NovelToon NovelToon
Moonlight Over The Mafia Empire

Moonlight Over The Mafia Empire

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:35.5k
Nilai: 5
Nama Author: Alistia Haka

Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.

Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.

Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.

Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 20

Aragon menatap situasi di sekitarnya dengan ekor matanya sekilas, dengan kilat mata yang dingin dan teliti.

Sebelum kekacauan yang sebenarnya dimulai, ia melirik ke arah bangunan panti asuhan, tidak ada lagi tempat yang bisa di tinggali.

“Hank,” perintah Aragon pelan namun tegas.

“Bicaralah pada para suster. Suruh mereka membawa anak-anak pergi dari sini sekarang juga.”

“Baik, Tuan,” jawab Hank. Ia segera berbalik dan menghampiri para suster yang gemetar ketakutan memeluk anak-anak. Dengan nada suara yang ditekan namun penuh otoritas, Hank memberi instruksi singkat, dan para Suster nampak mengerti apa yang Hank katakan.

Tak lama kemudian, Hank melambaikan tangan kepada pimpinan pengawalan, kemudian salah satu pemimpin keamanan dan pengawalan berlari sigap ke arah Hank.

“Bawa anak-anak dan para suster ke tempat paling aman yang kita miliki. Pastikan tidak ada satu pun dari mereka yang terluka.”

Pemimpin keamanan dan pengawalan pun mengangguk paham. “Baik Tuan Hank.”

Para pengawal Aragon bergerak sigap. Mereka mengawal anak-anak yang ketakutan serta para suster menuju deretan mobil SUV hitam yang sudah bersiaga.

Satu demi satu, mereka masuk ke dalam mobil dengan tertib namun cepat. Pintu-pintu mobil ditutup rapat, dan sebagian pengawal Aragon langsung memacu kendaraan-kendaraan tersebut meninggalkan lokasi, menjauhkan mereka yang polos dari zona bahaya.

Sedangkan Aurora, meski ia tak tahu apa rencana Aragon, namun satu hal yang Aurora yakini, Aragon tidak akan menyakiti anak-anak beserta para suster.

Setelah memastikan area bersih dari warga sipil, Hank kembali berjalan mendekat dan berdiri di samping tuannya. Saat itulah, Aragon akan memberikan perintah eksekusi untuk Bulldog.

“Tutup matamu atau berbalik badan,” pinta Aragon pada Aurora dengan suara lirih, hampir menyerupai bisikan yang menenangkan namun tak terbantahkan.

Aurora tak mengerti, tapi ia tahu Aragon memiliki rencana yang mungkin bisa membuatnya takut. Napas gadis itu tertahan di tenggorokan. Mengapa pria ini peduli, terlepas apakah Aurora melihatnya atau tidak.

Karena Aurora tak kunjung memutar tubuhnya, paku seolah menancap di kedua kakinya, membuatnya terus terpaku menatap Bulldog yang kini tak berdaya, berlutut di tanah dengan tatapan mata yang kosong dan sekarat mentalnya, Aragon kehilangan kesabaran.

“Aku tidak suka jika harus mengatakannya dua kali.” Kata Aragon.

“Ya?” Namun sebelum di sadari, oleh Aurora. Tangan Aragon yang besar sudah berada di punggung belakang Aurora.

Dengan kecepatan kilat, Aragon bergerak. Tangan kekarnya langsung mencengkeram punggung kecil Aurora, memutar tubuh kecil gadis itu dalam satu sentakan dominan. Kini, tubuh Aurora sepenuhnya menghadap ke arah Aragon.

Meskipun Aragon masih menyisakan sedikit jarak di antara mereka, gerakan tiba-tiba itu sontak menusuk indra penciuman Aurora. Aroma wangi semerbak dari parfum mahal milik Aragon menyerbu rongga dadanya tanpa ampun, entah mengapa seketika membuat seluruh tubuh Aurora gemetar hebat.

Sentuhan tangan kekar yang berada di punggungnya itu mengirimkan sensasi aneh yang menjalar di bawah kulitnya. Aura intimidasi Aragon begitu pekat; pria itu bertubuh tinggi menjulang, dengan wangi khas parfum maskulin yang kuat dan memabukkan. Dan yang paling membuat jantung Aurora berdesir adalah bagaimana gerakan tangan kuat Aragon saat memutar punggung dan bahunya tadi, meski terjadi secepat kilat, anehnya terasa begitu lembut, seolah pria itu sadar betapa rapuhnya tubuh Aurora dalam genggamannya.

Dalam posisi sedekat ini, Aurora perlahan mendongak ke atas. Ia memberanikan diri menatap rahang tegas pria itu. Namun, wajah sang mafia bahkan tidak menatapnya balik.

Sepasang netra elang pria itu justru memandang lurus ke depan, melewati kepala Aurora, seolah mengawasi situasi di belakang gadis itu agar tidak ada satu pun bahaya yang mengenai Aurora atau pemandangan mengerikan yang dapat membuat Aurora takut.

Dari bawah, dengan napas yang tertahan di tenggorokan, Aurora terus memperhatikan pahatan wajah dingin itu, tepat ketika bibir tegas Aragon akhirnya bergerak dan mengucapkan sesuatu dengan nada rendah yang bergetar penuh otoritas.

“Hank,” panggil Aragon datar.

“Saya, Tuan,” sahut Hank, maju satu langkah dengan senyum simpul yang mengerikan. Jemarinya meregang, mengeluarkan bunyi gemertak tulang yang renyah. Ia sudah sangat merindukan bagian ini.

