mobil mewah.
"Cepetan masuk," ucap suara dari salah satu bodyguard itu.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, di luar hujan masih turun deras, seolah ikut menemani perjalanan menyedihkan gadis di dalam mobil itu.
"Tolong Pak, lepaskan aku," mohon Alena, akan tetapi dua pria itu seolah tuli.
Alena masih berusaha untuk lepas, berharap ada keajaiban nantinya, namun malam ini entah kenapa jeritan hatinya seolah tidak ada yang mendengarkan.
Mobil berhenti tepat di sebuah gedung mewah yang ia sendiri belum pernah mendatanginya, gadis itu semakin bingung saat tangan besar itu mulai menyeretnya tidak memberikan kesempatan kecil pun.
Pintu kamar hotel terbuka kasar. Alena didorong masuk hingga tubuh kecilnya hampir jatuh ke lantai marmer.
Napasnya memburu ketakutan. Sementara Kael masuk beberapa detik kemudian sambil membuka jas hitamnya.
“Tu-Tuan… saya mohon… jangan lakukan ini…” Suara Alena bergetar hebat.
“Aku bisa kerja lebih keras untuk ganti rugi minuman itu… saya mohon…” ucap gadis itu lagi.
Kael diam. Tatapannya justru tertuju pada tubuh gadis yang sedang bergetar menahan ketakutan.
“Berapa lama kau kerja di club?”
Alena terdiam beberapa detik. “Ti-tiga bulan…”
“Kau melayani pria?”
Alena langsung menggeleng cepat. “Tidak pernah…”
Kael tertawa kecil. Namun tawa itu terdengar dingin. “Wanita club yang masih berpura-pura suci?”
“Saya tidak bohong…” air mata Alena jatuh. “Saya cuma antar minuman…”
Kael melangkah mendekat sementara Alena spontan mundur sampai tubuhnya membentur dinding.
“Takut?”
Air mata Alena makin deras. “Saya mohon…”
Akan tetapi malam itu… permohonan seorang gadis kecil tak mampu meluluhkan hati lelaki yang terlalu lama hidup dalam gelap.
Malam berlalu begitu kejam seolah tiada ampun bagi gadis itu. Jeritan kesakitannya tidak didengar air mata tidak bisa terbendung tepat pada harga diri yang selama ini ia jaga terenggut begitu saja oleh tangan yang tidak bertanggung jawab.
Sementara hujan di luar belum berhenti saat Alena terduduk lemah di sudut ranjang hotel. Selimut putih membungkus tubuhnya yang gemetar.
Tatapannya kosong. Air mata bahkan sudah tidak keluar lagi. Sementara Kael berdiri di dekat jendela dengan rokok di tangannya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya dadanya terasa sesak, ia menoleh pelan. Tatapannya jatuh pada bercak merah di atas seprai putih.
Kael membeku. Rahangnya mengeras.
"Sial..."
"Gadis itu masih perawan."
Alena memejamkan mata saat menyadari pria itu melihat bercak tersebut. Rasa hancur di dadanya makin dalam bahkan tidak bisa disembuhkan dengan cara apapun.
Dengan tubuh gemetar, ia turun dari ranjang mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai.
Kael sempat membuka mulut. Entah ingin berkata apa. Namun Alena lebih dulu bicara dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
“Saya benci Tuan…”
Kalimat sederhana itu… Entah kenapa terasa jauh lebih menusuk daripada makian apa pun yang pernah Kael dengar seumur hidupnya.
Bersambung ....
Selamat Pagi....