"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.
Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.
Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.
"Hey!"
"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.
"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 19
Saat hendak ingin berjalan ke dapur, Bianca berpapasan dengan Anya yang saat ini sedang menyapu lantai di sana.
Bruk!
"Oops! ..." gumam Bianca pelan saat dengan sengaja menumpahkan trash bin. Alisnya terangkat dengan mulut yang coba ia tutup. Anya yang mendengar suara di belakangnya sontak menoleh dan melihat.
Sampah yang dengan susah payah ia kumpulkan kini harus berserakan di samping Bianca dan harus kembali di bereskan.
"Maaf, yaa anak kampung. Gue nggak sengaja," tutur Bianca santai, tanpa rasa bersalah sedikit pun ketika melihat Anya berjalan mendekatinya.
"Iyaa, nggak apa-apa Non ..." sahut Anya yang sudah terbiasa. Berjongkok di samping majikannya untuk kembali membereskan sampah yang berserakan sekarang.
"Oh, iyaa. Sekalian aja deh! Buatin minuman buat temen-temen gue di depan. Apple juice dua, tambahin krim milk di atasnya, tiga Mango juice dan ... Cemilan ringannya jangan lupa," ujar Bianca dengan angkuh, melihat Anya yang masih berada di bawah dengan tangannya yang bersedekap dada.
Anya menoleh ke atas. Melihat Bianca yang masih berdiri di sampingnya dengan angkuh. "Baik Nona Bianca, saya akan buatkan nanti—"
"Sekarang !!! Kenapa harus nanti?!" bentak Bianca dengan keras. Berhasil membuat Anya kaget terperanjat langsung bangun berdiri seketika sambil menunduk.
"Ba-baik. Saya akan buatkan ..." balas Anya ragu, merasa takut dengan tekanan yang majikannya buat. Merasa sudah selesai menyuruh Anya, Bianca lalu kembali begitu saja meninggalkannya. Dan dengan sengaja lagi menumpahkan trash bin yang berada di sampingnya dengan santai.
Bruuk!
Bianca terkekeh kecil menoleh lagi kebelakang. Menatap Anya yang masih memperhatikannya. "Oops! ... Maaf lagi, yaa anak kampung ... Selamat kembali bekerja~" kata Bianca santai, berlenggang pergi sebelum meninggalkan Anya yang masih berdiri.
Anya hanya bisa lagi-lagi menghela nafas pendeknya. Melihat tingkah majikannya yang selalu merundungnya ketika bekerja. Entah apa salah Anya, sehingga membuat Bianca terus saja mengusik pekerjaannya.
Mau tidak mau, Anya harus kembali membereskan kumpulan sampah yang tadi sudah sempat ia selesaikan. Bulir keringat mulai keluar dari kening kecil Anya yang coba ia usap.
Di depan televisi yang besar ruangan itu, kini Bianca dan teman-teman lainnya sedang asik tertawa menonton sebuah film yang di putar. Selama menonton film, Bianca yang duduk di sebelah Rangga selalu menempelkan kepala di pundaknya.
Rangga yang merasa tidak enak terkadang berusaha melepaskannya. Namun karena Bianca yang terlalu genit, hal itu selalu mudah terjadi. Apalagi, kini Bianca telah mendapatkan space waktu yang banyak ketika berada di rumahnya bersama dengan Rangga. Orang yang ia suka.
Beberapa saat kemudian, perhatian dari Bianca dan teman-temannya teralihkan. Oleh kedatangan Anya yang membawa minum dan makanan untuk mereka. Melihat wanita muda seperti Anya, sorot heran dari mata Novi dan Wati keluar. Yang melihat ada seorang wanita di umurnya bekerja sebagai pembantu.
Sedangkan Restu, sudah pernah melihat Bianca sebelumnya. Sewaktu ia mencoba menakuti-nakuti Anya masuk kedalam kamarnya atas perintah Bianca. Namun berbeda dengan Rangga, selama Anya menata gelas dan piring. Pandangannya tidak pernah berkedip tertegun. Ia malah merasa seperti tidak bisa berpaling. Di tengah-tengah Bianca yang menatap kesal atas ekspresi yang di keluarkan Rangga.
"Permisi ..." ucap Anya sebelum menata minuman dan makanan yang ia bawa dengan nampan. Sampai pada minuman terakhir yang akan Anya letakan, keseimbangan Anya hilang.
Membuat minuman yang hampir tumpah itu berhasil di tahan oleh Rangga yang tidak jauh berada di dekat Anya memegang nampannya. Jarak mereka dekat. Kini keduanya saling pandang, di tengah sorot mata Bianca sekarang menatap Anya dengan nyalang.
