Sepuluh tahun lalu, tragedi berdarah menghancurkan keluarga Samudra. Langit Bumi Samudra (7 tahun) tewas dalam sabotase kecelakaan mobil, sementara adiknya, Cakrawala Bintang Samudra (3 tahun) dinyatakan hilang dan dianggap tewas juga oleh publik. Nyatanya, Sang Kakek menyembunyikan Cakra di luar negeri dengan identitas rahasia demi melindunginya dari musuh.
Kini, Cakrawala kembali sebagai pemuda tampan dan jenius. Di bawah nama samaran Gala Putra Langit, ia menyusup ke dunianya sendiri sebagai mahasiswa biasa. Ia harus menghadapi pengkhianatan Om dan Tantenya sendiri yang haus harta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senjata Makan Tuan
Bel berbunyi nyaring, memanggil seluruh mahasiswa baru ke kelas bisnis untuk masuk ke ruang auditorium utama. Ruangan berundak dengan kursi-kursi tebal itu langsung penuh.
Di barisan tengah, Gala duduk dengan santai diapit oleh Adit yang sibuk menguyah permen karet, dan Reza yang menyimpan tabletnya ke dalam tas. Beberapa baris di depan mereka, Aluna sesekali menoleh ke belakang, menatap Gala dengan guratan cemas yang tak bisa disembunyikan.
"Tenang aja, Lun. Pawang setannya ada di sini," bisik Adit setengah bercanda saat menyadari tatapan cewek itu. Aluna hanya membalas dengan dengusan pelan, meski hatinya tetap was-was.
Tak lama kemudian, pintu auditorium terbuka lebar. Profesor Hermawan, dosen senior bertubuh tambun dengan kacamata tebal, melangkah masuk ke depan podium.
Namun, sebelum beliau sempat membuka buku panduannya, Kenzo tiba-tiba berdiri dari kursinya dengan raut wajah yang dibuat panik.
"Maaf, Profesor! Saya terpaksa memotong waktu Anda!" seru Kenzo dengan suara lantang, sengaja memancing perhatian seluruh isi ruangan.
Profesor Hermawan mengerutkan dahi, membetulkan letak kacamatanya. "Ada apa, Saudara Kenzo? Ini hari pertama, kenapa sudah membuat keributan?"
"Dompet saya hilang, Prof!" Kenzo berakting luar biasa, meraba-raba saku celananya dengan panik.
Davin yang duduk di sebelahnya langsung berdiri menimpali, "Benar, Prof. Isinya kartu penting dan uang tunai jutaan. Tadi sebelum masuk kelas, saya sempat lihat ada mahasiswa beasiswa yang mondar-mandir mencurigakan di dekat loker Kenzo!"
Mendengar kata 'mahasiswa beasiswa', pandangan seisi kelas langsung tertuju ke ke arah barisan tengah, tepat Gala, Adit, dan Reza duduk. Kenzo tersenyum miring sekilas, menatap Gala dengan pandangan penuh kemenangan yang seolah berkata, 'mati Lo hari ini!'
"Ini tuduhan serius," ujar Profesor Hermawan tegas. Beliau menatap ke arah kerumunan.
"Siapa yang kalian maksud?"
"Dia, Prof! Mahasiswa baru bernama Gala!" tuduh Davin sambil menunjuk wajah Gala dengan jarinya yang gemetar karena akting yang berlebihan.
Gala tidak bergerak sedikit pun dari kursinya. Ia hanya menaikkan sebelah alisnya, lalu terkekeh slengean. "Wah, baru hari pertama udah dituduh jadi copet. Kreatif banget ya skenarionya," ucap Gala santai, sama sekali tidak terlihat panik.
"Jangan banyak bacot lo! Kalau emang gak bersalah, berani gak tas lo digeledah sekarang?!" tantang Kenzo sambil melangkah maju ke depan kelas, membusungkan dadanya dengan angkuh.
"Silahkan, Prof. Biar semuanya jelas," kata Gala sambil mengangkat kedua tangannya ke udara, memberi kode kepada Profesor Hermawan untuk memeriksa tas ransel hitam miliknya yang tergeletak di atas meja.
Davin dengan sukarela berlari ke belakang, menyambar tas milik Gala dengan kasar, lalu menumpahkan seluruh isinya ke atas meja kosong di depan kelas. Buku tulis, pulpen, dan sebuah botol minum plastik terjatuh. Tapi... kosong. Tidak ada dompet milik Kenzo di sana.
" Lho? Kok nggak ada?!" Davin memekik kaget, wajahnya mendadak pucat. Ia mengacak-acak ransel Gala sekali lagi, namun hasilnya nihil.
Kenzo terbelalak. Ia menatap Davin dengan tatapan murka. "Gak mungkin! Periksa yang bener, Vin!"
"Gak ada Ken! Beneran kosong!" balas Davin dengan suara bergetar.
Di barisan tengah, Reza diam-diam mengetuk layar ponselnya sekali, ia mengaktifkan perintah akhir dari skenario balasan mereka. Gala tersenyum tipis, berdiri dari duduknya dengan aura intimidasi yang tiba-tiba menguar kuat, membuat Kenzo tanpa sadar mundur satu langkah.
"Lo nyari ini, ya?" tanya Gala dengan nada dingin yang menusuk. Ia berjalan santai ke arah podium depan, lalu menunjuk ke arah tas jinjing kulit milik Profesor Hermawan yang terbuka di atas meja dosen. Dari balik celah tas sang dosen, menyembul ujung dompet kulit buaya berwarna coklat identik dengan milik Kenzo.
Profesor Hermawan tersentak. Beliau langsung memeriksa tasnya sendiri dan menarik keluar dompet mewah tersebut.
"Kenzo! Kenapa dompetmu bisa ada di dalam tas saya?!" bentak Profesor dengan wajah memerah karena merasa dihina.
"Hah?! Eng-nggak mungkin, Prof! Bukan saya yang taruh di situ!" Kenzo terbata-bata, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
Ia benar-benar syok, skenario yang ia susun bersama Davin hancur berantakan. Ia tidak tahu bahwa saat Davin sibuk memasukkan dompet itu ke loker Gala setengah jam lalu, Reza telah meretas sistem loker digital, menukar posisi dompet tersebut ke dalam tas Davin. Dan Gala dengan gerakan tangan secepat kilat telah memindahkannya ke tas dosen saat berpapasan di koridor tadi.
" Ternyata... Putra Mahkota Samudra Group hobi nge-prank dosen senior, ya? Atau mau memfitnah mahasiswa beasiswa tapi senjatanya malah makan tuan?" sindir Gala dengan senyum manis yang sangat mengejek.
Seluruh mahasiswa di auditorium langsung riuh, berbisik-bisik sambil menertawakan Kenzo. Aluna yang melihat itu langsung mengembuskan napas lega, diam-diam mengacungkan jempol ke arah Gala.
"Kenzo! Davin! Ikut saya ke ruang rektorat sekarang juga! Hari pertama kuliah sudah berani berbuat curang dan menghina dosen!" teriak Profesor Hermawan murka, menggebrak meja hingga ruangan kembali senyap.
Kenzo dan Davin hanya bisa berjalan gontai keluar kelas, dengan wajah merah padam menahan malu yang amat sangat. Saat melewati Gala, Kenzo menatap sepupunya itu dengan mata yang memancarkan dendam kesumat. Namun Gala hanya membalasnya dengan kedipan mata yang slengean, menandakan bahwa ini barulah permulaan dari badai yang sesungguhnya.