NovelToon NovelToon
Salah Meja Jadi Istri CEO

Salah Meja Jadi Istri CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Slice of Life / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Office Romance
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Aneska (25 tahun) berada dalam situasi darurat: menikah dalam seminggu atau dijodohkan dengan "om-om" pilihan Papanya yang bernama Argani Sebasta. Demi kebebasan, Aneska nekat mencari pacar sewaan lewat bantuan sahabatnya.
Namun, kecerobohan berbuah petaka—atau mungkin keberuntungan. Di sebuah kafe, Aneska salah mendatangi meja. Bukannya bertemu pria dari aplikasi kencan, ia justru mengajak kencan seorang pria asing yang tampak dewasa dan sangat tampan.
Aneska tidak tahu bahwa pria itu adalah Argani Sebasta, calon tunangan yang sangat ia hindari. Arga yang menyadari kesalahan Aneska justru merasa tertarik dan memilih menyamar menjadi "Gani" si pria biasa.
Permainan menjadi serius saat Arga tiba-tiba mengajukan syarat gila: "Jangan cuma pacaran, ayo langsung menikah saja."
Terdesak waktu dan terpesona pada ketampanan "Gani", Aneska setuju. Akankah Aneska tetap bahagia saat tahu bahwa suami yang ia pilih sendiri sebenarnya adalah pria yang paling ingin ia tolak sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Semangkuk Bubur dan Akhir Penyamaran

​Lima menit yang dijanjikan Arga terasa seperti selamanya bagi Aneska. Ia berdiri di lobi gedung kantornya, memilin ujung kemejanya dengan perasaan campur aduk. Pegawai kantor lain yang berlalu lalang sempat mencuri pandang ke arahnya, namun Aneska tidak peduli. Pikirannya hanya tertuju pada satu orang: Argani Sebasta.

​Tepat di menit kelima, SUV hitam itu menepi dengan tenang di depan lobi. Tidak ada sopir, tidak ada asisten. Arga turun dari kemudi, masih mengenakan kemeja kerja yang sama dengan semalam, namun kali ini ia tampak lebih segar, meski guratan lelah di matanya belum sepenuhnya hilang.

​Begitu mata mereka bertemu, Arga tidak memberikan senyum kemenangan. Ia justru menatap Aneska dengan pandangan yang bertanya-tanya, seolah memastikan bahwa pesan singkat tadi bukanlah sekadar salah kirim.

​"Mau jalan kaki ke depan, atau mau naik mobil?" tanya Arga saat sudah berdiri tepat di depan Aneska.

​"Jalan kaki aja. Cuma di ujung gang itu, kok," jawab Aneska pelan.

​Mereka berjalan bersisian menyusuri trotoar yang mulai ramai oleh orang-orang pulang kantor. Bau polusi Jakarta dan aroma gorengan dari pedagang kaki lima menyambut mereka, namun entah kenapa, suasana terasa begitu sunyi di antara mereka berdua.

​"Gani asli datang ke kantor tadi," ucap Aneska memecah keheningan.

​Langkah kaki Arga sempat terhenti sejenak, namun ia segera menyesuaikan ritmenya kembali. "Dia sudah bicara?"

​"Iya. Dia bilang lo kasih dia modal bengkel. Kenapa harus bengkel?"

​Arga memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Miska bilang ke asisten saya kalau Gani itu mekanik berbakat yang terjebak di pekerjaan administrasi karena nggak punya modal. Saya rasa, daripada saya kasih uang tunai yang mungkin habis begitu saja, lebih baik saya kasih dia masa depan. Sebagai permintaan maaf karena saya sudah mencuri sorenya di kafe itu."

​Aneska menoleh, menatap profil samping wajah Arga yang tegas. "Lo selalu begitu, ya? Menyelesaikan semuanya dengan cara yang... nggak terduga?"

​"Hanya untuk hal-hal yang berharga, Anes," jawab Arga rendah, matanya menatap lurus ke depan.

