Salah Meja Jadi Istri CEO

Salah Meja Jadi Istri CEO

BAB 1: Deadline Menikah atau Bencana

Pagi itu, sinar matahari yang masuk melalui jendela besar di ruang makan kediaman Graceva terasa begitu menyilaukan, seolah ingin mengejek suasana hati Aneska yang mendung. Aneska Claryz Graceva, gadis berusia dua puluh lima tahun dengan rambut bergelombang yang biasanya tertata rapi, kini hanya bisa mengaduk-aduk bubur ayamnya dengan lesu.

Denting sendok yang beradu dengan mangkuk porselen menjadi satu-satunya musik latar, sampai akhirnya suara deheman berat menghentikan gerakan tangan Aneska.

"Anes," panggil pria paruh baya yang duduk di kepala meja. Hendra Graceva, sang kepala keluarga, melipat koran ekonominya dan menatap putri tunggalnya dengan tatapan yang tidak bisa dibantah.

Aneska tidak mendongak. "Iya, Pa?"

"Kamu sudah dengar apa yang Papa katakan semalam, kan? Papa tidak sedang bercanda."

Aneska menghela napas panjang, akhirnya meletakkan sendoknya. "Pa, ayolah. Anes baru dua puluh lima. Di kantor, Anes baru saja naik jabatan jadi senior creative. Masa depan Anes lagi cerah-cerahnya. Kenapa tiba-tiba bahas perjodohan kayak di film-film jadul sih?"

Hendra menyesap kopi hitamnya perlahan sebelum menjawab. "Justru karena kariermu bagus, Papa mau hidupmu stabil. Kamu itu terlalu sibuk kerja sampai lupa bersosialisasi. Papa nggak mau kamu jadi perawan tua hanya karena sibuk mengejar deadline."

"Papa! Perawan tua itu istilah abad berapa?" Aneska memprotes, wajahnya mulai memerah. "Anes cuma belum ketemu yang pas aja."

"Makanya, Papa carikan yang pas," sahut Hendra tenang. "Namanya Argani Sebasta. Dia anak rekan bisnis Papa. Umurnya tiga puluh tahun. Matang, mapan, dan yang paling penting, dia laki-laki yang punya integritas. Tidak seperti anak muda zaman sekarang yang cuma tahu main-main."

Aneska memutar bola matanya. "Tiga puluh tahun? Pa, itu namanya Om-om! Bedanya lima tahun itu banyak, lho. Pasti dia kaku, membosankan, seleranya musik klasik, dan kalau bicara isinya cuma soal grafik saham atau investasi properti. Ih, bayanginnya aja udah bikin Anes merinding."

"Aneska, jaga bicaramu," Mama Aneska yang baru datang dari dapur ikut menimpali sambil meletakkan piring berisi buah potong. "Arga itu tampan, lho. Mama sudah lihat fotonya. Gagah banget."

"Ma, semua ibu-ibu kalau lihat cowok pakai jas juga bilangnya ganteng," gerutu Aneska. "Pokoknya Anes nggak mau. Anes mau cari sendiri."

Hendra mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, memberikan tekanan psikologis yang sudah biasa ia gunakan di ruang rapat. "Oke. Papa beri kamu pilihan. Cari calonmu sendiri dalam waktu tiga hari. Bawa dia ke hadapan Papa, tunjukkan kalau dia lebih baik dari Argani."

Aneska tersedak ludahnya sendiri. "Tiga hari?! Pa, cari pacar bukan kayak beli seblak yang lima menit langsung jadi!"

"Kalau dalam tiga hari kamu tidak bisa membawa siapa pun," Hendra berdiri, merapikan jasnya, "maka minggu depan, hari Sabtu, kamu harus ikut makan malam pertunangan dengan Arga. Tidak ada tapi-tapian, Aneska Claryz."

Setelah Papa pergi, Aneska menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas. Dunianya serasa runtuh.

"Ma, bantuin Anes dong..." rengeknya pada sang Mama.

Mama hanya mengusap bahu Aneska lembut. "Turuti saja Papa, sayang. Lagipula, siapa tahu Arga itu benar-benar jodoh yang selama ini kamu tunggu-tunggu? Sudah, cepat habiskan sarapanmu, nanti telat ke kantor."