“Potong jarinya.”

Mendengar perintah kejam yang keluar begitu mudah dari bibir Aragon, Aurora langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Rasa mual yang hebat mengaduk perutnya, dan seketika bercampur dengan pusing mendadak yang menyerang kepalanya, saat ia membayangkan kengerian dari apa yang baru saja Aragon perintahkan. Tubuhnya gemetar, nyaris limbung karena syok.

“Dengan senang hati, Tuan.” Jawab Hank.

Sebelum Bulldog sempat mencerna perintah tersebut, dan anak buah Bulldog masih terkejut, Hank sudah bergerak secepat kilat mengeluarkan belati khas miliknya dari dalam saku jasnya. Gerakannya hampir tidak kasat mata bagi manusia awam.

“CRRAAASSHH!!!”

“AAAGRRR HHHKKK!!!” Jeritan melengking yang memekakkan telinga seketika memecah keheningan.

Tubuh Bulldog limbung, berlutut di tanah sambil mencengkeram tangan kanannya yang kini bersimbah darah. Jari telunjuk yang baru saja ia gunakan untuk menunjuk Aragon telah jatuh di atas tanah bersimbah darah.

“Bos!!!” Puluhan anak buah Bulldog berteriak panik. Mereka refleks meraba pinggang, bersiap menarik senjata api dan senjata tajam mereka.

Namun, gerakan mereka langsung terkunci. Sisa pengawal Aragon yang berada di lokasi serentak mengangkat senapan serbu otomatis mereka, membidik tepat ke kepala setiap anak buah Bulldog dengan presisi militer.

Suara kokangan senjata yang kompak terdengar begitu mengintimidasi.

Netra gelap Aragon berkilat berbahaya saat ia melirik ke arah alat berat yang masih menyala di belakang mereka.

“Hank, ratakan seluruh bisnisnya di kota ini dalam waktu satu jam. Jangan sisakan satu gedung pun berdiri,” perintah Aragon dingin, tanpa melepaskan pandangannya dari Aurora.

“Alat beratnya ada di sana.” Aragon menunjuk alat berat yang masih menyala, setelah merobohkan atap panti asuhan.

“Dan untuk tikus-tikus ini... kau tahu apa yang harus dilakukan.”

Hank membungkuk hormat, matanya berkilat penuh kegilaan yang haus darah. Kesenangannya akan di mulai dengan menyiksa mereka.

“Sesuai perintah Anda, Tuan. Malam ini akan menjadi malam yang sangat sibuk... dan indah.”

Aragon kemudian berbalik dan melangkah pelan.

“Tunggu apa? Kau tidak mau bertemu dengan yang lainnya?” ucap Aragon sebelum masuk ke dalam Cadillac Escalade.

Mendengar itu, Aurora tahu siapa yang di maksud.

Sebelum Aurora sempat menyentuh gagang pintu, Hank dengan sigap melangkah maju dan membukakannya dari luar.

Hank memastikan segalanya berjalan tanpa cela begitu Aragon sudah berada di dalam kabin mewah Cadillac Escalade tersebut.

Dengan ragu, Aurora melangkah masuk. Begitu pintu ditutup rapat dari luar oleh Hank, atmosfer di dalam mobil seketika berubah total. Rasanya seolah oksigen mendadak lenyap, digantikan oleh udara yang sedingin es dan mencekam.

Aurora duduk dengan kaku di sebelah Aragon. Pria itu adalah perwujudan mutlak dari kekuasaan, pria paling kaya, paling berpengaruh, dan paling berbahaya yang pernah ada.

Beberapa detik berlalu, Aurora perlahan menarik napasnya. Agar ia tidak mati kaku. Di dalam ruang tertutup yang senyap itu, aura dominan Aragon terasa begitu pekat. Kini Aroma parfum mahal pria itu, wewangian yang tak akan pernah mampu Aurora beli, seketika memenuhi paru-parunya. Entah mengapa, mendadak ada rasa serakah yang menyelinap. Aurora ingin terus menghirupnya, mengisi penuh dadanya dengan keharuman yang mengintimidasi tersebut.

Mobil pun mulai berjalan iring-iringan. Seperti biasa, Hank duduk tepat di samping sopir.

Bersambung

1
Rainn G.
Calon istri ga tuh 🗿
Rainn G.
Mau kasian tapi lebih kasian diriku 😭
Rainn G.
What? Sakit banget
Rainn G.
Psikotes banget tapi suka 🔥💅🏻
Rainn G.
Manly guys
Rainn G.
Asikk ributtt 🔥
Rainn G.
Merajuk ke? 😂
Rainn G.
Marahin aja marahin 😏
Rainn G.
Iyalah orang jodohnya wkwk
Rainn G.
Makanya jaga jarak 😑
Rainn G.
Padahal omongin aja langsung ra siapa tau bisa sampein
Anggitadama
Aku tungguin lho kok blm up kak?
Anggitadama
belum up ua kak
Anggitadama
keren sekali up lagi
Anggitadama
up lagi
Arumi Hanza
seru lanjut lagi novelnya
Arumi Hanza
lanjutkan update
Luna.aluna
aku sudah tebar koin untuk kakak semoga kakak senang jadi kakak semangat untuk update selanjutnya karena novel kakak bagus sekali
Luna.aluna
Kak apakah kakak tahu novel kakak sangat aku tunggu-tunggu sekali
Bangun Hanjaya
tolong jangan lama-lama up again
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!