NovelToon NovelToon
Langit Tersegel: Rise Of Fengxuan

Langit Tersegel: Rise Of Fengxuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dan budidaya abadi / Epik Petualangan
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: LEVIATHAN_M.S

“Ayam kecil, berhenti berlari dan kembalikan buah persikku!”

Ladang herbal memenuhi lereng gunung sementara asap putih mengepul dari dapur-dapur besar di berbagai area. Aroma daging panggang memenuhi udara dan di kejauhan ratusan hewan spiritual terlihat berkeliaran bebas di padang rumput pegunungan.

“Mulai hari ini kandang ayam spiritual bagian timur menjadi tanggung jawabmu.”

Di sisi lain, Suara pisau, dentuman panci, dan teriakan para murid dapur bercampur menjadi satu seperti pasar pagi yang kacau. Aroma makanan memenuhi seluruh udara pegunungan.

“Adik kecil! Cepat potong sayuran itu!”

“Siapa yang membakar daging bagian utara?!”

“Tambahkan garam spiritual ke sup nomor tiga!”

Ini adalah kehidupan yang tenang dan penuh kejadian dramatis tak terlupakan dari Sekte Forgotten Blade. Kehidupan beternak ayam Bai Fengxuan sebelum ia tahu kebenaran pahit dari dunia kultivasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LEVIATHAN_M.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 22 - Pedang di Atas Lautan Awan

Bai Fengxuan mengikuti Han Gu menuruni jalan setapak batu menuju lapangan latihan luar sekte. Embun menggantung di ujung daun bambu dan angin gunung bertiup dingin melewati hutan pinus, membawa aroma tanah basah serta suara samar lonceng pagi yang terus bergema dari puncak utama Forgotten Blade.

Suasana pagi itu terasa jauh lebih hidup dibanding biasanya.

Puluhan murid luar sudah berkumpul di lapangan sebelum matahari benar-benar muncul. Sebagian membawa pedang kayu latihan, sebagian lagi berdiri berkelompok sambil membicarakan kedatangan tetua dari Puncak Pedang dengan wajah penuh antusias.

Bahkan Xu Liang yang biasanya sulit bangun pagi kini berdiri tegak sambil membawa pedang kayu hampir sepanjang tubuhnya sendiri.

“Lihat ini!” katanya bangga begitu melihat Bai Fengxuan datang. “Aku meminjamnya dari gudang senjata!”

Han Gu melirik pedang kayu itu sekilas sebelum mendengus. “Itu bukan pedang latihan.”

Xu Liang berkedip bingung. “Lalu?”

“Itu tongkat pengaduk pakan.”

Suasana sekitar langsung dipenuhi tawa kecil para murid luar.

Wajah Xu Liang perlahan berubah hitam.

“Pantas saja terasa aneh…”

Bai Fengxuan sendiri diam-diam memperhatikan lapangan latihan di depannya dengan rasa penasaran yang sulit dijelaskan. Selama ini kehidupannya di Forgotten Blade lebih banyak dihabiskan di kandang ayam, dapur umum, atau gubuk kayu kecilnya sendiri. Meskipun ia sudah mulai berkultivasi dan berhasil mencapai Qi Gathering level 1, semua itu masih terasa sangat jauh dari dunia kultivator yang sebenarnya.

Namun hari ini berbeda. Hari ini seorang tetua dari Puncak Pedang akan datang secara langsung untuk mengajari mereka. Hanya memikirkan itu saja sudah cukup membuat jantung Bai Fengxuan berdetak sedikit lebih cepat.

Lapangan latihan luar terletak di salah satu lereng terbuka yang menghadap lautan awan di bawah gunung. Tanahnya berupa batu hitam datar dengan beberapa tiang kayu latihan berdiri berjajar di pinggir lapangan. Di kejauhan, kabut putih bergerak perlahan di bawah tebing seperti ombak lautan tenang, sementara matahari pagi mulai muncul sedikit demi sedikit dari balik pegunungan timur.

Tak lama kemudian suasana lapangan perlahan mulai sunyi.

Beberapa murid dalam yang bertugas menjaga area latihan tiba-tiba berdiri lebih tegak. Tatapan mereka mengarah ke jalan batu atas gunung dengan ekspresi hormat.

Dan beberapa detik kemudian seseorang akhirnya muncul. Langkahnya tenang. Tidak cepat, tidak pula lambat. Namun setiap langkah pria itu seolah membawa tekanan samar yang membuat seluruh lapangan perlahan menjadi hening tanpa sadar.

Tetua Mu Qing.