Aneska tiba di kantor dengan wajah yang ditekuk seribu. Sepanjang jalan, pikirannya hanya berputar pada satu hal: Di mana aku bisa dapat pacar dalam tiga hari?

Begitu sampai di kubikelnya, ia langsung menyambar ponsel dan menelepon satu-satunya orang yang mungkin bisa membantunya dalam situasi darurat ini.

"Halo, Miska! SOS! Save Our Soul! Nyawa gue di ujung tanduk!" teriak Aneska begitu panggilan tersambung.

"Sialan, Anes! Gue hampir tumpah kopi denger suara lo!" suara Miska Willona terdengar nyaring di seberang sana. "Kenapa lagi? Bos lo minta revisi desain jam dua pagi lagi?"

"Lebih parah dari revisi, Mis! Bokap gue. Beliau kasih ultimatum. Gue harus bawa pacar dalam tiga hari atau gue bakal dikawinin sama om-om berumur tiga puluh tahun pilihan dia!"

Miska tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha! Serius? Wah, gila sih Om Hendra. Tapi bentar, tiga puluh tahun mah bukan om-om, Nes. Itu mah usia matang, usia 'daddy' yang lagi lucu-lucunya."

"Nggak lucu, Miska! Gue serius! Lo kan ratu aplikasi dating, lo kan punya ribuan kenalan cowok. Tolongin gue, cariin satu aja yang bisa gue ajak akting jadi pacar. Speknya nggak usah tinggi-tinggi, yang penting manusia, punya kerjaan tetap, dan nggak malu-maluin kalau dibawa ketemu bokap."

Miska terdiam sejenak, terdengar suara ketikan di latar belakang. "Hmm... bentar. Gue lagi buka aplikasi dating premium gue nih. Ada satu sih yang baru match sama gue kemarin, tapi kayaknya dia bukan tipe gue. Dia terlalu... gimana ya, auranya terlalu serius."

"Serius malah bagus! Biar bokap gue percaya," sahut Aneska antusias.

"Namanya Gani. Di profilnya sih dia bilang cari hubungan serius. Umurnya sekitar tiga puluh juga, kerjaannya... katanya wiraswasta. Fotonya sih lumayan, cool gitu. Mau gue coba set up pertemuan buat lo?"

"Mau banget! Kapan? Di mana?"

"Dia kebetulan lagi ada waktu senggang sore ini jam lima di Blue Coffee. Dia bilang ada janji lain jam enam, jadi lo cuma punya waktu sebentar buat nge-lobi dia. Gimana? Berani nggak?"

Aneska mengepalkan tangannya. "Berani! Demi kebebasan gue, apa pun gue lakuin. Lo kirim alamatnya sekarang, terus bilang ke dia kalau yang nemuin bukan lo, tapi sahabat lo yang lagi 'butuh bantuan mendesak'."

"Oke, Bestie. Gue aturin. Tapi inget ya, jangan langsung lo ajak nikah. Pelan-pelan dulu," goda Miska.

"Ih, ya nggak lah! Cuma pacar bohongan doang kok!"

Aneska menutup telepon dengan semangat baru. Ia segera membuka laci mejanya, mengambil cermin kecil, dan mulai merapikan riasannya. Tunggu gue, Mas Gani. Lo bakal jadi penyelamat hidup gue!

......................

Tanpa Aneska sadari, di sebuah gedung perkantoran mewah di pusat kota, seorang pria sedang menatap layar ponselnya dengan kening berkerut. Pria itu adalah Argani Sebasta. Ia baru saja menerima pesan dari asistennya bahwa ayahnya ingin ia bertemu dengan calon tunangannya sore ini di sebuah kafe.

"Aneska Claryz Graceva..." gumam Arga sambil melihat foto seorang gadis yang sedang tertawa lebar sambil memegang es krim. "Lucu juga. Tapi kenapa kita harus ketemu diam-diam di kafe? Kenapa tidak langsung makan malam resmi saja?"

Arga melirik jam tangannya. "Jam lima di Blue Coffee. Baiklah, mari kita lihat seberapa 'menarik' pilihan Papa kali ini."

Arga menutup laptopnya, tidak menyadari bahwa ada sebuah kesalahpahaman besar yang sedang menantinya di kafe tersebut. Kesalahpahaman yang akan mengubah hidupnya—dan hidup Aneska—selamanya.