​Mereka sampai di gerobak bubur ayam "Pak Kumis" yang legendaris di pojok jalan. Tempat itu sangat sederhana, hanya ada dua bangku plastik panjang dan meja yang permukaannya sudah agak kusam. Tukang bubur itu langsung menyapa Aneska dengan akrab.

​"Eh, Neng Anes! Tumben bawa cowok baru, Neng? Biasanya sendirian," goda si abang bubur sambil menyiapkan mangkuk.

​Aneska tersenyum canggung. "Dua ya, Bang. Kayak biasa."

​"Siap! Nggak diaduk kan, Neng?"

​"Iya, Bang."

​Arga duduk di bangku plastik yang sempit itu tanpa terlihat risih sedikit pun. Jas mahalnya ia letakkan begitu saja di sampingnya. Ia tampak sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya, namun cara ia berinteraksi menunjukkan bahwa ia memang ingin berada di sana.

​"Gue mau nanya satu hal yang jujur banget," ucap Aneska setelah mangkuk bubur tersaji di depan mereka. Ia menatap tumpukan kerupuk dan suwiran ayam di mangkuknya tanpa minat makan terlebih dahulu.

​"Tanyakan saja," sahut Arga, ia mulai mengambil botol kecap asin.

​"Waktu di kafe itu... di meja nomor dua puluh satu. Gani asli ada di meja dua belas, tepat di belakang lo. Dia lagi sibuk main HP dan nggak denger panggilan gue. Kenapa lo nggak panggil dia? Kenapa lo justru diem aja pas gue duduk dan mulai ngoceh panjang lebar soal benci perjodohan?"

​Arga meletakkan botol kecapnya. Ia menatap Aneska lekat-lekat, memberikan perhatian yang begitu intens hingga Aneska merasa dunianya seakan menyempit hanya pada pria di depannya ini.

​"Jujur?" tanya Arga memastikan.

​Aneska mengangguk.

​"Karena waktu kamu duduk di depan saya, napas kamu terengah-engah, dan kamu mulai memaki 'Argani Sebasta' dengan wajah yang begitu penuh semangat... saya merasa terpesona," Arga terkekeh kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat tulus. "Lucu, kan? Orang yang sedang kamu maki ada tepat di depan kamu, dan kamu terlihat begitu hidup. Saya yang selama ini selalu dikelilingi orang-orang yang bicara penuh tata krama, tiba-tiba bertemu gadis yang ingin mengajak saya 'kabur'. Detik itu, saya nggak mau berbagi kamu dengan pria yang bahkan nggak sadar kamu sudah lewat di depan matanya."

​Aneska tertegun. "Jadi lo sengaja?"

​"Saya egois, Anes. Saya ingin tahu seberapa jauh gadis ini bisa membuat saya tertarik. Dan ternyata, hanya butuh waktu lima menit bagi saya untuk memutuskan bahwa saya tidak akan membiarkan kamu kembali ke meja nomor dua belas."

​Aneska mendengus, mencoba menyembunyikan senyumnya di balik sendok bubur. "Lo jahat banget, Arga. Lo bikin gue kayak orang bego selama berminggu-minggu."

​"Makanya saya ada di sini sekarang," Arga memajukan wajahnya sedikit. "Untuk menebus kejahatan itu. Makanlah buburnya, nanti dingin."

​Mereka mulai makan dalam hening yang nyaman.Di tengah suapan kelimanya, Aneska melihat Arga dengan telaten menyingkirkan seledri dari mangkuknya sendiri, tapi kemudian Arga justru menambahkan sate usus ke mangkuk Aneska.

​"Kenapa dikasih ke gue?" tanya Aneska heran.

​"Semalam Papa kamu bilang, kalau Anes lagi stres atau capek, kasih dia sate usus yang banyak. Katanya itu mood booster kamu," jawab Arga santai.

