NovelToon NovelToon
Hng Sih Kian Li

Hng Sih Kian Li

Status: tamat
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: The Bwee Lan

Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.

Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.


oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI KEBUN TEH KETEMU DIA

Eng Sok pulang dan mandi.

Air hangat mengalir di rambut panjangnya. Ia tutup mata. Membayangkan Ah Chio — bukan di rumah sakit, tapi di tempat lain. Kebun teh. Senyumnya. Matanya.

Jangan, pikirnya. Jangan dipikirin dulu.

Ia buka mata. Bilas. Selesai.

---

Setelah mandi, ia makan lagi. Yang keempat hari itu. Mie instan di lemari makan. Ia bingung melihat mie itu.

Dibuka.

Disiram air panas.

Ditutup.

Ting! — tiga menit kemudian, mie sudah matang. Enak. Tinggal ditambah potongan sosis (yang disebut Ah Me "sosis siap makan") dan sawi.

Eng Sok menggeleng. Dunia modern.

---

Ia rebahan di sofa. Buka HP.

Browsing tentang keluarga Hok. Tentang keluarga Sioh.

Hmm.

Ia cari akun Ah Chio — HokChioLittle13.

Tekan tombol Follow.

Langsung diterima. Dalam hitungan detik. Auto follow back.

Eng Sok tersenyum.

Ia gulir sedikit. Foto Ah Chio di toko herbal. Foto Ah Chio dengan Tauke Hok. Foto Ah Chio — sendirian, di kebun teh, tersenyum tipis ke kamera. Dia like beberapa. Juga foto terbaru. Poster Mikrodrama yang dia akan segera bintangi.

Hatinya berdebar. Ia matikan layar.

---

Ah Me muncul dari dapur. Matanya menyipit. Saat tau Eng Sok buka-buka foto Ah Chio.

"Nona Hok..."

Eng Sok duduk. Menghela napas. Mukanya merah dada berdebar. Kayak maling jemuran ketangkap basah.

Dia menenangkan diri. Minum segelas air.

"Ah Me. Kita baru kenal berapa hari? Seminggu kurang." Ia mengangkat tangan kanannya yang diperban agar otot-ototnya  kembali ke posisi awal akibat bergeser. "Kalo tukar kisah, saking tau  banyak, kan gara-gara kecelakaan berat itu aja."

Ah Me diam.

Eng Sok meneruskan. "Aku gak mau buru-buru menikah lagi. Tanganku aja masih bengkak. Baru semingguan kurang. Paling enggak dua atau tiga bulan bakal begini."

Ia menunjuk ke sekeliling. Rumah kontrakan. Sederhana.

"Lagian rumah masih kontrakan. Keluarga Hok... kayaknya bangsawan.", cerita Eng Sok pelan.

“Dari browsing tadi: keluarga Hok, di zaman Eng Sok dulu, banyak yang jadi Kasim. Lalu Selir. Pas ia iseng lihat susunan Menteri di koran — banyak marga Hok. Apalagi Ah Pa-nya Ah Chio — adiknya Menteri.”, lanjut Eng Sok dengan mata sayu lalu terdiam.

Ah Me mengangguk pelan dan menghela nafas sangat panjang. Ia paham. 

"Kalo pun masuk cepat... bisa aja jalur nekat atau jip choe."

Jip choe — suami masuk marga istri, adat rahasia CIA Agung yang sudah ada sejak ratusan tahun sebelum Eng Sok jadi Perdana Mentri wilayah vazal. Adat sah yang terasa tabu bagi pria tapi ada karena tuntutan ekonomi. Seperti Mikrodrama viral bulan lalu.

"Mengingat sifat Tauke Hok," kata Eng Sok, "ini cara yang bagus kalo dia emang mau Ah Chio dengan lelaki tanpa modal. Orang modelan Tauke satu itu pasti cari dua tipe laki-laki buat Ah Chio: tipe kaya — bisa bayarin perawat dia dan istrinya — atau tipe miskin — bisa diperas kayak Ah Chio."

Ah Me menghela napas. "Udah gitulah dari dulu, banyak yang sama."

Eng Sok menjelaskan lagi dengan nada berat, "Marga Sioh kita itu marga biasa, Ah Me — bomi, bukan bangsawan. Walaupun banyak yang jadi artis. Menang cantik dan ganteng doang. Jarang masuk ke lini pemerintahan saat ini."

Ia bersandar di sofa. Matanya terpejam. Ia menggosok pundak pakai minyak angin dari saku celananya.