"Apaan sih! ... Bisa kerja nggak?!" bentak Bianca, mencoba memisahkan tangan Rangga dari nampan yang Anya pegang. Rangga menoleh ke Bianca sekilas.
"Maaf, Non ... Saya tidak sengaja," tutur Anya, menunduk meminta maaf dari kecerobohannya. Rangga yang masih merasa kaget mendengar teriakan Bianca, mulai menatap heran.
"Udah sono pergi!" sambung Bianca, mengusir Anya yang masih menunduk di hadapan teman-temannya. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Anya berlalu pergi meninggalkan mereka segera.
Deru nafas Bianca masih belum teratur, melihat kedekatan Rangga dan Anya yang secara tidak sengaja terjadi di hadapannya barusan. Rangga mulai merasa ada yang aneh dengan sisi Bianca yang baru ia lihat. Sedangkan teman-teman yang lainnya, menganggap lain. Mereka tahu kalau Bianca saat ini sedang cemburu.
"Liat aja nanti ... Anya!" rutuk Bianca kesal di dalam hatinya, ketika masih memikirkan moment seperti tadi.
Bruk!
Suara dari Bianca yang tidak sengaja menabrak Bi Inah. Bi Inah yang sedang membawa kopi untuk Nyonya Laras harus membuatnya kembali. Karena kopi itu kini sedikit tumpah dan mengenai baju mahal Bianca.
"Aduuuh ... !!! Bibi punya mata nggak sih?!" oceh Bianca, sambil menunduk dan mengkibarkan dress nya yang terkena tumpahan kopi. "Bibi gatau apa, baju ini tuh mahal !!! 5 tahun Bibi kerja di sini aja belum tentu bisa bayar ..." sambungnya, terus memarahi Bi Inah yang semakin takut dan merasa bersalah.
"Maaf Non ... Bibi tidak sengaja," jelas Bi Inah, masih dengan menunduk tidak berani menatap Bianca yang melihat tajam ke arahnya.
"Maka nya! Kalo punya mata tuh di pake—"
Tiba-tiba saja Bianca terdiam. Seperti sedang memikirkan rencana yang pastinya tidak baik. Smirk kecil terukir di wajah Bianca dengan anggukan kecil.
"Aha! ... Gue punya ide."
"Gue gamau tau, pokoknya Bibi harus tanggung jawab beliin yang baru!" sambung Bianca, meminta asal yang sudah pasti dengan jelas Bi Inah tidak sanggup mengganti ruginya.
"Tapi Non ... Bibi ngga punya uang," jawab Bi Inah, dengan nada melas dan terlihat seperti memohon menatap Bianca.
"Yaa gamau tau. Ini kan gara-gara Bibi, jadi Bibi harus tanggung jawab!" bentak Bianca yang menyudutkan Bi Inah. Kini wanita berumur itu hanya bisa terdiam di hadapannya. Dengan ekspresi murungnya yang tidak tahu harus bagaimana.
"Atau gini aja, Bibi harus melakukan sesuatu ... Buat nebus kesalahan Bibi," ujar Bianca, dengan senyum licik yang ia berikan untuk Bi Inah.
Bi Inah terdiam. Memandang Bianca yang tidak mengerti apa maksud ucapannya. "Sesuatu?"
Bianca mengangguk pelan puas. Sebelum berbisik kepada Bi Inah memberitahu apa yang harus ia lakukan untuknya.
...
"Tapi Non, itu kan—"
"Nggak ada alesan!" bentak Bianca memutuskan secara sepihak tanpa ingin mendengar ucapan Bi Inah. "Kalo gamau, yaa Bi Inah harus tanggung jawab. Ganti rugi, bekerja 5 tahun tanpa gaji di rumah ini."
Bi Inah kembali terdiam. Dengan perasaannya yang khawatir akan pekerjaan yang harus ia lakukan tanpa gaji bila menolak usul Bianca. Matanya mengerejap cemas, tidak punya pilihan lain selain menerima.
Suaranya sedikit tertahan di tenggorokannya ketika ia harus menerima permintaan Bianca dengan terpaksa. "Baik Non."
Ketika sudah mendapat jawaban yang ia inginkan, Bianca berlenggang pergi dengan angkuh begitu saja. Tanpa memikirkan lagi masalah baju mahalnya yang terkena noda kotor kopi akibat Bi Inah. Tidak lupa juga Bianca mengibaskan rambut wanginya sebelum pergi melangkah.
Hembusan kecil keluar dari mulut Bi Inah yang masih berdiri memegang cangkir kopi di tangannya. Mata sayu nya memandang kepergian Bianca yang lagi-lagi membuatnya berada di antara pilihan yang tidak bisa ia tolak.