Jubah abu gelapnya bergerak perlahan tertiup angin gunung. Rambut panjangnya yang telah memutih sebagian diikat sederhana di belakang punggung, sementara sebuah pedang panjang bersarung hitam tergantung tenang di pinggangnya.

Ia tidak memancarkan aura menakutkan seperti para kultivator besar dalam cerita rakyat. Namun justru karena itulah kehadirannya terasa lebih dalam. Seperti gunung yang tenang.

Bai Fengxuan tanpa sadar menahan napas. Bahkan Han Gu yang biasanya banyak bicara kini ikut diam sambil berdiri tegak bersama murid lain.

Tatapan Tetua Mu Qing perlahan menyapu seluruh lapangan sebelum akhirnya berhenti beberapa saat pada lautan awan di kejauhan.

“Puncak Awan Pengembara…” suaranya tenang dan berat, namun terdengar jelas di seluruh lapangan, “selalu menjadi tempat paling berisik di Forgotten Blade.”

Beberapa murid langsung menunduk menahan tawa. Xu Liang bahkan hampir tersedak napasnya sendiri.

Sudut bibir Tetua Mu Qing tampak sedikit terangkat samar sebelum ia kembali berbicara.

“Namun kultivasi tidak bergantung pada tempat seseorang berada.” Tatapannya perlahan bergerak pada para murid luar di depannya. “Entah kalian memegang pedang, sapu, atau ember pakan… selama hati kalian tetap berjalan di jalan dao, maka kalian tetaplah murid Forgotten Blade.”

Angin pagi bertiup pelan melewati lapangan.

Bai Fengxuan dapat merasakan suasana di sekitarnya berubah perlahan. Tidak ada tekanan besar. Tidak ada ledakan aura spiritual. Namun setiap kata tetua itu terasa sangat tenang dan berat.

Tetua Mu Qing akhirnya berjalan perlahan menuju rak senjata kayu di pinggir lapangan sebelum mengambil satu pedang latihan sederhana.

“Kalian semua memandang pedang sebagai senjata.” Ia mengangkat pedang kayu itu perlahan. “Namun sebelum menjadi senjata… pedang adalah cermin hati.”

Tatapan beberapa murid mulai berubah serius.

“Orang yang hatinya kacau tidak akan pernah mampu mengendalikan pedang.”

Han Gu diam-diam melirik Xu Liang yang masih memegang tongkat pengaduk pakan.

Xu Liang langsung pura-pura tidak sadar.

Tetua Mu Qing kemudian mulai menjelaskan dasar-dasar kultivasi pedang dengan perlahan. Cara berdiri. Cara mengatur napas. Cara menyalurkan qi spiritual ke lengan tanpa membiarkannya kacau.

Gerakannya sangat sederhana.

Namun justru karena kesederhanaan itu, setiap ayunan pedangnya terasa sangat alami. Angin di sekitar bilah kayu itu bergerak mengikuti arah pedangnya seperti air mengalir.

Bai Fengxuan memperhatikan semuanya dengan sangat serius. Ia baru menyadari sesuatu saat itu. Pedang bukan hanya tentang bertarung, tapi juga tentang ketenangan.

Tetua Mu Qing kemudian meminta seluruh murid mengambil posisi latihan masing-masing.

Lapangan segera dipenuhi suara langkah kaki dan gesekan pedang kayu. Han Gu berdiri di samping Bai Fengxuan sambil memutar bahunya pelan.

“Dengar baik-baik,” bisiknya. “Kalau kau bisa membuat Tetua Mu Qing melirikmu sekali saja hari ini, itu sudah cukup untuk dibanggakan seumur hidup.”

Xu Liang langsung menyahut dari belakang.

“Kalau aku berhasil bagaimana?”

Han Gu melirik tongkat kayu di tangannya.

“Kalau kau berhasil, mungkin beliau akan menyuruhmu kembali mengaduk pakan.”

Latihan segera dimulai tak lama kemudian. Awalnya Bai Fengxuan merasa gerakannya sangat kaku. Tubuhnya memang sudah jauh lebih kuat sejak memasuki Qi Gathering level 1, tetapi ia belum pernah benar-benar belajar menggunakan pedang sebelumnya. Beberapa kali posisi kakinya salah, dan tangannya terasa terlalu tegang saat mengayunkan pedang kayu.

Namun perlahan ia mulai mengingat sesuatu. Tentang ketenangan yang setiap malam ia baca di manual kultivasi pemberian Tetua Ji. Dan tentang bagaimana air sungai bergerak tenang saat ia memancing bersama Lin Shuyue beberapa hari lalu.