"Aku gak mau buru-buru. Gak ingin nuruti nafsu sesaat. Takut Ah Me tambah sakit gara-gara aku nikahi pasien psikiatri.", lanjutnya.

Ah Me tidak menjawab. Tapi matanya berkaca-kaca.

"Lagipula," kata Eng Sok, "Ah Chio juga belum mau cepat-cepat menikah. Dia pingin sembuh dulu."

Ia tersenyum tipis.

"Kemarin, aku sempat mancing Ah Chio. Bilang aku mau mempertimbsngkan tawaran foto wedding bareng Ah Chio — katanya Ah Guan, lawan mainku yang model itu, upahnya lumayan."

"Ah Chio jawab: 'Pengen sembuh dulu, Ko. Baru nanti wedding.'"

Ia meniru nada suara Ah Chio.

"'Eh, maksudnya foto ginian!'"

Ah Me tertawa kecil.

“Ah Me tau? Mukanya kaya udang rebus!”, cerita Eng Sok sambil tersenyum nakal dan menutup mulut.

---

Jam menunjukkan pukul sepuluh malam.

Eng Sok mematikan HP. Meringkuk di sofa.

Awalnya, ia tidak bisa tidur. Cuaca panas. Hati berdebar-debar.

Tapi capek dan nyeri membuatnya tergeletak begitu dalam.

---

Bangun-bangun — sudah jam 6 pagi.

Rutinitas lagi. Meditasi. Sarapan. Beberes.

Jam 8 selesai.

Tring!

HP berdering.

"Ah Bu-A..."

Eng Sok mengangkat. "Pagi. Ada apa, Toian?"

Toian Hoan di seberang — suaranya ceria. "Ada kerjaan loo. Mikrodrama baru. Tapi syuting ga di studio kita. Gua kerja jadi asisten Toian Hok. Anaknya Menteri itu."

Eng Sok mengerjap. Toian Hok. Ada hubungan dengan keluarga Ah Chio?

"Pokoknya ga jauh aja lah tempatnya," kata Eng Sok santai. "Tangan kananku masih begini."

"Gak lah," Toian Hoan tertawa. "Di kebun teh — belakang studio itu. Setengah hari doang. Minggu kaga syuting. Kebunnya pasti full soalnya liburan. Ini aja ada scene rame, irit figuran gitu. Kayaknya lu kapan itu kesini beli apaan gitu di bungkusan cokelat."

Eng Sok ingat. Belum lama. Beli bahan natural buat kelas online dia yang 2 hari itu.

"Lu peran utama. Jadi Pangeran bertopeng — konspirasi sama putri." Suara Toian Hoan berubah — sedikit serius. "Tapi artis yang jadi pasangan lu... baru keluar perawatan psikiatri."

Eng Sok terdiam.

"Jaga hati, Sioh Bu. Lu ganteng soalnya! Berapa cewek kepincut lu kurang dari seminggu ini! Terus mereka maksa minta nomor lu!" Toian Hoan menghela napas. "Takutnya dia gak kesampaian ama lu... kumat, terus gigit orang di mari. Kalo yang lain kan tinggal block. Kalo yang ginian repot kalo ga stabil."

Eng Sok tersenyum tipis.

"Gampang!"

---

Ia menutup telepon. Lalu menelepon Ah Koh Choa.

"Ee Hao  a, Ah Koh? Lagi kosong?"

Suara Ah Koh Choa di seberang girang dapat sapaan itu— dia langsung semangat balas, "Hao, lah! Gabut banget! Anak bungsu gua baru nikah. Rumah kosong."

Kalo disuruh nginep di kontrakan Sioh Bu — juga mau.

Eng Sok mentransfer sejumlah uang. Cukup untuk beberapa hari.

Lalu ia lapor ke Ah Me.

"Lu kerja mulu. Lembur. Ga mati?" protes Ah Me.

"Enggak. Dulu perang berapa kali — ga tidur, ga libur. Ga mati," jawab Eng Sok santai.

Ah Me tidak terhibur. "Tapi... kesehatan lu?"

Eng Sok menghela napas. "Cuma sampai jam 4. Besok gua ga kemana-mana. Ga terima endorse, ga ngonten. Sabun beres — diem aja seharian."

"Nanti lu sakit!"

"Kalo ga kerja hari ini," Eng Sok menatap Ah Me — matanya tenang, tapi tegas, "kita sakit bertiga. Seminggu lagi paling ditagih. Biasa — kalo kurang 3 bulan — suruh bayar buat perpanjang kontrak rumah."