Terpopuler

Comments

umie chaby_ba

umie chaby_ba

ada baru lagi gas....👍

2026-04-27

0

Idris 09

Idris 09

ok

2026-05-26

0

ZHANG LINGHE 🥰🥰🥰

ZHANG LINGHE 🥰🥰🥰

😍😍😍

2026-05-14

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Deadline Menikah atau Bencana
2 BAB 2: Meja Nomor Dua Belas
3 BAB 3: Kejutan di Lobi Kantor
4 BAB 4: Kontrak Pernikahan yang Terlalu Nyata
5 BAB 5: Rahasia di Balik Gaun Mewah
6 BAB 6: Jantung yang Berkhianat
7 BAB 7: Rahasia di Balik Nama Tengah
8 BAB 8: Dinding yang Tak Terlihat
9 BAB 9: Pahlawan yang Tidak Diinginkan
10 BAB 10: Semangkuk Bubur dan Akhir Penyamaran
11 BAB 11: Tamu Istimewa di Lantai 45
12 BAB 12: Singa Betina di Sarang Korporat
13 BAB 13: Gaun Merah dan Hak Paten Arga
14 BAB 14: Perjaka Tua yang Posesif
15 BAB 15: Luka Lama dan Pengejaran Gila
16 BAB 16: Benteng Pertahanan Arga
17 BAB 17: Hak Milik Mutlak Argani Sebasta
18 BAB 18: Sweet Morning Chaos
19 BAB 19: Bulan Madu atau Warnet?
20 BAB 20: Posesif Mode On
21 BAB 21: Jamu Pegal Linu dan Eksperimen Si Om Mesum
22 BAB 22: Eksperimen Gila dan Gangguan di Paradise
23 BAB 23: Manja Mode Max
24 BAB 24: Wilayah Baru, Aturan Baru
25 BAB 25: Jamuan Makan Malam dan Taring Sang CEO
26 BAB 26: Gaji Istri atau Uang Jajan?
27 BAB 27: Bos Besar di Meja Seberang
28 BAB 28: Rumor Panas dan Labrakan Nyonya Besar
29 BAB 29: Drama Garis Dua (Hampir)
30 BAB 30: Rindu yang Salah Alamat
31 BAB 31: Teritorial Sang Iblis
32 BAB 32: Kompensasi Sang Iblis Posesif
33 BAB 33: Masa Lalu yang Kembali Mematuk
34 BAB 34: Eksekusi Sang Parasit
35 BAB 35: Kado di Balik Pintu dan Suami yang Terabaikan
36 BAB 36: Goresan di Porsche Putih
37 BAB 37: Pengawal Pribadi Paling Posesif
38 BAB 38: Tatapan yang Mengundang Maut
39 BAB 39: Perawatan untuk Sang Iblis yang Manja
40 BAB 40: Manja Mode: Permanen
41 BAB 41: Jebakan Sang Parasit
42 BAB 42: Rahasia di Laci Terkunci
43 BAB 43: Janji Si Kecil Arga
44 BAB 44: Taring Nyonya Sebasta
45 BAB 45: Mabuk Naruto dan Jebakan yang Salah Alamat
46 BAB 46: Kapten Masa Lalu dan Amarah Sang Iblis
47 BAB 47: Ring Tinju dan Aroma Mual
48 BAB 48: Garis Dua dan Ngidam yang Melenceng
