Antara Arkananta Pradipta dan Leana Anastasya.
pertemuan kembali setelah belasan tahun berpisah mengungkap berbagai rahasia.
sepasang mantan suami istri yg sama-sama msih mendendam cinta dulu adalah pasangan muda yang menikah muda di usia mereka baru 16 tahun dan mereka berpisah karena pertentangan dari orang tua masing-masing...
yang mau tau cerita selengkapnya nya di baca☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon #kupunyacerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
Sedang di sebuah desa di malam yang sama di rumah sederhana Leana Anastasya tepatnya di dalam kamar kecil milik Dea.Tadi Dea meminta tolong Abang nya mengambil tas yang ada di atas lemarinya. tapi ada satu pertanyaan dari mulut Dea yang membuat mereka berdua berdebat kecil.
"Abang?" panggil Dea pelan.
"hmmm" deheman dari Delvin tanda menjawab. Sifat Delvin dingin dan cuek. Tapi dia sosok penyayang kepada adik dan mamanya.
"Abang gak kangen sama sosok papa?" tanya tanya Dea pelan, dia sebenarnya takut tanya begitu kepada Abang nya, tapi dia juga ingin mengetahui isi hati Abang nya itu.
Delvin tidak suka jika Dea menanyakan sosok ayah yang tidak pernah ada di antara mereka lebih lagi dia takut mamanya sedih bila mendengar kata ayah itu.
"Dea sudah berapa kali aku bilang jangan berbicara ataupun bertanya tentang sosok yang tidak pernah ada di antara kita, anggap saja kita tidak memiliki ayah". Sahut Delvin dingin tapi dengan suara yang pelan. Bagi Delvin sang mama cukup bagi mereka. Hanya ibu nyalah Yang merawat mereka dari kecil, yang mencari nafkah dan berjuang untuk memenuhi kehidupan mereka. Jadi Delvin tidak perlu sosok ayah lagi.
"Tapi aku pengen lihat papa Abang, gimana wajah dan rupanya, apakah aku salah?" di balik keceriaan Dea selama ini Dea hanya seorang anak yang merindukan sosok seorang Ayah sosok orang yang di sebut cinta pertama bagi anak perempuan nya itu.
"Dea Abang berharap ini terakhir kali kamu bertanya tentang lelaki yang tidak pernah ada itu, jangan sampe mama mendengar atau kamu bertanya langsung kepada mama". Bukan tanpa sebab Delvin melarang adik nya itu bertanya tentang ayah Kepda mamanya langsung, karena setiap kali mereka bertanya tentang itu Leana sang mama selalu merasa sedih, dan akhirnya masuk ke kamar dan menangis di kamar. Delvin yang peka dan juga Delvin memiliki sifat dewasa tau kalau mamanya tidak suka dengan pertanyaan di mana sosok ayah itu.
"sekarang bereskan semua barangmu yang penting untuk di bawa" perintah Delvin sebelum keluar dari kamar Dea.
Tanpa mereka tau sebelum nya Leana berdiri di ambang pintu dan mendengar perdebatan tentang sosok ayah. Sesak rasanya dada Lea air mata tidak bisa di tahan dan keluar begitu saja. Diapun berbalik menuju kamarnya yang tadi ingin masuk untuk membantu Dea membereskan barang-barang nya, kerena rencananya besok pagi pukul 9 mereka sudah meninggal kan desa itu untuk pergi ke kota Jakarta.
Di dalam kamar Lea duduk di lantai menekuk lututnya dan membenam wajah di tangan yang bertumpu di atas lutut, Lea menangis sesenggukan tapi suara pelan tidak mau terdengar anak anaknya kalu ia sedang menangis. Dadanya sangat sesak, kejadian dan cerita masa lalu berputar di kepalanya bak kaset rusak.
flashback on
waktu itu 18 tahun yang lalu. Hari itu hari di mana kelulusan anak SMP, itu adalah sekolah Arkananta Pradipta dan Leana Anastasya. Mereka bergembira saling menyemprot kan Pilox di baju teman-teman mereka.
"Ar fotoin aku dong." teriak Leana yang berdiri agak jauh dari Arkan.
Arkan yang mendengar panggilan dari Lea sahabat dekatnya itu menoleh dan juga dia yang sedang memegang kamera digital untuk mengabadikan momen itu pun mengiyakan.
Arkan maju beberapa langkah untuk lebih dekat dengan Dea. Setelah dia memastikan tempat yang pas dan Dea yang tidak jauh dari Arkan bersiap dengan gaya centilnya bergaya dengan jari piece dengan senyum yang lebar dan kepala yang dimiringkan. Dia bersiap untuk di foto. Tidak lama berbunyi suara cekrek tanda foto sudah di ambil, bukan cuma satu tadi ada beberapa foto yang di ambil dengan berbagai gaya.
Dea menghampiri Arkan untuk mengecek foto itu. " bagus gak Ar?" tanya Dea tentang hasil tangkapan foto nya."cantik, imut plus manis, tidak bosan di pandang"jawab Arkan sambil tersenyum manis menatap ke waja Lea.
"apaan si Lo Ar, gak jelas banget si." kata Dea sok judes padahal dia senang tapi malu.
"aku jujur kok, kalau kamu cantik" jawab Arkan seperti orang yang sedang merayu.
"paan sih, kamu seperti playboy yang ngerayu gebetannya, mau muntah aku dengernya tau gak!"
"aku emang sedang merayu gebetan kok, tapi aku bukan playboy". Kata Arkan jujur yang membuat Dea salah tingkah.