Ah Me tidak menjawab.

Eng Sok berdiri. Siap berangkat.

---

Ia bawa kontrak dari Sam Hok Liong — yang dua hari ini tidak sempat dibaca. Rencananya libur. Tapi liburannya sibuk — kayak biasa terjadi.

"Hmm. Bikin iklan Minggu depan," gumamnya.

Ia cek Google Calendar. Cocok. Pas kosong.

Tapi Ah Ti ulangan tengah semester...

"Ya udah." Ia screenshot jadwal. WA ke Ah Me. "Ah Me, Selasa sama Rabu ini Sioh Bu ada live di jalan Yap Chiang sama Sam Hok Liong lo. Ah Ti ulangan tengah semester enaknya gimana? Besok gua cicilin materinya dikit-dikit kok”, tanya Eng Sok.

Ia turun dari bus ke kebun teh. Drama Xianxia.

Ah Me membalas cepat. "Beres. Nanti bakal diajarin sendiri. Kalo ga kuat, bisa minta tolong guru les cabutan."

"Tengah semesteran Ah Ti beres," tambahnya.

Eng Sok lega.

---

Di lokasi syuting — kebun teh di belakang studio.

Konsepnya drama kostum. Figuran pada sambat: "Tng Sa berat!" "Panas!" "Kapan ganti baju?"

Eng Sok? Malah santai. Ini gaya dia. Ini baju dia, dia hidup di dunia dia.

Ia duduk di kursi lipat — cermin kecil di depan, meja darurat di samping dia izin live mau make up sendiri. Toian Hok izinkan make up sendiri

"Bole bole!" Toian Hok tertawa. "Lu kan tau — pelembab Mawar sama minyak lu itu gua ada saham!"

Eng Sok mengerjap. Tauke Hok — punya saham? Tidak heran. Keluarga besar.

Ia buka tas nya dan pouch Makeup. Artis yang lain ngetawain dia semua. Dia gak ngerasa aneh. 

· Pelembab Mawar — merk Sam Hok Liong

· Compact powder zaman kolonial — merk Dragon Rose — shade Kuning Langsat

· Pensil alis Natura — shade Ash Gray — murah, tapi bagus

· Gincu — buatan sendiri — tiga warna: Merah Oranye, Merah Muda, Merah Marun

· Minyak Sam Hok Liong — kemasan semprot — biar agak kekinian

Ia buka aplikasi StreamMe.

Live.

Eng Sok tidak banyak bicara. Ia pasang make up — pelan. Tanpa tergesa-gesa.

Pelembab — tepuk-tepuk tipis.

Bedak padat — pake rembug alias alat meratakan bedak zaman kuno pake bulu. Dia beli muter-muter di toko depan studio yang jual cuma 1.

Blush on — pakai lipstik buatan sendiri — warna Merah Muda. Oleskan di punggung tangan, lalu tepuk-tepuk ke pipi.

"Gaes, ini tiga gincu natural: Merah oranye, Merah Muda, Merah Marun— racikan sendiri. Tube jadul supaya feel Xianxia jadulnya masuk ke hati kalian," katanya. Suaranya datar. Sampai kru ketawain dia.

Komentar langsung membanjiri layar.

"Bang, itu kemasan nenek!"

"TAPI WARNA NYA BAGUS!"

"Jual di mana?"

"Sam Hok Liong semprot! Baru tau gue! Ada keranjang kuning?"

“Ini Instagram, salah aplikasi Lo!”

"LOL"

Eng Sok tidak menggubris. Lanjut merapikan rambutnya, semprot pakai minyak Sam Hok Liong botol baru. Pijat kepala, bikin sanggul kecil, pasang besi sanggul dan konde. Semprot pake hair spray pinjeman dari MUA.

Selesai.

Ia menatap cermin. Lambat-lambat ada bayangan mendekat. Dadanya berdebar tapi otaknya yang lelah dan mulai konslet gak merasa apapun.

Tapi ia lelah. Matikan live. Minum air.

Dan—

Keselek.

 Ah Chio berdiri di belakangnya dan melambaikan tangan ke kaca.

Tersenyum.

---

BERSAMBUNG

---

Eng Sok tidak bilang siapa-siapa bahwa ia sudah follow akun Ah Chio.

Ah Chio tidak bilang siapa-siapa bahwa ia sudah follow balik.

Mereka bertemu di kebun teh.

Di lokasi syuting.

Tidak sengaja — atau mungkin sengaja?

🪷👩‍❤️‍👨💐

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!