49 BAB 49: Sangkar Busa dan Pelarian Sang Istri
50 BAB 50: Syarat Manis Sang CEO
51 BAB 51: Suami yang Tertukar Nasib
52 BAB 52: Obsesi "Tikus Kecil" dan Bra yang Menyempit
53 BAB 53: Mall Lockdown for My Queen
54 BAB 54: Teori Biologi Nyonya Sebasta
55 BAB 55: Perebutan Nama Sang Ahli Waris
56 BAB 56: Kejutan Pelangi di Stadion Sebasta
57 BAB 57: Plot Twist dr. Handoko
58 BAB 58: Kepulangan Sang Dalang dan Hebohnya Si Bungsu
59 BAB 59: Kursus Parenting dan Rahasia Papa Wirawan
60 BAB 60: Koalisi Mertua dan Nasib Tragis Sang Menantu
61 BAB 61: Luka di Balik Kaca dan Pelarian Tak Terduga
62 BAB 62: Teror Sang Iblis dan "Majikan" di Rumah Reihan
63 BAB 63: Gengsi Nyonya Sebasta dan Teriakan Sang Iblis
64 BAB 64: Tendangan Perdamaian dan Kerusuhan di Markas Sebasta
65 BAB 65: Kontraksi, Kerupuk, dan Ambulans di Depan Gerbang
66 BAB 66: Welcome to the World, Little Rebels!
67 BAB 67: Pasukan Popok dan Teror Tengah Malam
68 BAB 68: Konvoi Stroller dan Harga Diri yang Terkoyak
69 BAB 69: Tragedi Vaksin dan Kepanikan Sang Iblis
70 BAB 70: Tatapan Terlarang di Balik Pintu Sebasta
71 BAB 71: Hak Mutlak Sang Iblis
72 BAB 72: Topeng Sang Predator
73 BAB 73: Persaingan Dua Jagoan Sebasta
74 BAB 74: Clash of the Titans di Puncak
75 BAB 75: Badai di Dunia Maya dan Amarah Sang Iblis
76 BAB 76: Teritorial Sang Iblis dan Deklarasi Damai di Puncak
77 BAB 77: Insiden Kebun Teh dan Posesif yang Merepotkan
78 BAB 78: Perebutan Wilayah dan Sisi Lain Sang Iblis
79 BAB 79: Hujan di Balik Jendela dan Keheningan yang Berbicara
80 BAB 80: Akhir dari Sebuah Ketenangan
81 BAB 81: Runtuhnya Tembok Kebanggaan dan Jejak Berdarah Sang Iblis
82 BAB 82: Sang Iblis di Lubang Tikus
83 BAB 83: Sisa Amarah dan Bisikan di Balik Bayangan
84 BAB 84: Jejak yang Tertinggal dan Musuh dalam Selimut
85 BAB 85: Topeng yang Retak dan Rahasia Sasmita
86 BAB 86: Sudut Gelap di Kawasan Industri
87 BAB 87: Sisa Badai dan Pelukan yang Menenangkan
88 BAB 88: Serpihan yang Mencoba Utuh
89 BAB 89: Bayang-Bayang di Balik Jeruji
90 BAB 90: Perayaan di Atas Awan
91 EPILOG: Labuhan Terakhir sang Iblis
Episodes

