Hidup seorang wanita hancur dalam satu malam setelah memergoki tunangannya berselingkuh dengan orang terdekatnya. Dalam kondisi patah hati dan mabuk berat, dia tidak sengaja menghabiskan malam yang penuh gairah dengan seorang pria asing di dalam kamar hotel mewah. Pria itu ternyata adalah seorang CEO muda terkaya yang terkenal sangat dingin, kejam, dan berkuasa di dunia bisnis.
Keesokan paginya, wanita itu kabur karena panik dan memilih menghilang tanpa jejak. Enam tahun kemudian, dia terpaksa kembali ke ibu kota demi menghidupi anak kembar hasil dari malam itu. Tanpa diduga, anak kembarnya malah tidak sengaja bertemu dengan sang CEO karena wajah mereka yang sangat mirip.
Sang CEO yang selama ini terobsesi mencari wanita misterius dari masa lalunya langsung bergerak cepat. Begitu tahu kebenarannya, dia langsung menjerat wanita itu masuk ke dalam hidupnya kembali melalui pernikahan paksa demi hak asuh anak. Dari sinilah hubungan mereka yang penuh gengsi, rahasia, dan ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Enam Tahun Kemudian
Dua garis merah samar pada alat tes kehamilan di tangannya pagi itu telah mengubah seluruh peta hidup Eli. Ketakutan terbesar dalam hidupnya menjadi kenyataan. Malam penuh gairah di Kamar 909 tidak berlalu begitu saja; Xavier Arisatya telah meninggalkan jejak permanen di dalam rahimnya. Mengetahui betapa kejam dan berkuasanya sang CEO, Eli mengambil keputusan nekat. Dia mengemas seluruh barangnya, memutus semua kontak dengan keluarga besarnya, dan melarikan diri ke sebuah kota kecil di pinggiran negara untuk bersembunyi.
Enam tahun berlalu dalam kedamaian yang rapuh. Waktu telah menempa Eli menjadi sosok ibu tunggal yang tangguh. Di kota kecil itu, dia berjuang mati-matian membesarkan dua buah hatinya, sepasang anak kembar yang diberi nama Kenji dan Kiana. Mereka adalah sumber kekuatan sekaligus ketakutan terbesar bagi Eli. Setiap kali memandang wajah kedua anaknya, jantung Eli selalu berdesir hebat.
Kenji tumbuh menjadi anak laki-laki yang sangat cerdas, dingin, dan memiliki tatapan mata elang yang tajam. Sementara Kiana adalah anak perempuan yang menggemaskan, tetapi memiliki garis rahang yang tegas. Keduanya mewarisi genetik yang terlalu sempurna dari sang ayah, Xavier Arisatya. Kemiripan itu terkadang membuat Eli terjaga di tengah malam, didera ketakutan jika suatu saat pria berkuasa itu menemukan keberadaan mereka.
Namun, roda kehidupan terus berputar dan badai ekonomi tidak bisa dihindari. Perusahaan tempat Eli bekerja di kota kecil itu bangkrut total, menyisakan tabungan yang kian menipis. Sementara itu, biaya sekolah Kenji dan Kiana yang mulai memasuki taman kanak-kanak semakin membengkak. Eli tidak punya pilihan lain. Demi masa depan anak-anaknya, dia terpaksa harus menelan ludahnya sendiri. Dia harus kembali ke ibu kota, tempat di mana semua luka dan ketakutannya berasal.
"Pegang tangan Ibu yang erat, ya," bisik Eli lembut sambil menggandeng tangan mungil Kenji dan Kiana di koridor stasiun kereta ibu kota yang padat.
Suasana kota metropolitan ini masih sama seperti enam tahun lalu—bising, sibuk, dan menyesakkan. Eli menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir rasa cemas yang mendadak menyerang dadanya. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ibu kota ini sangat luas. Kemungkinan dirinya berpapasan dengan Xavier atau bahkan Adrian sangatlah kecil. Lagipula, Xavier adalah seorang konglomerat yang hidup di lapisan langit, sedangkan dia hanyalah rakyat jelata yang bergerak di antara himpitan komuter.
"Ibu, Kiana lapar. Mau es krim yang itu," rengek Kiana sambil menunjuk sebuah kedai gelato mewah di area lobi mal yang terhubung langsung dengan stasiun.
Eli melihat jam tangannya. Mereka masih punya waktu dua jam sebelum jadwal wawancara kerjanya di sebuah perusahaan periklanan kecil. Melihat wajah lelah kedua anaknya setelah perjalanan jauh, Eli tidak tega untuk menolak. "Baiklah, kita beli es krim dulu. Setelah itu kita cari tempat istirahat, ya."
Wajah Kiana langsung berbinar bahagia, sementara Kenji hanya mengangguk tenang dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana kodoroynya—gaya yang entah dari mana dia pelajari, tetapi sangat mirip dengan gestur seorang bos besar.
Mereka berjalan menuju kedai tersebut. Mal itu sangat megah dan mewah, tipe tempat yang biasanya dihindari Eli. Saat Eli sedang mengantre di depan kasir untuk membayar pesanan es krim, Kiana yang terlalu bersemangat mendadak melepaskan gandengan tangan ibunya. Bocah perempuan itu melihat sebuah balon besar berwarna-warni di dekat pintu masuk utama mal dan berlari ke sana tanpa pamit.
"Kiana, jangan lari!" seru Kenji yang menyadari adiknya menghilang. Bocah laki-laki itu langsung berlari mengejar adiknya, meninggalkan Eli yang masih sibuk mengambil uang kembalian di kasir.
Kiana terus berlari riang tanpa melihat ke depan. Di saat yang sama, pintu kaca otomatis mal terbuka. Rombongan pria berjas hitam formal melangkah masuk dengan pengawalan ketat, dipimpin oleh seorang pria jangkung berwibawa dengan aura dingin yang mematikan. Pria itu adalah Xavier Arisatya.
Gubrak!
Tubuh mungil Kiana menabrak kaki panjang Xavier dengan cukup keras hingga bocah itu terjerembap ke lantai marmer yang licin. Es krim stroberi di tangannya jatuh dan mengotori sepatu kulit buatan Italia milik sang CEO.
"Astaga! Bocah sialan, apa yang kamu lakukan?!" bentak salah satu pengawal Xavier dengan suara keras, bersiap untuk menarik Kiana menjauh.
Namun, langkah pengawal itu terhenti ketika Xavier mengangkat satu tangannya, memberi isyarat untuk diam. Xavier menunduk, menatap tajam ke arah bocah perempuan yang kini menatapnya dengan mata berkaca-kaca siap untuk menangis.
Tepat saat itu, Kenji tiba di tempat kejadian. Dengan berani, bocah laki-laki berusia lima tahun itu berdiri di depan adiknya, melindungi Kiana dari tatapan intimidasi orang-orang dewasa di sekeliling mereka. Kenji mendongak, menatap langsung ke dalam sepasang mata elang Xavier dengan tatapan yang sama dingin dan tajamnya.
Xavier terpaku di tempatnya berdiri. Jantungnya mendadak berdegup kencang dengan ritme yang tidak beraturan. Dia menatap wajah bocah laki-laki di hadapannya. Alis tebal itu, bentuk rahang itu, dan kilatan mata dingin itu... itu adalah replika sempurna dari wajahnya sendiri ketika masih kecil.
"Siapa nama ibumu?" suara berat Xavier terdengar serak, dipenuhi rasa penasaran yang mendalam. Instingnya sebagai seorang pria dan penguasa bisnis mengatakan bahwa ada rahasia besar yang sedang berdiri di hadapannya saat ini.