​Aneska terdiam, hatinya terasa menghangat. "Lo... lo beneran dengerin semua omongan Papa ya?"

​"Setiap kata," jawab Arga tegas.

​Setelah bubur mereka tandas, Aneska merogoh tasnya. Ia mengeluarkan sebuah benda yang selama seminggu ini menghuni laci terbawah meja riasnya. Kotak beludru kecil.

​Ia meletakkan kotak itu di atas meja yang agak berminyak, tepat di antara mereka berdua.

​"Arga," panggil Aneska.

​Arga menatap kotak itu, lalu menatap mata Aneska. "Kamu mau mengembalikannya?" suaranya terdengar sedikit getir.

​Aneska menggeleng. Ia membuka kotak itu, memperlihatkan cincin indah yang pernah Arga berikan di tengah hujan. Aneska mengambil cincin itu, lalu menyodorkannya pada Arga.

​"Waktu itu lo kasih ini di bawah hujan, dan gue lagi marah banget. Gue ngerasa ini cincin jebakan," ucap Aneska dengan suara bergetar. "Sekarang, gue mau lo pakein cincin ini lagi. Di sini, di tukang bubur, di saat gue nggak lagi marah dan gue tahu siapa lo yang sebenernya."

​Mata Arga berkilat. Ia mengambil cincin itu dengan tangan yang sedikit gemetar—sebuah pemandangan langka bagi seorang CEO yang biasanya sangat tenang. Ia meraih tangan kanan Aneska, lalu menyematkan cincin itu di jari manisnya dengan perlahan.

​"Kali ini, nggak ada penyamaran lagi?" tanya Arga memastikan.

​"Nggak ada. Cuma Aneska yang ceroboh dan Arga yang... tukang tipu tapi baik," jawab Aneska diiringi tawa kecil.

​Arga menggenggam tangan Aneska erat di atas meja. "Janji satu hal, Anes. Jangan pernah salah meja lagi di masa depan. Cukup meja saya saja."

​Aneska tersenyum lebar, senyum paling tulus yang pernah ia berikan pada pria itu. "Tergantung. Kalau bubur ayamnya enak, gue bakal tetep di meja ini."

​Di bawah lampu neon gerobak bubur yang agak berkedip, Aneska menyadari bahwa terkadang, takdir tidak membutuhkan skenario yang sempurna. Hanya butuh satu kesalahan kecil di meja nomor dua puluh satu untuk menemukan cinta yang sesungguhnya.

1
Aidil Kenzie Zie
Anes sangat beruntung
Ariska Kamisa: tapi anes nge gas terus yaa🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
didunia nyata apakah ada yang seperti Arga 🤔🤔🤔
Ariska Kamisa: seperti nya 1001 kak🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
ya Allah Arga ... 😱
umie chaby_ba
so sweet
umie chaby_ba
👍👍👍👍
umie chaby_ba
satria oh satria bikin Arga kesurupan
umie chaby_ba
arga nyebut ga !
umie chaby_ba
anes iiih 🤭
umie chaby_ba
astagfirullah...🤣🤣🤣
umie chaby_ba
arga 🤣🤣🤣
umie chaby_ba
ya Allah Arga udh kebelet banget 🤭
umie chaby_ba
suka suka suka
Ariska Kamisa: terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
gercep Amayyy
umie chaby_ba
gemas banget sih arga🤣🤣🤣
umie chaby_ba
ada siangan nih.
Ariska Kamisa: saingan kali... 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
cerita nya asik nih, ringan ... aku suka yang bucin gini tapi ceweknya sok cuek /Curse//Curse//Curse//Curse/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak ya kakak♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
umie chaby_ba
😍😍😍😍
umie chaby_ba
ciee ngajak ngebubur duluan🤭
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
😍😍😍😍
umie chaby_ba
apakah sebenarnya itu rencana para papa mereka berdua?
Ariska Kamisa: pintar...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!