Updated 91 Episodes

1
BAB 1: Deadline Menikah atau Bencana
2
BAB 2: Meja Nomor Dua Belas
3
BAB 3: Kejutan di Lobi Kantor
4
BAB 4: Kontrak Pernikahan yang Terlalu Nyata
5
BAB 5: Rahasia di Balik Gaun Mewah
6
BAB 6: Jantung yang Berkhianat
7
BAB 7: Rahasia di Balik Nama Tengah
8
BAB 8: Dinding yang Tak Terlihat
9
BAB 9: Pahlawan yang Tidak Diinginkan
10
BAB 10: Semangkuk Bubur dan Akhir Penyamaran
11
BAB 11: Tamu Istimewa di Lantai 45
12
BAB 12: Singa Betina di Sarang Korporat
13
BAB 13: Gaun Merah dan Hak Paten Arga
14
BAB 14: Perjaka Tua yang Posesif
15
BAB 15: Luka Lama dan Pengejaran Gila
16
BAB 16: Benteng Pertahanan Arga
17
BAB 17: Hak Milik Mutlak Argani Sebasta
18
BAB 18: Sweet Morning Chaos
19
BAB 19: Bulan Madu atau Warnet?
20
BAB 20: Posesif Mode On
21
BAB 21: Jamu Pegal Linu dan Eksperimen Si Om Mesum
22
BAB 22: Eksperimen Gila dan Gangguan di Paradise
23
BAB 23: Manja Mode Max
24
BAB 24: Wilayah Baru, Aturan Baru
25
BAB 25: Jamuan Makan Malam dan Taring Sang CEO
26
BAB 26: Gaji Istri atau Uang Jajan?
27
BAB 27: Bos Besar di Meja Seberang
28
BAB 28: Rumor Panas dan Labrakan Nyonya Besar
29
BAB 29: Drama Garis Dua (Hampir)
30
BAB 30: Rindu yang Salah Alamat
31
BAB 31: Teritorial Sang Iblis
32
BAB 32: Kompensasi Sang Iblis Posesif
33
BAB 33: Masa Lalu yang Kembali Mematuk
34
BAB 34: Eksekusi Sang Parasit
35
BAB 35: Kado di Balik Pintu dan Suami yang Terabaikan
36
BAB 36: Goresan di Porsche Putih
37
BAB 37: Pengawal Pribadi Paling Posesif
38
BAB 38: Tatapan yang Mengundang Maut
39
BAB 39: Perawatan untuk Sang Iblis yang Manja
40
BAB 40: Manja Mode: Permanen
41
BAB 41: Jebakan Sang Parasit
42
BAB 42: Rahasia di Laci Terkunci
43
BAB 43: Janji Si Kecil Arga
44
BAB 44: Taring Nyonya Sebasta
45
BAB 45: Mabuk Naruto dan Jebakan yang Salah Alamat
46
BAB 46: Kapten Masa Lalu dan Amarah Sang Iblis
47
BAB 47: Ring Tinju dan Aroma Mual
48
BAB 48: Garis Dua dan Ngidam yang Melenceng
49
BAB 49: Sangkar Busa dan Pelarian Sang Istri
50
BAB 50: Syarat Manis Sang CEO
51
BAB 51: Suami yang Tertukar Nasib
52
BAB 52: Obsesi "Tikus Kecil" dan Bra yang Menyempit
53
BAB 53: Mall Lockdown for My Queen
54
BAB 54: Teori Biologi Nyonya Sebasta
55
BAB 55: Perebutan Nama Sang Ahli Waris
56
BAB 56: Kejutan Pelangi di Stadion Sebasta
57
BAB 57: Plot Twist dr. Handoko
58
BAB 58: Kepulangan Sang Dalang dan Hebohnya Si Bungsu
59
BAB 59: Kursus Parenting dan Rahasia Papa Wirawan
60
BAB 60: Koalisi Mertua dan Nasib Tragis Sang Menantu
61
BAB 61: Luka di Balik Kaca dan Pelarian Tak Terduga
62
BAB 62: Teror Sang Iblis dan "Majikan" di Rumah Reihan
63
BAB 63: Gengsi Nyonya Sebasta dan Teriakan Sang Iblis
64
BAB 64: Tendangan Perdamaian dan Kerusuhan di Markas Sebasta
65
BAB 65: Kontraksi, Kerupuk, dan Ambulans di Depan Gerbang
66
BAB 66: Welcome to the World, Little Rebels!
67
BAB 67: Pasukan Popok dan Teror Tengah Malam
68
BAB 68: Konvoi Stroller dan Harga Diri yang Terkoyak
69
BAB 69: Tragedi Vaksin dan Kepanikan Sang Iblis
70
BAB 70: Tatapan Terlarang di Balik Pintu Sebasta
71
BAB 71: Hak Mutlak Sang Iblis
72
BAB 72: Topeng Sang Predator
73
BAB 73: Persaingan Dua Jagoan Sebasta
74
BAB 74: Clash of the Titans di Puncak
75
BAB 75: Badai di Dunia Maya dan Amarah Sang Iblis
76
BAB 76: Teritorial Sang Iblis dan Deklarasi Damai di Puncak
77
BAB 77: Insiden Kebun Teh dan Posesif yang Merepotkan
78
BAB 78: Perebutan Wilayah dan Sisi Lain Sang Iblis
79
BAB 79: Hujan di Balik Jendela dan Keheningan yang Berbicara
80
BAB 80: Akhir dari Sebuah Ketenangan
81
BAB 81: Runtuhnya Tembok Kebanggaan dan Jejak Berdarah Sang Iblis
82
BAB 82: Sang Iblis di Lubang Tikus
83
BAB 83: Sisa Amarah dan Bisikan di Balik Bayangan
84
BAB 84: Jejak yang Tertinggal dan Musuh dalam Selimut
85
BAB 85: Topeng yang Retak dan Rahasia Sasmita
86
BAB 86: Sudut Gelap di Kawasan Industri
87
BAB 87: Sisa Badai dan Pelukan yang Menenangkan
88
BAB 88: Serpihan yang Mencoba Utuh
89
BAB 89: Bayang-Bayang di Balik Jeruji
90
BAB 90: Perayaan di Atas Awan
91
EPILOG: Labuhan Terakhir sang Iblis

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!