Napas Bai Fengxuan perlahan menjadi lebih stabil. Gerakannya mulai berubah lebih alami dan untuk pertama kalinya, pedang kayu di tangannya tidak lagi terasa asing.

Tetua Mu Qing yang sedang berjalan mengawasi para murid tiba-tiba berhenti beberapa langkah dari Bai Fengxuan. Tatapannya jatuh pada bocah itu selama beberapa detik.

Bai Fengxuan langsung sedikit gugup.

Namun tetua itu tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri diam memperhatikan satu ayunan pedang Bai Fengxuan… lalu melanjutkan langkahnya kembali.

Meski begitu, jantung Bai Fengxuan tetap berdetak lebih cepat setelahnya. Han Gu yang melihat dari samping langsung menyeringai kecil.

“Aku bilang juga apa.”

Latihan berlangsung hampir sepanjang pagi. Beberapa murid mulai kelelahan setelah satu jam pertama. Xu Liang bahkan sempat terjatuh sendiri saat mencoba memutar tubuh terlalu cepat hingga membuat seluruh lapangan tertawa.

Namun Tetua Mu Qing sama sekali tidak marah. Ia hanya berkata tenang, “Pedang bukan tarian mabuk. Berdirilah dengan benar.”

Entag kenapa kalimat sederhana itu justru membuat semua orang semakin menghormatinya.

Menjelang siang, matahari akhirnya mulai naik tinggi di atas pegunungan dan kabut perlahan menghilang dari lereng gunung. Cahaya hangat menyinari lapangan latihan serta lautan awan putih di bawah tebing Forgotten Blade.

Tetua Mu Qing akhirnya menghentikan latihan. Para murid luar langsung duduk kelelahan di tanah batu sambil mengatur napas. Sebelum pergi, tetua itu kembali berdiri menghadap mereka semua.

“Kalian murid luar sering berpikir bahwa jalan kultivasi terlalu jauh dari kalian.” Suaranya tenang seperti biasa. “Namun dao tidak memilih siapa yang layak berjalan di atasnya.”

Tatapan Bai Fengxuan sedikit berubah.

“Yang menentukan seberapa jauh seseorang melangkah… bukan bakat semata.” Tatapan Tetua Mu Qing perlahan bergerak pada seluruh murid di depannya. “Melainkan apakah ia mampu terus berjalan saat jalan di depannya menjadi sunyi.”

Angin gunung kembali bertiup pelan melewati lapangan. Dan untuk beberapa saat—

tak seorang pun berbicara.

Tetua Mu Qing akhirnya berbalik perlahan sebelum berjalan pergi meninggalkan lapangan bersama beberapa murid dalam Puncak Pedang. Namun sebelum benar-benar pergi, langkahnya sempat berhenti sesaat.

Tatapannya melirik Bai Fengxuan sekali lagi.

Hanya sesaat.

Sangat singkat.

Namun cukup untuk membuat Han Gu langsung menatap Bai Fengxuan dengan wajah tidak percaya begitu tetua itu menghilang dari jalan batu atas gunung diikuti dengan ucapan terimakasih dan penghormatan mendalam dari para murid luar Puncak Awan Pengembara.

“Adik Bai…” gumamnya pelan.

Bai Fengxuan berkedip bingung. “Kenapa?”

Han Gu menunjuk jalan tempat Tetua Mu Qing pergi tadi dengan tangan gemetar.

“Beliau tadi benar-benar melihatmu dua kali.”

1
tariii
atau hpku yg error..?? 😂😂😂
tariii
ada notif up tapi ga ada.. 🤭🤭🤭
awan irwan
cukup bagus dan menarik
Marthen
tetap ketahuan sama zhso yuan apa lagi gadis pendiam Qing Rou...dan itu akan menjadi rahasia mereka masing-masing.. adik bai harus secepatx menenukan teknik menutupi aura yg sebenarx.....
ok Lanjut bagi hasiL Panen....dan unduj afik Bai sukses dgn teknik pedang tak terlihat yg akan menjadi senjata andaLan untuk jarak yg sangat dekat dgn Lawan....
tariii
masih menyembunyikan kekuatan yg sebenarnya.. 👍👍👍
awan irwan
hanya Han gu yang memahami adik bai😄
tariii
bocah 10 th udah punya jurus aja..😍👍
tariii
weehhh... bisa ketemu lagi...😂😂😂
tariii
kereeeenn.... sudah level 4...👍👍👍👍
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪💪
Mujib
👍👍👍👍👍
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪💪
Mujib
👍👍👍👍👍
Mujib
😅😅😅😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!